G-RDVF5GTVXM

Tag: Kabupaten Sumba Barat

  • 45 Helm dan Body Protector untuk Joki Cilik Sumba dari Ibu Triwatty Marciano, Umbu Rudi Kabunang Dipercaykan Kelola Pacuan Kuda Tradisional Menuju PON 2028

    45 Helm dan Body Protector untuk Joki Cilik Sumba dari Ibu Triwatty Marciano, Umbu Rudi Kabunang Dipercaykan Kelola Pacuan Kuda Tradisional Menuju PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Di tengah sorak ribuan penonton yang memadati Arena Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kamis (16/7/2026), sebuah momen penting bagi masa depan pacuan kuda Indonesia terjadi. Bukan ketika seekor kuda melintasi garis finis, melainkan saat 45 helm dan 45 body protector diserahkan kepada para joki cilik Sumba.

    Bantuan perlengkapan keselamatan dari Ketua Umum Federasi Nasional Pordasi Berkuda Memanah Triwatty Marciano itu menjadi simbol dimulainya babak baru pacuan kuda tradisional tanpa pelana di Pulau Sumba. Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun kini tidak lagi hanya dipandang sebagai kearifan lokal, tetapi mulai memasuki panggung olahraga nasional setelah dipastikan menjadi salah satu nomor yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

    Penyerahan perlengkapan keselamatan itu turut disaksikan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Ketua Umum VI KONI Pusat Josef Nae Soi, Anggota DPR RI sekaligus Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT Umbu Rudi Kabunang, Ketua Harian PP Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya, serta pemerintah daerah.

    Bagi Ibu Triwatty Marciano, momentum tersebut sekaligus menjadi pemenuhan janji yang pernah ia sampaikan kepada masyarakat Sumba beberapa tahun silam.

    “Saya pernah berjanji bahwa pacuan kuda tradisional tanpa pelana di Sumba harus terus kita angkat. Hari ini, perjuangan itu mulai terwujud. Pacuan tradisional sudah mendapat tempat sebagai cabang olahraga PON, dan kami ingin memastikan anak-anak yang menjadi joki cilik juga mendapatkan perlindungan yang layak,” ujarnya.

    Menurut Ibu Triwatty, keselamatan para joki menjadi perhatian utama di tengah semakin besarnya perhatian nasional terhadap pacuan tradisional Sumba. Para joki cilik yang selama ini tumbuh dari tradisi masyarakat diyakini merupakan bibit atlet yang kelak mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

    Ia pun menitipkan kelanjutan pengembangan pacuan kuda tradisional kepada Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT Umbu Rudi Kabunang agar cita-cita menjadikan Sumba sebagai pusat pacuan kuda nasional dapat diwujudkan.

    Umbu Rudi menyebut pengakuan terhadap pacuan tradisional sebagai cabang olahraga PON merupakan kebanggaan terbesar masyarakat Sumba. Selama berabad-abad, kuda bukan sekadar alat transportasi ataupun simbol budaya, melainkan telah menjadi bagian dari identitas masyarakat pulau itu.

    “Hari ini menjadi momentum yang sangat bersejarah bagi seluruh masyarakat Sumba. Kuda Sumba akhirnya memperoleh pengakuan sebagai bagian dari olahraga prestasi nasional,” katanya.

    Ia juga mengapresiasi bantuan perlengkapan keselamatan bagi para joki cilik. Menurutnya, pembinaan atlet tidak hanya berbicara mengenai prestasi, tetapi juga mengenai perlindungan terhadap anak-anak yang sejak dini menekuni olahraga tersebut.

    Momentum itu sekaligus mempertegas posisi Sumba sebagai salah satu pusat pengembangan olahraga berkuda nasional. Selain ditetapkan menjadi lokasi penyelenggaraan cabang olahraga berkuda pacu pada PON XXII Tahun 2028, daerah ini juga diproyeksikan menjadi tuan rumah berbagai agenda nasional, mulai dari Kejuaraan Nasional hingga babak kualifikasi PON.

    Bupati Sumba Barat Yohanis Dade menyebut perhatian pemerintah pusat dan pengurus olahraga nasional sebagai berkah bagi masyarakat Sumba Barat. Ia menilai keputusan memasukkan pacuan tradisional tanpa pelana ke dalam PON merupakan sejarah baru yang akan mendorong pertumbuhan olahraga sekaligus ekonomi daerah.

    Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, kata dia, siap mendukung penyelenggaraan Kejurnas, Pra-PON, hingga PON 2028 melalui penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

    Sementara itu, Ketua Harian PP Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya menegaskan bahwa tradisi tidak akan dihilangkan ketika pacuan kuda Sumba memasuki sistem olahraga nasional. Sebaliknya, regulasi nasional akan disandingkan dengan nilai-nilai lokal agar pertandingan berlangsung lebih aman tanpa menghilangkan kekhasan budaya Sumba.

    “Yang akan kita bangun adalah standar keselamatan. Tradisi tetap dipertahankan, tetapi perlindungan terhadap atlet, terutama joki cilik, harus menjadi prioritas,” ujarnya.

    Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat tahun ini pun menjadi lebih dari sekadar kompetisi tahunan. Arena Gelora Pada Eweta berubah menjadi panggung awal perjalanan pacuan tradisional Sumba menuju PON XXII 2028. Di sana, tradisi, prestasi, dan keselamatan bertemu dalam satu lintasan yang sama.*/laurens leba tukan

  • Waketum KONI Pusat Josef Nae Soi Menyaksikan Mimpi yang Diperjuangkannya: Sumba Resmi Jadi Arena Pacuan Kuda Tradisional PON 2028

    Waketum KONI Pusat Josef Nae Soi Menyaksikan Mimpi yang Diperjuangkannya: Sumba Resmi Jadi Arena Pacuan Kuda Tradisional PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Di tengah gemuruh derap kuda dan sorak ribuan penonton yang memenuhi Arena Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kamis (16/7/2026), senyum Josef A. Nae Soi tak pernah lepas. Wakil Ketua Umum VI KONI Pusat itu bukan sekadar menyaksikan semifinal Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026. Ia sedang menyaksikan sebuah mimpi yang diperjuangkannya selama bertahun-tahun akhirnya menjadi kenyataan: Nusa Tenggara Timur resmi menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 bersama Nusa Tenggara Barat, dengan Sumba dipercaya menggelar cabang olahraga pacuan kuda tradisional.

    Bagi Josef Nae Soi, mantan Wakil Gubernur NTT sekaligus mantan Ketua Umum KONI NTT, keputusan itu bukan datang begitu saja. Lima tahun silam, ketika banyak pihak masih meragukan kemampuan NTT menjadi tuan rumah PON, ia termasuk figur yang paling gigih memperjuangkan agar provinsi kepulauan itu memperoleh kepercayaan nasional.

    “Hari ini yang paling bahagia adalah saya karena lima tahun yang lalu saya berusaha supaya NTT menjadi tuan rumah pelaksanaan PON XXII Tahun 2028 dan hari ini sudah dinyatakan menjadi tuan rumah. Terima kasih kepada seluruh masyarakat NTT dan masyarakat Indonesia yang telah mempercayakan NTT dan NTB menjadi tuan rumah PON,” kata Josef.

    Menurutnya, keraguan yang dulu mengiringi perjuangan tersebut kini telah terjawab melalui berbagai event olahraga nasional yang mampu diselenggarakan di NTT.

    “Dulu banyak yang meragukan NTT menjadi tuan rumah PON. Tetapi hari ini kita menunjukkan kepada Indonesia bahkan dunia bahwa Sumba Barat dan NTT mampu melaksanakan kejuaraan nasional. Kalau ada kejuaraan internasional pun saya yakin bisa dilaksanakan di sini,” ujarnya.

    Josef kemudian mengajak seluruh masyarakat NTT menjadikan PON 2028 sebagai momentum bersama untuk mempercepat pembangunan olahraga sekaligus meningkatkan daya saing daerah.

    “Mari kita sukseskan PON XXII Tahun 2028 dan bekerja keras membangun NTT agar sejajar dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia,” katanya.

    Momentum yang membuat kebahagiaan Josef semakin lengkap hadir beberapa saat kemudian. Di hadapan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, jajaran KONI Pusat, pemerintah daerah, dan ribuan penonton, Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menetapkan Arena Gelora Pada Eweta sebagai lokasi penyelenggaraan cabang olahraga pacuan kuda tradisional pada PON XXII Tahun 2028. Keputusan itu disambut tepuk tangan panjang yang menggema di seluruh arena.

    Marciano mengaku keputusan tersebut lahir setelah menyaksikan langsung kualitas penyelenggaraan serta kuatnya tradisi pacuan kuda yang hidup di tengah masyarakat Sumba.

    “Setelah hari ini saya melihat langsung pacuan kuda ini, maka pada PON XXII Tahun 2028, pacuan kuda tradisional dilaksanakan di sini,” ujarnya.

    Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menilai keputusan tersebut menjadi tonggak sejarah baru bagi olahraga di Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, pacuan kuda Sumba bukan hanya olahraga, melainkan identitas budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

    “Kuda merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumba. Pacuan kuda bukan hanya menjadi ajang olahraga dan hiburan, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan, menumbuhkan sportivitas, sekaligus melestarikan tradisi yang menjadi kebanggaan daerah,” kata Gubernur Melki.

    Ia optimistis semakin banyak kompetisi berkualitas akan memperkuat pembinaan atlet muda menuju PON 2028, sekaligus memberi dampak ekonomi melalui tumbuhnya sektor pariwisata dan UMKM.

    Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026 yang berlangsung pada 6–18 Juli itu memang bukan sekadar perlombaan. Sebanyak 16 kelas dipertandingkan dengan melibatkan ratusan kuda pacu dan joki dari berbagai kabupaten di NTT. Di sela perlombaan, KONI Pusat bersama Federasi Nasional Pordasi Pacu juga menyerahkan perlengkapan keselamatan berupa helm dan body protector kepada para joki cilik sebagai bagian dari penguatan budaya keselamatan dalam olahraga berkuda.

    Momentum bersejarah itu turut disaksikan Ketua Umum PP Pordasi Berkuda Memanah Triwatty Marciano, Anggota DPR RI yang juga Ketua FN Pordasi Pacu NTT Dr. Umbu Rudi Kabunang, Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Wakil Bupati Sumba Barat yang juga Ketua KONI Sumba Barat, Thimotius Ragga, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Alpawan Rangga Kaka, jajaran Forkopimda, Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat Frangki Tarawatu Susanto serta ribuan masyarakat yang memenuhi Arena Gelora Pada Eweta.

    Kini, derap kuda di Gelora Pada Eweta tidak lagi hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sumba. Arena yang selama puluhan tahun menjadi rumah tradisi pacuan kuda itu telah resmi memasuki panggung olahraga nasional. Di sana, seperti yang dikatakan Gubernur Melki, yang berpacu bukan hanya kuda-kuda terbaik Sumba, melainkan juga mimpi sebuah daerah untuk membuktikan diri di hadapan Indonesia.*/laurens leba tukan

  • Gubernur NTT: Selamat Pak Umbu Rudi Kabunang yang Membawa Pak Ketum KONI Pusat ke Sumba, Gelora Pada Eweta Jadi Arena PON

    Gubernur NTT: Selamat Pak Umbu Rudi Kabunang yang Membawa Pak Ketum KONI Pusat ke Sumba, Gelora Pada Eweta Jadi Arena PON

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga Ketua Umum KONI Provinsi NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan ucapan selamat kepada Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, yang dinilainya berhasil menghadirkan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman ke Pulau Sumba. Kehadiran pimpinan tertinggi KONI itu berujung pada keputusan penting, yakni penetapan Arena Gelora Pada Eweta di Kabupaten Sumba Barat sebagai lokasi penyelenggaraan cabang olahraga pacuan kuda tradisional pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

    Ucapan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri Semifinal Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026 di Arena Gelora Pada Eweta, Kamis (16/7/2026). Di hadapan ribuan masyarakat yang memadati arena, Gubernur Melki menilai kehadiran Ketua Umum KONI Pusat di Sumba menjadi momentum bersejarah bagi perkembangan olahraga pacuan kuda di Nusa Tenggara Timur.

    “Selamat kepada Pak Umbu Rudi Kabunang yang telah berhasil menghadirkan Bapak Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI Purn. Marciano Norman dan Ibu Triwatty Norman ke Sumba, khususnya di Arena Gelora Pada Eweta. Ini menjadi momentum besar bagi olahraga dan masyarakat Nusa Tenggara Timur,” ujar Gubernur Melki.

    Riuh tepuk tangan ribuan penonton belum sepenuhnya reda ketika sebuah keputusan penting kemudian lahir di Arena Gelora Pada Eweta. Di tengah atmosfer semifinal Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat 2026, Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menetapkan arena pacuan kebanggaan masyarakat Sumba itu sebagai lokasi penyelenggaraan cabang olahraga pacuan kuda tradisional pada PON XXII Tahun 2028.

    Keputusan tersebut langsung disambut sorak gembira masyarakat yang memadati tribun. Bagi dunia pacuan kuda Sumba, momentum itu bukan sekadar penunjukan arena pertandingan, melainkan pengakuan nasional terhadap tradisi yang telah hidup turun-temurun di pulau yang dikenal sebagai tanah Marapu dan rumah bagi kuda Sandelwood.

    Menurut Gubernur Melki, keberhasilan menghadirkan Ketua Umum KONI Pusat ke Sumba menjadi langkah strategis yang membuka jalan lahirnya keputusan bersejarah tersebut. Ia menilai penetapan Gelora Pada Eweta sebagai arena PON merupakan sejarah baru bagi NTT karena untuk pertama kalinya provinsi kepulauan itu dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan salah satu cabang olahraga pada pesta olahraga nasional.

    “Keputusan ini menjadi kebanggaan masyarakat NTT. Ini akan kami laporkan dalam Rapat Kerja Daerah KONI Provinsi NTT besok malam karena telah diputuskan langsung oleh Ketua Umum KONI Pusat. Selamat kepada masyarakat Sumba Barat, para pencinta pacuan kuda, Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat, serta Wakil Bupati Sumba Barat Daya,” kata Gubernur Melki.

    Lebih jauh, Gubernur Melki menilai keputusan tersebut tidak hanya mengangkat prestise olahraga pacuan kuda, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata, UMKM, hingga pembinaan atlet.

    Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman didampingi isterinya Ibu Triwatty Norman yang juga Ketua Umum PP Pordasi Berkuda Memanah dan Gubernur NTT yang juga Ketua Umum KONI Provinsi NTT Emanuel Melkiades Lakka Lena serta Wakil Ketua Umum KONI Pusat Josef Nae Soi, Anggota DPR RI Umbu Rudi Kabunang, Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Alpawan Rangga Kaka, jajaran Forkopimda, Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat Frangki Tarawatu Susanto saat pose bersama usai penyerahan helem dan body protecktor kepada para joki cilik usai pelaksanaan semi final Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat 2026 di Gelora Pada Eweta, Kabupaten Sumba Barat, Kamis (16/7/2026). foto ocep

    “Yang berpacu hari ini bukan hanya kuda. Yang berpacu adalah mimpi anak-anak Sumba,” ujar Gubernur Melki.

    Kalimat itu seolah merangkum suasana yang tersaji sepanjang perlombaan. Joki-joki cilik tanpa pelana memacu kuda mereka dengan keberanian dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik setiap lintasan, tersimpan tradisi, disiplin, dan identitas budaya yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Sumba.

    Sementara itu, Ketum KONI Pusat Letjen TNI Purn. Marciano Norman mengatakan keputusan menetapkan Gelora Pada Eweta sebagai arena PON diambil setelah menyaksikan langsung kualitas penyelenggaraan serta atmosfer pacuan kuda tradisional yang dinilai memiliki karakter kuat sebagai olahraga sekaligus warisan budaya.

    “Setelah hari ini saya melihat langsung pacuan kuda ini, maka pada PON XXII Tahun 2028, pacuan kuda tradisional dilaksanakan di sini,” ujar Marciano yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan ribuan penonton.

    Penetapan tersebut sekaligus menjadi angin segar bagi pengembangan olahraga berkuda di Indonesia. Selama ini, pacuan kuda tradisional Sumba dikenal memiliki kekhasan tersendiri karena para joki berlomba tanpa pelana dengan teknik berkuda yang diwariskan secara turun-temurun dan masih lestari hingga kini.

    Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman bersama Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar yang juga Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, dan Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Wakil usai pelaksanaan semi final Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat 2026 di Gelora Pada Eweta, Kabupaten Sumba Barat, Kamis (16/7/2026). foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

    Momentum bersejarah itu turut disaksikan Ketua Umum PP Pordasi Berkuda Memanah Triwatty Marciano, Wakil Ketua Umum KONI Pusat Josef Nae Soi, Anggota DPR RI Umbu Rudi Kabunang, Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Alpawan Rangga Kaka, jajaran Forkopimda, Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat Frangki Tarawatu Susanto serta ribuan masyarakat yang memenuhi Arena Gelora Pada Eweta.

    Bagi NTT, penunjukan Gelora Pada Eweta bukanlah garis akhir, melainkan awal dari pekerjaan besar menyiapkan infrastruktur, pembinaan atlet, serta tata kelola penyelenggaraan menuju PON XXII Tahun 2028. Namun, di atas semua itu, keputusan tersebut menjadi pengakuan bahwa pacuan kuda tradisional Sumba telah melampaui batas sebagai tradisi lokal. Kini, olahraga warisan leluhur itu resmi menempatkan diri di panggung olahraga nasional, membawa harapan agar budaya, prestasi, pariwisata, dan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Timur dapat melaju secepat derap kuda-kuda terbaik Sumba.*/laurens leba tukan

  • Apresiasi Wabup SBD untuk Umbu Rudi Kabunang, Pacuan Kuda Tradisional Sumba Resmi Jadi Nomor PON 2028

    Apresiasi Wabup SBD untuk Umbu Rudi Kabunang, Pacuan Kuda Tradisional Sumba Resmi Jadi Nomor PON 2028

    TAMBOLAKA,SELATANINDONESIA.COM — Perjuangan panjang membawa pacuan kuda tradisional tanpa pelana Sumba ke panggung olahraga nasional akhirnya mencapai titik penting. Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD) Dominikus Rangga Kaka, Rabu (8/7/2026) menyampaikan apresiasi atas perjuangan Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Umbu Rudi Kabunang, yang berhasil mendorong masuknya nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

    Bagi Rangga Kaka, keputusan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian besar bagi olahraga berkuda di Sumba dan NTT, tetapi juga menjadi pengakuan nasional terhadap tradisi masyarakat Sumba yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pada PON 2028 mendatang, Sumba dipercaya menjadi tuan rumah pertandingan pacuan kuda, menjadikan daerah itu sebagai panggung nasional bagi olahraga yang selama ini melekat kuat dengan identitas budaya masyarakat setempat.

    Riuh derap kaki kuda di lintasan Gelora Pada Eweta kini tidak lagi sekadar menjadi bagian dari pesta rakyat setelah musim panen. Arena yang selama bertahun-tahun menjadi tempat lahirnya para joki dan kuda-kuda pacu terbaik Sumba tersebut bersiap memasuki babak baru sebagai arena olahraga prestasi tingkat nasional.

    “Ini sesuatu yang luar biasa dan menjadi kebanggaan kita bersama. Pacuan kuda tradisional tanpa pelana yang selama ini menjadi warisan budaya masyarakat Sumba kini mendapat tempat di ajang olahraga terbesar nasional,” ujar Rangga Kaka.

    Menurutnya, momentum PON 2028 harus menjadi pemicu bagi seluruh masyarakat untuk semakin serius menjaga dan mengembangkan kuda Sumba. Tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga meningkatkan tata kelola pemeliharaan kuda agar mampu bersaing dalam standar kompetisi nasional.

    Ia mendorong para pemilik kuda, pelatih, dan joki untuk meningkatkan profesionalisme, mulai dari pola perawatan, pembinaan atlet, hingga penerapan aturan pertandingan yang menjunjung sportivitas. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah memastikan pertandingan berlangsung bersih dengan menghindari penggunaan doping terhadap kuda pacu.

    Rangga Kaka menilai kehadiran agenda nasional seperti Kejuaraan Nasional (Kejurnas), Pra-PON, hingga PON 2028 akan memberikan dampak luas bagi masyarakat. Selain meningkatkan prestasi olahraga, penyelenggaraan tersebut diyakini mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi daerah, mulai dari perhotelan, rumah makan, jasa transportasi, pertanian, peternakan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

    “Pacuan kuda bukan lagi hanya tentang pertandingan, tetapi juga menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumba,” katanya.

    Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan sportivitas dalam setiap penyelenggaraan pacuan kuda. Menurut dia, keberhasilan Sumba menjadi tuan rumah tidak hanya bergantung pada kesiapan lintasan, tetapi juga pada dukungan masyarakat dalam menciptakan penyelenggaraan yang profesional dan berkelas nasional.

    Rangga Kaka memberikan apresiasi khusus kepada Umbu Rudi Kabunang yang dinilai memiliki peran besar dalam memperjuangkan agar pacuan kuda tradisional tanpa pelana masuk dalam kalender PON. Ia juga mengapresiasi dukungan Gubernur NTT sekaligus Ketua Umum KONI NTT Emanuel Melkiades Laka Lena serta KONI Pusat dalam proses tersebut.

    “Kehadiran dan perjuangan Dr. Umbu Rudi Kabunang menjadi semangat baru bagi kemajuan olahraga prestasi berkuda di Sumba dan NTT. Ke depan, kita akan terus mendukung agar turnamen pacuan kuda semakin berkembang dan menjadi hiburan rakyat yang memiliki nilai prestasi,” ujarnya.

    Dengan tersedianya lintasan pacuan kuda berskala nasional di Sumba, pemerintah daerah optimistis pembinaan olahraga berkuda dapat berkembang lebih profesional. Peningkatan kualitas tidak hanya menyasar fasilitas pertandingan, tetapi juga sumber daya manusia yang terlibat, seperti pemilik kuda, pelatih, joki, dan steward.

    Sementara itu, Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT Dr. Umbu Rudi Kabunang mengatakan pengembangan pacuan kuda di Sumba tidak akan berhenti setelah berhasil masuk PON 2028. Menurut dia, fokus berikutnya adalah membangun sistem pembinaan yang lebih terarah agar Sumba mampu melahirkan atlet dan kuda pacu berprestasi secara berkelanjutan.

    Federasi Nasional  Pordasi Pacu, kata Umbu Rudi, tengah menyiapkan berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan sertifikasi bagi joki, pelatih, serta steward. Selain itu, penerapan pemeriksaan antidoping terhadap kuda pacu juga mulai dipersiapkan sebagai bagian dari upaya memenuhi standar kompetisi nasional.

    “Kejurnas 2026 dan Kejurnas 2027 akan menjadi tahapan penting menuju PON 2028. Ajang tersebut menjadi momentum untuk mengukur kesiapan atlet, kuda pacu, sekaligus penyelenggaraan sebelum Sumba menjadi tuan rumah,” kata Umbu Rudi.

    Ia berharap keberhasilan pacuan kuda tradisional tanpa pelana masuk PON menjadi titik awal lahirnya pusat pembinaan olahraga pacuan kuda nasional di kawasan timur Indonesia. Sumba, yang selama ini dikenal memiliki tradisi berkuda yang kuat, kini memiliki peluang besar untuk mengembangkan tradisi tersebut menjadi olahraga prestasi modern.

    Pacuan kuda tanpa pelana yang dahulu hanya menjadi simbol kegembiraan masyarakat seusai panen kini mulai memasuki fase baru. Tradisi yang diwariskan leluhur Sumba itu perlahan bertransformasi menjadi cabang olahraga yang memiliki standar nasional, tanpa kehilangan nilai budaya yang menjadi identitasnya.

    Menjelang PON XXII Tahun 2028, masyarakat Sumba membawa harapan lebih besar dari sekadar mengejar medali. Mereka ingin menunjukkan bahwa tradisi lokal mampu tumbuh menjadi kekuatan olahraga nasional, sekaligus memperkenalkan Sumba sebagai salah satu pusat baru perkembangan pacuan kuda Indonesia.*/llt

  • Thimotius Ragga: Umbu Rudi Kabunang Penggerak Kebangkitan Pacuan Kuda Sumba, Dari Tradisi ke Lintasan PON

    Thimotius Ragga: Umbu Rudi Kabunang Penggerak Kebangkitan Pacuan Kuda Sumba, Dari Tradisi ke Lintasan PON

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Di tengah gegap gempita pembukaan Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT 2026 di Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Senin (6/7/2026), Ketua KONI Kabupaten Sumba Barat yang juga Wakil Bupati Sumba Barat, Thimotius Tede Ragga, menyampaikan penghormatan khusus kepada Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu Nusa Tenggara Timur, Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, SH., MH.

    Menurutnya, sosok Umbu Rudi merupakan inspirator sekaligus motor perubahan yang berhasil membawa olahraga pacuan kuda Sumba memasuki babak baru melalui perjuangannya meloloskan Sumba Barat sebagai tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2027 sekaligus arena penyelenggaraan cabang olahraga pacuan kuda pada PON XXII Tahun 2028. Dan mengangkat pacuan kuda tradisional tanpa pelana lolos menjadi kelas yang mulai diperlombakan dalam PON XXII tahun 2028 mendatang.

    Bagi Thimotius, keberhasilan tersebut bukan sekadar prestasi organisasi olahraga. Di baliknya terdapat gagasan besar yang diyakini akan mengubah wajah pembangunan daerah. Pacuan kuda, menurut dia, kini tidak lagi dipandang sebagai tradisi masyarakat Sumba semata, melainkan telah berkembang menjadi instrumen pembangunan ekonomi, pelestarian budaya, pembinaan atlet, hingga promosi pariwisata.

    “Umbu Rudi Kabunang adalah sosok yang menginspirasi. Beliau menghadirkan kreasi dan terobosan baru yang sangat menguntungkan masyarakat Sumba Barat bahkan seluruh Pulau Sumba. Melalui ide, gagasan, dan perjuangannya, Sumba dipercaya menjadi tuan rumah Kejurnas dan pelaksanaan cabang olahraga pacuan kuda pada PON, dan Kuda Sumba dengan pacuan tanpa pelana masuk dalam PON,” kata Thimotius disambut tepuk tangan ribuan penonton.

    Pernyataan itu lahir bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga pacuan kuda di Sumba mengalami perkembangan signifikan. Kepercayaan menjadi tuan rumah Kejurnas sekaligus lokasi pertandingan PON dinilai sebagai pengakuan nasional terhadap tradisi berkuda yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Sumba. Pacuan kuda sendiri telah lama menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Sumba sekaligus memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata olahraga.

    Thimotius mengatakan, kehadiran event nasional nantinya akan membawa dampak berganda bagi daerah. Ribuan atlet, ofisial, pelatih, pemilik kuda, wisatawan, hingga pelaku usaha diperkirakan akan datang ke Pulau Sumba. Kondisi itu diyakini akan menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, peternakan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

    Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat mempersiapkan diri menyambut agenda nasional tersebut. Menurut dia, keberhasilan sebagai tuan rumah bukan hanya ditentukan oleh kualitas arena pacuan, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam memberikan rasa aman, nyaman, dan keramahtamahan kepada seluruh tamu.

    “Ketika Kejurnas dan PON berlangsung nanti, orang Sumba harus menjadi tuan rumah yang baik. Kita tunjukkan bahwa Sumba aman, tertib, bersih, dan masyarakatnya ramah. Itu akan menjadi promosi terbaik bagi daerah ini,” ujarnya.

    Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga ketertiban selama penyelenggaraan berbagai event pacuan kuda, termasuk menghindari konsumsi minuman beralkohol yang berpotensi mengganggu keamanan. Menurutnya, citra daerah akan menjadi modal penting ketika Sumba menjadi pusat perhatian olahraga nasional.

    Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT Tahun 2026 sendiri menjadi salah satu ajang pemanasan menuju agenda nasional tersebut. Kejuaraan yang berlangsung pada 6–18 Juli 2026 itu diikuti 604 ekor kuda pacu dari enam daerah di Nusa Tenggara Timur yang bersaing dalam 16 kelas perlombaan.

    Sementara itu, Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, yang juga anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, mengatakan pengembangan pacuan kuda di Sumba tidak berhenti pada penyelenggaraan kejuaraan. Pihaknya tengah menyiapkan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan bersertifikat bagi joki, pelatih, dan steward, termasuk uji coba pemeriksaan anti-doping terhadap kuda pacu sebagai bagian dari standar menuju PON.

    Menurut Umbu Rudi, Kejurnas 2026 dan selanjutnya Kejurnas 2027 akan menjadi ajang Pra-PON sekaligus momentum penting mengukur kesiapan atlet dan kuda pacu sebelum tampil pada PON XXII Tahun 2028. Ia berharap keberhasilan Sumba menjadi tuan rumah mampu menjadi titik balik lahirnya pusat pembinaan olahraga pacuan kuda nasional di kawasan timur Indonesia.*/llt

     

  • FN Pordasi Pacu NTT Bangun Pacuan Kuda Bersih, Umbu Rudi Kabunang: Kuda Sumba Siap Ukir Prestasi di PON 2028 Tanpa Doping

    FN Pordasi Pacu NTT Bangun Pacuan Kuda Bersih, Umbu Rudi Kabunang: Kuda Sumba Siap Ukir Prestasi di PON 2028 Tanpa Doping

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM—Suara derap kuda yang memecah lintasan Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Senin (6/7/2026), bukan sekadar penanda dimulainya Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026. Di balik kemeriahan pembukaan, terselip pesan penting tentang masa depan olahraga pacuan kuda Indonesia: prestasi harus dibangun melalui pembinaan, bukan jalan pintas. Seluruh pemilik dan pelatih kuda pacu diingatkan agar tidak menggunakan doping demi meraih prestasi instan.

    Pesan itu disampaikan Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu Nusa Tenggara Timur sekaligus Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang. Di hadapan ribuan masyarakat yang terdiri dari pemilik kuda, pelatih, joki, dan warga pencinta pacuan kuda, ia mengingatkan bahwa penggunaan doping tidak lagi memiliki ruang dalam olahraga berkuda yang tengah dipersiapkan menuju Kejuaraan Nasional, Pra-PON, hingga PON XXII Tahun 2028.

    Menurut Umbu Rudi, pembinaan pacuan kuda di NTT kini memasuki fase yang lebih serius. Sistem pengawasan pada level nasional akan semakin ketat dengan penerapan pemeriksaan anti-doping terhadap seluruh peserta.

    “Jangan menggunakan doping karena kita sedang menuju pacuan kuda prestasi di Kejurnas dan PON XXII Tahun 2028. Akan ada tim anti-doping yang melakukan pemeriksaan. Jangan sampai kita menjadi juara di daerah, tetapi gagal di tingkat nasional karena terbukti menggunakan doping. Lebih baik mengandalkan kualitas pakan, perawatan, dan latihan,” katanya.

    Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa kemenangan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh kecepatan kuda di lintasan, tetapi juga oleh integritas seluruh insan pacuan kuda dalam mempersiapkan atlet berkaki empat secara profesional.

    Umbu Rudi mencontohkan pengelolaan kuda pacunya, Gasspol, yang menurutnya hanya mengandalkan pakan bergizi, tambahan vitamin, dan pola latihan yang terukur tanpa menggunakan zat terlarang.

    “Saya berharap para pemilik kuda tidak menggunakan doping supaya sportivitas dalam turnamen tetap terjaga. Kuda-kuda kita harus mampu lolos ke Kejurnas, Pra-PON hingga PON melalui kemampuan terbaiknya sendiri. Selain bisa terdeteksi saat seleksi, doping juga berdampak buruk bagi kesehatan kuda maupun keturunannya,” ujarnya.

    Ia mengingatkan bahwa kemenangan yang diperoleh dengan cara curang justru dapat berubah menjadi kerugian besar ketika gelar juara dicabut akibat pelanggaran aturan.

    “Apalah artinya menjadi juara kalau akhirnya gelar dibatalkan karena terbukti menggunakan doping. Juara pertama PON XXII Tahun 2028 diperkirakan memperoleh hadiah ratusan juta rupiah. Yang dipertaruhkan bukan hanya hadiah, tetapi juga nama baik kabupaten dan Provinsi NTT. Karena itu, mari kita melatih kuda secara alamiah,” katanya.

    Lebih jauh, Umbu Rudi menjelaskan bahwa penggunaan doping bukan hanya melanggar sportivitas, tetapi juga mengancam keselamatan kuda. Obat pereda nyeri dapat menyamarkan cedera sehingga kuda tetap dipacu meski mengalami keretakan tulang atau gangguan sendi. Kondisi tersebut berpotensi berujung pada patah tulang fatal ketika berlomba.

    Risiko lain juga tidak kalah serius. Zat stimulan dapat memaksa jantung bekerja melebihi kapasitas normal sehingga memicu pembengkakan jantung, serangan jantung, bahkan kematian mendadak. Sementara penggunaan zat kimia sintetis dalam jangka panjang dapat merusak fungsi hati dan ginjal, menimbulkan toksisitas darah, serta mengubah perilaku kuda menjadi agresif atau mengalami gangguan psikologis setelah efek obat menghilang.

    Bagi dunia pacuan kuda, konsekuensi doping tidak berhenti pada kesehatan hewan. Pelanggaran dapat berujung pada diskualifikasi, pencabutan gelar juara, denda, skorsing terhadap pemilik, pelatih maupun joki, hingga larangan mengikuti berbagai kompetisi resmi. Reputasi pemilik ikut tercoreng, nilai jual kuda menurun, dan kepercayaan sponsor ikut menghilang.

    Karena itu, menurut Umbu Rudi, pembangunan prestasi pacuan kuda Indonesia harus dimulai dari pembinaan yang bersih, berbasis ilmu pengetahuan, manajemen pakan, kesehatan, dan latihan yang konsisten. Di tengah upaya menjadikan kuda Sandelwood sebagai salah satu kekuatan nasional menuju PON XXII Tahun 2028, budaya sportivitas dinilai menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar.*/llt