G-RDVF5GTVXM
GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Daerah Ekonomi Golkar Nusantara Olahraga
Beranda / Olahraga / Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat Pecahkan Rekor Dunia, 604 Kuda Ramaikan Arena: Sandelwood Siap Bertarung di PON 2028

Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat Pecahkan Rekor Dunia, 604 Kuda Ramaikan Arena: Sandelwood Siap Bertarung di PON 2028

Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, Ketua Presidium Konfederasi Nasional Pordasi Triwatty Marciano, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Franky Tarawatu Susanto dan Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, S.H., M.H. ketika menerima penghargaan rekor dunia lomba pacuan kuda terbanyak dari Lembaga Prestasi Indonesia – Dunia (Leprid) saat laga final pacuan kuda Bupati Cup Sumba Barat di Gellora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Jumat (18/7/2026). Foto: Bram

WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM —Derap ratusan kuda memenuhi Arena Pacuan Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Sabtu (18/7/2026). Bukan hanya menjadi penutup Pacuan Kuda Piala Bupati Cup Sumba Barat 2026, hari itu juga menandai lahirnya sebuah catatan baru dalam sejarah pacuan kuda tradisional Indonesia. Sebanyak 604 ekor kuda ambil bagian dalam kejuaraan tersebut, jumlah terbanyak yang pernah tercatat dalam satu penyelenggaraan pacuan kuda tradisional dan mengantarkan Kabupaten Sumba Barat meraih penghargaan Rekor Dunia dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID).

Rekor itu bukan sekadar angka. Di balik 604 ekor kuda terdapat antusiasme masyarakat yang mendiami Sumba, tanah dengan julukan pulau seribu kuda, yang terus menjaga tradisi berkuda sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus olahraga prestasi. Jumlah peserta tahun ini juga memperlihatkan semakin besarnya minat pemilik kuda dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur untuk menjadikan Bupati Cup Sumba Barat sebagai arena pembuktian kualitas kuda pacu lokal.

Ketua Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat, Franky Tarawatu Susanto, melaporkan bahwa peserta berasal dari tujuh daerah. Kabupaten Sumba Barat menjadi penyumbang terbanyak dengan 328 ekor kuda, disusul Sumba Timur 135 ekor, Sumba Tengah 67 ekor, Sumba Barat Daya 59 ekor, Kota Kupang 4 ekor, Kabupaten Ngada 3 ekor, dan Kabupaten Timor Tengah Utara 5 ekor.

Bagi Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, tingginya partisipasi tersebut menjadi indikator bahwa pacuan kuda tradisional telah berkembang melampaui sekadar pesta rakyat tahunan. Bupati Yohanis Dade menilai olahraga ini memiliki daya tarik yang terus meningkat dan mampu menjadi magnet wisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

“Pacuan kuda di Sumba Barat menjadi olahraga yang memiliki daya tarik,” ujar Bupati Yohanis.

Rekor Dunia 604 Kuda, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade Sabet Penghargaan LEPRID

Komitmen pemerintah daerah, menurut dia, adalah menjadikan kejuaraan ini sebagai agenda tahunan dengan penyelenggaraan yang semakin baik, aman, dan profesional sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan maupun peserta dari berbagai daerah.

Penghargaan Dunia Bagi Para Penggerak Pacuan Kuda

Momentum pemecahan rekor dunia juga diiringi dengan pemberian penghargaan LEPRID kepada sejumlah tokoh yang dinilai berkontribusi terhadap pengembangan olahraga pacuan kuda nasional.

Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menerima penghargaan sebagai pelopor pengembangan, pembinaan, dan peningkatan prestasi kuda lokal Indonesia sehingga mampu bersaing pada perlombaan tingkat nasional maupun internasional.

Penghargaan serupa diberikan kepada Ketua Presidium Konfederasi Nasional Pordasi Triwatty Marciano atas kiprahnya dalam pembinaan kuda lokal Indonesia.

Pelayaran Perintis Tetap Jadi Nadi Konektivitas NTT, DPR RI Dr. Umbu Rudi Kabunang: Pemerintah Pasti Respons Buka Kembali Layanan

Bupati Sumba Barat Yohanis Dade menerima penghargaan sebagai pemerkasa rekor dunia lomba pacuan kuda terbanyak dengan 604 ekor peserta. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat juga memperoleh penghargaan sebagai penyelenggara rekor dunia yang diterima oleh Wakil Bupati Thomotius T. Ragga.

Sementara itu, Franky Tarawatu Susanto mendapat penghargaan sebagai pendukung penyelenggara rekor dunia, sedangkan Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, S.H., M.H. menerima penghargaan sebagai inisiator masuknya nomor pacuan kuda tanpa pelana ke Pekan Olahraga Nasional (PON) sekaligus pendukung rekor dunia tersebut.

Penghargaan LEPRID diserahkan oleh Paulus Pangka, S.H pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID melalui perwakilan.

Menuju PON 2028

Partai final yang berlangsung Sabtu menjadi penutup rangkaian kejuaraan yang telah berlangsung sejak awal Juli. Namun, berakhirnya perlombaan justru menjadi awal pekerjaan yang lebih besar.

LEPRID Anugerahi Triwatty Marciano, Keselamatan Joki Cilik Perkuat Transformasi Pacuan Kuda Sumba Menuju PON 2028

Ketua Harian Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya menyebut perhatian terhadap pacuan kuda Sumba kini meningkat setelah Ketua Umum KONI Pusat menetapkan Gelora Pada Eweta Waikabubak sebagai salah satu venue cabang olahraga pacuan kuda pada PON XXII Tahun 2028 yang akan digelar di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Dengan status tersebut, penyelenggaraan pacuan kuda tradisional dituntut memenuhi standar yang lebih tinggi, terutama dalam aspek keselamatan atlet.

Sebagai langkah awal, Konfederasi Nasional Pordasi menyerahkan bantuan body protector dan helm kepada empat kabupaten di Pulau Sumba. Perlengkapan itu diharapkan menjadi standar keselamatan bagi para joki cilik yang selama ini menjadi ciri khas pacuan kuda tradisional Sumba.

“Perlengkapan ini memang belum bisa diberikan kepada seluruh joki, tetapi diharapkan menjadi contoh sehingga penggunaannya dapat diperluas demi keselamatan,” ujar Eddy.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Presidium Konfederasi Nasional Pordasi Triwatty Marciano menyerahkan secara simbolis perlengkapan keselamatan kepada Wakil Bupati Sumba Tengah Marthinus Umbu Djoka. Sebelumnya bantuan serupa telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, sedangkan penyerahan kepada Kabupaten Sumba Timur dijadwalkan sehari kemudian.

Bagi Yohanis Dade, peningkatan standar keselamatan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga yang lebih profesional tanpa meninggalkan karakter tradisional pacuan kuda Sumba.

Ia optimistis penyelenggaraan PON XXII akan memperkenalkan Sumba kepada publik nasional maupun internasional. Kehadiran atlet, ofisial, pemilik kuda, hingga wisatawan diperkirakan memberi dampak ekonomi bagi pelaku UMKM, sektor akomodasi, transportasi, kuliner, hingga pariwisata.

“Penonton yang datang dari luar Sumba bukan hanya menyaksikan pertandingan, tetapi juga menikmati keindahan alam Sumba,” kata Bupati Yohanis.

Persaingan Ketat di Lintasan

Persaingan sepanjang kejuaraan berlangsung dalam 15 kelas yang mempertandingkan kuda-kuda terbaik dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.

Pada Kelas Pemula Mini 600 meter, Putri Kadongo Pollo milik Alvino Tenabolo dari Sumba Barat menjadi yang tercepat. Diamond Heart milik Haikal Jaya dari Sumba Timur menjuarai Kelas Pemula I 600 meter, sedangkan Mini Kopda milik Bintang Kopi Trans–Pak Stable dari Sumba Barat menjadi pemenang Kelas Pemula II 700 meter.

Di Kelas Pemula III 800 meter, kemenangan diraih Rambu Wangga milik Rambu Ona (AK Stable) dari Sumba Timur. Kartika 18 milik Natalia Sogen memenangi Kelas E Mini, sementara Nona Gwi milik Andika menjadi juara Kelas D Mini.

Pada Kelas D 800 meter, Nona Praimajangga milik Yohana Ngenju dari Sumba Timur tampil sebagai pemenang. Gadis Wetapal milik Albino dari Bajawa menjadi juara Kelas E Satu, sedangkan Moana milik Rivani Chandra dari Sumba Barat memenangi Kelas E Dua.

Persaingan semakin ketat pada kelas utama. Dapatoda milik Aldo Poety menjadi juara Kelas C 1.000 meter, disusul Gadis Pepuwatu milik drh. Umbu Aldy Rihi yang menjadi terbaik di Kelas B 1.200 meter.

Pada Kelas Terbuka 1.200 meter, kemenangan diraih Scarlet milik Audid Wailiang dari Sumba Barat. Miracle Kopda milik Kapten Kopda–Pak Stable dari Sumba Barat Daya menjadi juara Kelas A 1.400 meter, sedangkan Gadis Milla Ate milik Yosep Jano memenangi Kelas AA 1.600 meter.

Adapun kelas paling bergengsi, A Super 2.000 meter, dimenangkan Sweet Road milik JW 23 Stable dari Kabupaten Timor Tengah Utara.

Bupati Cup Sumba Barat 2026 akhirnya tidak hanya melahirkan para juara lintasan. Lebih dari itu, kejuaraan ini memperlihatkan bagaimana olahraga tradisional yang lahir dari budaya masyarakat Sumba mulai menapaki panggung nasional. Rekor dunia, peningkatan standar keselamatan, hingga penetapan venue PON menjadi penanda bahwa pacuan kuda Sumba sedang bergerak menuju fase baru: tetap berakar pada tradisi, namun semakin dekat dengan tata kelola olahraga modern.*/laurens leba tukan

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement