KISOL,SELATANINDONESIA.COM โ Di tengah situasi darurat pascagempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena memilih tetap turun ke lapangan. Ia datang menemui warga, melihat fasilitas yang terdampak, dan memastikan bantuan bergerak hingga ke tingkat komunitas.
Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 10.00 WITA, Gubernur Melki mengunjungi Seminari Pius XII Kisol, Kabupaten Manggarai Timur. Kunjungan itu menjadi bagian dari agenda Gubernur berkantor di Flores untuk memantau langsung penanganan dan pemulihan pascabencana.
Kehadiran Gubernur Melki di Kisol berlangsung dalam suasana yang jauh dari hiruk-pikuk pusat pemerintahan. Di seminari itu, sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan akibat gempa, meski struktur utama masih dalam kondisi baik. Sebanyak 31 siswa kelas XII untuk sementara tinggal dan menjalankan aktivitas di tenda darurat.
Di tengah keterbatasan tersebut, Gubernur Melki meminta para siswa tidak kehilangan semangat.
โKondisi boleh sulit, tempat belajar boleh sementara, tetapi cita-cita dan masa depan tidak boleh ikut berhenti. Tetap belajar, tetap kuat, dan terus berjuang,โ sebut Gubernur Melki.
Pesan itu sekaligus menggambarkan tantangan yang sedang dihadapi Flores. Gempa tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga menguji daya tahan masyarakat dan kemampuan semua pihak untuk bergerak bersama.
Dari seminari, Gubernur Melki kemudian mendatangi posko mandiri yang dibangun Paroki St. Yosef Kisol. Posko tersebut menjadi tempat pelayanan sekaligus distribusi kebutuhan pokok bagi warga terdampak.
Yang menarik, pelayanan di posko itu banyak digerakkan oleh Orang Muda Katolik (OMK). Mereka mendirikan posko, mengatur bantuan, dan mendistribusikan bahan kebutuhan pokok kepada masyarakat.
Gubernur Melki menyerahkan bantuan sembako sekaligus memberikan apresiasi kepada para relawan muda tersebut.
โSaya mengapresiasi inisiatif Paroki St. Yosef Kisol yang dengan cepat mengambil bagian dalam membantu masyarakat. Lebih khusus lagi, saya memberikan apresiasi kepada Orang Muda Katolik yang terlibat langsung mendirikan posko dan mendistribusikan bahan pokok kepada masyarakat,โ kata Gubernur Melki.
Bagi Gubernur Melki, keterlibatan warga, gereja, orang muda, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan berbagai kelompok masyarakat bukan sekadar pelengkap dalam penanganan bencana. Mereka merupakan bagian penting dari kekuatan Flores untuk bangkit.
โDalam situasi seperti ini, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Solidaritas dari masyarakat, gereja, orang muda, dan semua pihak sangat penting. Semangat gotong royong seperti ini harus terus kita jaga,โ ujarnya.
Ajakan untuk bergerak bersama itu disampaikan Gubernur Melki ketika dinamika politik dan kritik terhadap pemerintah juga terus berlangsung. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk sementara menanggalkan kepentingan politik jangka panjang dan memusatkan perhatian pada keselamatan serta pemulihan warga.
โSemakin dihujat, kami pemerintah semakin bersemangat bekerja membantu masyarakat yang terdampak,โ sebut Gubernur Melki.
Namun, ia memilih tidak menjadikan hujatan sebagai alasan untuk berhenti bekerja. Dengan senyum dan turun langsung ke lapangan, ia mengajak seluruh elemen NTT mengarahkan energi pada kebutuhan masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
โMari bersatu. Mari bersama bergerak. Mari bergotong royong. Mari saling peduli. Mari tanggalkan kepentingan 2030. Sekarang kita tangani keadaan darurat gempa bumi Magnitudo 7,7 di Pulau Flores,โ ujarnya.
Ajakan tersebut menempatkan penanganan bencana sebagai pekerjaan bersama yang harus didahulukan dibandingkan kepentingan politik. Bagi masyarakat yang sedang berada di tenda-tenda pengungsian, kebutuhan hari ini jauh lebih mendesak daripada perdebatan tentang kontestasi politik beberapa tahun mendatang.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena ketika mengunjungi Seminari Pius XII Kisol, Kabupaten Manggarai Timur. Kunjungan itu menjadi bagian dari agenda Gubernur berkantor di Flores untuk memantau langsung penanganan dan pemulihan pascabencana, Sabtu (22/8/2026).foto:biroadpim
Pemerintah Tidak Bisa Sendiri
Kunjungan ke Kisol juga menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada penyaluran bantuan pemerintah. Di lapangan, terdapat jaringan solidaritas masyarakat yang bekerja secara mandiri.
Paroki, orang muda, lembaga pendidikan, relawan, pemerintah desa, pemerintah kabupaten, hingga pemerintah provinsi memiliki ruang untuk mengambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Kehadiran 31 siswa Seminari Pius XII Kisol di tenda darurat juga menjadi pengingat bahwa pemulihan harus memperhatikan kebutuhan jangka panjang. Pendidikan anak-anak tidak boleh terhenti hanya karena bangunan sekolah atau asrama mengalami kerusakan.
Karena itu, Gubernur Melki meminta para pengelola seminari dan para siswa tetap menjaga keberlangsungan pendidikan.
Bagi anak-anak tersebut, tenda bukanlah akhir dari perjalanan. Tenda hanyalah ruang sementara sampai bangunan dan kehidupan mereka kembali pulih.
Dari Kisol, pesan yang dibawa Gubernur Melki sederhana: Flores sedang menghadapi bencana, tetapi Flores tidak boleh menghadapi bencana sendirian.
Pemerintah membutuhkan masyarakat. Masyarakat membutuhkan pemerintah. Gereja, orang muda, dunia usaha, relawan, organisasi sosial, dan seluruh elemen masyarakat dapat menjadi mata rantai yang mempercepat pemulihan.
Di tengah kritik dan perbedaan pandangan, pekerjaan kemanusiaan tetap harus berjalan. Senyum, gotong royong, dan kepedulian menjadi energi untuk melewati masa darurat.
Gubernur Melki pun memilih tetap bekerja. Turun ke tengah warga, mendengar kebutuhan mereka, dan mengajak seluruh elemen NTT mengesampingkan perbedaan untuk satu tujuan: menyelamatkan, membantu, dan memulihkan Flores.*/llt



Komentar