G-RDVF5GTVXM

Tag: Kabupaten Sumba Barat

  • Di Gelora Pada Eweta, Dr. Umbu Rudi Kabunang Lantik Empat Ketua Pordasi Pacu Se-Sumba, Pacuan Tanpa Pelana Siap Debut di PON 2028

    Di Gelora Pada Eweta, Dr. Umbu Rudi Kabunang Lantik Empat Ketua Pordasi Pacu Se-Sumba, Pacuan Tanpa Pelana Siap Debut di PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM – Suasana Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Sumba Barat, Selasa (28/4/2026), menjadi titik awal kebangkitan pacuan kuda Sumba. Di arena yang selama ini dikenal sebagai pusat tradisi berkuda itu, Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, melantik empat ketua pengurus kabupaten dari Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah.

    Empat Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu se daratan Sumba itu diantaranya, Sumba Barat Frengky Tarawatu Susanto, Sumba Timur Umbu Aryad Tunggudjama, Sumba Barat Daya Yohanis Mone Kaka, dan Sumba Tengah Umbu Saingu Poti.

    Pelantikan ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan bagian dari konsolidasi besar menuju Pekan Olahraga Nasional XXII 2028. Untuk pertama kalinya, Sumba Barat dipercaya menjadi tuan rumah cabang olahraga berkuda pacu, sebuah momentum yang dinilai dapat mengangkat kembali kejayaan kuda Sandelwood di pentas nasional.

    Umbu Rudi tidak menutupi ambisinya. Anggota DPR RI Fraksi Golkar itu menegaskan bahwa Pordasi Pacu NTT harus bergerak dengan target yang jelas. Tanpa itu, Sumba akan tertinggal dari daerah lain seperti Jawa dan Sumatra yang lebih dahulu berkembang dalam olahraga pacuan kuda. Salah satu langkah strategis yang ia dorong adalah memasukkan nomor pacuan kuda tanpa pelana ke dalam PON 2028—dan usulan itu kini telah disetujui.

    “Kalau sudah masuk PON, ini bukan lagi milik Sumba saja, tapi akan dipertandingkan secara nasional secara berkelanjutan. Kita wajib ambil bagian,” ujarnya.

    Nomor tanpa pelana memang menjadi kekuatan khas Sumba. Dengan karakter kuda dan tradisi lokal yang kuat, NTT membidik target tinggi: 10 medali emas di PON 2028. Target tersebut akan dikejar melalui pembinaan berjenjang, termasuk pelatihan joki dan pelatih lokal serta penguatan regulasi lomba.

    Selain prestasi, skala penyelenggaraan juga menjadi sorotan. Sumba disebut mampu menggelar pacuan hingga 1.000 ekor kuda dalam satu event, angka yang jauh melampaui standar internasional yang umumnya berkisar 300 kuda. Kondisi ini bahkan tengah dipersiapkan untuk diajukan sebagai rekor nasional.

    Agenda menuju PON pun sudah tersusun. Kejuaraan nasional akan digelar Agustus 2026 di Waikabubak, disusul Pra-PON pada 2027, sebelum puncaknya pada 2028. Rangkaian ini diyakini tidak hanya mengasah kesiapan atlet, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari peternakan kuda hingga sektor pendukung lainnya.

    Ucapan terima kasih disampaikan Umbu Rudi Kabunang kepada Bupati Sumba Barat yang betul-betul mendukung FN Pordasi Pacu dan juga Wakil Bupati Sumba Barat yang hadir langsung pada acara pelantikan empat Pengkab FN Pordasi Kabupaten se daratan Sumba yang menaruh perhatian terhadap pengebangan kemajuan olah raga berkuda pacu. “Juga terima kasih untuk seluruh Bupati dan Wakil Bupati se daratan Sumba yang menjadi bagian dari pembina Pordasi Pacu di masing-masing Kabupaten,” ujarnya.

    Umbu Rudi Kabunang juga mengajak Bupati Sumba Timur, Bupati Sumba Barat, Butapi Sumba Barat Daya dan Bupati Sumba Tengah agar bersama-sama bersinergi menyongsong kejurnas dan momentum PON 2028 yang menjadi titik awal menata olah raga berkuda yang profesional dari segi prestasi sambil memberikan kontribusi bagi sektor pariwisata dan ekonomi. “teman-teman Pengkab FN Pordasi untuk mengatur agenda-agenda tetap yang dipaketkan dengan agenda pariwisata di kabupaten masing-masing supaya selain berprestasi di olahraga berkuda tetapi juga bersinergi dengan pariwisata di Sumba dan NTT umumnya,” jelas Umbu Rudi.

    Ia menambahkan, sebelum pelaksanaan Kejurnas Pacuan Kuda pada Agustus 2026 di Gelora Pada Eweta, konsolidasi dan pelantikan Pengkab FN Pordasi Pacu di daratan Timor, Flores dan Kabupaten Kepulauan lainnya akan dilaksanakan.

    Wakil Bupati Sumba Barat, Timotius T. Rangga, menegaskan bahwa pacuan kuda lebih dari sekadar olahraga. Ia menyebutnya sebagai identitas budaya yang melekat pada masyarakat Sumba. Karena itu, kesiapan sebagai tuan rumah tidak hanya menyangkut arena dan atlet, tetapi juga sikap masyarakat.

    “Sumba dikenal karena keindahan alam dan karakternya. Kita harus memastikan tamu yang datang merasakan itu, dengan keamanan dan keramahan yang terjaga,” kata dia.

    Di tengah transformasi organisasi Pordasi yang kini mengikuti standar internasional dengan pemisahan federasi, momentum ini menjadi ujian sekaligus peluang. Sumba tidak hanya ditantang untuk berprestasi, tetapi juga untuk menegaskan diri sebagai pusat pacuan kuda nasional, tempat tradisi, olahraga, dan ekonomi bertemu dalam satu lintasan.*/llt

  • Sekjen Pordasi Pacu dan Umbu Rudi Kabunang Konsolidasikan Road to PON 2028, Gelora Pada Ewata Jadi Venue Pacuan

    Sekjen Pordasi Pacu dan Umbu Rudi Kabunang Konsolidasikan Road to PON 2028, Gelora Pada Ewata Jadi Venue Pacuan

    Waikabubak Siap Sambut PON 2028, Pacuan Kuda Tanpa Pelana Resmi Dipertandingkan

    JAKARTA,SELATANINDONESIA.COM — Cabang olahraga berkuda pacu dipastikan akan menjadi salah satu magnet pada Pekan Olahraga Nasional XXII 2028 yang akan digelar di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Cabang olahraga berkuda pacu khususnya nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana yang selama ini hidup sebagai tradisi masyarakat NTT khususnya Sumba, resmi masuk sebagai nomor pertandingan.

    Venue pacuan kuda PON 2028 direncanakan berlangsung di Lapangan Pacuan Gelora Pada Ewata, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Penetapan tersebut menjadi pengakuan nasional atas tradisi panjang pacuan kuda yang telah mengakar kuat di Pulau Sumba.

    Sekretaris Jenderal DPP Federasi Nasional Pordasi Pacu, Prasetyo Oedjiantono, pada Kamis (12/3/2026), mengatakan federasi telah menggelar rapat pimpinan secara daring pada Selasa (10/3/2026) yang diikuti jajaran pengurus pusat, direktur pacu, serta ketua pengprov dan pengda. Rapat tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus langkah awal menyiapkan program Road to PON 2028.

    “Kepercayaan pemerintah melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia kepada Federasi Nasional Pordasi Pacu harus kita jawab dengan kerja serius. Berkuda pacu harus dikelola secara profesional untuk meningkatkan prestasi atlet, kualitas kuda pacu, dan mutu penyelenggaraan lomba,” ujar Prasetyo.

    Menurut dia, PON 2028 menjadi kesempatan besar untuk memperkuat pembinaan nasional sekaligus mengangkat potensi kuda-kuda lokal tradisional yang selama ini berkembang di berbagai daerah.

    Federasi, jelas Prasetyo menambahkan, Prasetyo menjelaskan bahwa dalam Road to PON XXII 2028, federasi akan menyiapkan sekitar 20 nomor pertandingan untuk kelas kuda A hingga J, dengan perhatian khusus pada kelas G, H, I, dan J yang diisi kuda rakyat atau kuda lokal tradisional. Nomor ini akan diperlombakan baik untuk jarak pendek (sprint) maupun jarak jauh (stayer), memastikan seluruh kuda lokal memiliki kesempatan bersaing.

    Selain itu, federasi juga akan menyelenggarakan sejumlah Pelatihan dan lokakarya untuk joki, pelatih, dan stewards. Juga Sertifikasi stewards dan asisten stewards. ”Penunjukan petugas pertandingan (racing official) dari tuan rumah dibantu personel berpengalaman dari FN Pordasi Pacu. Dan simulasi dan uji coba lomba menuju PON 2028,” jelasnya.

    Prasetyo menekankan, “Ini momentum penting. Kuda lokal yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat di berbagai daerah kini mendapat ruang di panggung nasional.”

    Sementara itu, Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, menyebut keputusan memasukkan pacuan kuda tanpa pelana sebagai nomor resmi pertandingan merupakan hasil perjuangan panjang.

    Menurut Umbu Rudi, sejak awal NTT ditetapkan sebagai tuan rumah PON, pihaknya konsisten memperjuangkan agar tradisi pacuan tanpa pelana tidak sekadar menjadi atraksi budaya, tetapi diakui sebagai nomor olahraga resmi.

    “Kami yakinkan bahwa pacuan tanpa pelana adalah kekuatan NTT, khususnya Sumba. Ini bukan hanya tradisi, tetapi juga olahraga yang memiliki sistem pembinaan dan basis penggemar yang besar,” kata Umbu Rudi.

    Ia menjelaskan, proses pengajuan tersebut memerlukan argumentasi teknis, data pembinaan, serta komunikasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk KONI pusat dan pengurus federasi.

    Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil ketika Waikabubak di Sumba Barat ditetapkan sebagai lokasi pertandingan berkuda pacu PON 2028. Lapangan Pacuan Gelora Pada Ewata dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi arena pacuan bertaraf nasional.

    Bagi masyarakat Sumba, keputusan ini bukan sekadar agenda olahraga. Pacuan kuda tanpa pelana telah lama menjadi denyut kehidupan masyarakat, diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari identitas budaya pulau tersebut.

    Umbu Rudi bahkan memasang target ambisius. Ia berharap kontingen NTT mampu meraih setidaknya 10 medali emas dari cabang olahraga berkuda pacu pada PON 2028.

    “Sekarang saatnya kita bersiap. Para pemilik kuda, pelatih, dan joki muda harus mulai mempersiapkan diri. PON 2028 adalah panggung besar bagi kuda-kuda lokal Sumba,” ujarnya.

    Dengan waktu persiapan yang tersisa sekitar dua tahun, federasi bersama pengurus provinsi di berbagai daerah juga akan mulai menggelar simulasi pertandingan menuju PON 2028, termasuk penyusunan standar aturan lomba untuk menyatukan berbagai tradisi pacuan yang selama ini berkembang di Indonesia.

    Bagi NTT, terutama Sumba Barat, PON 2028 bukan sekadar kompetisi olahraga nasional. Ia menjadi panggung pengakuan bahwa tradisi lokal yang lahir dari masyarakat dapat berdiri sejajar di arena olahraga nasional.*/llt

     

  • Berkuda Pacu Tradisional Tanpa Pelana Resmi Dipertandingkan pada PON XXII 2028 di Sumba Barat, Umbu Rudi: NTT Patok 10 Emas

    Berkuda Pacu Tradisional Tanpa Pelana Resmi Dipertandingkan pada PON XXII 2028 di Sumba Barat, Umbu Rudi: NTT Patok 10 Emas

    WAINGAPU,SELATANINDONESIA.COM — Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis. Nomor Pacuan Tradisional Tanpa Pelana resmi masuk dalam cabang olahraga Berkuda Pacu pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028. Lebih dari itu, venue pertandingan ditetapkan di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah pengakuan atas tradisi panjang pacuan kuda lokal di Pulau Sumba.

    Keputusan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Persiapan PON XXII Tahun 2028 yang digelar di kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Jakarta, Jumat (27/2/2026). Rapat memfinalisasi cabang olahraga yang akan dipertandingkan di tiga wilayah tuan rumah, yakni Nusa Tenggara Timur sebagai tuan rumah utama, Nusa Tenggara Barat, serta klaster DKI Jakarta.

    Bagi NTT, keputusan ini bukan sekadar soal teknis cabang olahraga. Ia adalah pengakuan atas identitas budaya. Pacuan kuda tanpa pelana telah lama menjadi denyut nadi masyarakat Sumba, tradisi yang hidup di arena-arena tanah lapang, diwariskan lintas generasi.

    Di balik keberhasilan tersebut, ada perjuangan panjang Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, DR. Umbu Rudi Kabunang. Sejak awal wacana NTT menjadi tuan rumah PON mengemuka, ia konsisten mengawal agar nomor Pacuan Tradisional Tanpa Pelana tidak sekadar menjadi atraksi budaya, melainkan diakui sebagai nomor resmi yang dipertandingkan.

    Umbu Rudi mengisahkan, usulan itu tidak serta-merta diterima. Dibutuhkan argumentasi teknis, data partisipasi, hingga pembuktian bahwa kuda-kuda lokal tradisional memiliki basis pembinaan yang kuat dan kompetitif. Ia bersama jajaran Pengprov Pordasi Pacu NTT berkali-kali melakukan komunikasi intensif dengan KONI NTT dan pengurus pusat federasi.

    “Kami yakinkan bahwa pacuan tanpa pelana adalah kekuatan NTT, khususnya Sumba. Ini bukan hanya tradisi, tetapi juga cabang olahraga yang memiliki sistem pembinaan dan penggemar besar,” ujarnya di Waingapu, Sabtu (28/2/2026).

    Langkah itu mendapat dukungan dari Gubernur NTT Melki Laka Lena yang juga Ketum KONI NTT dan Wakil Gubernur NTT sekaligus Wakil Ketua Umum I KONI NTT, Johni Asadoma. Dalam forum koordinasi di Jakarta, Johni Asadoma menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan PON sebagai momentum strategis mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.

    “NTT sebagai daerah kepulauan membagi pelaksanaan cabang olahraga ke beberapa kabupaten di Pulau Timor, Sumba, Flores, Rote Ndao, dan Alor. Ini bukan sekadar penyelenggaraan olahraga, tetapi strategi pemerataan pembangunan,” kata Johni Asadoma.

    Bagi Umbu Rudi, perjuangan berikutnya adalah memastikan Sumba Barat ditetapkan sebagai lokasi pertandingan. Ia bersama pengurus kabupaten melakukan peninjauan dan pemetaan kesiapan Lapangan Pacuan Gelora Pada Ewata di Waikabubak. Aspek teknis lintasan, kapasitas penonton, hingga aksesibilitas menjadi bagian dari laporan yang diajukan ke pusat.

    Hasilnya, Waikabubak resmi ditetapkan sebagai venue Berkuda Pacu PON XXII 2028. ”Ayo semua keluarga para pencinta pacuan kuda tradisional tanpa pelana di NTT, siapkan kudamu dan kita palapang,” sebut Umbu Rudi Kabunang.

    Sekretaris Jenderal DPP FN Pordasi Pacu, Prasetyo Oedjiantono, menyatakan pihaknya segera menyiapkan langkah teknis lanjutan, termasuk penyusunan technical handbook. Secara garis besar, sepuluh nomor reguler yang telah dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional XXI akan tetap dilanjutkan, ditambah nomor-nomor untuk kuda lokal tradisional kelas G, H, I, dan J dengan jarak sprint maupun stayer.

    Perlombaan akan berlangsung selama dua hari dan langsung memasuki babak final. Rangkaian Pra-PON dan Babak Kualifikasi akan digelar sepanjang 2026–2027, dengan penetapan atlet, kuda, dan kontingen final paling lambat satu tahun sebelum pelaksanaan.

    Umbu Rudi tak menutup ambisi. Ia menargetkan NTT mampu menyumbang 10 medali emas dari cabang Berkuda Pacu, terutama dari nomor Pacuan Tradisional Tanpa Pelana. Optimisme itu bertumpu pada pengalaman panjang para joki muda Sumba yang sejak belia akrab dengan kuda dan lintasan tanah.

    Bagi masyarakat Sumba Raya, keputusan ini lebih dari sekadar kalender olahraga. Ia adalah pengakuan atas tradisi yang selama ini hidup di pinggiran—kini berdiri sejajar di panggung nasional. Dan bagi Umbu Rudi Kabunang, PON XXII 2028 menjadi penanda bahwa kerja senyap dan konsistensi advokasi akhirnya menemukan muaranya.*/llt

  • Sumba Barat Disiapkan Jadi Arena Pacuan Kuda Tradisional PON XXII 2028

    Sumba Barat Disiapkan Jadi Arena Pacuan Kuda Tradisional PON XXII 2028

    KUPANG, SELATANINDONESIA.COM— Ambisi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadikan pacuan kuda tradisional tanpa pelana sebagai cabang olahraga resmi dalam Pekan Olahraga Nasional XXII kian mengerucut. Kabupaten Sumba Barat disepakati sebagai lokasi pertandingan jika cabang tersebut lolos menjadi nomor resmi yang dipertandingkan pada pesta nasional empat tahunan itu.

    Keputusan itu mengemuka dalam rapat pleno Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTT, Senin (23/2/2026), di Kupang. Rapat dipimpin Wakil Ketua Umum I KONI NTT yang juga Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma.

    Sumba Barat dinilai paling siap dari sisi infrastruktur dan arena. Sejumlah pembenahan teknis masih diperlukan, tetapi secara umum venue telah memenuhi standar nasional.

    Sekretaris KONI NTT, Alfons Theodorus, menegaskan pihaknya akan membawa usulan tersebut ke KONI Pusat agar pacuan kuda tradisional tanpa pelana masuk daftar cabang olahraga resmi PON 2028. “Dalam rapat tadi sudah disepakati Sumba Barat menjadi lokasi pertandingan. Ini bagian dari keseriusan kita,” ujarnya.

    Dorongan itu sebelumnya datang dari Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT yang dipimpin Umbu Rudi Kabunang. Pengurus provinsi Pordasi Pacu menargetkan sedikitnya 13 kelas dapat dipertandingkan secara resmi. Dari jumlah itu, NTT memasang target ambisius: merebut minimal 10 medali emas.

    Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Di Pulau Sumba, pacuan kuda tanpa pelana bukan sekadar perlombaan, melainkan tradisi yang hidup dan diwariskan lintas generasi. Anak-anak menunggang kuda sejak dini, membentuk keberanian dan ketangguhan yang menjadi modal kompetitif sulit ditandingi daerah lain.

    Sebagai tuan rumah bersama NTB, NTT memandang momentum PON 2028 bukan sekadar agenda olahraga, melainkan panggung legitimasi budaya. Mengangkat pacuan kuda tradisional ke level nasional berarti memberi pengakuan formal pada praktik budaya yang selama ini tumbuh organik di masyarakat.

    Rangkaian persiapan telah disusun. Latihan bersama dijadwalkan berlangsung pada April 2026 di Sumba untuk menyosialisasikan standar pertandingan. Kejuaraan Nasional akan digelar Agustus 2026 di Sumba Barat sebelum bergeser ke daratan Timor. Pra-PON cabang ini pun direncanakan berlangsung di wilayah NTT.

    Sejumlah kabupaten mulai membenahi arena pacuan berstandar nasional, termasuk Sumba Barat, Sumba Barat Daya, dan Sumba Timur. Pemerintah daerah melalui dinas pemuda dan olahraga menyatakan kesiapan memfasilitasi turnamen nasional guna memperkuat legitimasi cabang tersebut masuk agenda resmi PON.

    Bagi NTT, pertaruhannya bukan hanya prestasi. Jika pacuan kuda tradisional tanpa pelana resmi dipertandingkan, provinsi kepulauan ini berpeluang menegaskan identitas sekaligus membangun warisan olahraga berbasis budaya. PON 2028 pun dapat menjadi panggung di mana tradisi dan prestasi berdiri sejajar.*/llt

  • Gubernur Melki Ajak Guru dan Siswa Sumba Bangun Pendidikan Berdaya Saing

    Gubernur Melki Ajak Guru dan Siswa Sumba Bangun Pendidikan Berdaya Saing

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM –  Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena menggelar  tatap muka bersama para Pengawas, Pembina, Kepala Sekolah, serta Pengurus OSIS SMA/SMK/SLB se-Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Tengah di SMK Negeri 1 Waikabubak, Selasa (16/9/2025).

    Dalam arahannya, Gubernur Melki Laka Lena menekankan bahwa kunci peningkatan kualitas pendidikan terletak pada guru. “Guru adalah salah satu faktor utama peningkatan kualitas pendidikan. Pemerintah Provinsi tetap memprioritaskan kesejahteraan guru sesuai kemampuan fiskal daerah,” ujarnya.

    Selain itu, ia mendorong setiap sekolah mampu mengenali potensi siswa. Pendidikan, menurutnya, tidak hanya menyiapkan generasi untuk bekerja, tetapi juga membekali mereka menjadi pencipta lapangan kerja. Melki memperkenalkan program One School One Product, yang terintegrasi dengan gerakan One Village One Product (OVOP) dan pemasaran lewat NTT Mart.

    “Sekolah harus melatih siswa berwirausaha sejak dini agar mereka tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu membuka peluang kerja baru,” tegasnya.

    Kepala SMKN 1 Waikabubak, Yohana Landa, menambahkan, sekolahnya telah mengembangkan unit usaha berupa kantin, toko, dan jasa fotokopi sebagai bentuk dukungan nyata pada program tersebut. Ia juga menyinggung kerja sama dengan TNI/Polri dalam pendampingan siswa menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi, sekolah kedinasan, hingga rekrutmen TNI/Polri.

    Ketua OSIS SMKN 1 Waikabubak, Anggun Pahalang, menyebut kunjungan ini sebagai momentum bersejarah. “Kehadiran Bapak Gubernur memberi semangat baru bagi kami para siswa untuk terus berjuang meraih cita-cita,” katanya.

    Acara itu ditutup dengan pernyataan sikap para ketua OSIS se-Sumba Barat dan Sumba Tengah yang menegaskan komitmen membangun karakter disiplin, semangat belajar, serta kolaborasi guru dan orangtua demi pendidikan berkualitas.

    Tatap muka ini bukan sekadar pertemuan seremonial. Ia menjadi simbol kebangkitan semangat generasi muda NTT untuk menjawab tantangan zaman melalui pendidikan yang berdaya saing, sekaligus mengukuhkan peran sekolah sebagai rumah tumbuhnya karakter dan kreativitas anak-anak Sumba.

    Turut hadir dalam kesempatan itu Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemprov NTT Flori Rita Wuisan, Sekda Kabupaten Sumba Barat, jajaran perangkat daerah provinsi dan kabupaten, serta para guru dan pengawas.*/Fara Therik/Laurens Leba Tukan

  • Merajut Tenun, Menyulam Pesona: Pesan Sinergi Gubernur Melki di Sumba Barat

    Merajut Tenun, Menyulam Pesona: Pesan Sinergi Gubernur Melki di Sumba Barat

    Rakor Bersama Stakeholder, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena Titip Pesan Sinergi untuk Sumba Barat

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM – Di bawah langit teduh Waikabubak, Minggu (14/9/2029) derap langkah para pemimpin daerah bertemu dalam satu ruang. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, memimpin rapat koordinasi bersama jajaran pemangku kepentingan Kabupaten Sumba Barat di Aula Kantor Bupati.

    Gubernur disambut hangat oleh Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, Wakil Bupati Thimotius Tede Ragga, pimpinan DPRD, jajaran Forkopimda, para camat, lurah, kepala desa, hingga kepala puskesmas se-Kabupaten Sumba Barat.

    Dalam sambutannya, Gubernur Melki menaruh bangga pada geliat pariwisata dan layanan kesehatan di Sumba Barat yang kian menunjukkan hasil nyata. Namun, ia menekankan ada pekerjaan rumah bersama: menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dicanangkan Presiden dan Wakil Presiden.

    “CKG bukan hanya tugas Dinas Kesehatan. Ini program gratis yang harus kita manfaatkan optimal. Saya harap sinergi mulai dari puskesmas, camat, lurah, hingga RT/RW ikut memastikan program ini berjalan,” ujar Gubernur.

    Tak berhenti di soal kesehatan, ia mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling). “Di Liliba, Kota Kupang, saya menyaksikan pos kamling yang sudah eksis empat tahun. Fungsinya bukan sekadar jaga malam, tapi juga ruang gotong royong dan solidaritas warga. Sumba Barat bisa mencontohnya,” katanya.

    Program lain yang dititipkan Gubernur ialah bedah rumah dan penguatan potensi lokal. Ia mendorong Sumba Barat menampilkan produk khas daerah melalui etalase bersama. “Setiap kabupaten/kota harus punya produk unggulan. Pemprov telah menyiapkan NTT Mart sebagai panggungnya, berkonsep One Village One Product yang kini berkembang menjadi One Community One Product,” ucapnya.

    Bupati Yohanis Dade membalas dengan rasa syukur. “Kehadiran Gubernur menjadi semangat baru sekaligus energi percepatan pembangunan di Sumba Barat,” katanya.

    Dalam kesempatan itu juga diserahkan secara simbolis Kartu BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan santunan duka kepada keluarga penerima manfaat.

    Hari itu, rapat koordinasi tak sekadar menjadi forum seremonial. Di balik kata-kata, terselip harapan agar Sumba Barat melangkah lebih kokoh. Di tanah dengan sabana membentang dan riak ombak menepi di pesisir barat, Gubernur menitip pesan: sinergi adalah kunci. Seperti tenunan ikat Sumba, benang-benang yang berbeda akan kuat hanya bila dirajut bersama.*/Fara Therik/Laurens Leba Tukan