WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COMโSuara derap kuda yang memecah lintasan Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Senin (6/7/2026), bukan sekadar penanda dimulainya Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026. Di balik kemeriahan pembukaan, terselip pesan penting tentang masa depan olahraga pacuan kuda Indonesia: prestasi harus dibangun melalui pembinaan, bukan jalan pintas. Seluruh pemilik dan pelatih kuda pacu diingatkan agar tidak menggunakan doping demi meraih prestasi instan.
Pesan itu disampaikan Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu Nusa Tenggara Timur sekaligus Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang. Di hadapan ribuan masyarakat yang terdiri dari pemilik kuda, pelatih, joki, dan warga pencinta pacuan kuda, ia mengingatkan bahwa penggunaan doping tidak lagi memiliki ruang dalam olahraga berkuda yang tengah dipersiapkan menuju Kejuaraan Nasional, Pra-PON, hingga PON XXII Tahun 2028.
Menurut Umbu Rudi, pembinaan pacuan kuda di NTT kini memasuki fase yang lebih serius. Sistem pengawasan pada level nasional akan semakin ketat dengan penerapan pemeriksaan anti-doping terhadap seluruh peserta.
“Jangan menggunakan doping karena kita sedang menuju pacuan kuda prestasi di Kejurnas dan PON XXII Tahun 2028. Akan ada tim anti-doping yang melakukan pemeriksaan. Jangan sampai kita menjadi juara di daerah, tetapi gagal di tingkat nasional karena terbukti menggunakan doping. Lebih baik mengandalkan kualitas pakan, perawatan, dan latihan,” katanya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa kemenangan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh kecepatan kuda di lintasan, tetapi juga oleh integritas seluruh insan pacuan kuda dalam mempersiapkan atlet berkaki empat secara profesional.
Umbu Rudi mencontohkan pengelolaan kuda pacunya, Gasspol, yang menurutnya hanya mengandalkan pakan bergizi, tambahan vitamin, dan pola latihan yang terukur tanpa menggunakan zat terlarang.
“Saya berharap para pemilik kuda tidak menggunakan doping supaya sportivitas dalam turnamen tetap terjaga. Kuda-kuda kita harus mampu lolos ke Kejurnas, Pra-PON hingga PON melalui kemampuan terbaiknya sendiri. Selain bisa terdeteksi saat seleksi, doping juga berdampak buruk bagi kesehatan kuda maupun keturunannya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kemenangan yang diperoleh dengan cara curang justru dapat berubah menjadi kerugian besar ketika gelar juara dicabut akibat pelanggaran aturan.
“Apalah artinya menjadi juara kalau akhirnya gelar dibatalkan karena terbukti menggunakan doping. Juara pertama PON XXII Tahun 2028 diperkirakan memperoleh hadiah ratusan juta rupiah. Yang dipertaruhkan bukan hanya hadiah, tetapi juga nama baik kabupaten dan Provinsi NTT. Karena itu, mari kita melatih kuda secara alamiah,” katanya.
Lebih jauh, Umbu Rudi menjelaskan bahwa penggunaan doping bukan hanya melanggar sportivitas, tetapi juga mengancam keselamatan kuda. Obat pereda nyeri dapat menyamarkan cedera sehingga kuda tetap dipacu meski mengalami keretakan tulang atau gangguan sendi. Kondisi tersebut berpotensi berujung pada patah tulang fatal ketika berlomba.
Risiko lain juga tidak kalah serius. Zat stimulan dapat memaksa jantung bekerja melebihi kapasitas normal sehingga memicu pembengkakan jantung, serangan jantung, bahkan kematian mendadak. Sementara penggunaan zat kimia sintetis dalam jangka panjang dapat merusak fungsi hati dan ginjal, menimbulkan toksisitas darah, serta mengubah perilaku kuda menjadi agresif atau mengalami gangguan psikologis setelah efek obat menghilang.
Bagi dunia pacuan kuda, konsekuensi doping tidak berhenti pada kesehatan hewan. Pelanggaran dapat berujung pada diskualifikasi, pencabutan gelar juara, denda, skorsing terhadap pemilik, pelatih maupun joki, hingga larangan mengikuti berbagai kompetisi resmi. Reputasi pemilik ikut tercoreng, nilai jual kuda menurun, dan kepercayaan sponsor ikut menghilang.
Karena itu, menurut Umbu Rudi, pembangunan prestasi pacuan kuda Indonesia harus dimulai dari pembinaan yang bersih, berbasis ilmu pengetahuan, manajemen pakan, kesehatan, dan latihan yang konsisten. Di tengah upaya menjadikan kuda Sandelwood sebagai salah satu kekuatan nasional menuju PON XXII Tahun 2028, budaya sportivitas dinilai menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar.*/llt




Komentar