RINDI,SELATANINDONESIA.COM โ Arena Pacuan Kuda Sinar Kabaru yang dikenal dengan LASKAR Kabaru di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, bergemuruh sepanjang babak penyisihan Humba Cup 2026, Sabtu (25/7/2026). Dua kuda unggulan, Panamu dan Ratu SOKSI, tampil dominan di kelas masing-masing, mengukuhkan diri sebagai kandidat kuat perebutan gelar sekaligus menegaskan potensi olahraga pacuan kuda Sumba menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.
Panamu, kuda andalan milik Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Timur, Umbu Ngadu Ndamu, mencuri perhatian pada Kelas A (Ren 3 Ban 4). Sejak keluar dari garis start, Panamu langsung memimpin jalannya perlombaan dan mempertahankan kecepatannya hingga garis finis pada Sabtu (25/7/22026).
Di hadapan ribuan penonton yang memadati Arena Para Kawatu, Panamu sukses meninggalkan dua pesaingnya, Palimbang Mahamu dan Sadio Mane, untuk mengamankan tiket ke babak berikutnya.
Kemenangan tersebut terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan ulang tahun sang pemilik. Hasil yang diraih Panamu menjadi hadiah tersendiri bagi Umbu Ngadu Ndamu di tengah berlangsungnya pesta olahraga dan budaya masyarakat Sumba itu.
Sebelumnya, Ratu SOKSI, kuda betina milik Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua Depidar SOKSI Nusa Tenggara Timur, Dr. Umbu Rudi Kabunang, juga tampil impresif pada babak penyisihan Kelas B. Kuda dengan tinggi 132 sentimeter itu finis di posisi pertama setelah mengungguli Nokam, Logam, dan Li Manggawa.
Dua kemenangan tersebut semakin memanaskan persaingan Humba Cup 2026 yang diikuti sekitar 270 ekor kuda dari berbagai wilayah di Pulau Sumba. Setiap kelas menghadirkan duel sengit yang tidak hanya mempertaruhkan prestise pemilik dan joki, tetapi juga menjadi panggung pembuktian kualitas bibit-bibit kuda pacu terbaik dari tanah Humba.
Umbu Rudi Kabunang mengatakan, penyelenggaraan Palapang Djara Humba memiliki arti yang jauh melampaui kompetisi semata. Menurut dia, pacuan kuda telah menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
“Palapang Djara Humba memberikan dampak yang sangat luas. Masyarakat semakin terdorong memelihara kuda, budaya tetap lestari, ekonomi rakyat bergerak, dan olahraga pacuan kuda memiliki kesempatan berkembang dari tradisi menuju prestasi nasional, termasuk menghadapi PON XXII Tahun 2028,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme bahwa tradisi pacuan kuda Sumba kini mulai diarahkan menjadi bagian dari pembinaan olahraga berkuda yang lebih profesional. Selain menjaga warisan budaya, ajang seperti Humba Cup juga dipandang sebagai wadah menjaring atlet, joki, dan kuda-kuda potensial untuk bersaing di tingkat nasional.

LASAKAR Kabaru sebutan lain untuk Lapangan Sinar Kabaru di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur. Foto: Rinto Lunggi
Humba Cup 2026 sendiri resmi dibuka oleh Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, pada Kamis (23/7/2026). Kejuaraan yang digelar Pemerintah Kecamatan Rindi bersama panitia penyelenggara itu merupakan salah satu agenda budaya terbesar di Pulau Sumba yang setiap tahun menyedot perhatian masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa pacuan kuda merupakan warisan budaya yang sarat nilai sportivitas, persaudaraan, dan kebersamaan. Tradisi tersebut, menurutnya, harus terus dirawat karena menjadi bagian dari identitas masyarakat Sumba Timur.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, Humba Cup juga memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal. Kehadiran ratusan peserta beserta ribuan penonton menghidupkan aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mulai dari pedagang kuliner, penginapan, hingga jasa transportasi di sekitar arena pacuan.
Bupati juga mengajak seluruh panitia, pemilik kuda, joki, aparat keamanan, dan masyarakat untuk menjaga keamanan, ketertiban, serta menjunjung tinggi sportivitas hingga seluruh rangkaian Humba Cup 2026 berakhir.
Dengan penampilan meyakinkan pada babak penyisihan, Panamu dan Ratu SOKSI kini menjadi dua nama yang paling diperhitungkan dalam perebutan gelar Humba Cup 2026. Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, penampilan keduanya memperlihatkan bahwa pacuan kuda Sumba terus berkembang sebagai olahraga berbasis budaya yang memiliki peluang besar melahirkan prestasi nasional, seiring langkah pembinaan menuju PON XXII Tahun 2028.*/laurens leba tukan




Komentar