G-RDVF5GTVXM

Tag: Kabupaten Sumba Barat

  • Bupati Sumba Barat Cup Momentum Kuda Tradisional Menuju PON 2028, Yohanis Dade Apresiasi Umbu Rudi Kabunang

    Bupati Sumba Barat Cup Momentum Kuda Tradisional Menuju PON 2028, Yohanis Dade Apresiasi Umbu Rudi Kabunang

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Riuh tepuk tangan ribuan penonton yang memadati Arena Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Senin (6/7/2026), bukan hanya menjadi penanda dimulainya Turnamen Pacuan Kuda Bupat Sumba Barat Cup Se-NTT 2026. Lebih dari itu, ajang tersebut menjadi momentum penting bagi olahraga pacuan kuda tradisional Sumba yang kini selangkah lebih dekat menuju panggung Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

    Apresiasi terhadap perjuangan menghadirkan pacuan kuda tradisional ke panggung olahraga nasional mengemuka dalam pembukaan Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT 2026. Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, secara khusus menyampaikan penghargaan kepada Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu Nusa Tenggara Timur yang juga Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang, atas kontribusinya memperjuangkan nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana hingga resmi masuk dalam agenda pertandingan PON XXII Tahun 2028.

    Bagi masyarakat Sumba, keputusan tersebut bukan sekadar penambahan cabang olahraga. Pacuan kuda tanpa pelana merupakan bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan lintas generasi dan kini memperoleh pengakuan di tingkat nasional.

    “Ini merupakan kebanggaan besar bagi masyarakat Sumba. Kehadiran wakil rakyat yang memperjuangkan olahraga tradisional hingga tingkat nasional patut diapresiasi,” kata Bupati Yohanis.

    Menurut dia, perjuangan yang dilakukan Umbu Rudi Kabunang membuka peluang lebih besar bagi atlet-atlet pacuan kuda asal Nusa Tenggara Timur untuk tampil di arena olahraga nasional sekaligus menjadi momentum mengangkat nilai budaya Sumba melalui olahraga prestasi.

    Optimisme itu semakin menguat karena Sumba Barat juga tengah dipersiapkan menjadi salah satu pusat penyelenggaraan olahraga pacuan kuda nasional. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat menargetkan Arena Gelora Pada Eweta menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) serta Pra-PON sebagai bagian dari rangkaian menuju PON XXII Tahun 2028.

    Bupati Yohanis mengatakan, kesiapan daerah tidak hanya ditunjukkan melalui penyelenggaraan turnamen yang berlangsung sejak 6 hingga 17 Juli 2026 tersebut, tetapi juga melalui antusiasme masyarakat dan dukungan seluruh pemangku kepentingan terhadap pengembangan olahraga berkuda di Pulau Sumba.

    Ia juga menyampaikan rasa syukur atas rencana kehadiran Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman, bersama istrinya, Ibu Triwati, pada partai final turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Juli mendatang.

    “Kami bersyukur Bapak Ketua Umum KONI Pusat berkenan hadir. Kehadiran beliau menjadi kehormatan bagi masyarakat Sumba Barat sekaligus diharapkan membawa dampak positif terhadap peningkatan fasilitas dan pembinaan olahraga pacuan kuda di daerah ini,” ujar Bupati Yohanis.

    Kehadiran pimpinan tertinggi KONI Pusat dinilai memiliki arti strategis karena memperlihatkan semakin besarnya perhatian terhadap olahraga pacuan kuda, termasuk nomor tradisional tanpa pelana yang selama ini tumbuh dari akar budaya masyarakat Sumba.

    Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT 2026 sendiri diikuti 604 ekor kuda yang bertanding dalam 16 kelas perlombaan. Peserta berasal dari Kabupaten Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Timor Tengah Utara, dan Kota Kupang.

    Turut hadir dalam acara pembukaan selain Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, hadir pula wakil Bupati Sumba Barat Thimotius Ragga, Wakil Bupati Sumba Tengah Martinus Umbu Djoka, wakil Bupati Sumba Barat daya Dominikus Rangga Kaka, dan seluruh Ketua dan Pengurus Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Kabupaten se daratan Sumba. Hadir pula pimpinan Forkopimda Sumba Barat, dan pimpinan BUMN dan Bank NTT Cabang Waikabubak dan Waibakul serta ribuan penonton yang memadati tribun Gelora Pada Eweta yang dikenal sebagai arena para petarung. Turnamen tersebut dalam Rangka Memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI Ke- 81 Tahun 2026.

    Ajang tersebut tidak hanya menjadi arena persaingan para joki dan kuda terbaik Nusa Tenggara Timur, tetapi juga menjadi bagian dari proses seleksi serta pembinaan atlet menuju Kejurnas, Pra-PON, hingga PON XXII Tahun 2028. Dengan masuknya pacuan kuda tradisional tanpa pelana ke dalam agenda PON, Sumba kini tidak hanya dikenal sebagai tanah kelahiran kuda Sandelwood, melainkan juga mulai menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat olahraga pacuan kuda nasional.*/llt

     

  • Kuda Gasspol Tampil Memukau, Taklukkan Gelora Pada Eweta dan Melaju ke Final Bupati Sumba Barat Cup 2026

    Kuda Gasspol Tampil Memukau, Taklukkan Gelora Pada Eweta dan Melaju ke Final Bupati Sumba Barat Cup 2026

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM – Debu tipis beterbangan setiap kali derap kaki kuda menghantam lintasan Gelora Pada Eweta, arena para petarung, Senin (6/7/2026). Dari tribun hingga tepian arena, ribuan pasang mata tak berkedip. Sorak-sorai penonton bersahut-sahutan, menyatu dengan dentuman langkah kuda yang memecah sore di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Di arena yang selama puluhan tahun menjadi ruang hidup tradisi pacuan kuda Sumba itu, satu nama bergema lebih keras daripada yang lain: Gasspol.

    Ketika pintu start terbuka pada ren ke-32 kelas A Super, Gasspol justru tidak langsung memimpin. Kuda dengan joki Kabunang Koro berbaju kuning bertuliskan “Gasspol” itu sempat tertinggal beberapa langkah dari dua rivalnya, Putra Agip milik Keyisa Redi dari Sumba Barat dan The Holly Fire milik Ice Fire Group dari Sumba Timur.

    Namun, ketertinggalan itu hanya berlangsung sesaat.

    Memasuki pertengahan lintasan, Gasspol mulai menemukan ritmenya. Langkahnya semakin panjang, semakin cepat, sementara sang joki tetap tenang mengendalikan laju kuda setinggi 168 sentimeter tersebut. Sedikit demi sedikit jarak dipangkas hingga akhirnya Gasspol melesat melewati dua pesaingnya. Riuh penonton pun pecah. Tepuk tangan, teriakan, dan pekikan dukungan menggema mengiringi Gasspol melintasi garis finis sebagai yang terdepan.

    Kemenangan dramatis itu memastikan kuda milik Dr. Umbu Rudi Kabunang melaju ke babak final Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT Tahun 2026 yang akan digelar pada 18 Juli mendatang.

    Gelora Pada Eweta sore itu seolah hanya milik Gasspol. Ribuan pencinta pacuan kuda yang memadati arena larut dalam euforia. Sebagian berdiri di atas tribun, sebagian lainnya berdesakan di sepanjang pagar lintasan, mengikuti setiap meter perlombaan dengan sorak yang tak pernah putus. Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda bukan sekadar olahraga, melainkan perayaan budaya yang menghadirkan kebanggaan sekaligus gengsi bagi para pemilik, pelatih, joki, hingga kampung asal kuda yang berlaga.

    Atmosfer itulah yang mewarnai hari pembukaan Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT Tahun 2026. Kejuaraan yang berlangsung di Gelora Pada Eweta ini resmi dibuka oleh Wakil Bupati Sumba Barat, sekaligus Ketua KONI Kabupaten Sumba Barat, Thimotius T. Ragga, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus momentum pembinaan olahraga pacuan kuda menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

    Ketua Panitia sekaligus Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat, Frangky Tarawatu Susanto, melaporkan, sebanyak 604 ekor kuda pacu ambil bagian dalam kejuaraan tahun ini. Mereka berasal dari Kabupaten Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Kota Kupang, dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Seluruh peserta akan bersaing pada 16 kelas perlombaan yang berlangsung hingga 18 Juli 2026.

    Ketua Umum Pengurus Provinsi Federasi Nasional PORDASI Pacu Nusa Tenggara Timur, Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, SH., MH., mengatakan kejuaraan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan atlet dan kuda pacu menghadapi PON 2028. Menurutnya, pacuan kuda tanpa pelana kini telah resmi menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan pada PON sehingga pembinaan harus dilakukan lebih terarah sejak sekarang.

    Ia juga mengungkapkan rencana penyelenggaraan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2026 dan Kejurnas 2027 yang sekaligus menjadi Pra-PON di Pulau Sumba. Pada kesempatan itu pula, panitia akan mengajukan pencatatan Rekor LEPRID untuk kategori pacuan kuda dengan jumlah peserta terbanyak. Selain pembinaan atlet, Federasi Nasional Pordasi Pacu juga menyiapkan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan bersertifikat bagi joki, pelatih, dan steward, serta mulai mengembangkan sistem pengujian antidoping terhadap kuda pacu asal Sumba.

    Wakil Bupati Sumba Barat dalam sambutannya menegaskan bahwa pacuan kuda merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sosial dan ekonomi tinggi bagi masyarakat Sumba. Karena itu, penyelenggaraan kejuaraan ini diharapkan tidak hanya melahirkan juara di lintasan, tetapi juga menggerakkan sektor peternakan, pariwisata, UMKM, serta memperkuat citra Sumba Barat sebagai salah satu pusat olahraga pacuan kuda nasional.

    Ia juga mengingatkan seluruh peserta untuk menjunjung tinggi sportivitas, disiplin, dan keselamatan selama pertandingan berlangsung. Panitia dan dewan juri diminta bekerja secara profesional, transparan, dan adil, sementara seluruh pihak diminta menjaga ketertiban, termasuk dengan tidak mengedarkan maupun mengonsumsi minuman beralkohol selama rangkaian kejuaraan.

    Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT 2026 masih akan menyajikan persaingan panjang hingga babak final pada 18 Juli nanti. Namun, pada hari pertama, satu nama telah lebih dulu mencuri perhatian.

    Namanya Gasspol.

    Datang tanpa start terbaik, tetapi pulang dengan kemenangan yang membuat ribuan penonton berdiri dan bersorak. Di Gelora Pada Eweta, kemenangan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat sejak garis awal, melainkan oleh siapa yang mampu bertarung hingga garis akhir.*/laurens leba tukan

  • 604 Ekor Kuda Berlaga di Gelora Pada Eweta Arena Para Petarung, Umbu Rudi Kabunang: Warga Terhibur, Pacuan Bupati Sumba Barat Cup Menuju PON 2028

    604 Ekor Kuda Berlaga di Gelora Pada Eweta Arena Para Petarung, Umbu Rudi Kabunang: Warga Terhibur, Pacuan Bupati Sumba Barat Cup Menuju PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM—Debu beterbangan setiap kali pintu start dibuka. Sorak ribuan penonton mengiringi derap ratusan kuda yang melesat tanpa pelana di Arena Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Senin (6/7/2026). Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda bukan sekadar perlombaan mencari siapa tercepat. Di atas lintasan itu, tradisi, kebanggaan, dan harapan menuju panggung olahraga nasional berpacu dalam irama yang sama.

    Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026 resmi dimulai dengan catatan yang mencuri perhatian. Sebanyak 604 ekor kuda dari Pulau Sumba, Kabupaten Kupang, hingga Timor Tengah Utara ambil bagian dalam kejuaraan yang berlangsung hingga 17 Juli mendatang. Jumlah peserta tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah penyelenggaraan pacuan kuda di Nusa Tenggara Timur.

    Namun, angka 604 bukan sekadar statistik. Di baliknya tersimpan optimisme bahwa pacuan kuda tradisional tanpa pelana kini memasuki babak baru.

    Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, mengatakan perjuangan panjang masyarakat Sumba akhirnya membuahkan hasil setelah nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana disetujui menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028.

    Menurut Umbu Rudi, keberhasilan itu lahir melalui komunikasi panjang bersama Ketua Umum KONI NTT yang juga Gubernur NTT pak Melki Laka Lena, Ketua Umum KONI Pusat Bapak Letjen TNI Purn. Marciano Norman, serta jajaran Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu.

    “Yang kami perjuangkan bukan sekadar olahraga. Pacuan tanpa pelana adalah budaya dan jati diri masyarakat Sumba. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan syukur setelah panen,” ujarnya.

    Masuknya pacuan tanpa pelana ke PON dinilai menjadi momentum penting bagi Sumba. Selama ini, olahraga tersebut hidup dalam tradisi masyarakat, tetapi belum memiliki panggung resmi di ajang olahraga nasional. Kini, lintasan tanah yang selama puluhan tahun menjadi arena budaya mulai diarahkan menjadi jalur pembinaan atlet menuju prestasi.

    Karena itu, Bupati Sumba Barat Cup diposisikan bukan hanya sebagai turnamen tahunan, melainkan tahapan seleksi menuju Kejuaraan Nasional, Pra-PON, hingga PON 2028.

    “Kuda-kuda terbaik dari setiap kecamatan akan bertemu di tingkat kabupaten. Setelah itu dipersiapkan mengikuti Kejurnas hingga PON,” kata Umbu Rudi.

    Ia bahkan memasang target tinggi. Kontingen NTT ditargetkan mampu meraih 10 medali emas pada nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana saat PON XXII.

    Meski demikian, Umbu Rudi mengingatkan bahwa prestasi tidak boleh ditempuh dengan cara instan. Ia meminta seluruh pemilik dan pelatih menghindari penggunaan doping terhadap kuda karena pada ajang nasional seluruh peserta akan diperiksa oleh Dewan Anti-Doping.

    “Jangan sampai kita juara di daerah, tetapi gagal di tingkat nasional karena terdeteksi menggunakan doping. Lebih baik mengandalkan kualitas pakan, perawatan, dan latihan,” katanya.

    Pembukaan turnamen juga menjadi momen pemberian penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID). Penghargaan diberikan kepada sejumlah tokoh dan institusi yang dinilai berperan dalam pengembangan pacuan kuda tradisional, termasuk atas penyelenggaraan lomba dengan jumlah peserta mencapai 604 ekor kuda.

    Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT yang juga Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Dr. Umbu Rudi Kabunang (ketiga dari kiri) dan Bupati Sumba Barat Yohanis Dade (keempat dari kiri) serta Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Rangga Kaka (kedua dari kiri) saat menyaksikan pacuan kuda Bupati Sumba Barat Cup di Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Senin (6/7/2026). foto; SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

    Umbu Rudi Kabunang menambahkan, sejumlah pihak mendapatkan penghargaan dunia dari Lembaga Prestasi Indonesia -Dunia (LEPRID) adalah

    1). Letjen TNI (Purn) Marciano Norman Ketua Umum KONI Pusat atas prestasi sebagai Pelopor dalam Mendorong Pengembangan, Pembinaan, dan Peningkatan Prestasi Kuda Lokal Indonesia sehingga Mampu Bresaing pada Perlombaan Pacuan Kuda Tingkat Nasional dan Dunia.

    2). Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga sebagai Anggota Komisi XIII DPR RI atas prestasinya menjadi Inisiator Memasukan Pacuan Kuda Tradisional Tanpa Pelana ke PON dan Pendukung Rekor Dunia  Pacuan Kuda Terbanyak yaitu 604 Ekor Kuda sebagai Peserta.

    3). Frangky Tarawatu Susanto atas prestasi Pendukung Penyelenggara Rekor Dunia Lomba Pacuan Kuda Terbanyak 604 Peserta.

    4). Pemda Kabupaten Sumba Barat atas prestasi Penyelenggara Rekor Dunia Lomba Pacuan Kuda Terbanyak 604 peserta

    5). Yohanis Dade Bupati Sumba Barat atas prestasi Pemerkasa Rekor Dunia Lomba Pacuan Kuda Terbanyak 604 peserta. Penghargaan tersebut ditandatangani oleh Pendiri dan Ketua umum LEPRID, Paulus Pangka

    Turut hadir dalam acara pembukaan, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, wakil Bupati Sumba Barat Thimotius Ragga, Wakil Bupati Sumba Tengah Martinus Umbu Djoka, wakil Bupati Sumba Barat daya Dominikus Rangga Kaka, dan seluruh Ketua dan Pengurus Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Kabupaten se daratan Sumba. Hadir pula pimpinan Forkopimda Sumba Barat, dan pimpinan BUMN dan Bank NTT Cabang Waikabubak dan Waibakul serta ribuan penonton yang memadati tribun Gelora Pada Eweta yang dikenal sebagai arena para petarung. Turnamen tersebut dalam Rangka Memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI Ke- 81 Tahun 2026

    Ketua KONI Kabupaten Sumba Barat, Thimotios T. Ragga, menilai keberhasilan memasukkan pacuan tanpa pelana ke PON merupakan tonggak penting bagi olahraga dan budaya Sumba.

    Menurutnya, pacuan kuda telah lama menjadi identitas masyarakat. Karena itu, penyelenggaraan kejuaraan tidak hanya berdampak terhadap prestasi olahraga, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat melalui sektor usaha mikro, kuliner, hingga pariwisata.

    “Ketika Kejurnas maupun PON nanti digelar di Sumba, masyarakat harus menjadi tuan rumah yang baik. Keamanan dan kenyamanan tamu menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

    Optimisme serupa disampaikan Ketua Panitia sekaligus Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat, Frengky Tarawatu Susanto. Ia menyebut antusiasme peserta yang mencapai 604 ekor kuda menunjukkan bahwa olahraga pacuan kuda di NTT terus berkembang.

    Selain menjadi arena pembinaan atlet dan joki, turnamen ini juga diproyeksikan sebagai persiapan menghadapi Kejuaraan Nasional Agustus 2026, sekaligus langkah awal menuju Pra-PON dan PON 2028.

    Di Sumba, pacuan kuda memang tak pernah hanya soal siapa tercepat mencapai garis akhir. Di setiap derap kaki kuda, tersimpan cerita tentang budaya yang bertahan melintasi zaman. Kini, cerita itu bersiap memasuki lintasan yang lebih besar: panggung Pekan Olahraga Nasional.*/llt

  • ”Kalau Hanya 1,5 Jam untuk Masa Depan Anak, Apakah Terlalu Banyak?” Pesan Gubernur Melki dari Sumba Barat

    ”Kalau Hanya 1,5 Jam untuk Masa Depan Anak, Apakah Terlalu Banyak?” Pesan Gubernur Melki dari Sumba Barat

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM – Suasana halaman SMA Negeri 1 Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, tampak berbeda pada Selasa (16/6/2026). Di tengah deretan stan yang menampilkan aneka produk hasil karya siswa, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur meluncurkan program NTT Mart by One School One Product (OSOP). Pada saat yang sama, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, kembali menggaungkan implementasi Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat, sebuah kebijakan yang menempatkan keluarga sebagai pusat pembentukan karakter dan budaya belajar anak.

    Di hadapan ratusan pelajar, guru, dan tokoh masyarakat, Gubernur Melki mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang kemudian menjadi inti pesannya hari itu.

    “Kalau kita hanya meminta 1,5 jam dalam sehari untuk masa depan anak-anak NTT, apakah itu terlalu banyak?”

    Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Bagi Pemerintah Provinsi NTT, kualitas pendidikan tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Setelah bel pulang berbunyi, keluarga dinilai memiliki peran yang sama pentingnya dalam menentukan masa depan anak.

    Karena itu, melalui Gerakan Jam Belajar Masyarakat, pemerintah mengajak seluruh warga NTT menyediakan waktu belajar bersama di rumah setiap pukul 18.00 hingga 19.30 Wita. Dalam rentang waktu tersebut, lingkungan sekitar diharapkan menjadi lebih kondusif bagi anak untuk belajar, dengan mengurangi aktivitas yang berpotensi mengganggu konsentrasi, mulai dari suara musik pesta hingga tayangan hiburan yang berlebihan. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat pendidikan berbasis keluarga yang mulai diterapkan Pemprov NTT sejak Mei 2026.

    Pendidikan Dimulai dari Rumah

    Bagi Gubernur Melki, sekolah hanyalah salah satu ruang pendidikan. Ruang lainnya adalah rumah, tempat anak menghabiskan sebagian besar waktunya bersama keluarga.

    Menurut dia, berbagai indikator pendidikan menunjukkan bahwa NTT masih menghadapi tantangan serius dalam peningkatan mutu pendidikan. Pemerintah provinsi mencatat capaian pendidikan daerah masih berada pada kelompok terbawah secara nasional sehingga diperlukan perubahan yang lebih mendasar, bukan hanya pada proses belajar di sekolah, tetapi juga pada budaya belajar di rumah.

    Karena itu, Gerakan Jam Belajar Masyarakat dirancang untuk membangun keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi anak. Pemerintah berharap keluarga kembali menjadi sekolah pertama yang membentuk kebiasaan belajar, kedisiplinan, serta karakter generasi muda NTT.

    Namun, bagi Gubernur Melki, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan nilai akademik yang baik. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat, kreatif, dan mampu menciptakan peluang ekonomi bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

    Dari Sekolah ke Pasar

    Gagasan itulah yang melatarbelakangi lahirnya NTT Mart by OSOP. Program ini tidak hanya dimaksudkan sebagai etalase produk sekolah, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan kreativitas siswa dengan pasar. Produk hasil karya peserta didik yang selama ini hanya dipamerkan dalam kegiatan sekolah diharapkan dapat memperoleh nilai ekonomi yang nyata dan menjadi bagian dari penguatan ekonomi lokal.

    Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa NTT Mart merupakan instrumen untuk memperkuat demokrasi ekonomi di daerah. Jika demokrasi politik telah memberikan ruang partisipasi kepada masyarakat, maka demokrasi ekonomi harus memastikan bahwa manfaat pembangunan juga dirasakan secara merata oleh pelaku usaha kecil, komunitas lokal, dan generasi muda.

    NTT Mart dibangun melalui tiga pendekatan utama, yakni One Village One Product, One Community One Product, dan One School One Product. Ketiganya diarahkan untuk menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang bertumpu pada keunggulan masing-masing wilayah dan komunitas.

    Melalui OSOP, sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembelajaran kewirausahaan. Siswa didorong mengenali potensi daerahnya, mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, sekaligus memahami cara memasarkan hasil karya tersebut.

    “Pendidikan tidak hanya tentang akademik, tetapi juga tentang karakter dan kewirausahaan,” kata Gubernur Melki.

    Membangun Generasi yang Mandiri

    Wakil Bupati Sumba Barat, Thimotius Tede Ragga, yang hadir mewakili Bupati Sumba Barat, menyambut baik peluncuran program tersebut.

    Menurut dia, NTT Mart by OSOP menjadi langkah strategis untuk membangun kreativitas, keterampilan, karakter, sekaligus jiwa kewirausahaan peserta didik sejak dini. Program itu dinilai sejalan dengan visi pembangunan sumber daya manusia yang tengah dijalankan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat.

    Ia menegaskan bahwa OSOP bukan sekadar ruang pemasaran produk siswa, melainkan wadah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan bakat dan menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.

    “Anak-anak tidak hanya belajar menjadi pencari kerja, tetapi juga dipersiapkan menjadi pencipta lapangan kerja,” ujarnya.

    Pendidikan dan Infrastruktur

    Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat juga menyampaikan harapan agar Pemerintah Provinsi NTT memberikan perhatian terhadap sejumlah ruas jalan provinsi yang mengalami kerusakan cukup berat, seperti Jalan Lapale, Jalan Raka, dan Jalan Webangga.

    Menurut pemerintah daerah, perbaikan infrastruktur menjadi faktor penting dalam mendukung akses pendidikan, memperlancar distribusi barang, dan meningkatkan konektivitas ekonomi masyarakat.

    Pesan itu menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak berdiri sendiri. Kualitas sumber daya manusia membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas, mulai dari keluarga, sekolah, hingga infrastruktur yang memadai.

    Investasi Kecil untuk Masa Depan Besar

    Peluncuran NTT Mart dan sosialisasi Gerakan Jam Belajar Masyarakat di Waikabubak memperlihatkan arah baru kebijakan pendidikan NTT. Pemerintah berupaya menggabungkan dua pendekatan sekaligus: memperkuat budaya belajar melalui keluarga dan menumbuhkan kemandirian ekonomi melalui pendidikan kewirausahaan.

    Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi daerah ini, Melki percaya perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.

    Hanya satu setengah jam belajar bersama keluarga setiap malam. Hanya satu produk unggulan yang lahir dari sekolah. Namun dari langkah-langkah kecil itu, pemerintah berharap lahir generasi NTT yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, kreatif, dan mampu berdiri di atas kekuatan daerahnya sendiri.*/NG/llt

  • Kejurnas Pacuan Kuda 2026 Dipastikan Digelar di Sumba Barat, Momentum Mengangkat Kuda Sandelwood ke Panggung Nasional

    Kejurnas Pacuan Kuda 2026 Dipastikan Digelar di Sumba Barat, Momentum Mengangkat Kuda Sandelwood ke Panggung Nasional

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM — Pulau Sumba kembali bersiap menjadi pusat perhatian dunia olahraga berkuda Indonesia. Pengurus Pusat Federasi Nasional (FN) Pordasi Pacu secara resmi menyetujui Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pacuan Kuda Tradisional 2026 yang direncanakan berlangsung di Gelora Pada Eweta, Waikabubak, pada Agustus mendatang.

    Persetujuan tersebut tertuang dalam surat Ketua Umum PP FN Pordasi Pacu, Teddy Soediro, Nomor 012/PP/PACU/A/VI/2026 tertanggal 8 Juni 2026 yang ditujukan kepada Pengurus Provinsi FN Pordasi Pacu NTT.

    Keputusan ini menjadi capaian penting bagi komunitas pacuan kuda di NTT. Di tengah persaingan sejumlah daerah yang juga mengajukan diri sebagai penyelenggara, Sumba Barat akhirnya dipercaya menjadi arena penyelenggaraan ajang nasional yang akan mempertemukan para atlet, joki, dan kuda-kuda terbaik dari berbagai provinsi.

    Dalam surat persetujuannya, PP FN Pordasi Pacu menekankan sejumlah syarat yang wajib dipenuhi panitia daerah, mulai dari pelaksanaan kejuaraan yang mengacu pada peraturan organisasi, penggunaan steward bersertifikat nasional, koordinasi intensif dengan pengurus pusat, hingga jaminan keamanan bagi atlet, kuda, dan penonton.

    Bagi Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, penunjukan Sumba Barat bukan sekadar keberhasilan menghadirkan sebuah event olahraga nasional. Lebih dari itu, Kejurnas menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan Sumba secara utuh kepada Indonesia. Disebutkan Umbu Rudi, peserta yang dipastikan ikut abmil bagian dalam kejurnas pacuan kuda tradisional tanpa pelana ini sekitar delapan propinsi.

    “Yang ingin kita tunjukkan bukan hanya pacuan kudanya, tetapi juga kekuatan budaya, tradisi, dan pariwisata Sumba. Ketika ribuan orang datang, hotel akan terisi, penginapan bertambah ramai, UMKM bergerak, dan ekonomi masyarakat ikut tumbuh,” ujar Umbu Rudi.

    Ia menilai olahraga pacuan kuda memiliki daya tarik yang unik karena berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Sumba. Tradisi berkuda telah menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun dan masih hidup hingga saat ini.

    Karena itu, penyelenggaraan Kejurnas di Gelora Pada Eweta diharapkan menjadi etalase nasional bagi tradisi pacuan kuda Sumba yang selama ini dikenal dengan karakter khasnya, yakni balapan tanpa pelana yang mengandalkan keberanian, keterampilan, dan kedekatan joki dengan kudanya.

    Mendorong Kuda Sandelwood Menjadi Ikon Nasional

    Lebih jauh, Umbu Rudi menegaskan bahwa agenda besar yang sedang diperjuangkan FN Pordasi Pacu NTT dan Pengkab FN Pordasi Pacu se daratan Sumba adalah mengangkat Kuda Sandelwood sebagai simbol kebanggaan olahraga berkuda Indonesia. ”Penyelenggaraan Kejurnas Pacuan Kuda Tradisional tanpa pelana ini atas kolaborasi antara Pengprov FN Pordasi pacu NTT dan Pengkab FN Pordasi Pacu Sumba barat bersama Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat.

    Menurut dia, kuda lokal asal Sumba memiliki nilai historis dan genetik yang kuat untuk dikembangkan sebagai ikon nasional. Karena itu, berbagai event pacuan kuda yang digelar di Sumba tidak hanya diarahkan sebagai kompetisi olahraga, tetapi juga sebagai sarana pelestarian plasma nutfah kuda asli Indonesia.

    “Kita ingin masyarakat kembali bersemangat beternak kuda. Ketika olahraga ini berkembang, nilai ekonomi kuda akan meningkat dan masyarakat akan melihat bahwa kuda bukan hanya warisan budaya, tetapi juga aset ekonomi yang bernilai tinggi,” katanya.

    Upaya tersebut juga sejalan dengan agenda besar olahraga berkuda nasional menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 yang akan digelar di NTT dan NTB.

    Pacuan kuda tradisional tanpa pelana yang menjadi ciri khas Sumba bahkan didorong dan diterima untuk memperoleh ruang yang lebih luas dalam kalender olahraga nasional. Kehadiran Kejurnas di Sumba Barat dipandang sebagai salah satu tahapan penting dalam proses pembinaan atlet dan pengembangan nomor tradisional menuju panggung yang lebih besar yaitu kini lolos menjadi kelas yang diperlombakan dalam PON XXII tahun 2028. Dan selanjutnya pada PON-PON berikutnya nomor kuda tradisional tanpa pelana akan terus diperlombakan dimanapun PON digelar.

    Paket Wisata Budaya dan Olahraga

    Selain aspek olahraga, FN Pordasi Pacu NTT juga mendorong pemerintah daerah menyusun peta jalan pengembangan sport tourism berbasis budaya.

    Konsep yang sedang disiapkan adalah mengintegrasikan pacuan kuda tradisional dengan agenda budaya unggulan Sumba seperti Pasola sehingga wisatawan dapat menikmati dua atraksi khas dalam satu rangkaian kunjungan.

    Menurut Umbu Rudi, kepastian jadwal yang rutin setiap tahun akan membantu membangun citra Sumba sebagai destinasi wisata budaya dan olahraga yang memiliki kalender tetap.

    “Kalau kegiatan ini dilaksanakan secara konsisten pada waktu yang sama setiap tahun, wisatawan akan menjadikannya sebagai agenda kunjungan. Mereka datang bukan hanya untuk menonton pacuan kuda, tetapi juga melihat kekayaan budaya Sumba secara keseluruhan,” ujarnya.

    Menuju Agustus 2026

    Kejurnas Pacuan Kuda Tradisional 2026 diproyeksikan menjadi salah satu agenda olahraga berkuda terbesar yang pernah digelar di NTT dalam beberapa tahun terakhir.

    Panitia daerah kini mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis dan infrastruktur untuk menyambut peserta dari delapan provinsi. Kejurnas ini akan memperebutkan piala Presiden RI, serta ada piala per kelas yaitu; piala Ketua Umum KONI Pusat, piala Gubernur NTT, piala Bupati Sumba Barat, piala Anggota DPR RI, piala Ketua Umum PP FN Pordasi Pacu, Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu NTT, dan piala Ketua KONI Sumba Barat, piala Ketua Pengkab FN Pordasi Pacu Sumba Barat dan lainnya.

    Jika seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, derap langkah kuda-kuda terbaik Indonesia di Gelora Pada Eweta pada Agustus nanti tidak hanya akan menjadi pertarungan memperebutkan gelar juara nasional. Lebih dari itu, Kejurnas akan menjadi panggung besar untuk memperkenalkan Sumba, mengangkat martabat Kuda Sandelwood, serta menegaskan bahwa olahraga tradisional dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dan pariwisata daerah.

    Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat, Frengky Tarawatu Susanto menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas persetujuan Pengurus Pusat FN Pordasi Pacu atas digelaranya Kejurnas Pacuan Kuda Tradisional di Sumba Barat. “Kami sia penyukseskan agenda nasional ini dengan sebaik-baiknya, karena membawa dampak positif yang luar biasa bagi Sumba Barat” sebut Frengky.

    Penunjukan Sumba Barat sebagai tuan rumah Kejurnas juga sejalan dengan berbagai agenda nasional pengembangan pacuan kuda dan persiapan menuju PON 2028, di mana Gelora Pada Eweta telah diproyeksikan menjadi salah satu pusat kegiatan berkuda pacu di NTT.*/llt

  • Wali Kota Balikpapan Jelajahi Destinasi Unggulan Sumba Barat, Buka Peluang Kolaborasi Baru

    Wali Kota Balikpapan Jelajahi Destinasi Unggulan Sumba Barat, Buka Peluang Kolaborasi Baru

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM – Pemerintah Kabupaten Sumba Barat terus membuka ruang kerja sama antardaerah melalui penguatan hubungan antarpemerintah daerah. Upaya itu terlihat saat Bupati Yohanis Dade menerima kunjungan Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud di Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat, Selasa (12/5/2026).

    Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Selain mempererat silaturahmi, kedua kepala daerah juga membahas peluang kolaborasi di sejumlah sektor, mulai dari pembangunan daerah hingga pengembangan pariwisata dan budaya.

    Dalam pertemuan tersebut, Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade memaparkan kondisi umum Kabupaten Sumba Barat beserta berbagai potensi yang dimiliki daerah itu. Sektor pariwisata menjadi salah satu fokus pembahasan, mengingat Sumba Barat dikenal memiliki kekayaan budaya, bentang alam, serta tradisi khas yang terus dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

    Menurut Bupati Yohanis, penguatan promosi dan jejaring kerja sama antardaerah menjadi langkah penting untuk memperluas pengenalan potensi wisata Sumba Barat ke tingkat nasional maupun internasional.

    “Terima kasih atas kunjungan dan silaturahmi yang terjalin hari ini. Ke depan kami juga berencana melakukan kunjungan kerja ke Balikpapan sebagai bagian dari studi banding sekaligus memperkuat hubungan kerja sama antardaerah,” ujarnya.

    Sementara itu, Rahmad Mas’ud menyampaikan bahwa kunjungan Pemerintah Kota Balikpapan ke Sumba Barat tidak sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan membuka peluang sinergi antarwilayah.

    Ia juga memaparkan perkembangan Kota Balikpapan yang terus tumbuh sebagai salah satu kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk berbagai program pembangunan dan penguatan ekonomi daerah yang tengah dijalankan pemerintah kota.

    Usai pertemuan, rombongan Wali Kota Balikpapan melanjutkan kunjungan ke sejumlah destinasi unggulan di Sumba Barat. Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain Kampung Prai Ijing, Lapangan Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta, serta NIHI Sumba yang dikenal sebagai salah satu destinasi resort kelas dunia.

    Kunjungan tersebut diharapkan tidak hanya mempererat hubungan antara kedua pemerintah daerah, tetapi juga menjadi momentum promosi potensi wisata dan budaya Sumba Barat yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama daerah di wilayah Nusa Tenggara Timur.*/prokopimSB/NG/llt