G-RDVF5GTVXM

Tag: Kabupaten Sumba Barat

  • Kejurnas Pacuan Kuda 2026 di Gelora Pada Eweta, Umbu Rudi Kabunang Tanggung Biaya Pelatihan Joki dan Steward Menuju PON

    Kejurnas Pacuan Kuda 2026 di Gelora Pada Eweta, Umbu Rudi Kabunang Tanggung Biaya Pelatihan Joki dan Steward Menuju PON

    Kejurnas Pacuan Kuda 2026 Dimulai dari Pelatihan Joki, NTT Siapkan Lahirnya Atlet Menuju PON 2028

    KUPANG, SELATANINDONESIA.COM – Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pacuan Kuda 2026 di Gelanggang Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, tidak langsung diawali dengan derap kuda di lintasan. Sebelum persaingan dimulai, Federasi Nasional (FN) Pordasi Pacu lebih dulu menggelar pelatihan dan sertifikasi joki, steward, serta pelatih sebagai syarat utama mengikuti kejuaraan sekaligus bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

    Ketua Pengurus Provinsi FN Pordasi Pacu Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Umbu Rudi Kabunang, mengatakan seluruh perangkat pertandingan dan joki wajib memiliki lisensi nasional yang diterbitkan Pengurus Pusat FN Pordasi Pacu.

    “Bagi steward dan pelatih yang belum memiliki lisensi nasional dapat mengikuti pelatihan sesuai jadwal. Sementara joki yang belum berlisensi dapat mengikuti pelatihan dan tes joki kuda pacu nasional,” kata Umbu Rudi usai meninjau lapangan pacuan kuda Gelora Lifubatu di Bau-Bau, Kabupatena Kupang, Kamis (23/7/2026).

    Ia meminta seluruh Pengurus Kabupaten FN Pordasi Pacu di NTT mengirimkan steward, pelatih, dan joki untuk mengikuti pelatihan tersebut. Seluruh biaya pelatihan, kata dia, akan ditanggung Pengprov FN Pordasi Pacu NTT.

    “Setiap Pengurus Kabupaten FN Pordasi Pacu diminta mengirimkan joki, steward, dan pelatih. Biaya pelatihan ditanggung oleh saya selaku Ketua Pengurus Provinsi FN Pordasi Pacu NTT,” ujarnya.

    Kejurnas Pacuan Kuda 2026 akan berlangsung pada 15–31 Agustus 2026 dan diikuti kontingen dari delapan provinsi. Ajang ini bukan sekadar perebutan gelar juara nasional, tetapi juga menjadi pintu awal pembentukan tim menuju PON XXII Tahun 2028.

    Menurut Umbu Rudi, atlet, joki, dan kuda pacu asal NTT harus melewati proses seleksi berjenjang sebelum tampil di Kejurnas. Seleksi dimulai dari turnamen pacuan kuda di tingkat kecamatan, berlanjut ke turnamen lain tingkat kabupate atau Bupati Cup untuk seluruh Kabupaten seperti yang sudah digelar di Sumba Barat yaitu Bupati Cup Sumba Barat 2026, juga seperti yang sudah digelar kejuaraan di Letis, Kabupaten Sumba Timur.

    Selain itu, jika ada lagi kejuaraan tingkat Kecamatan di Kabuaten lain akan terus didata dan diinventarisir oleh panitia penyelenggara agar mengajukan atlit atau joki dan kuda-kuda terbaik ke FN Pordasi Kabupaten masing-masing agar diidata, lalu diserahkan ke FN Pordasi Pacu Provinsi NTT. ”Selanjutnya setelelah selesai Kejurnas para atlit atau joki dan kuda-kuda berprestasi itu akan diajukan ke KONI Provinsi dan KONI Pusat sebagai delegasi NTT di ajang PON XXII,” ujar Umbu Rudi Kabunang.

    Umbu Rudi menambahkan, semua yang terlibat dalam Kejurnas dan PON XXII baik joki maupun steward harus yang bersertifikasi. ”Joki harus bersertifikasi dan steward diberikan sertifikasi yang diakui oleh FN Pordasi untuk mengawal jalannya perlombaan. Dan untuk mendapatkan sertifikasi itu harus melalui pelatihan,” ujar Umbu Rudi Kabunang.

    Ia juga meminta seluruh FN Pordasi Pacu se NTT untuk mengajukan nama joki, dan nama steward. ”Karena pada tanggal 15 Agustus ini akan digelar pelatihan joki dan steward di Sumba Barat dan semua biaya pelatihan dan sertifikasi, saya sebagai Ketua Pengprov Fedrasi Nasional Pordasi Pacu NTT yang tanggung,” ujarnya.

    Pengurus Pusat FN Pordasi Pacu juga telah meminta Pengprov FN Pordasi Pacu NTT segera melakukan pendataan dan inventarisasi atlet, joki, serta kuda pacu berprestasi yang berasal dari seluruh FN Porasi Pacu Kabupaten di NTT ke Pengprov FN Pordasi Pacu NTT untuk selanjutnya diajukan ke KONI.

    “Yang nantinya berwenang mengajukan atlet, joki, dan kuda peserta PON adalah Pengprov FN Pordasi Pacu NTT sebagai anggota resmi KONI,” tegas Umbu Rudi.

    Ia menjelaskan, Kejurnas Pacuan Kuda 2026 merupakan kejuaraan antar-kontingen provinsi yang diselenggarakan Pengurus Pusat FN Pordasi Pacu bersama Pengprov FN Pordasi Pacu NTT dan seluruh Pengurus Kabupaten FN Pordasi Pacu di daratan Sumba dan FN Pordasi Kabupaten lain di NTT.

    Seluruh perlombaan akan menggunakan lintasan dengan arah putaran ke kiri. Kontingen yang berhasil mengumpulkan poin tertinggi berhak membawa pulang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia, trofi paling bergengsi dalam Kejurnas Pacuan Kuda Nasional.

    Rangkaian kegiatan dimulai dengan pelatihan steward dan pelatih pada 15 Agustus 2026, dilanjutkan tes dan pelatihan joki pada 16 Agustus. Pendaftaran peserta ditutup pada 18 Agustus, disusul pengukuran kuda dan barrier drawing pada 18–19 Agustus.

    Babak penyisihan akan berlangsung pada 21–26 Agustus, semifinal pada 27–28 Agustus, dan partai final digelar pada 31 Agustus 2026 di Gelanggang Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat.*/llt

  • Rekor Dunia 604 Kuda, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade Sabet Penghargaan LEPRID

    Rekor Dunia 604 Kuda, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade Sabet Penghargaan LEPRID

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Derap 604 ekor kuda yang memadati Arena Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Sabtu (18/7/2026), bukan hanya menghadirkan tontonan olahraga yang memikat ribuan penonton, tetapi juga mengukir sejarah baru bagi dunia pacuan kuda Indonesia. Jumlah peserta terbanyak dalam satu penyelenggaraan pacuan kuda itu mengantarkan Kabupaten Sumba Barat mencatatkan Rekor Dunia sekaligus mengukuhkan daerah tersebut sebagai salah satu pusat olahraga berkuda berbasis budaya di Tanah Air.

    Atas capaian tersebut, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, S.H., menerima penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) sebagai Pemerkasa Rekor Dunia Lomba Pacuan Kuda Terbanyak. Penghargaan diserahkan di Arena Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta di hadapan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman, Ketua Presidium Konfederasi Nasional Pordasi Triwaty Norman, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, insan olahraga berkuda, serta ribuan masyarakat yang memadati arena.

    Rekor yang melibatkan 604 ekor kuda itu menjadi lebih dari sekadar pencapaian angka. Capaian tersebut mencerminkan kuatnya tradisi berkuda yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Sumba sekaligus menunjukkan bahwa olahraga yang lahir dari warisan budaya mampu berkembang menjadi kekuatan baru dalam pembinaan prestasi, penggerak ekonomi daerah, serta pengembangan pariwisata berbasis sport tourism.

    Bagi Sumba Barat, pacuan kuda bukan sekadar agenda kompetisi tahunan. Arena pacuan menjadi ruang bertemunya tradisi, olahraga, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran ratusan peserta dari berbagai daerah ikut menggerakkan sektor peternakan, perdagangan, jasa, hingga pariwisata, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sumba kepada masyarakat nasional maupun mancanegara.

    Pendiri dan Ketua Umum LEPRID, Paulus Pangka, mengatakan penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinan Yohanis Dade yang dinilai berhasil menghadirkan penyelenggaraan pacuan kuda berskala besar dengan jumlah peserta terbanyak. Menurutnya, capaian itu membuktikan bahwa Sumba Barat memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat olahraga pacuan kuda bertaraf nasional bahkan internasional.

    Sementara itu, Bupati Yohanis Dade menyatakan penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, komunitas pecinta kuda, serta insan olahraga berkuda di Sumba. Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sumba Barat untuk terus menjadikan pacuan kuda sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus instrumen pembangunan daerah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    “Terima kasih atas penghargaan rekor dunia yang kami terima ini. Dan kami berkomiten untuk mempertahankan rekor ini untuk terus memajukan olahraga berkuda pacu di Sumba Barat. Kami ingin pacuan kuda tidak hanya dikenal sebagai tradisi masyarakat Sumba, tetapi juga menjadi olahraga yang mampu melahirkan prestasi, meningkatkan kunjungan wisata, menggerakkan ekonomi rakyat, dan mengharumkan nama Sumba Barat di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Yohanis Dade.

    Momentum lahirnya Rekor Dunia 604 peserta tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa olahraga tradisional yang tumbuh dari akar budaya lokal memiliki peluang besar berkembang menjadi agenda olahraga nasional. Dengan dukungan pemerintah, organisasi olahraga, dan masyarakat, Sumba Barat kini semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu episentrum pacuan kuda Indonesia.*/pp/llt

  • LEPRID Anugerahi Triwatty Marciano, Keselamatan Joki Cilik Perkuat Transformasi Pacuan Kuda Sumba Menuju PON 2028

    LEPRID Anugerahi Triwatty Marciano, Keselamatan Joki Cilik Perkuat Transformasi Pacuan Kuda Sumba Menuju PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) kepada Ketua Presidium Konfederasi Nasional Pordasi yang juga Ketua Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Memanah, Triwatty Marciano, menjadi penanda arah baru pembinaan olahraga pacuan kuda nasional. Di tengah penyelenggaraan Kejuaraan Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat 2026 di Arena Gelora Pada Eweta, Sabtu (18/7/2026), apresiasi terhadap pengembangan kuda lokal Indonesia itu berjalan beriringan dengan peluncuran kampanye “Aman Berprestasi”, yang menempatkan keselamatan joki cilik sebagai fondasi pembinaan atlet menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

    Tepuk tangan panjang menggema di Arena Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta ketika Triwatty Marciano menerima penghargaan LEPRID di hadapan ribuan pencinta pacuan kuda, jajaran pemerintah daerah, pelaku peternakan kuda, komunitas olahraga berkuda, dan masyarakat Pulau Sumba. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kiprah Triwatty dalam mendorong pengembangan, pembinaan, dan peningkatan prestasi kuda lokal Indonesia hingga mampu bersaing pada level nasional maupun internasional.

    Penghargaan itu bukan sekadar pengakuan terhadap seorang tokoh olahraga berkuda. Lebih dari itu, apresiasi tersebut menjadi simbol semakin besarnya perhatian terhadap transformasi olahraga pacuan kuda Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir bergerak menuju tata kelola yang lebih profesional tanpa meninggalkan akar budaya yang telah hidup ratusan tahun di Pulau Sumba.

    Perwakilan LEPRID, Laurens Leba Tukan, menyerahkan penghargaan itu di hadapan jajaran pemerintah daerah, pelaku peternakan kuda, komunitas pacuan, serta masyarakat yang menjadikan pacuan kuda sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus kebanggaan daerah.

    Menariknya, setelah menerima penghargaan dunia dari LEPRID, Triwatty Marciano justeru memberikan penghargaan yang diterimanya itu kepada Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu, Eddy Wijaya. “Saya mengajak Pak Eddy Wijaya sebagai Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu untuk bersama-sama menerima penghargaan ini karena keberhasilan teman-teman ini yang membuat Federasi Nasional Pordasi Pacu berkembang baik hinga ke kabupaten-kabupaten di NTT,” sebut Triwatty sembari mengajak Eddy Wijaya dan Pengurus Pusat FN Pordasi Pacu untuk menerima penghargaan LEPRID.

    Pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID, Paulus Pangka, menilai kepemimpinan Triwatty Marciano telah memberikan arah baru bagi pembinaan olahraga berkuda nasional. Di bawah Konfederasi Nasional Pordasi, pengembangan kuda lokal tidak lagi dipandang sebatas pelestarian tradisi, tetapi juga sebagai investasi olahraga prestasi yang memiliki nilai ekonomi, budaya, pariwisata, dan diplomasi bangsa.

    “Pengembangan kuda lokal membutuhkan komitmen jangka panjang. Apa yang dilakukan Ibu Triwatty menjadi inspirasi bagi seluruh insan olahraga berkuda untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan sehingga kuda lokal Indonesia mampu bersaing di tingkat nasional maupun dunia,” ujar Paulus.

    Momentum penghargaan tersebut berlangsung beriringan dengan upaya besar membenahi wajah pacuan kuda di Pulau Sumba. Jika selama ini pacuan kuda identik sebagai tradisi turun-temurun, kini perhatian mulai bergeser pada aspek keselamatan atlet, pembinaan usia dini, hingga standarisasi penyelenggaraan kejuaraan sebagai bagian dari pembangunan olahraga prestasi.

    Melalui kampanye “Aman Berprestasi”, Konfederasi Nasional Pordasi menyerahkan 90 pasang helm dan body protector kepada joki cilik di empat kabupaten di Pulau Sumba. Bantuan tersebut menjadi langkah awal membangun budaya keselamatan bagi anak-anak yang sejak usia dini telah menjadi bagian dari tradisi pacuan kuda Sumba.

    Bagi Triwatty Marciano, regenerasi joki merupakan fondasi masa depan pacuan kuda Indonesia. Namun, pembinaan atlet muda harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap hak, keamanan, dan keselamatan anak.

    “Bagaimana kita bisa menyelamatkan anak-anak kita dari hobinya sebagai joki cilik, yang kelak menjadi cikal bakal joki-joki nasional bahkan internasional,” ujar Triwatty.

    Konfederasi Nasional Pordasi juga mendorong pemerintah daerah di Pulau Sumba menerbitkan regulasi yang mewajibkan penggunaan perlengkapan keselamatan dalam setiap latihan maupun perlombaan. Langkah tersebut dinilai penting agar pembinaan atlet pacuan kuda telah memenuhi standar keselamatan ketika memasuki ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

    Perhatian terhadap keselamatan joki menjadi bagian dari agenda besar pembenahan pacuan kuda nasional. Kejuaraan Pacuan Kuda Bupati Cup  Sumba Barat 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan di lintasan, tetapi juga menjadi momentum memperkenalkan standar keselamatan yang lebih baik bagi atlet, khususnya joki cilik yang selama ini menjadi ciri khas pacuan kuda tradisional di Pulau Sumba.

    Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda bukan sekadar olahraga. Hamparan padang savana yang luas menjadikan kuda bagian dari kehidupan sehari-hari, simbol status sosial, sekaligus warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi. Potensi inilah yang kini diarahkan menjadi kekuatan sport tourism, industri olahraga, dan pengembangan ekonomi daerah berbasis kearifan lokal.

    Transformasi organisasi Pordasi yang dimulai pada 2024 melalui pembentukan empat federasi nasional—Pordasi Pacu, Pordasi Equestrian, Pordasi Polo, dan Pordasi Berkuda Memanah—membuka ruang pembinaan yang lebih fokus bagi setiap disiplin olahraga berkuda. Melalui tata kelola baru tersebut, pembinaan atlet, pengembangan kuda lokal, dan peningkatan kualitas penyelenggaraan kejuaraan diharapkan mampu mengangkat daya saing Indonesia di tingkat internasional.

    Di tengah perubahan itu, penghargaan LEPRID kepada Triwatty Marciano menjadi simbol bahwa keberhasilan olahraga tidak semata diukur dari raihan medali. Membangun ekosistem yang sehat, menjaga warisan budaya, melindungi atlet sejak usia dini, serta meningkatkan kualitas kuda lokal Indonesia merupakan fondasi menuju kemajuan pacuan kuda nasional.

    Dari Arena Gelora Pada Eweta, pesan itu mengalir kuat: masa depan pacuan kuda Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang tercepat melintasi garis finis, tetapi juga oleh keberanian membangun sistem pembinaan yang aman, profesional, dan berkelanjutan menuju PON 2028 serta panggung internasional.*/pp/llt

  • Di Sumba Barat, Ketum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman Terima Penghargaan LEPRID: Komitmen Pengembangan Kuda Lokal

    Di Sumba Barat, Ketum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman Terima Penghargaan LEPRID: Komitmen Pengembangan Kuda Lokal

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Arena Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Sabtu (18/7/2026), menjadi saksi apresiasi terhadap upaya panjang pengembangan olahraga pacuan kuda nasional. Di hadapan ribuan pecinta pacuan kuda, tokoh olahraga, pemerintah daerah, dan masyarakat, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman menerima penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID).

    Penghargaan tersebut diberikan atas kiprah Ketum KONI Pusat Marciano Norman sebagai pelopor dalam mendorong pengembangan, pembinaan, dan peningkatan prestasi kuda lokal Indonesia hingga dinilai mampu bersaing pada ajang pacuan kuda tingkat nasional maupun internasional. Penghargaan diserahkan oleh perwakilan LEPRID, Laurens Leba Tukan, di tengah penyelenggaraan pacuan kuda yang menjadi salah satu magnet olahraga sekaligus budaya masyarakat Sumba.

    Penghargaan ini menjadi pengakuan atas komitmen Ketum KONI Pusat Marciano Norman dalam memperkuat ekosistem olahraga pacuan kuda Indonesia. Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua Umum KONI Pusat, perhatian terhadap cabang olahraga berkuda terus diperluas melalui pembinaan yang berkesinambungan, dukungan terhadap penyelenggaraan berbagai kejuaraan, hingga penguatan kolaborasi antara organisasi olahraga, pemerintah daerah, komunitas peternak, dan pelaku pacuan kuda di berbagai daerah.

    Pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID, Paulus Pangka, S.H., mengatakan penghargaan tersebut diberikan kepada sosok pemimpin olahraga nasional yang dinilai memiliki visi kuat dalam membangun masa depan pacuan kuda Indonesia, terutama melalui pengembangan potensi kuda lokal.

    “LEPRID memberikan penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kepemimpinan Bapak Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman dalam mendorong kemajuan kuda lokal Indonesia. Komitmen beliau telah memberikan semangat baru bagi dunia pacuan kuda nasional agar mampu melahirkan kuda-kuda lokal yang unggul, berprestasi, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun dunia,” ujar Paulus Pangka.

    Menurut Paulus, kemajuan olahraga tidak hanya bergantung pada kualitas atlet dan pelatih, tetapi juga ditentukan oleh hadirnya pemimpin yang memiliki visi jangka panjang dan keberanian membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan.

    “Kami berharap penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus mengembangkan potensi kuda lokal Indonesia sebagai kebanggaan bangsa. Indonesia memiliki sumber daya yang luar biasa, dan melalui pembinaan yang tepat, kuda lokal Indonesia akan semakin diperhitungkan di pentas internasional,” katanya.

    Bagi dunia pacuan kuda Indonesia, penghargaan tersebut juga menjadi simbol pentingnya keberlanjutan pembinaan. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kualitas bibit, manajemen peternakan, hingga penyelenggaraan kompetisi, keberhasilan kuda lokal untuk tampil kompetitif di tingkat nasional maupun internasional memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.

    LEPRID berharap apresiasi kepada Ketum KONI Pusat Marciano Norman dapat menjadi inspirasi bagi insan olahraga nasional untuk terus menghadirkan inovasi dalam pembinaan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta melahirkan prestasi yang mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia. Di Sumba, daerah yang telah lama dikenal sebagai salah satu lumbung kuda nusantara bahkan dijuluki sebagai pulau sejuta kuda, penghargaan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa masa depan pacuan kuda Indonesia dibangun melalui komitmen jangka panjang terhadap pengembangan potensi kuda lokal.*/pp/llt (lebih…)

  • Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat Pecahkan Rekor Dunia, 604 Kuda Ramaikan Arena: Sandelwood Siap Bertarung di PON 2028

    Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat Pecahkan Rekor Dunia, 604 Kuda Ramaikan Arena: Sandelwood Siap Bertarung di PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM —Derap ratusan kuda memenuhi Arena Pacuan Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Sabtu (18/7/2026). Bukan hanya menjadi penutup Pacuan Kuda Piala Bupati Cup Sumba Barat 2026, hari itu juga menandai lahirnya sebuah catatan baru dalam sejarah pacuan kuda tradisional Indonesia. Sebanyak 604 ekor kuda ambil bagian dalam kejuaraan tersebut, jumlah terbanyak yang pernah tercatat dalam satu penyelenggaraan pacuan kuda tradisional dan mengantarkan Kabupaten Sumba Barat meraih penghargaan Rekor Dunia dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID).

    Rekor itu bukan sekadar angka. Di balik 604 ekor kuda terdapat antusiasme masyarakat yang mendiami Sumba, tanah dengan julukan pulau seribu kuda, yang terus menjaga tradisi berkuda sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus olahraga prestasi. Jumlah peserta tahun ini juga memperlihatkan semakin besarnya minat pemilik kuda dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur untuk menjadikan Bupati Cup Sumba Barat sebagai arena pembuktian kualitas kuda pacu lokal.

    Ketua Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat, Franky Tarawatu Susanto, melaporkan bahwa peserta berasal dari tujuh daerah. Kabupaten Sumba Barat menjadi penyumbang terbanyak dengan 328 ekor kuda, disusul Sumba Timur 135 ekor, Sumba Tengah 67 ekor, Sumba Barat Daya 59 ekor, Kota Kupang 4 ekor, Kabupaten Ngada 3 ekor, dan Kabupaten Timor Tengah Utara 5 ekor.

    Bagi Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, tingginya partisipasi tersebut menjadi indikator bahwa pacuan kuda tradisional telah berkembang melampaui sekadar pesta rakyat tahunan. Bupati Yohanis Dade menilai olahraga ini memiliki daya tarik yang terus meningkat dan mampu menjadi magnet wisata sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

    “Pacuan kuda di Sumba Barat menjadi olahraga yang memiliki daya tarik,” ujar Bupati Yohanis.

    Komitmen pemerintah daerah, menurut dia, adalah menjadikan kejuaraan ini sebagai agenda tahunan dengan penyelenggaraan yang semakin baik, aman, dan profesional sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan maupun peserta dari berbagai daerah.

    Penghargaan Dunia Bagi Para Penggerak Pacuan Kuda

    Momentum pemecahan rekor dunia juga diiringi dengan pemberian penghargaan LEPRID kepada sejumlah tokoh yang dinilai berkontribusi terhadap pengembangan olahraga pacuan kuda nasional.

    Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menerima penghargaan sebagai pelopor pengembangan, pembinaan, dan peningkatan prestasi kuda lokal Indonesia sehingga mampu bersaing pada perlombaan tingkat nasional maupun internasional.

    Penghargaan serupa diberikan kepada Ketua Presidium Konfederasi Nasional Pordasi Triwatty Marciano atas kiprahnya dalam pembinaan kuda lokal Indonesia.

    Bupati Sumba Barat Yohanis Dade menerima penghargaan sebagai pemerkasa rekor dunia lomba pacuan kuda terbanyak dengan 604 ekor peserta. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat juga memperoleh penghargaan sebagai penyelenggara rekor dunia yang diterima oleh Wakil Bupati Thomotius T. Ragga.

    Sementara itu, Franky Tarawatu Susanto mendapat penghargaan sebagai pendukung penyelenggara rekor dunia, sedangkan Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, S.H., M.H. menerima penghargaan sebagai inisiator masuknya nomor pacuan kuda tanpa pelana ke Pekan Olahraga Nasional (PON) sekaligus pendukung rekor dunia tersebut.

    Penghargaan LEPRID diserahkan oleh Paulus Pangka, S.H pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID melalui perwakilan.

    Menuju PON 2028

    Partai final yang berlangsung Sabtu menjadi penutup rangkaian kejuaraan yang telah berlangsung sejak awal Juli. Namun, berakhirnya perlombaan justru menjadi awal pekerjaan yang lebih besar.

    Ketua Harian Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya menyebut perhatian terhadap pacuan kuda Sumba kini meningkat setelah Ketua Umum KONI Pusat menetapkan Gelora Pada Eweta Waikabubak sebagai salah satu venue cabang olahraga pacuan kuda pada PON XXII Tahun 2028 yang akan digelar di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

    Dengan status tersebut, penyelenggaraan pacuan kuda tradisional dituntut memenuhi standar yang lebih tinggi, terutama dalam aspek keselamatan atlet.

    Sebagai langkah awal, Konfederasi Nasional Pordasi menyerahkan bantuan body protector dan helm kepada empat kabupaten di Pulau Sumba. Perlengkapan itu diharapkan menjadi standar keselamatan bagi para joki cilik yang selama ini menjadi ciri khas pacuan kuda tradisional Sumba.

    “Perlengkapan ini memang belum bisa diberikan kepada seluruh joki, tetapi diharapkan menjadi contoh sehingga penggunaannya dapat diperluas demi keselamatan,” ujar Eddy.

    Pada kesempatan yang sama, Ketua Presidium Konfederasi Nasional Pordasi Triwatty Marciano menyerahkan secara simbolis perlengkapan keselamatan kepada Wakil Bupati Sumba Tengah Marthinus Umbu Djoka. Sebelumnya bantuan serupa telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, sedangkan penyerahan kepada Kabupaten Sumba Timur dijadwalkan sehari kemudian.

    Bagi Yohanis Dade, peningkatan standar keselamatan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga yang lebih profesional tanpa meninggalkan karakter tradisional pacuan kuda Sumba.

    Ia optimistis penyelenggaraan PON XXII akan memperkenalkan Sumba kepada publik nasional maupun internasional. Kehadiran atlet, ofisial, pemilik kuda, hingga wisatawan diperkirakan memberi dampak ekonomi bagi pelaku UMKM, sektor akomodasi, transportasi, kuliner, hingga pariwisata.

    “Penonton yang datang dari luar Sumba bukan hanya menyaksikan pertandingan, tetapi juga menikmati keindahan alam Sumba,” kata Bupati Yohanis.

    Persaingan Ketat di Lintasan

    Persaingan sepanjang kejuaraan berlangsung dalam 15 kelas yang mempertandingkan kuda-kuda terbaik dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.

    Pada Kelas Pemula Mini 600 meter, Putri Kadongo Pollo milik Alvino Tenabolo dari Sumba Barat menjadi yang tercepat. Diamond Heart milik Haikal Jaya dari Sumba Timur menjuarai Kelas Pemula I 600 meter, sedangkan Mini Kopda milik Bintang Kopi Trans–Pak Stable dari Sumba Barat menjadi pemenang Kelas Pemula II 700 meter.

    Di Kelas Pemula III 800 meter, kemenangan diraih Rambu Wangga milik Rambu Ona (AK Stable) dari Sumba Timur. Kartika 18 milik Natalia Sogen memenangi Kelas E Mini, sementara Nona Gwi milik Andika menjadi juara Kelas D Mini.

    Pada Kelas D 800 meter, Nona Praimajangga milik Yohana Ngenju dari Sumba Timur tampil sebagai pemenang. Gadis Wetapal milik Albino dari Bajawa menjadi juara Kelas E Satu, sedangkan Moana milik Rivani Chandra dari Sumba Barat memenangi Kelas E Dua.

    Persaingan semakin ketat pada kelas utama. Dapatoda milik Aldo Poety menjadi juara Kelas C 1.000 meter, disusul Gadis Pepuwatu milik drh. Umbu Aldy Rihi yang menjadi terbaik di Kelas B 1.200 meter.

    Pada Kelas Terbuka 1.200 meter, kemenangan diraih Scarlet milik Audid Wailiang dari Sumba Barat. Miracle Kopda milik Kapten Kopda–Pak Stable dari Sumba Barat Daya menjadi juara Kelas A 1.400 meter, sedangkan Gadis Milla Ate milik Yosep Jano memenangi Kelas AA 1.600 meter.

    Adapun kelas paling bergengsi, A Super 2.000 meter, dimenangkan Sweet Road milik JW 23 Stable dari Kabupaten Timor Tengah Utara.

    Bupati Cup Sumba Barat 2026 akhirnya tidak hanya melahirkan para juara lintasan. Lebih dari itu, kejuaraan ini memperlihatkan bagaimana olahraga tradisional yang lahir dari budaya masyarakat Sumba mulai menapaki panggung nasional. Rekor dunia, peningkatan standar keselamatan, hingga penetapan venue PON menjadi penanda bahwa pacuan kuda Sumba sedang bergerak menuju fase baru: tetap berakar pada tradisi, namun semakin dekat dengan tata kelola olahraga modern.*/laurens leba tukan

     

  • Triwatty Marciano: Transformasi Pordasi Sudah Final, Putusan MA Tak Ubah Status Federasi di KONI

    Triwatty Marciano: Transformasi Pordasi Sudah Final, Putusan MA Tak Ubah Status Federasi di KONI

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Ketua Umum Konfederasi Nasional Pordasi yang juga Ketua Umum Federasi Nasional (FN) Pordasi Memanah, Triwatty Marciano, menegaskan bahwa transformasi organisasi Pordasi menjadi empat federasi nasional merupakan konsekuensi penyesuaian terhadap ketentuan federasi internasional.

    “Pada Munaslub 2024 kami mengubah AD/ART karena federasi internasional sudah memisahkan cabang Pacu, Polo, Memanah, dan Ekuestrian. Indonesia wajib mengikuti struktur tersebut agar diakui dalam sistem internasional,” kata Triwatty usai menghadiri final pacuan kuda Piala Bupati Cup Sumba Barat di Gelora Pada Eweta, Sabtu (18/7/2026).

    Menurut dia, model organisasi lama yang menyatukan seluruh disiplin berkuda dalam satu Pordasi sudah tidak lagi sesuai dengan ketentuan federasi internasional. Karena itu, Indonesia membentuk empat federasi nasional yang masing-masing menaungi satu disiplin olahraga.

    Langkah tersebut, lanjut Triwatty, juga menjadi syarat yang ditetapkan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sehingga seluruh cabang dapat mengikuti pembinaan dan keikutsertaan dalam agenda olahraga nasional maupun internasional.

    Pengurus Konfederasi Nasional Pordasi, Widodo Edi Sektianto, menjelaskan proses transformasi dilakukan secara bertahap setelah Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumatera Utara 2024.

    Saat itu, masa kepengurusan PP Pordasi diperpanjang karena seluruh organisasi diminta fokus menyukseskan PON. Setelah pesta olahraga nasional berakhir, masing-masing federasi menggelar musyawarah nasional untuk memilih kepengurusan baru.

    “Hasilnya, setiap federasi memiliki ketua umum sendiri. Keempat federasi itu kemudian menjadi anggota KONI,” ujar Widodo.

    Karena berasal dari akar organisasi yang sama, empat federasi itu kemudian membentuk Konfederasi Nasional Pordasi sebagai wadah koordinasi bersama. Konfederasi tersebut tidak menjadi anggota KONI, melainkan berfungsi menyatukan kebijakan dan sinergi antar-federasi sesuai praktik organisasi internasional.

    Berdasarkan kesepakatan bersama, kepemimpinan konfederasi dilakukan secara bergilir. Saat ini Triwatty Marciano dipercaya memimpin Konfederasi Nasional Pordasi, sembari tetap menjabat Ketua Umum FN Pordasi Memanah.

    Putusan MA Tidak Mengubah Kedudukan Organisasi

    Triwatty juga menanggapi beredarnya tafsir atas putusan Mahkamah Agung (MA) yang belakangan menjadi perbincangan di kalangan insan pacuan kuda, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

    Menurut dia, putusan tersebut tidak membatalkan keberadaan empat federasi nasional maupun status keanggotaannya di KONI.

    “Putusan MA menyatakan gugatan tidak dapat diterima atau niet ontvankelijke verklaard (NO). Artinya, tidak ada pihak yang dinyatakan menang ataupun kalah. Putusan itu juga tidak membatalkan akta notaris federasi maupun status keanggotaan kami di KONI,” ujar Triwatty.

    Ia menegaskan, posisi organisasi tetap sama seperti saat ini. Federasi yang telah menjadi anggota KONI tetap menjalankan fungsi pembinaan olahraga nasional, sedangkan kelompok di luar struktur KONI memiliki kedudukan organisasinya masing-masing.

    Gugatan Berawal dari Perpanjangan Masa Jabatan

    Triwatty menjelaskan, sengketa hukum itu berawal dari keputusan memperpanjang masa jabatan kepengurusan PP Pordasi menjelang PON Aceh-Sumut 2024.

    Semula, masa kepengurusan berakhir pada awal Januari 2024. Namun melalui rapat kerja nasional, seluruh pengurus sepakat menunda musyawarah nasional hingga PON selesai agar fokus pembinaan atlet tidak terganggu.

    Keputusan perpanjangan itulah yang kemudian digugat melalui Pengadilan Tata Usaha Negara dengan objek gugatan berupa Surat Keputusan KONI.

    Dalam perjalanannya, kata Triwatty, organisasi justru telah mengalami transformasi sehingga objek sengketa sudah tidak lagi relevan ketika perkara bergulir hingga tingkat kasasi.

    “Organisasinya sudah berubah, struktur baru sudah terbentuk, sehingga objek yang disengketakan sudah tidak ada lagi,” katanya.

    Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang menambahkan, pengadilan sebelumnya juga tidak pernah masuk pada pokok perkara karena persoalan tersebut dinilai bukan menjadi kewenangan PTUN dan seharusnya diselesaikan melalui mekanisme internal organisasi.

    Triwatty menilai masih adanya pihak yang menggunakan putusan MA untuk mempersoalkan kepengurusan FN Pordasi Pacu di NTT justru berpotensi memecah soliditas insan pacuan kuda.

    “Yang kami harapkan sekarang adalah seluruh pelaku olahraga berkuda kembali fokus pada pembinaan atlet dan persiapan menghadapi agenda nasional. Organisasi sudah memiliki dasar hukum dan struktur yang jelas,” ujarnya.*/laurens leba tukan