BA’A,SELATANINDONESIA.COM — Pagi itu, pembangunan tidak dibicarakan dari balik meja. Bupati Rote Ndao Paulus Henuk turun langsung ke lapangan. Di Desa Batulilok, Kecamatan Pantai Baru, ia melihat dari dekat Bendung Moresa. Beton, saluran air, dan hamparan lahan pertanian menjadi bagian dari pemandangan yang diperiksanya.
Bendung itu bukan pekerjaan yang baru dimulai. Rehabilitasinya telah dikerjakan pada 2024. Namun, bagi Bupati Paulus, pekerjaan yang telah selesai tetap perlu dilihat kembali: apakah masih berfungsi sebagaimana direncanakan, bagaimana kualitasnya, dan yang paling penting, apa manfaatnya bagi masyarakat.
Pertanyaan terakhir menjadi penting ketika pembangunan bertemu dengan kehidupan petani.
Dengan berfungsinya Bendung Moresa, petani di wilayah tersebut kini memiliki kesempatan mengolah lahan hingga dua musim tanam. Air yang lebih tersedia membuat lahan tidak hanya bergantung pada satu musim untuk menghasilkan.
Di titik itu, sebuah pekerjaan konstruksi memperoleh makna yang lebih luas.
Bendung bukan lagi sekadar bangunan pengairan. Ia menjadi bagian dari upaya petani mempertahankan produksi, meningkatkan hasil pertanian, sekaligus memperbesar peluang pendapatan keluarga.
Bupati Paulus ingin memastikan perubahan semacam itu benar-benar terjadi.
Mengecek Pekerjaan, Melihat Manfaat
Kamis (10/9/2026), Bupati Paulus melanjutkan monitoring dan evaluasi (monev) sejumlah kegiatan fisik konstruksi Tahun Anggaran 2026 di Kabupaten Rote Ndao.
Monev dilakukan untuk melihat pelaksanaan pembangunan secara langsung. Bukan hanya mengecek keberadaan proyek, melainkan memastikan pekerjaan berjalan sesuai perencanaan, memiliki kualitas yang baik, menunjukkan progres sebagaimana mestinya, serta dapat dimanfaatkan masyarakat.
Bendung Moresa menjadi salah satu titik yang memperlihatkan bagaimana pembangunan infrastruktur dapat berhubungan langsung dengan produktivitas warga.
Di satu sisi ada pekerjaan fisik yang harus dipertanggungjawabkan. Di sisi lain terdapat kebutuhan masyarakat yang harus dijawab.
Bagi pemerintah daerah, keduanya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan pada akhirnya tidak berhenti pada selesainya pekerjaan. Infrastruktur harus hidup setelah proyek berakhir. Ia harus digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat.
Di sekitar Bendung Moresa, manfaat itu terlihat dari meningkatnya kesempatan petani untuk bercocok tanam.
Dari Air Menuju Jalan
Dari kawasan bendung, monitoring berlanjut ke infrastruktur lainnya. Paulus meninjau Peningkatan Ruas Jalan Oele–Batulilok (Lapen) di Desa Batulilok, Kecamatan Pante Baru.
Jika bendung berbicara tentang air dan pertanian, jalan berbicara tentang jarak dan akses.
Jalan adalah urat nadi yang menghubungkan warga dengan berbagai kebutuhan. Jalan yang baik memudahkan pergerakan masyarakat, memperlancar aktivitas ekonomi, sekaligus membuka akses terhadap pelayanan dasar.
Bagi masyarakat, kualitas jalan tidak semata-mata soal permukaan aspal atau lapisan pengerasan. Jalan menentukan seberapa mudah hasil pertanian dibawa keluar, seberapa cepat warga mencapai pusat pelayanan, dan seberapa lancar hubungan antarkawasan.
Karena itu, Bupati Paulus kembali melihat pembangunan dari lapangan.
Ia ingin memastikan ruas yang dibangun tidak hanya memenuhi ukuran teknis pekerjaan, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat yang menggunakannya setiap hari.

Bupati Rote Ndao Paulus Henuk ketika meninjau Peningkatan Ruas Jalan Oele–Batulilok (Lapen) di Desa Batulilok, Kecamatan Pantai Baru, Kamis (10/9/2026). foto:dok.PH
Pembangunan yang Harus Terasa
Dua infrastruktur itu—bendung dan jalan—memiliki fungsi berbeda. Namun, keduanya bertemu pada satu tujuan: membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk bergerak dan berkembang.
Bendung Moresa memberi peluang petani menambah musim tanam.
Jalan Oele–Batulilok membuka akses dan memperlancar mobilitas.
Keduanya memperlihatkan bahwa pembangunan daerah pada akhirnya tidak berdiri di atas angka-angka proyek. Ada petani yang ingin memastikan sawahnya tetap produktif. Ada warga yang membutuhkan jalan untuk beraktivitas. Ada hasil pertanian yang harus dibawa ke pasar. Ada anak-anak dan keluarga yang membutuhkan akses lebih mudah menuju pelayanan dasar.
Di situlah monev memperoleh arti. Bupati Paulus Henuk tidak hanya ingin mengetahui apa yang telah dibangun, tetapi juga apa yang berubah setelah pembangunan itu hadir.
Sebab bagi pemerintah daerah, pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang sekadar selesai dikerjakan.
Pembangunan harus bisa dirasakan. Dan ketika sebuah bendung memungkinkan petani menanam dua kali dalam setahun, atau ketika sebuah jalan membuat perjalanan warga menjadi lebih mudah, di sanalah pekerjaan konstruksi berubah menjadi sesuatu yang lebih besar: infrastruktur yang memberi kesempatan bagi masyarakat untuk memperbaiki kehidupannya.
Dari Batulilok, pesan itu menjadi jelas. Pembangunan Rote Ndao tidak cukup hanya dikejar dari sisi penyelesaian fisik. Ia harus terus diawasi, dievaluasi, dan diukur dari manfaat yang ditinggalkannya bagi masyarakat.*/ph/llt



Komentar