G-RDVF5GTVXM

Blog

  • FN Pordasi Pacu NTT Bangun Pacuan Kuda Bersih, Umbu Rudi Kabunang: Kuda Sumba Siap Ukir Prestasi di PON 2028 Tanpa Doping

    FN Pordasi Pacu NTT Bangun Pacuan Kuda Bersih, Umbu Rudi Kabunang: Kuda Sumba Siap Ukir Prestasi di PON 2028 Tanpa Doping

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM—Suara derap kuda yang memecah lintasan Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Senin (6/7/2026), bukan sekadar penanda dimulainya Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026. Di balik kemeriahan pembukaan, terselip pesan penting tentang masa depan olahraga pacuan kuda Indonesia: prestasi harus dibangun melalui pembinaan, bukan jalan pintas. Seluruh pemilik dan pelatih kuda pacu diingatkan agar tidak menggunakan doping demi meraih prestasi instan.

    Pesan itu disampaikan Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu Nusa Tenggara Timur sekaligus Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang. Di hadapan ribuan masyarakat yang terdiri dari pemilik kuda, pelatih, joki, dan warga pencinta pacuan kuda, ia mengingatkan bahwa penggunaan doping tidak lagi memiliki ruang dalam olahraga berkuda yang tengah dipersiapkan menuju Kejuaraan Nasional, Pra-PON, hingga PON XXII Tahun 2028.

    Menurut Umbu Rudi, pembinaan pacuan kuda di NTT kini memasuki fase yang lebih serius. Sistem pengawasan pada level nasional akan semakin ketat dengan penerapan pemeriksaan anti-doping terhadap seluruh peserta.

    “Jangan menggunakan doping karena kita sedang menuju pacuan kuda prestasi di Kejurnas dan PON XXII Tahun 2028. Akan ada tim anti-doping yang melakukan pemeriksaan. Jangan sampai kita menjadi juara di daerah, tetapi gagal di tingkat nasional karena terbukti menggunakan doping. Lebih baik mengandalkan kualitas pakan, perawatan, dan latihan,” katanya.

    Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa kemenangan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh kecepatan kuda di lintasan, tetapi juga oleh integritas seluruh insan pacuan kuda dalam mempersiapkan atlet berkaki empat secara profesional.

    Umbu Rudi mencontohkan pengelolaan kuda pacunya, Gasspol, yang menurutnya hanya mengandalkan pakan bergizi, tambahan vitamin, dan pola latihan yang terukur tanpa menggunakan zat terlarang.

    “Saya berharap para pemilik kuda tidak menggunakan doping supaya sportivitas dalam turnamen tetap terjaga. Kuda-kuda kita harus mampu lolos ke Kejurnas, Pra-PON hingga PON melalui kemampuan terbaiknya sendiri. Selain bisa terdeteksi saat seleksi, doping juga berdampak buruk bagi kesehatan kuda maupun keturunannya,” ujarnya.

    Ia mengingatkan bahwa kemenangan yang diperoleh dengan cara curang justru dapat berubah menjadi kerugian besar ketika gelar juara dicabut akibat pelanggaran aturan.

    “Apalah artinya menjadi juara kalau akhirnya gelar dibatalkan karena terbukti menggunakan doping. Juara pertama PON XXII Tahun 2028 diperkirakan memperoleh hadiah ratusan juta rupiah. Yang dipertaruhkan bukan hanya hadiah, tetapi juga nama baik kabupaten dan Provinsi NTT. Karena itu, mari kita melatih kuda secara alamiah,” katanya.

    Lebih jauh, Umbu Rudi menjelaskan bahwa penggunaan doping bukan hanya melanggar sportivitas, tetapi juga mengancam keselamatan kuda. Obat pereda nyeri dapat menyamarkan cedera sehingga kuda tetap dipacu meski mengalami keretakan tulang atau gangguan sendi. Kondisi tersebut berpotensi berujung pada patah tulang fatal ketika berlomba.

    Risiko lain juga tidak kalah serius. Zat stimulan dapat memaksa jantung bekerja melebihi kapasitas normal sehingga memicu pembengkakan jantung, serangan jantung, bahkan kematian mendadak. Sementara penggunaan zat kimia sintetis dalam jangka panjang dapat merusak fungsi hati dan ginjal, menimbulkan toksisitas darah, serta mengubah perilaku kuda menjadi agresif atau mengalami gangguan psikologis setelah efek obat menghilang.

    Bagi dunia pacuan kuda, konsekuensi doping tidak berhenti pada kesehatan hewan. Pelanggaran dapat berujung pada diskualifikasi, pencabutan gelar juara, denda, skorsing terhadap pemilik, pelatih maupun joki, hingga larangan mengikuti berbagai kompetisi resmi. Reputasi pemilik ikut tercoreng, nilai jual kuda menurun, dan kepercayaan sponsor ikut menghilang.

    Karena itu, menurut Umbu Rudi, pembangunan prestasi pacuan kuda Indonesia harus dimulai dari pembinaan yang bersih, berbasis ilmu pengetahuan, manajemen pakan, kesehatan, dan latihan yang konsisten. Di tengah upaya menjadikan kuda Sandelwood sebagai salah satu kekuatan nasional menuju PON XXII Tahun 2028, budaya sportivitas dinilai menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar.*/llt

     

  • Bupati Sumba Barat Cup Momentum Kuda Tradisional Menuju PON 2028, Yohanis Dade Apresiasi Umbu Rudi Kabunang

    Bupati Sumba Barat Cup Momentum Kuda Tradisional Menuju PON 2028, Yohanis Dade Apresiasi Umbu Rudi Kabunang

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Riuh tepuk tangan ribuan penonton yang memadati Arena Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Senin (6/7/2026), bukan hanya menjadi penanda dimulainya Turnamen Pacuan Kuda Bupat Sumba Barat Cup Se-NTT 2026. Lebih dari itu, ajang tersebut menjadi momentum penting bagi olahraga pacuan kuda tradisional Sumba yang kini selangkah lebih dekat menuju panggung Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

    Apresiasi terhadap perjuangan menghadirkan pacuan kuda tradisional ke panggung olahraga nasional mengemuka dalam pembukaan Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT 2026. Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, secara khusus menyampaikan penghargaan kepada Ketua Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu Nusa Tenggara Timur yang juga Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang, atas kontribusinya memperjuangkan nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana hingga resmi masuk dalam agenda pertandingan PON XXII Tahun 2028.

    Bagi masyarakat Sumba, keputusan tersebut bukan sekadar penambahan cabang olahraga. Pacuan kuda tanpa pelana merupakan bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan lintas generasi dan kini memperoleh pengakuan di tingkat nasional.

    “Ini merupakan kebanggaan besar bagi masyarakat Sumba. Kehadiran wakil rakyat yang memperjuangkan olahraga tradisional hingga tingkat nasional patut diapresiasi,” kata Bupati Yohanis.

    Menurut dia, perjuangan yang dilakukan Umbu Rudi Kabunang membuka peluang lebih besar bagi atlet-atlet pacuan kuda asal Nusa Tenggara Timur untuk tampil di arena olahraga nasional sekaligus menjadi momentum mengangkat nilai budaya Sumba melalui olahraga prestasi.

    Optimisme itu semakin menguat karena Sumba Barat juga tengah dipersiapkan menjadi salah satu pusat penyelenggaraan olahraga pacuan kuda nasional. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat menargetkan Arena Gelora Pada Eweta menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) serta Pra-PON sebagai bagian dari rangkaian menuju PON XXII Tahun 2028.

    Bupati Yohanis mengatakan, kesiapan daerah tidak hanya ditunjukkan melalui penyelenggaraan turnamen yang berlangsung sejak 6 hingga 17 Juli 2026 tersebut, tetapi juga melalui antusiasme masyarakat dan dukungan seluruh pemangku kepentingan terhadap pengembangan olahraga berkuda di Pulau Sumba.

    Ia juga menyampaikan rasa syukur atas rencana kehadiran Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman, bersama istrinya, Ibu Triwati, pada partai final turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Juli mendatang.

    “Kami bersyukur Bapak Ketua Umum KONI Pusat berkenan hadir. Kehadiran beliau menjadi kehormatan bagi masyarakat Sumba Barat sekaligus diharapkan membawa dampak positif terhadap peningkatan fasilitas dan pembinaan olahraga pacuan kuda di daerah ini,” ujar Bupati Yohanis.

    Kehadiran pimpinan tertinggi KONI Pusat dinilai memiliki arti strategis karena memperlihatkan semakin besarnya perhatian terhadap olahraga pacuan kuda, termasuk nomor tradisional tanpa pelana yang selama ini tumbuh dari akar budaya masyarakat Sumba.

    Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT 2026 sendiri diikuti 604 ekor kuda yang bertanding dalam 16 kelas perlombaan. Peserta berasal dari Kabupaten Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Timor Tengah Utara, dan Kota Kupang.

    Turut hadir dalam acara pembukaan selain Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, hadir pula wakil Bupati Sumba Barat Thimotius Ragga, Wakil Bupati Sumba Tengah Martinus Umbu Djoka, wakil Bupati Sumba Barat daya Dominikus Rangga Kaka, dan seluruh Ketua dan Pengurus Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Kabupaten se daratan Sumba. Hadir pula pimpinan Forkopimda Sumba Barat, dan pimpinan BUMN dan Bank NTT Cabang Waikabubak dan Waibakul serta ribuan penonton yang memadati tribun Gelora Pada Eweta yang dikenal sebagai arena para petarung. Turnamen tersebut dalam Rangka Memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI Ke- 81 Tahun 2026.

    Ajang tersebut tidak hanya menjadi arena persaingan para joki dan kuda terbaik Nusa Tenggara Timur, tetapi juga menjadi bagian dari proses seleksi serta pembinaan atlet menuju Kejurnas, Pra-PON, hingga PON XXII Tahun 2028. Dengan masuknya pacuan kuda tradisional tanpa pelana ke dalam agenda PON, Sumba kini tidak hanya dikenal sebagai tanah kelahiran kuda Sandelwood, melainkan juga mulai menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat olahraga pacuan kuda nasional.*/llt

     

  • Kuda Gasspol Tampil Memukau, Taklukkan Gelora Pada Eweta dan Melaju ke Final Bupati Sumba Barat Cup 2026

    Kuda Gasspol Tampil Memukau, Taklukkan Gelora Pada Eweta dan Melaju ke Final Bupati Sumba Barat Cup 2026

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM – Debu tipis beterbangan setiap kali derap kaki kuda menghantam lintasan Gelora Pada Eweta, arena para petarung, Senin (6/7/2026). Dari tribun hingga tepian arena, ribuan pasang mata tak berkedip. Sorak-sorai penonton bersahut-sahutan, menyatu dengan dentuman langkah kuda yang memecah sore di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Di arena yang selama puluhan tahun menjadi ruang hidup tradisi pacuan kuda Sumba itu, satu nama bergema lebih keras daripada yang lain: Gasspol.

    Ketika pintu start terbuka pada ren ke-32 kelas A Super, Gasspol justru tidak langsung memimpin. Kuda dengan joki Kabunang Koro berbaju kuning bertuliskan “Gasspol” itu sempat tertinggal beberapa langkah dari dua rivalnya, Putra Agip milik Keyisa Redi dari Sumba Barat dan The Holly Fire milik Ice Fire Group dari Sumba Timur.

    Namun, ketertinggalan itu hanya berlangsung sesaat.

    Memasuki pertengahan lintasan, Gasspol mulai menemukan ritmenya. Langkahnya semakin panjang, semakin cepat, sementara sang joki tetap tenang mengendalikan laju kuda setinggi 168 sentimeter tersebut. Sedikit demi sedikit jarak dipangkas hingga akhirnya Gasspol melesat melewati dua pesaingnya. Riuh penonton pun pecah. Tepuk tangan, teriakan, dan pekikan dukungan menggema mengiringi Gasspol melintasi garis finis sebagai yang terdepan.

    Kemenangan dramatis itu memastikan kuda milik Dr. Umbu Rudi Kabunang melaju ke babak final Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT Tahun 2026 yang akan digelar pada 18 Juli mendatang.

    Gelora Pada Eweta sore itu seolah hanya milik Gasspol. Ribuan pencinta pacuan kuda yang memadati arena larut dalam euforia. Sebagian berdiri di atas tribun, sebagian lainnya berdesakan di sepanjang pagar lintasan, mengikuti setiap meter perlombaan dengan sorak yang tak pernah putus. Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda bukan sekadar olahraga, melainkan perayaan budaya yang menghadirkan kebanggaan sekaligus gengsi bagi para pemilik, pelatih, joki, hingga kampung asal kuda yang berlaga.

    Atmosfer itulah yang mewarnai hari pembukaan Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT Tahun 2026. Kejuaraan yang berlangsung di Gelora Pada Eweta ini resmi dibuka oleh Wakil Bupati Sumba Barat, sekaligus Ketua KONI Kabupaten Sumba Barat, Thimotius T. Ragga, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus momentum pembinaan olahraga pacuan kuda menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

    Ketua Panitia sekaligus Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat, Frangky Tarawatu Susanto, melaporkan, sebanyak 604 ekor kuda pacu ambil bagian dalam kejuaraan tahun ini. Mereka berasal dari Kabupaten Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya, Kota Kupang, dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Seluruh peserta akan bersaing pada 16 kelas perlombaan yang berlangsung hingga 18 Juli 2026.

    Ketua Umum Pengurus Provinsi Federasi Nasional PORDASI Pacu Nusa Tenggara Timur, Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, SH., MH., mengatakan kejuaraan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan atlet dan kuda pacu menghadapi PON 2028. Menurutnya, pacuan kuda tanpa pelana kini telah resmi menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan pada PON sehingga pembinaan harus dilakukan lebih terarah sejak sekarang.

    Ia juga mengungkapkan rencana penyelenggaraan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2026 dan Kejurnas 2027 yang sekaligus menjadi Pra-PON di Pulau Sumba. Pada kesempatan itu pula, panitia akan mengajukan pencatatan Rekor LEPRID untuk kategori pacuan kuda dengan jumlah peserta terbanyak. Selain pembinaan atlet, Federasi Nasional Pordasi Pacu juga menyiapkan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan bersertifikat bagi joki, pelatih, dan steward, serta mulai mengembangkan sistem pengujian antidoping terhadap kuda pacu asal Sumba.

    Wakil Bupati Sumba Barat dalam sambutannya menegaskan bahwa pacuan kuda merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sosial dan ekonomi tinggi bagi masyarakat Sumba. Karena itu, penyelenggaraan kejuaraan ini diharapkan tidak hanya melahirkan juara di lintasan, tetapi juga menggerakkan sektor peternakan, pariwisata, UMKM, serta memperkuat citra Sumba Barat sebagai salah satu pusat olahraga pacuan kuda nasional.

    Ia juga mengingatkan seluruh peserta untuk menjunjung tinggi sportivitas, disiplin, dan keselamatan selama pertandingan berlangsung. Panitia dan dewan juri diminta bekerja secara profesional, transparan, dan adil, sementara seluruh pihak diminta menjaga ketertiban, termasuk dengan tidak mengedarkan maupun mengonsumsi minuman beralkohol selama rangkaian kejuaraan.

    Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup Se-NTT 2026 masih akan menyajikan persaingan panjang hingga babak final pada 18 Juli nanti. Namun, pada hari pertama, satu nama telah lebih dulu mencuri perhatian.

    Namanya Gasspol.

    Datang tanpa start terbaik, tetapi pulang dengan kemenangan yang membuat ribuan penonton berdiri dan bersorak. Di Gelora Pada Eweta, kemenangan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat sejak garis awal, melainkan oleh siapa yang mampu bertarung hingga garis akhir.*/laurens leba tukan

  • 604 Ekor Kuda Berlaga di Gelora Pada Eweta Arena Para Petarung, Umbu Rudi Kabunang: Warga Terhibur, Pacuan Bupati Sumba Barat Cup Menuju PON 2028

    604 Ekor Kuda Berlaga di Gelora Pada Eweta Arena Para Petarung, Umbu Rudi Kabunang: Warga Terhibur, Pacuan Bupati Sumba Barat Cup Menuju PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM—Debu beterbangan setiap kali pintu start dibuka. Sorak ribuan penonton mengiringi derap ratusan kuda yang melesat tanpa pelana di Arena Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Senin (6/7/2026). Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda bukan sekadar perlombaan mencari siapa tercepat. Di atas lintasan itu, tradisi, kebanggaan, dan harapan menuju panggung olahraga nasional berpacu dalam irama yang sama.

    Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026 resmi dimulai dengan catatan yang mencuri perhatian. Sebanyak 604 ekor kuda dari Pulau Sumba, Kabupaten Kupang, hingga Timor Tengah Utara ambil bagian dalam kejuaraan yang berlangsung hingga 17 Juli mendatang. Jumlah peserta tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah penyelenggaraan pacuan kuda di Nusa Tenggara Timur.

    Namun, angka 604 bukan sekadar statistik. Di baliknya tersimpan optimisme bahwa pacuan kuda tradisional tanpa pelana kini memasuki babak baru.

    Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, mengatakan perjuangan panjang masyarakat Sumba akhirnya membuahkan hasil setelah nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana disetujui menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028.

    Menurut Umbu Rudi, keberhasilan itu lahir melalui komunikasi panjang bersama Ketua Umum KONI NTT yang juga Gubernur NTT pak Melki Laka Lena, Ketua Umum KONI Pusat Bapak Letjen TNI Purn. Marciano Norman, serta jajaran Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu.

    “Yang kami perjuangkan bukan sekadar olahraga. Pacuan tanpa pelana adalah budaya dan jati diri masyarakat Sumba. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan syukur setelah panen,” ujarnya.

    Masuknya pacuan tanpa pelana ke PON dinilai menjadi momentum penting bagi Sumba. Selama ini, olahraga tersebut hidup dalam tradisi masyarakat, tetapi belum memiliki panggung resmi di ajang olahraga nasional. Kini, lintasan tanah yang selama puluhan tahun menjadi arena budaya mulai diarahkan menjadi jalur pembinaan atlet menuju prestasi.

    Karena itu, Bupati Sumba Barat Cup diposisikan bukan hanya sebagai turnamen tahunan, melainkan tahapan seleksi menuju Kejuaraan Nasional, Pra-PON, hingga PON 2028.

    “Kuda-kuda terbaik dari setiap kecamatan akan bertemu di tingkat kabupaten. Setelah itu dipersiapkan mengikuti Kejurnas hingga PON,” kata Umbu Rudi.

    Ia bahkan memasang target tinggi. Kontingen NTT ditargetkan mampu meraih 10 medali emas pada nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana saat PON XXII.

    Meski demikian, Umbu Rudi mengingatkan bahwa prestasi tidak boleh ditempuh dengan cara instan. Ia meminta seluruh pemilik dan pelatih menghindari penggunaan doping terhadap kuda karena pada ajang nasional seluruh peserta akan diperiksa oleh Dewan Anti-Doping.

    “Jangan sampai kita juara di daerah, tetapi gagal di tingkat nasional karena terdeteksi menggunakan doping. Lebih baik mengandalkan kualitas pakan, perawatan, dan latihan,” katanya.

    Pembukaan turnamen juga menjadi momen pemberian penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID). Penghargaan diberikan kepada sejumlah tokoh dan institusi yang dinilai berperan dalam pengembangan pacuan kuda tradisional, termasuk atas penyelenggaraan lomba dengan jumlah peserta mencapai 604 ekor kuda.

    Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT yang juga Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Dr. Umbu Rudi Kabunang (ketiga dari kiri) dan Bupati Sumba Barat Yohanis Dade (keempat dari kiri) serta Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Rangga Kaka (kedua dari kiri) saat menyaksikan pacuan kuda Bupati Sumba Barat Cup di Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Senin (6/7/2026). foto; SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

    Umbu Rudi Kabunang menambahkan, sejumlah pihak mendapatkan penghargaan dunia dari Lembaga Prestasi Indonesia -Dunia (LEPRID) adalah

    1). Letjen TNI (Purn) Marciano Norman Ketua Umum KONI Pusat atas prestasi sebagai Pelopor dalam Mendorong Pengembangan, Pembinaan, dan Peningkatan Prestasi Kuda Lokal Indonesia sehingga Mampu Bresaing pada Perlombaan Pacuan Kuda Tingkat Nasional dan Dunia.

    2). Dr. Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga sebagai Anggota Komisi XIII DPR RI atas prestasinya menjadi Inisiator Memasukan Pacuan Kuda Tradisional Tanpa Pelana ke PON dan Pendukung Rekor Dunia  Pacuan Kuda Terbanyak yaitu 604 Ekor Kuda sebagai Peserta.

    3). Frangky Tarawatu Susanto atas prestasi Pendukung Penyelenggara Rekor Dunia Lomba Pacuan Kuda Terbanyak 604 Peserta.

    4). Pemda Kabupaten Sumba Barat atas prestasi Penyelenggara Rekor Dunia Lomba Pacuan Kuda Terbanyak 604 peserta

    5). Yohanis Dade Bupati Sumba Barat atas prestasi Pemerkasa Rekor Dunia Lomba Pacuan Kuda Terbanyak 604 peserta. Penghargaan tersebut ditandatangani oleh Pendiri dan Ketua umum LEPRID, Paulus Pangka

    Turut hadir dalam acara pembukaan, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, wakil Bupati Sumba Barat Thimotius Ragga, Wakil Bupati Sumba Tengah Martinus Umbu Djoka, wakil Bupati Sumba Barat daya Dominikus Rangga Kaka, dan seluruh Ketua dan Pengurus Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Kabupaten se daratan Sumba. Hadir pula pimpinan Forkopimda Sumba Barat, dan pimpinan BUMN dan Bank NTT Cabang Waikabubak dan Waibakul serta ribuan penonton yang memadati tribun Gelora Pada Eweta yang dikenal sebagai arena para petarung. Turnamen tersebut dalam Rangka Memeriahkan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI Ke- 81 Tahun 2026

    Ketua KONI Kabupaten Sumba Barat, Thimotios T. Ragga, menilai keberhasilan memasukkan pacuan tanpa pelana ke PON merupakan tonggak penting bagi olahraga dan budaya Sumba.

    Menurutnya, pacuan kuda telah lama menjadi identitas masyarakat. Karena itu, penyelenggaraan kejuaraan tidak hanya berdampak terhadap prestasi olahraga, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat melalui sektor usaha mikro, kuliner, hingga pariwisata.

    “Ketika Kejurnas maupun PON nanti digelar di Sumba, masyarakat harus menjadi tuan rumah yang baik. Keamanan dan kenyamanan tamu menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

    Optimisme serupa disampaikan Ketua Panitia sekaligus Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat, Frengky Tarawatu Susanto. Ia menyebut antusiasme peserta yang mencapai 604 ekor kuda menunjukkan bahwa olahraga pacuan kuda di NTT terus berkembang.

    Selain menjadi arena pembinaan atlet dan joki, turnamen ini juga diproyeksikan sebagai persiapan menghadapi Kejuaraan Nasional Agustus 2026, sekaligus langkah awal menuju Pra-PON dan PON 2028.

    Di Sumba, pacuan kuda memang tak pernah hanya soal siapa tercepat mencapai garis akhir. Di setiap derap kaki kuda, tersimpan cerita tentang budaya yang bertahan melintasi zaman. Kini, cerita itu bersiap memasuki lintasan yang lebih besar: panggung Pekan Olahraga Nasional.*/llt

  • Melki Laka Lena Lantik Timo Ragga Pimpin KONI Sumba Barat: Pacuan Kuda Jadi Sejarah Baru dan Andalan NTT Menuju PON 2028

    Melki Laka Lena Lantik Timo Ragga Pimpin KONI Sumba Barat: Pacuan Kuda Jadi Sejarah Baru dan Andalan NTT Menuju PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Ketua Umum KONI Provinsi Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa Sumba Barat tidak hanya sedang membentuk kepengurusan olahraga baru, tetapi juga menyiapkan fondasi sejarah baru olahraga nasional. Potensi besar pacuan kuda yang tumbuh dari tradisi masyarakat Sumba dinilai menjadi kekuatan utama untuk membawa Nusa Tenggara Timur tampil lebih kompetitif menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

    Pesan itu disampaikan Melki Laka Lena saat melantik Pengurus KONI Kabupaten Sumba Barat Masa Bakti 2026–2030 di Aula Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat, Rabu (1/7/2026). Wakil Bupati Sumba Barat, Thimotius Tede Ragga, resmi dipercaya memimpin KONI Kabupaten Sumba Barat untuk empat tahun ke depan.

    “Bagi kita di Sumba, pacuan kuda bukan sekadar olahraga, tetapi identitas budaya yang sudah hidup turun-temurun. Karena itu, kita telah mendorong agar pacuan kuda tradisional tanpa pelana sudah masuk menjadi cabang olahraga resmi pada PON XXII Tahun 2028. Dan ini sejarah baru dalam olahraga Indonesia,” kata Melki Laka Lena.

    Menurut Melki, momentum kian nyata karena dalam waktu dekat Sumba Barat akan menjadi pusat perhatian olahraga nasional melalui penyelenggaraan Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup serta Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda. ”Saya dengar dalam bulan ini Pak Umbu Rudi Kabunang bersama Pemda Sumba Barat menggelar Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup dan Kejurnas Pacuan Kuda pada Agustus dan akan dihadiri Ketua Umum KONI Pusat Bapak Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman. Menurut saya, ini adalah momentum terbaik untuk kita tunjukan bahwa bagaimana kita di Sumba ini bisa menyelenggarakan ivent nasional dengan hasil yang bagus,” jelas Melki Laka Lena.

    “Kalau penyelenggaraannya sukses, Sumba akan membuktikan bahwa daerah ini bukan hanya melahirkan atlet-atlet hebat, tetapi juga mampu menjadi tuan rumah event nasional yang berkualitas,” ujarnya.

    Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, menyebut agenda pacuan kuda tahun ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem olahraga berkuda di Pulau Sumba. Kehadiran Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman pada ajang Bupati Sumba Barat Cup diharapkan semakin memperkuat dukungan terhadap pengembangan pacuan kuda sebagai cabang olahraga unggulan daerah sekaligus membuka ruang agar nomor tradisional khas Sumba mendapat perhatian pada level nasional.

    Umbu Rudi menjelaskan, sebelum sampai ivent Bupati Sumba Barat Cup dan Kejurnas, berbagai kejuaraan pacuan kuda di tingkat kecamatan di pulau Sumba rutin digelar. Kuda-kuda yang berprestasi di tingkat kecamatan diseleksi lagi dan direkomendasikan oleh Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Kabupaten untuk ikut dalam ajang Bupati Sumba Barat Cup dan selanjutnya ke Kejurnas dan Pra PON serta akhirnya ke PON. ”Jadi pembinaan atlet/joki dan kuda itu benera-benar slektif dari tingkat bawah,” sebut Umbu Rudi Kabunang.

    Bagi NTT, kata Melki, PON 2028 tidak semata-mata berbicara tentang perolehan medali. Pemerintah Provinsi bersama KONI NTT menetapkan lima indikator keberhasilan yang harus dicapai, yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses administrasi, sukses ekonomi, dan sukses pariwisata.

    “Olahraga harus menjadi penggerak pembangunan. PON harus memberikan manfaat bagi masyarakat, menghidupkan ekonomi lokal, memperkuat sektor pariwisata, sekaligus melahirkan atlet-atlet berprestasi,” ujarnya.

    Ketua KONI Kabupaten Sumba Barat Thimotius Tede Ragga mengatakan kepengurusan yang baru akan memprioritaskan pembinaan atlet usia dini, peningkatan kapasitas pelatih dan wasit, serta penguatan organisasi cabang olahraga sebagai fondasi menghadapi Pra-PON dan PON 2028.

    “Kami ingin membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan. Prestasi tidak lahir secara instan. Karena itu, pembinaan atlet sejak usia dini menjadi prioritas utama kami,” kata Thimotius.

    Ia juga memastikan KONI Sumba Barat akan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia pendidikan, TNI-Polri, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan agar pembinaan olahraga tidak berjalan sendiri-sendiri.

    Pelantikan kepengurusan baru ini sekaligus menjadi titik awal konsolidasi olahraga prestasi di Sumba Barat. Di tengah besarnya potensi olahraga berkuda, atletik, tinju, dan sejumlah cabang lainnya, Sumba Barat kini memikul harapan menjadi salah satu lumbung atlet NTT sekaligus etalase sport tourism berbasis budaya.

    Kini, pacuan kuda tradisional tanpa pelana telah resmi sebagai cabang olahraga PON, dan sejarah itu lahir dari Pulau Sumba, daerah yang sejak lama menjadikan kuda bukan hanya alat transportasi dan simbol budaya, tetapi juga bagian dari identitas olahraga masyarakatnya.*/llt

     

     

  • Pergub BBM Bersubsidi Tetap Berlaku di NTT, Gubernur Melki Tekankan Keadilan dan Kepatuhan Pajak

    Pergub BBM Bersubsidi Tetap Berlaku di NTT, Gubernur Melki Tekankan Keadilan dan Kepatuhan Pajak

    MAUMERE,SELATANINDONESIA.COM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memilih tetap melanjutkan implementasi Peraturan Gubernur (Pergub) NTT Nomor 13 Tahun 2025 meskipun kebijakan tersebut memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan, pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi kendaraan yang menunggak pajak maupun kendaraan berpelat luar daerah merupakan bagian dari upaya memastikan keadilan bagi yang berhak, membangun tata kelola subsidi yang lebih tepat sasaran sekaligus meningkatkan kepatuhan wajib pajak daerah.

    Pernyataan itu disampaikan Gubernur Melki ketika dihubungi wartawan, Minggu (5/7/2026). Ia mengakui kebijakan tersebut memunculkan pro dan kontra, bahkan DPRD NTT berencana menggelar rapat dengar pendapat untuk mengevaluasi implementasinya. Namun, menurutnya, dinamika tersebut merupakan bagian dari proses pelaksanaan sebuah kebijakan publik yang di satu, dua tempat butuh waktu untuk dimengerti dengan baik manfaatnya bagi publik luas.

    “Bagi saya, Pergub ini tetap harus dijalankan. Yang berhak menerima subsidi harus yang sudah jalankan kewajiban sehingga berhak mendapatkan haknya sedangkan yang tidak memenuhi ketentuan tidak semestinya menikmati subsidi negara,” kata Gubernur Melki.

    Menurut dia, subsidi BBM pada dasarnya merupakan instrumen negara untuk membantu masyarakat yang memenuhi kriteria penerima. Karena itu, pemerintah daerah berkewajiban memastikan distribusinya tepat dan benar sehingga tidak mengalami kebocoran akibat lemahnya pengawasan maupun rendahnya kepatuhan administrasi kendaraan bermotor.

    Lebih jauh, Gubernur Melki menilai kebijakan tersebut bukan semata-mata berbicara mengenai penerimaan pajak daerah. Yang ingin dibangun, kata dia, adalah prinsip keadilan antara hak dan kewajiban warga negara. Pemilik kendaraan yang telah memenuhi kewajibannya membayar pajak dinilai berhak memperoleh akses terhadap fasilitas yang disubsidi pemerintah. Sebaliknya, kendaraan yang belum melunasi kewajiban pajaknya tidak dapat menikmati fasilitas tersebut. Mereka yang tidak membayar pajak silakan membeli BBM non subsidi.

    Menghubungkan Pajak dan Subsidi

    Pergub Nomor 13 Tahun 2025 mengatur optimalisasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), serta Pajak Alat Berat. Salah satu ketentuan yang paling menyita perhatian publik adalah larangan pembelian BBM bersubsidi bagi kendaraan yang menunggak pajak kendaraan bermotor maupun kendaraan berpelat luar daerah yang belum melakukan registrasi sesuai ketentuan di NTT. Kebijakan tersebut diterapkan di seluruh SPBU dengan melibatkan koordinasi antara pemerintah daerah, pengelola SPBU, aparat Samsat, serta kepolisian dalam proses pengawasan.

    Secara substansial, pemerintah daerah berargumentasi bahwa kuota BBM bersubsidi yang dialokasikan pemerintah pusat untuk NTT dihitung berdasarkan berbagai indikator, termasuk basis data kendaraan yang terdaftar dan aktif membayar pajak di daerah. Karena itu, kendaraan yang tidak memberikan kontribusi terhadap penerimaan daerah dipandang tidak semestinya ikut menikmati alokasi subsidi yang diperhitungkan berdasarkan data kendaraan tersebut. Laporan dari berbagai daerah se NTT, BBM bersubsidi sering habis sejak siang karena semua kendaraan tanpa kecuali membeli BBM bersubsidi.

    Di sisi lain, pemerintah juga berharap kebijakan ini mampu meningkatkan kepatuhan pembayaran pajak kendaraan bermotor yang selama ini masih menjadi salah satu tantangan dalam optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Peningkatan penerimaan PKB dinilai penting karena menjadi salah satu sumber pembiayaan pembangunan daerah, mulai dari infrastruktur jalan, perbaikan fasilitas kesehatan dan pendidikan, perbaikan rumah layak huni bagi masyarakat miskin hingga pelayanan publik.

    Pro dan Kontra di Lapangan

    Implementasi Pergub tersebut memunculkan beragam respons. Sejumlah kalangan menilai kebijakan itu berpotensi mendorong kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajiban perpajakan sehingga distribusi subsidi menjadi lebih tepat sasaran. Pertamina juga menyatakan mendukung implementasi Pergub sebagai bagian dari upaya memastikan BBM bersubsidi diterima oleh masyarakat yang berhak.

    Namun demikian, kritik juga bermunculan. Sejumlah organisasi masyarakat sipil, mahasiswa, dan kelompok masyarakat mempertanyakan pengaitan antara hak memperoleh BBM bersubsidi dengan status pembayaran pajak kendaraan. Mereka menilai pemerintah perlu memastikan kesiapan sistem, memperluas sosialisasi, serta mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk kegiatan ekonomi sehari-hari.

    Menanggapi kritik tersebut, Gubernur Melki menilai sebagian besar keberatan muncul karena masyarakat belum memperoleh penjelasan yang utuh mengenai tujuan kebijakan. Ia mengaku telah berdialog dengan berbagai kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa, dan meyakini bahwa setelah memahami substansi Pergub, masyarakat akan melihat kebijakan itu sebagai upaya memastikan keadilan bagi yang berhak, membantu pembangunan fasilitas publik dan bantu rakyat miskin serta memperbaiki tata kelola subsidi dan bukan sekadar pembatasan akses BBM.

    Ia juga menepis anggapan bahwa penolakan terjadi secara luas. Menurutnya, dukungan terhadap kebijakan tersebut justru datang dari banyak daerah di NTT, termasuk sejumlah pemerintah kabupaten yang telah mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

    Ke depan, tantangan terbesar pemerintah bukan hanya memastikan aturan berjalan efektif di lapangan, tetapi juga menjaga agar implementasinya berlangsung adil, transparan, dan tidak menghambat aktivitas ekonomi masyarakat. Keberhasilan Pergub Nomor 13 Tahun 2025 pada akhirnya akan sangat bergantung pada dukungan semua pihak, konsistensi pengawasan, kesiapan sistem verifikasi di SPBU, serta kerjasama pemerintah dan semua pihak serta membangun kepercayaan publik bahwa pembatasan tersebut benar-benar ditujukan untuk mewujudkan distribusi subsidi yang lebih tepat sasaran dan memperkuat disiplin perpajakan daerah.*/llt