Lari Malam Menjadi Cara Baru Memperkenalkan Waikabubak dan Potensi Wisata Sumba
WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM โ Ketika matahari tenggelam dan sebagian aktivitas kota mulai berkurang, ratusan pelari justru bergerak menyusuri jalan-jalan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (26/9/2026) malam.
Sebanyak 521 pelari mengikuti Waikabubak Night Run (WNR) 2026. Mereka menempuh lintasan 6,4 kilometer yang mengelilingi kawasan Waikerou dan sejumlah ruas jalan di Kota Waikabubak.
Para peserta dilepas pada pukul 18.30 WITA oleh Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, didampingi jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, Bank NTT, serta sejumlah pemangku kepentingan.
WNR 2026 tercatat sebagai ajang lari malam pertama yang digelar di Pulau Sumba. Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan tersebut memperlihatkan upaya pemerintah daerah dan mitra swasta memanfaatkan olahraga sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan wajah lain Waikabubak: kota yang tetap hidup setelah malam tiba.
Cahaya lampu jalan, kerumunan warga, musik, dan derap langkah pelari membentuk suasana berbeda di sejumlah ruas Kota Waikabubak. Aktivitas itu sekaligus memperlihatkan bahwa ruang publik kota dapat digunakan untuk kegiatan masyarakat, olahraga, dan hiburan pada malam hari.
Lintasan 6,4 Kilometer, Menandai Usia Bank NTT
Jarak 6,4 kilometer yang digunakan dalam WNR 2026 bukan angka yang dipilih secara kebetulan. Jarak tersebut disesuaikan dengan usia Bank NTT yang kini memasuki tahun ke-64.
Rute perlombaan mengambil kawasan Waikerou dan sejumlah bagian Kota Waikabubak. Pemilihan rute tersebut membuat peserta tidak hanya berlari dalam lintasan tertutup, tetapi juga melewati ruang-ruang kota yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Konsep lari malam juga menjadi bagian dari pesan yang hendak dibangun Pemerintah Kabupaten Sumba Barat. Kota Waikabubak diharapkan semakin terang, aman, dan nyaman untuk berbagai aktivitas publik.
Di bawah kepemimpinan Bupati Yohanis Dade, pemerintah daerah ingin mengembangkan Waikabubak sebagai kota yang berseri, indah, dan nyaman. Kegiatan olahraga menjadi salah satu cara untuk menghidupkan ruang kota sekaligus membangun interaksi masyarakat.
Peserta Datang dari Empat Kabupaten di Sumba
WNR 2026 tidak hanya diikuti pelari dari Sumba Barat. Sekitar 60 persen peserta berasal dari Sumba Barat, 20 persen dari Sumba Timur, sedangkan peserta lainnya berasal dari Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya.
Komposisi peserta tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan olahraga dapat menjadi ruang pertemuan antardaerah di Pulau Sumba.
Usia peserta juga beragam. Pelari termuda berusia 10 tahun, sedangkan peserta tertua berusia 58 tahun. Peserta tertua tersebut merupakan salah satu pimpinan organisasi perangkat daerah di Kabupaten Sumba Barat.
Keragaman peserta menunjukkan bahwa olahraga lari dapat diterima oleh berbagai kelompok usia, sekaligus menjadi kegiatan bersama yang tidak dibatasi oleh wilayah administratif.
Bupati Yohanis Dade: Bukan Sekadar Mengejar Kecepatan
Saat melepas peserta, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade mengingatkan bahwa WNR 2026 tidak semata-mata menjadi ajang untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai garis finis.
Menurut Bupati Yohanis, olahraga memiliki nilai yang lebih luas, antara lain membangun pola hidup sehat, disiplin, kebersamaan, kejujuran, dan sportivitas.
Karena itu, peserta diminta menikmati perlombaan sekaligus menjaga nilai-nilai olahraga selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Bagi peserta dari luar Sumba Barat, WNR juga menjadi kesempatan untuk menikmati suasana malam Waikabubak.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah event olahraga dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata. Peserta yang datang dari daerah lain memiliki kesempatan mengenal kota, masyarakat, kuliner, serta potensi wisata Sumba Barat.
Dari Lomba Lari Menjadi Promosi Pariwisata
Ketua Panitia WNR 2026 Jeffry Ndapamerang mengatakan, kegiatan tersebut dirancang untuk tidak berhenti pada penyelenggaraan tahun pertama.
WNR diharapkan menjadi agenda tahunan Kabupaten Sumba Barat dengan jumlah peserta dan jangkauan publikasi yang terus diperluas.
โKami berharap ke depan peserta tidak hanya berasal dari kabupaten-kabupaten di Pulau Sumba, tetapi juga dari seluruh NTT. Bahkan kalau memungkinkan, publikasinya dapat menjangkau tingkat nasional sehingga wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara yang datang ke Sumba dapat ikut menjadi bagian dari event ini,โ ujar Jeffry.
Menurut Jeffry, olahraga dapat menjadi salah satu instrumen promosi pariwisata. Orang yang datang untuk mengikuti perlombaan memiliki kesempatan untuk tinggal lebih lama, mengunjungi tempat wisata, menggunakan jasa transportasi, membeli makanan, serta berinteraksi dengan pengusaha ekonomi kreatif.
Dengan pola tersebut, sebuah perlombaan lari dapat memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar aktivitas olahraga.
Bank NTT: Event Olahraga Bisa Menggerakkan Ekonomi Lokal
Wakil Ketua Panitia WNR 2026 sekaligus Pemimpin Bank NTT Cabang Waikabubak Martin Sooai mengatakan, Bank NTT akan terus mendukung kegiatan strategis Pemerintah Kabupaten Sumba Barat.
Menurut Martin, keterlibatan Bank NTT dalam WNR merupakan bentuk kolaborasi antara sektor perbankan dan pemerintah daerah untuk mengembangkan kegiatan yang berdampak bagi masyarakat.
โBank NTT akan selalu memberikan support dan mendukung kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat. WNR 2026 ini menjadi salah satu kegiatan yang kami harapkan dapat menjadi ujung tombak promosi Kabupaten Sumba Barat,โ kata Martin.
Ia berharap WNR dapat menarik lebih banyak peserta dari luar Sumba Barat. Kehadiran peserta dari luar daerah diharapkan turut memperkenalkan destinasi wisata dan berbagai potensi ekonomi masyarakat setempat.
Event olahraga, dengan demikian, dapat menjadi titik temu antara promosi daerah, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Setelah Lari, Panggung Hiburan Mengambil Alih
Kegiatan WNR 2026 tidak langsung berakhir setelah seluruh peserta menyelesaikan lintasan 6,4 kilometer.
Panitia menyiapkan pertunjukan musik yang melibatkan pelajar SMA Kristen dan SMA Negeri 1 Kabupaten Sumba Barat. Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan DJ lokal yang telah memiliki pengalaman tampil dalam sejumlah event berskala nasional.
Suasana di sekitar lokasi kegiatan pun tetap ramai. Peserta yang sebelumnya berlari menikmati hiburan bersama warga dan undangan.
Kombinasi olahraga, musik, dan ruang publik tersebut menjadi bagian dari konsep WNR 2026. Event tidak hanya dirancang sebagai perlombaan, tetapi juga sebagai kegiatan yang dapat dinikmati masyarakat secara lebih luas.
Membuka Kalender Event Baru di Pulau Sumba
WNR 2026 menjadi langkah awal Kabupaten Sumba Barat untuk mengembangkan kegiatan lari sebagai bagian dari kalender event daerah.
Ke depan, penyelenggaraan serupa diharapkan dapat berkembang di kabupaten lain di Pulau Sumba. Sumba Timur, Sumba Tengah, dan Sumba Barat Daya memiliki ruang untuk mengembangkan event masing-masing dengan mengangkat karakter wilayah, budaya, dan potensi wisata yang berbeda.
Jika dikembangkan secara konsisten, olahraga lari dapat menjadi lebih dari sekadar aktivitas menjaga kebugaran.
Para juara dalam ajang tersebut diantaranya, untuk kategori wanitia: Ririn Willem, Fellyani Kwelianto, Evalien R. Sori dan untuk pria: Siprianus Natu Benu, Iky Sanae dan Yopsi Bosoin. Sedangkan untuk kategori kostum terunik dienangkan oleh Nurmi Ridwan untuk wanita dan Ardynatha P.H. Lahu untuk pria.
Di Pulau Sumba, olahraga dapat menjadi alasan orang datang, tinggal lebih lama, mengenal daerah, dan membelanjakan uangnya di tengah masyarakat.
Pada malam 26 September 2026 itu, 521 pelari memang hanya menempuh jarak 6,4 kilometer.
Namun, bagi Kabupaten Sumba Barat, langkah mereka menjadi bagian dari upaya yang lebih panjang: menjadikan olahraga sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan Waikabubak dan Pulau Sumba kepada lebih banyak orang.*/llt



Komentar