G-RDVF5GTVXM

Blog

  • Sorotan Publik atas 6 Peserta Akpol dari NTT, Gubernur Melki Minta Transparansi Seleksi Ditegakkan

    Sorotan Publik atas 6 Peserta Akpol dari NTT, Gubernur Melki Minta Transparansi Seleksi Ditegakkan

    BORONG,SELATANINDONESIA.COM – Polemik seputar hasil seleksi calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) di lingkungan Polda Nusa Tenggara Timur kembali mencuat setelah beredarnya daftar enam peserta yang disebut berasal dari luar NTT namun lolos melalui panitia daerah (Panda) NTT. Isu ini ramai diperbincangkan di media sosial dan grup percakapan warga, memantik sorotan publik terhadap mekanisme rekrutmen dan kualitas pendidikan di daerah.

    Enam nama yang beredar luas yakni Made Alvino Garvin Karang, Dobrimeka Wibowo, Joel Ishak Hamonangan Silalahi, Affandi Hidayat, I Dewa Yoga Krisnanda, dan Chelsea Maudina Ahmadi. Perbincangan publik mengerucut pada dugaan bahwa para peserta tersebut bukan berasal dari NTT, meskipun dinyatakan lolos seleksi dari wilayah NTT.

    Menanggapi isu itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa informasi yang beredar perlu diverifikasi secara ketat sebelum disimpulkan sebagai pelanggaran. Ia menyebut pemerintah daerah bersama DPRD akan melakukan pendalaman, termasuk melalui rencana rapat dengar pendapat dengan pihak kepolisian.

    “Perlu diperiksa faktanya dulu baru kita boleh berpendapat,” ujar Melki dalam kegiatan sosialisasi pendidikan di Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Sabtu (4/7/2026).

    Menurutnya, secara regulasi, peserta dari luar daerah tetap dapat mengikuti seleksi di Polda NTT dengan syarat tertentu, termasuk ketentuan domisili minimal enam bulan di wilayah tersebut sebelum mengikuti tes. Namun, ia menekankan pentingnya memastikan apakah seluruh peserta telah memenuhi syarat administratif dan domisili yang berlaku.

    Di sisi lain, Gubernur Melki juga mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan bahwa lolosnya peserta dari luar NTT semata-mata berkaitan dengan asal daerah. Ia menyinggung kemungkinan bahwa hasil seleksi bisa saja murni ditentukan oleh capaian nilai dan kualitas akademik peserta.

    “Jangan sampai anak-anak kita kalah dari segi kualitas,” ujarnya, seraya menyoroti perlunya evaluasi serius terhadap mutu pendidikan di NTT.

    Isu ini kemudian berkelindan dengan refleksi lebih luas mengenai kondisi pendidikan di daerah. Pemerintah Provinsi NTT menyoroti hasil pemetaan kemampuan akademik yang menunjukkan posisi NTT masih berada di kelompok bawah secara nasional. Kondisi tersebut, menurut gubernur, menjadi alarm untuk memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah, termasuk kompetensi guru dan sarana pendidikan.

    Di tengah polemik tersebut, pemerintah daerah juga mendorong agenda penguatan pendidikan berbasis keluarga melalui kebijakan jam belajar masyarakat. Dalam program yang disosialisasikan di Manggarai Timur itu, keluarga diharapkan menyediakan waktu khusus pada pukul 18.00–19.30 WITA untuk mendampingi anak belajar di rumah.

    Selain itu, pemerintah turut meluncurkan program penguatan ekonomi lokal melalui NTT Mart berbasis One School One Product (OSOP) sebagai bagian dari upaya menghubungkan pendidikan dengan kewirausahaan. Program ini diharapkan mendorong siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki daya cipta dan keterampilan ekonomi sejak dini.

    Polemik seleksi Akpol ini, bagi pemerintah daerah, pada akhirnya menjadi cermin ganda: antara kebutuhan memastikan transparansi rekrutmen aparatur negara dan tantangan besar meningkatkan kualitas pendidikan di NTT agar mampu bersaing secara nasional.*/llt

     

  • Lima Tahun Menunggu dan Diperjuangkan Gubernur Melki, Bank NTT Kembali Salurkan KUR Rp350 M: Dorong Penguatan UMKM

    Lima Tahun Menunggu dan Diperjuangkan Gubernur Melki, Bank NTT Kembali Salurkan KUR Rp350 M: Dorong Penguatan UMKM

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM—Setelah lima tahun tidak lagi menjadi penyalur, Bank NTT kembali memperoleh mandat untuk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan alokasi awal sebesar Rp350 miliar. Keputusan ini menjadi penanda kembalinya salah satu instrumen pembiayaan murah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Timur, di tengah upaya memperkuat fondasi ekonomi berbasis kerakyatan di daerah.

    Kembalinya Bank NTT dalam skema KUR tidak lepas dari dorongan Pemerintah Provinsi NTT di bawah kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena. Sejak awal masa jabatannya, ia disebut aktif melakukan komunikasi dan advokasi ke pemerintah pusat agar Bank NTT kembali diberi ruang sebagai penyalur pembiayaan bersubsidi tersebut.

    Bagi daerah seperti NTT, yang struktur ekonominya masih bertumpu pada sektor primer dan usaha mikro, akses terhadap pembiayaan murah menjadi salah satu prasyarat penting untuk menjaga daya tahan dan meningkatkan skala usaha masyarakat.

    Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus mengatakan, kembalinya Bank NTT sebagai penyalur KUR merupakan bentuk kepercayaan pemerintah setelah sebelumnya bank daerah tersebut sempat dikeluarkan dari skema penyaluran akibat pertimbangan kinerja penyaluran kredit.

    “KUR ini program nasional. Setelah lima tahun tidak diperbolehkan, kini Bank NTT kembali dipercaya menyalurkan KUR dengan plafon awal Rp350 miliar,” ujar Charlie di Kupang, Sabtu (4/7/2026).

    Ia menyampaikan apresiasi kepada Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena yang menurutnya memiliki peran penting dalam memperjuangkan kembalinya akses Bank NTT dalam program tersebut.

    Dorongan Politik Ekonomi untuk UMKM

    Kebijakan ini menandai sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga keuangan daerah dalam memperkuat ekonomi mikro. Di NTT, UMKM selama ini menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di sektor perdagangan, kuliner, pertanian, peternakan, perikanan, dan jasa skala kecil.

    Dengan kembalinya akses terhadap KUR, pemerintah daerah berharap terjadi percepatan perputaran modal di tingkat akar rumput. Plafon awal sebesar Rp350 miliar diproyeksikan akan disalurkan kepada ribuan pelaku usaha di berbagai kabupaten dan kota di NTT dalam waktu enam bulan ke depan.

    Skema KUR sendiri menawarkan bunga rendah sekitar 0,5 persen per bulan karena mendapatkan subsidi dari pemerintah pusat. Kebijakan ini dirancang untuk memperluas akses pembiayaan formal sekaligus menekan ketergantungan pelaku usaha pada sumber pembiayaan informal dengan bunga tinggi.

    Secara ekonomi, masuknya kembali pembiayaan murah ke sektor UMKM berpotensi menciptakan efek berganda (multiplier effect). Tambahan modal usaha dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jaringan usaha, dan membuka lapangan kerja baru, yang pada akhirnya mendorong peningkatan pendapatan rumah tangga di daerah.

    Penguatan Inklusi Keuangan di Daerah

    Selain dampak langsung terhadap pelaku usaha, penyaluran KUR melalui Bank NTT juga dipandang sebagai bagian dari perluasan inklusi keuangan di wilayah kepulauan seperti NTT. Akses terhadap layanan perbankan formal selama ini masih menjadi tantangan, terutama di wilayah pedesaan dan pulau-pulau kecil.

    Dengan jaringan Bank NTT yang tersebar hingga ke tingkat kabupaten dan kecamatan, diharapkan KUR dapat menjangkau pelaku usaha yang selama ini belum tersentuh pembiayaan formal. Hal ini sekaligus memperkuat peran bank pembangunan daerah dalam menjembatani kebutuhan modal usaha masyarakat lokal.

    Namun demikian, Charlie menegaskan bahwa KUR bukanlah bantuan sosial, melainkan kredit yang wajib dikembalikan. Karena itu, penggunaannya harus diarahkan sepenuhnya untuk kegiatan usaha produktif.

    “KUR bukan donasi. Ini pinjaman yang harus dibayar kembali, sehingga harus digunakan untuk usaha, bukan untuk kebutuhan konsumtif,” katanya.

    Ia menyebutkan, sasaran utama pembiayaan meliputi pelaku usaha mikro seperti warung, bengkel, usaha kuliner, perdagangan kecil, serta sektor produktif lain yang memiliki potensi berkembang.

    Kehati-hatian dan Evaluasi Pasca Vakum

    Pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran penting bagi Bank NTT dalam menjaga kualitas penyaluran kredit. Karena itu, setelah kembali dipercaya menyalurkan KUR, bank daerah ini menekankan prinsip kehati-hatian, termasuk verifikasi usaha, pendampingan debitur, dan pengawasan berkala.

    Bank NTT menargetkan penyaluran Rp350 miliar tersebut dapat terserap dalam waktu enam bulan. Jika kinerja penyaluran dinilai baik dan kualitas kredit tetap terjaga, pemerintah membuka peluang penambahan plafon pada periode berikutnya.

    Bagi pemerintah daerah, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari besarnya dana yang tersalurkan, tetapi juga dari sejauh mana pembiayaan tersebut mampu menggerakkan ekonomi rakyat secara berkelanjutan.

    Dalam konteks itu, kembalinya Bank NTT sebagai penyalur KUR tidak hanya menjadi kebijakan perbankan, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah yang bertumpu pada penguatan UMKM sebagai fondasi utama ekonomi Nusa Tenggara Timur.*/ab/llt

  • Sambut HUT Ke-64, Bank NTT Bangun Budaya Kerja dari Hal Sederhana: Menjaga Kebersihan dan Memperkuat Soliditas

    Sambut HUT Ke-64, Bank NTT Bangun Budaya Kerja dari Hal Sederhana: Menjaga Kebersihan dan Memperkuat Soliditas

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM — Transformasi sebuah lembaga keuangan tidak hanya diukur dari pertumbuhan aset, penyaluran kredit, atau peningkatan laba. Di Bank NTT, perubahan juga dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni membangun budaya kerja yang disiplin melalui kepedulian terhadap lingkungan kerja.

    Semangat itu terlihat ketika seluruh jajaran direksi, pimpinan, hingga karyawan PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) menggelar kerja bakti secara serentak di Kantor Pusat maupun seluruh kantor cabang, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 Bank NTT yang akan diperingati pada 17 Juli mendatang.

    Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan langkah awal membangun budaya organisasi yang lebih tertib, bersih, dan bertanggung jawab.

    Menurut Charlie, kebersihan ruang kerja merupakan cerminan profesionalisme setiap pegawai. Karena itu, setiap insan Bank NTT didorong untuk bertanggung jawab terhadap area kerjanya masing-masing, mulai dari merapikan dokumen, mengurangi tumpukan berkas yang tidak diperlukan, hingga menjaga kebersihan lingkungan kantor.

    “Kami ingin membangun kesadaran bahwa kebersihan bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan. Setiap pegawai harus memiliki kepedulian terhadap ruang kerja maupun lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.

    Ia menilai, budaya kerja yang sehat berawal dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Lingkungan kerja yang rapi dan nyaman diyakini akan mendorong produktivitas sekaligus memperkuat kualitas pelayanan kepada masyarakat.

    Komitmen tersebut juga diperluas hingga ke lingkungan di luar kantor. Melalui kerja bakti serentak, Bank NTT ingin menunjukkan bahwa keberadaan perusahaan tidak terpisah dari masyarakat dan lingkungan tempat institusi itu bertumbuh.

    Lebih jauh, Charlie mengatakan peringatan HUT ke-64 tahun ini mengusung semangat memperkuat kebersamaan sebagai fondasi organisasi. Karena itu, selain kerja bakti, berbagai kegiatan internal telah disiapkan, mulai dari turnamen futsal, catur, hingga beragam permainan yang melibatkan keluarga besar pegawai.

    Rangkaian kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai ajang perayaan, tetapi juga untuk memperkuat komunikasi, kolaborasi, dan soliditas antarkaryawan yang selama ini menjadi modal penting dalam mendorong transformasi Bank NTT.

    Puncak perayaan akan digelar melalui kegiatan family gathering pada 18 Juli 2026 yang mempertemukan keluarga besar Bank NTT dari berbagai kantor cabang. Momentum tersebut diharapkan semakin mempererat hubungan antarkaryawan sekaligus memperkuat semangat bekerja sebagai satu tim.

    Di tengah upaya Bank NTT memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas layanan, serta memperkuat kinerja bisnis pada tahun 2026, pembentukan budaya organisasi menjadi salah satu fokus manajemen. Transformasi itu diharapkan tidak hanya tercermin dalam capaian keuangan perusahaan, tetapi juga dalam karakter, disiplin, dan integritas sumber daya manusia sebagai fondasi pertumbuhan bank pembangunan daerah tersebut.*/ab/llt

  • Bersama Menuju Puncak, Bank NTT Perkuat Semangat Transformasi dan Kolaborasi

    Bersama Menuju Puncak, Bank NTT Perkuat Semangat Transformasi dan Kolaborasi

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) menandai momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 pada 2026 dengan mengusung tema “Bersama Menuju Puncak”, sebuah pesan yang tidak sekadar menjadi slogan perayaan, melainkan arah strategis perusahaan untuk memperkuat daya saing sebagai bank pembangunan daerah.

    Tema tersebut mencerminkan tekad manajemen membawa Bank NTT mencapai capaian yang lebih tinggi, baik dari sisi kinerja keuangan, kualitas layanan, tata kelola perusahaan, maupun kontribusi terhadap pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur. Semangat itu sekaligus menjadi pengingat bahwa transformasi bank daerah tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan laba, tetapi juga kemampuan menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat dan pemerintah daerah sebagai pemegang saham.

    Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, mengatakan, makna “puncak” dalam dunia perbankan memiliki dimensi yang luas. Keberhasilan sebuah bank tidak semata-mata diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari kualitas pelayanan kepada nasabah, efektivitas penyaluran pembiayaan produktif, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta tata kelola yang sehat dan berkelanjutan.

    “Puncak itu menunjukkan keberhasilan kita sebagai perusahaan perbankan. Keberhasilan itu bisa dalam pelayanan yang baik, mencetak laba yang baik, maupun menyalurkan KUR dengan baik. Jadi dimensinya sangat luas,” ujar Charlie di Kupang, Sabtu (4/7/2026).

    Menurut Charlie, target tersebut tidak mungkin dicapai hanya melalui kerja individu. Industri perbankan saat ini menuntut organisasi yang solid, adaptif, dan mampu bekerja secara kolektif dalam menghadapi dinamika ekonomi maupun tuntutan transformasi digital.

    Karena itu, ia mengajak seluruh insan Bank NTT membangun budaya kerja yang mengedepankan kolaborasi, kerja keras, kerja cerdas, dan inovasi sebagai fondasi menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.

    “Kalau berjuang sendiri tidak akan berhasil. Harus ada kerja sama yang baik antara seluruh karyawan, kerja cerdas, kerja keras, dan kerja pintar,” katanya.

    Lebih jauh, Charlie menilai semangat kebersamaan juga harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Sebagai bank milik pemerintah daerah, keberhasilan Bank NTT bergantung pada sinergi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sebagai pemegang saham, dunia usaha, serta masyarakat yang menjadi pengguna layanan perbankan.

    Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai penting agar Bank NTT mampu memperkuat intermediasi, memperluas akses pembiayaan bagi sektor produktif, serta meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

    Tema “Menuju Puncak” juga sejalan dengan agenda transformasi yang tengah dijalankan Bank NTT untuk memperkuat fondasi bisnis. Dalam beberapa bulan terakhir, bank daerah ini terus mendorong penguatan tata kelola, digitalisasi layanan, pengembangan sektor UMKM, serta peningkatan kinerja keuangan sebagai bagian dari upaya membangun bank yang lebih sehat dan kompetitif.

    Bagi Bank NTT, momentum HUT ke-64 bukan sekadar perayaan perjalanan perusahaan, melainkan titik konsolidasi untuk memperkuat budaya kerja dan mempercepat transformasi. Dengan semangat “Menuju Puncak”, manajemen berharap seluruh insan perusahaan bergerak dalam satu visi, yakni menghadirkan bank pembangunan daerah yang semakin tangguh, terpercaya, dan mampu menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi Nusa Tenggara Timur.*/ab/llt

  • HUT ke-64 Bank NTT, Dirut Charlie Paulus Prioritaskan Pembenahan Layanan dan Tata Kelola

    HUT ke-64 Bank NTT, Dirut Charlie Paulus Prioritaskan Pembenahan Layanan dan Tata Kelola

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM — Transformasi Bank NTT tidak hanya diarahkan pada peningkatan kinerja keuangan, tetapi juga dimulai dari pembenahan hal yang paling dekat dengan nasabah, yakni kualitas pelayanan. Manajemen baru Bank NTT menilai pengalaman nasabah saat bertransaksi akan menjadi fondasi penting untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap bank pembangunan daerah tersebut.

    Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus mengakui masih terdapat berbagai catatan terhadap pelayanan Bank NTT, mulai dari antrean yang panjang hingga persepsi sebagian masyarakat mengenai lambatnya layanan. Menurut dia, kondisi tersebut tidak boleh dipandang sebagai tingginya minat masyarakat terhadap Bank NTT, melainkan menjadi indikator bahwa sistem pelayanan masih perlu diperbaiki.

    “Antrean yang panjang bukan berarti kita hebat, tetapi justru menunjukkan pelayanan kita belum cukup cepat,” kata Charlie saat kegiatan kerja bakti menyambut Hari Ulang Tahun ke-64 Bank NTT di Kupang, Sabtu (4/7/2026).

    Charlie mengatakan perubahan budaya pelayanan kini menjadi agenda utama manajemen. Bank NTT ingin memastikan setiap nasabah memperoleh layanan yang profesional, cepat, dan setara dengan standar pelayanan industri perbankan nasional. Bagi bank daerah, kualitas layanan dinilai menjadi faktor penting untuk mempertahankan loyalitas nasabah di tengah semakin ketatnya persaingan dengan bank nasional maupun swasta.

    Selain pelayanan, manajemen juga tengah memperkuat tata kelola penyaluran kredit. Langkah tersebut ditempuh sebagai bagian dari upaya menekan risiko kredit bermasalah yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu tantangan utama Bank NTT.

    Menurut Charlie, evaluasi dilakukan terhadap mekanisme pemberian kewenangan kredit di kantor-kantor cabang. Ke depan, besaran kewenangan tidak lagi disamaratakan, melainkan disesuaikan dengan kapasitas sumber daya manusia, tingkat kehati-hatian, serta rekam jejak masing-masing cabang.

    Pendekatan berbasis kompetensi itu diharapkan mampu memperkuat manajemen risiko sekaligus menciptakan proses penyaluran kredit yang lebih sehat dan akuntabel. Ia mengakui proses pembenahan tersebut membutuhkan waktu karena menyangkut perubahan sistem dan budaya kerja organisasi.

    Charlie juga menegaskan Bank NTT merupakan aset strategis milik masyarakat Nusa Tenggara Timur. Karena itu, seluruh proses transformasi yang sedang dilakukan diarahkan agar bank mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah, sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat sebagai pemilik sekaligus pengguna layanan.

    Ia mengajak masyarakat untuk terlibat dalam proses pembenahan dengan menyampaikan kritik dan masukan secara langsung kepada manajemen. Menurut dia, kritik yang disampaikan melalui saluran resmi akan lebih efektif menjadi bahan evaluasi dibandingkan berkembang sebagai opini di media sosial.

    Momentum peringatan HUT ke-64 Bank NTT, yang mengusung tema “Menuju Puncak”, dimaknai manajemen sebagai awal penguatan budaya kerja baru, dengan fokus pada peningkatan kualitas pelayanan, penguatan tata kelola, serta penciptaan kinerja yang berkelanjutan.*/ab/llt

  • Dirut Bank NTT Hadiri Sidang Sinode GKS, KUR Diperluas untuk Menggerakkan Ekonomi UMKM di Sumba

    Dirut Bank NTT Hadiri Sidang Sinode GKS, KUR Diperluas untuk Menggerakkan Ekonomi UMKM di Sumba

    KARERA,SELATANINDONESIA.COM — Momentum pembukaan Sidang Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) ke-44 tidak hanya menjadi ruang konsolidasi pelayanan gereja, tetapi juga menjadi panggung penguatan kolaborasi dalam mendorong ekonomi kerakyatan di Nusa Tenggara Timur. Pada Kamis (2/7/2026), Bank NTT memanfaatkan forum tersebut untuk mempertegas komitmennya memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

    Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, didampingi Komisaris Independen Prof. Frans Gana, menghadiri pembukaan Sidang Sinode GKS ke-44 di GKS Jemaat Nggongi, Klasis Mahu Karera, Kabupaten Sumba Timur. Acara tersebut dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, para kepala daerah se-Daratan Sumba, Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Dr. Umbu Rudi Kabunang, anggota DPRD, serta Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty. Ribuan peserta yang terdiri atas pendeta, utusan jemaat, dan perwakilan klasis dari seluruh Daratan Sumba turut mengikuti agenda empat tahunan tersebut.

    Di hadapan peserta sidang, Charlie Paulus menegaskan bahwa kehadiran Bank NTT bukan sekadar memenuhi undangan sebagai mitra Sinode GKS, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun fondasi ekonomi masyarakat melalui penguatan sektor usaha produktif.

    Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyerahan Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara simbolis kepada sejumlah pengusaha UMKM yang berasal dari Jemaat GKS Kambajawa, GKS Tanggamadita, GKS Tanalingu, GKS Benda, dan GKS Kawalung. Penyaluran KUR ini merupakan implementasi dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Bank NTT dan Sinode GKS yang telah disepakati sebelumnya sebagai langkah memperluas akses pembiayaan bagi warga jemaat yang memiliki usaha produktif.

    Bagi Bank NTT, penyaluran KUR tidak hanya dipandang sebagai penyaluran kredit semata, tetapi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi. KUR merupakan fasilitas pembiayaan bersubsidi pemerintah yang ditujukan bagi pengusaha UMKM yang layak dan produktif, namun belum memiliki agunan yang memadai untuk memperoleh kredit komersial. Dengan bunga yang relatif rendah dan skema pembayaran yang lebih fleksibel, KUR diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat daya saing pelaku usaha lokal.

    Di wilayah seperti Sumba, akses terhadap permodalan masih menjadi salah satu tantangan utama bagi pengusaha UMKM. Banyak usaha mikro di sektor perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan, maupun industri rumah tangga memiliki prospek berkembang, tetapi terkendala keterbatasan modal kerja maupun investasi. Melalui KUR, Bank NTT berupaya menjembatani kebutuhan tersebut agar pelaku usaha dapat meningkatkan skala produksi, memperluas pasar, dan menciptakan nilai tambah bagi perekonomian daerah.

    Langkah tersebut juga sejalan dengan agenda Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat. Sinergi antara pemerintah daerah, lembaga keagamaan, dan Bank NTT diharapkan mampu memperluas inklusi keuangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga ke tingkat jemaat.

    Kemitraan dengan Sinode GKS menjadi contoh bahwa lembaga keagamaan tidak hanya berperan dalam pembangunan spiritual, tetapi juga dapat menjadi mitra strategis dalam pengembangan ekonomi umat. Melalui jaringan jemaat yang tersebar di berbagai wilayah, edukasi literasi keuangan, pendampingan usaha, serta akses terhadap pembiayaan menjadi lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.

    Sebagai bank pembangunan daerah, Bank NTT terus memperkuat perannya sebagai penggerak ekonomi lokal dengan menghadirkan layanan keuangan yang inklusif dan berpihak kepada sektor produktif. Penyaluran KUR kepada jemaat GKS menjadi salah satu langkah konkret untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.

    Dengan semangat “Mangun Nda Nyuta Ya”, Bank NTT menegaskan komitmennya untuk terus tumbuh bersama masyarakat Nusa Tenggara Timur. Sebab, ketika UMKM berkembang, lapangan kerja bertambah, pendapatan masyarakat meningkat, dan roda perekonomian daerah pun bergerak semakin kuat.*/hmsbankntt/llt