G-RDVF5GTVXM
GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Ekonomi Golkar Gubernur NTT Pendidikan
Beranda / Pendidikan / ”Kalau Hanya 1,5 Jam untuk Masa Depan Anak, Apakah Terlalu Banyak?” Pesan Gubernur Melki dari Sumba Barat

”Kalau Hanya 1,5 Jam untuk Masa Depan Anak, Apakah Terlalu Banyak?” Pesan Gubernur Melki dari Sumba Barat

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena didampingi Wakil Bupati Sumba Barat, Thimotius Tede Ragga, saat membeli produk siswa-siswi usai meluncurkan program NTT Mart by One School One Product (OSOP), sekaligus menggaungkan implementasi Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat di SMA Negeri 1 Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Selasa (16/6/2026). foto: NG

WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM – Suasana halaman SMA Negeri 1 Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, tampak berbeda pada Selasa (16/6/2026). Di tengah deretan stan yang menampilkan aneka produk hasil karya siswa, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur meluncurkan program NTT Mart by One School One Product (OSOP). Pada saat yang sama, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, kembali menggaungkan implementasi Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat, sebuah kebijakan yang menempatkan keluarga sebagai pusat pembentukan karakter dan budaya belajar anak.

Di hadapan ratusan pelajar, guru, dan tokoh masyarakat, Gubernur Melki mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang kemudian menjadi inti pesannya hari itu.

“Kalau kita hanya meminta 1,5 jam dalam sehari untuk masa depan anak-anak NTT, apakah itu terlalu banyak?”

Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Bagi Pemerintah Provinsi NTT, kualitas pendidikan tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Setelah bel pulang berbunyi, keluarga dinilai memiliki peran yang sama pentingnya dalam menentukan masa depan anak.

Karena itu, melalui Gerakan Jam Belajar Masyarakat, pemerintah mengajak seluruh warga NTT menyediakan waktu belajar bersama di rumah setiap pukul 18.00 hingga 19.30 Wita. Dalam rentang waktu tersebut, lingkungan sekitar diharapkan menjadi lebih kondusif bagi anak untuk belajar, dengan mengurangi aktivitas yang berpotensi mengganggu konsentrasi, mulai dari suara musik pesta hingga tayangan hiburan yang berlebihan. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat pendidikan berbasis keluarga yang mulai diterapkan Pemprov NTT sejak Mei 2026.

Dari Waibakul, Gerakan Jam Belajar dan NTT Mart Jadi Strategi Gubernur Melki Perkuat Karakter dan Kemandirian Siswa

Pendidikan Dimulai dari Rumah

Bagi Gubernur Melki, sekolah hanyalah salah satu ruang pendidikan. Ruang lainnya adalah rumah, tempat anak menghabiskan sebagian besar waktunya bersama keluarga.

Menurut dia, berbagai indikator pendidikan menunjukkan bahwa NTT masih menghadapi tantangan serius dalam peningkatan mutu pendidikan. Pemerintah provinsi mencatat capaian pendidikan daerah masih berada pada kelompok terbawah secara nasional sehingga diperlukan perubahan yang lebih mendasar, bukan hanya pada proses belajar di sekolah, tetapi juga pada budaya belajar di rumah.

Karena itu, Gerakan Jam Belajar Masyarakat dirancang untuk membangun keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi anak. Pemerintah berharap keluarga kembali menjadi sekolah pertama yang membentuk kebiasaan belajar, kedisiplinan, serta karakter generasi muda NTT.

Namun, bagi Gubernur Melki, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan nilai akademik yang baik. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat, kreatif, dan mampu menciptakan peluang ekonomi bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya.

Kejurnas Pacuan Kuda 2026 Dipastikan Digelar di Sumba Barat, Momentum Mengangkat Kuda Sandelwood ke Panggung Nasional

Dari Sekolah ke Pasar

Gagasan itulah yang melatarbelakangi lahirnya NTT Mart by OSOP. Program ini tidak hanya dimaksudkan sebagai etalase produk sekolah, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan kreativitas siswa dengan pasar. Produk hasil karya peserta didik yang selama ini hanya dipamerkan dalam kegiatan sekolah diharapkan dapat memperoleh nilai ekonomi yang nyata dan menjadi bagian dari penguatan ekonomi lokal.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa NTT Mart merupakan instrumen untuk memperkuat demokrasi ekonomi di daerah. Jika demokrasi politik telah memberikan ruang partisipasi kepada masyarakat, maka demokrasi ekonomi harus memastikan bahwa manfaat pembangunan juga dirasakan secara merata oleh pelaku usaha kecil, komunitas lokal, dan generasi muda.

NTT Mart dibangun melalui tiga pendekatan utama, yakni One Village One Product, One Community One Product, dan One School One Product. Ketiganya diarahkan untuk menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang bertumpu pada keunggulan masing-masing wilayah dan komunitas.

Melalui OSOP, sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembelajaran kewirausahaan. Siswa didorong mengenali potensi daerahnya, mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, sekaligus memahami cara memasarkan hasil karya tersebut.

DPR RI Umbu Rudi Kabunang Kecam Penganiayaan PMI di Malaysia, Desak Pelaku Dihukum Berat dan Korban Dilindungi

“Pendidikan tidak hanya tentang akademik, tetapi juga tentang karakter dan kewirausahaan,” kata Gubernur Melki.

Membangun Generasi yang Mandiri

Wakil Bupati Sumba Barat, Thimotius Tede Ragga, yang hadir mewakili Bupati Sumba Barat, menyambut baik peluncuran program tersebut.

Menurut dia, NTT Mart by OSOP menjadi langkah strategis untuk membangun kreativitas, keterampilan, karakter, sekaligus jiwa kewirausahaan peserta didik sejak dini. Program itu dinilai sejalan dengan visi pembangunan sumber daya manusia yang tengah dijalankan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat.

Ia menegaskan bahwa OSOP bukan sekadar ruang pemasaran produk siswa, melainkan wadah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan bakat dan menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.

“Anak-anak tidak hanya belajar menjadi pencari kerja, tetapi juga dipersiapkan menjadi pencipta lapangan kerja,” ujarnya.

Pendidikan dan Infrastruktur

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat juga menyampaikan harapan agar Pemerintah Provinsi NTT memberikan perhatian terhadap sejumlah ruas jalan provinsi yang mengalami kerusakan cukup berat, seperti Jalan Lapale, Jalan Raka, dan Jalan Webangga.

Menurut pemerintah daerah, perbaikan infrastruktur menjadi faktor penting dalam mendukung akses pendidikan, memperlancar distribusi barang, dan meningkatkan konektivitas ekonomi masyarakat.

Pesan itu menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak berdiri sendiri. Kualitas sumber daya manusia membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas, mulai dari keluarga, sekolah, hingga infrastruktur yang memadai.

Investasi Kecil untuk Masa Depan Besar

Peluncuran NTT Mart dan sosialisasi Gerakan Jam Belajar Masyarakat di Waikabubak memperlihatkan arah baru kebijakan pendidikan NTT. Pemerintah berupaya menggabungkan dua pendekatan sekaligus: memperkuat budaya belajar melalui keluarga dan menumbuhkan kemandirian ekonomi melalui pendidikan kewirausahaan.

Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi daerah ini, Melki percaya perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.

Hanya satu setengah jam belajar bersama keluarga setiap malam. Hanya satu produk unggulan yang lahir dari sekolah. Namun dari langkah-langkah kecil itu, pemerintah berharap lahir generasi NTT yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, kreatif, dan mampu berdiri di atas kekuatan daerahnya sendiri.*/NG/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement