G-RDVF5GTVXM
GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Daerah Ekonomi Golkar Olahraga
Beranda / Olahraga / Apresiasi Wabup SBD untuk Umbu Rudi Kabunang, Pacuan Kuda Tradisional Sumba Resmi Jadi Nomor PON 2028

Apresiasi Wabup SBD untuk Umbu Rudi Kabunang, Pacuan Kuda Tradisional Sumba Resmi Jadi Nomor PON 2028

Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Rangga Kaka (kedua dari kiri) bersama Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu NTT Dr. Umbu Rudi Kabunang (baju putih) dan Bupati Sumba Barat Yohanis Dade ketika menyaksikan pacua kuda Bupati Sumba Barat Cup di Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Senin (6/7/2026) foto;SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

TAMBOLAKA,SELATANINDONESIA.COM โ€” Perjuangan panjang membawa pacuan kuda tradisional tanpa pelana Sumba ke panggung olahraga nasional akhirnya mencapai titik penting. Wakil Bupati Sumba Barat Daya (SBD) Dominikus Rangga Kaka, Rabu (8/7/2026) menyampaikan apresiasi atas perjuangan Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Umbu Rudi Kabunang, yang berhasil mendorong masuknya nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

Bagi Rangga Kaka, keputusan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian besar bagi olahraga berkuda di Sumba dan NTT, tetapi juga menjadi pengakuan nasional terhadap tradisi masyarakat Sumba yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pada PON 2028 mendatang, Sumba dipercaya menjadi tuan rumah pertandingan pacuan kuda, menjadikan daerah itu sebagai panggung nasional bagi olahraga yang selama ini melekat kuat dengan identitas budaya masyarakat setempat.

Riuh derap kaki kuda di lintasan Gelora Pada Eweta kini tidak lagi sekadar menjadi bagian dari pesta rakyat setelah musim panen. Arena yang selama bertahun-tahun menjadi tempat lahirnya para joki dan kuda-kuda pacu terbaik Sumba tersebut bersiap memasuki babak baru sebagai arena olahraga prestasi tingkat nasional.

“Ini sesuatu yang luar biasa dan menjadi kebanggaan kita bersama. Pacuan kuda tradisional tanpa pelana yang selama ini menjadi warisan budaya masyarakat Sumba kini mendapat tempat di ajang olahraga terbesar nasional,” ujar Rangga Kaka.

Menurutnya, momentum PON 2028 harus menjadi pemicu bagi seluruh masyarakat untuk semakin serius menjaga dan mengembangkan kuda Sumba. Tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga meningkatkan tata kelola pemeliharaan kuda agar mampu bersaing dalam standar kompetisi nasional.

DPR RI Dr. Umbu Kabunang: Kepastian Hukum Tercapai Melalui Penguatan Peran Kanwil Kemenkum dan Sinergi Pemda dalam Pembentukan Perda

Ia mendorong para pemilik kuda, pelatih, dan joki untuk meningkatkan profesionalisme, mulai dari pola perawatan, pembinaan atlet, hingga penerapan aturan pertandingan yang menjunjung sportivitas. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah memastikan pertandingan berlangsung bersih dengan menghindari penggunaan doping terhadap kuda pacu.

Rangga Kaka menilai kehadiran agenda nasional seperti Kejuaraan Nasional (Kejurnas), Pra-PON, hingga PON 2028 akan memberikan dampak luas bagi masyarakat. Selain meningkatkan prestasi olahraga, penyelenggaraan tersebut diyakini mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi daerah, mulai dari perhotelan, rumah makan, jasa transportasi, pertanian, peternakan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

“Pacuan kuda bukan lagi hanya tentang pertandingan, tetapi juga menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumba,” katanya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan sportivitas dalam setiap penyelenggaraan pacuan kuda. Menurut dia, keberhasilan Sumba menjadi tuan rumah tidak hanya bergantung pada kesiapan lintasan, tetapi juga pada dukungan masyarakat dalam menciptakan penyelenggaraan yang profesional dan berkelas nasional.

Rangga Kaka memberikan apresiasi khusus kepada Umbu Rudi Kabunang yang dinilai memiliki peran besar dalam memperjuangkan agar pacuan kuda tradisional tanpa pelana masuk dalam kalender PON. Ia juga mengapresiasi dukungan Gubernur NTT sekaligus Ketua Umum KONI NTT Emanuel Melkiades Laka Lena serta KONI Pusat dalam proses tersebut.

Thimotius Ragga: Umbu Rudi Kabunang Penggerak Kebangkitan Pacuan Kuda Sumba, Dari Tradisi ke Lintasan PON

“Kehadiran dan perjuangan Dr. Umbu Rudi Kabunang menjadi semangat baru bagi kemajuan olahraga prestasi berkuda di Sumba dan NTT. Ke depan, kita akan terus mendukung agar turnamen pacuan kuda semakin berkembang dan menjadi hiburan rakyat yang memiliki nilai prestasi,” ujarnya.

Dengan tersedianya lintasan pacuan kuda berskala nasional di Sumba, pemerintah daerah optimistis pembinaan olahraga berkuda dapat berkembang lebih profesional. Peningkatan kualitas tidak hanya menyasar fasilitas pertandingan, tetapi juga sumber daya manusia yang terlibat, seperti pemilik kuda, pelatih, joki, dan steward.

Sementara itu, Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT Dr. Umbu Rudi Kabunang mengatakan pengembangan pacuan kuda di Sumba tidak akan berhenti setelah berhasil masuk PON 2028. Menurut dia, fokus berikutnya adalah membangun sistem pembinaan yang lebih terarah agar Sumba mampu melahirkan atlet dan kuda pacu berprestasi secara berkelanjutan.

Federasi Nasionalย  Pordasi Pacu, kata Umbu Rudi, tengah menyiapkan berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan sertifikasi bagi joki, pelatih, serta steward. Selain itu, penerapan pemeriksaan antidoping terhadap kuda pacu juga mulai dipersiapkan sebagai bagian dari upaya memenuhi standar kompetisi nasional.

“Kejurnas 2026 dan Kejurnas 2027 akan menjadi tahapan penting menuju PON 2028. Ajang tersebut menjadi momentum untuk mengukur kesiapan atlet, kuda pacu, sekaligus penyelenggaraan sebelum Sumba menjadi tuan rumah,” kata Umbu Rudi.

Negara Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Ia berharap keberhasilan pacuan kuda tradisional tanpa pelana masuk PON menjadi titik awal lahirnya pusat pembinaan olahraga pacuan kuda nasional di kawasan timur Indonesia. Sumba, yang selama ini dikenal memiliki tradisi berkuda yang kuat, kini memiliki peluang besar untuk mengembangkan tradisi tersebut menjadi olahraga prestasi modern.

Pacuan kuda tanpa pelana yang dahulu hanya menjadi simbol kegembiraan masyarakat seusai panen kini mulai memasuki fase baru. Tradisi yang diwariskan leluhur Sumba itu perlahan bertransformasi menjadi cabang olahraga yang memiliki standar nasional, tanpa kehilangan nilai budaya yang menjadi identitasnya.

Menjelang PON XXII Tahun 2028, masyarakat Sumba membawa harapan lebih besar dari sekadar mengejar medali. Mereka ingin menunjukkan bahwa tradisi lokal mampu tumbuh menjadi kekuatan olahraga nasional, sekaligus memperkenalkan Sumba sebagai salah satu pusat baru perkembangan pacuan kuda Indonesia.*/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement