WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM — Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, memiliki hamparan lahan yang berpotensi dikembangkan menjadi salah satu lumbung pangan di provinsi itu. Namun, potensi tersebut berhadapan dengan persoalan mendasar yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi: ketersediaan air.
Kabupaten yang masih menghadapi kemiskinan tinggi dan keterbatasan fiskal itu saat ini memiliki sekitar 10.000 hektar lahan sawah. Pemerintah daerah memperkirakan potensi pengembangan sawah baru dapat mencapai 15.000 hingga 20.000 hektar. Akan tetapi, tanpa dukungan sumber air dan infrastruktur pengairan, potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Persoalan itu disampaikan Bupati Sumba Tengah Paulus S.K. Limu ketika menerima kunjungan Tim Peneliti Program Bakti Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) TNI Angkatan Darat yang dipimpin Brigjen TNI Waris Ari Nugroho di Aula Kantor Bupati Sumba Tengah, Kamis (27/8/2026).
Kunjungan tersebut melibatkan unsur perwira TNI, dosen, dan mahasiswa Universitas Jenderal Ahmad Yani Bandung. Kehadiran tim menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan kebutuhan pembangunan sekaligus menunjukkan potensi pertanian yang dapat dikembangkan apabila persoalan air dapat diatasi.
”Yang menjadi kesulitan bagi kami adalah ketersediaan air,” ujar Bupati Paulus.
Menurut Bupati Paulus, air merupakan mata rantai penting dalam upaya mengubah sektor pertanian menjadi penggerak ekonomi daerah. Ketersediaan air yang memadai memungkinkan pemerintah mencetak sawah baru sekaligus meningkatkan intensitas tanam.
Pola tanam yang selama ini hanya dapat dilakukan sekali dalam setahun diharapkan dapat ditingkatkan menjadi dua bahkan tiga kali.
”Kami tidak mau menjadi daerah 5T. Kami berniat menjadi daerah penyangga ketahanan pangan di NTT. Jika kami didukung dengan air, kami bisa mencetak sawah baru dan meningkatkan pola tanam dari sekali menjadi dua kali bahkan tiga kali,” katanya.
Tidak ingin terus menjadi daerah 5T
Optimisme tersebut disampaikan di tengah kondisi Sumba Tengah yang masih menghadapi tantangan pembangunan cukup berat. Paulus menyebut daerahnya masuk dalam kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Namun, menurut dia, kondisi Sumba Tengah bahkan dapat disebut sebagai ”5T”.
Dua kategori tambahan yang disebut Paulus adalah keterbatasan anggaran pendapatan dan belanja daerah serta tingginya angka kemiskinan.
”Sumba Tengah merupakan daerah 3T, namun sebenarnya kami adalah daerah 5T, yaitu tertinggal, terluar, terdepan, terkecil APBD-nya, dan termiskin dengan tingkat kemiskinan sekitar 36 persen,” ujarnya.
Label tersebut, menurut Bupati Paulus, tidak boleh menjadi alasan pemerintah daerah untuk menyerah. Sebaliknya, kondisi itu menjadi dorongan untuk mencari sektor yang mampu mengangkat perekonomian masyarakat.
Pertanian menjadi salah satu tumpuan utama.
Dengan lahan sawah yang sudah tersedia dan peluang pengembangan lahan baru, pemerintah daerah ingin menjadikan Sumba Tengah sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan Nusa Tenggara Timur.
Namun, untuk mewujudkan ambisi tersebut, persoalan air harus lebih dahulu dijawab.
”Khusus sawah, saat ini paling banyak sekitar 10 ribu hektare di Sumba Tengah. Untuk mendukung swasembada pangan, apabila ada pencetakan sawah baru, potensinya bisa mencapai 15 ribu sampai 20 ribu hektare,” kata Bupati Paulus.
Karena itu, pemerintah daerah berharap Tim Peneliti Program Bakti Seskoad dapat melihat langsung kondisi lapangan, terutama potensi sumber air yang dapat mendukung pertanian.
Kunjungan itu diharapkan tidak sekadar menghasilkan data penelitian, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi dukungan pembangunan infrastruktur air di Sumba Tengah.
Bupati Paulus juga mengapresiasi kehadiran Brigjen TNI Waris Ari Nugroho bersama tim. Ia berharap kunjungan tersebut menjadi bagian dari semakin besarnya perhatian pemerintah pusat terhadap kebutuhan pembangunan di Sumba Tengah.
”Kedatangan dan kehadiran Bapak dan Ibu merupakan kebanggaan bagi kami. Melalui kehadiran Bapak-Bapak sekalian, kami juga berharap kehadiran Bapak Presiden,” ujar Bupati Paulus.
Program Bakti menyasar persoalan dasar
Brigjen TNI Waris Ari Nugroho menjelaskan, kunjungan ke Sumba Tengah merupakan bagian dari tindak lanjut perintah Kepala Staf Angkatan Darat melalui Program Bakti yang dilaksanakan di sejumlah wilayah Indonesia.
Sebanyak 10 tim diterjunkan untuk melakukan pendataan di berbagai wilayah. Setiap tim terdiri atas tujuh orang yang berasal dari unsur perwira, dosen, dan mahasiswa.
Menurut Waris, program tersebut berawal dari gagasan yang dikembangkan ketika Kepala Staf Angkatan Darat masih menjabat sebagai Pangdam di Nusa Tenggara Timur. Salah satu bentuk kegiatan yang dikembangkan adalah penyediaan sumber air melalui sumur bor dan pompa hidram.
”Tim melaksanakan pendataan untuk menindaklanjuti program Bapak KASAD. Program ini muncul ketika beliau menjabat sebagai Pangdam di NTT. Ada panggilan tugas untuk membuat program sumur bor dan pompa hidram, kemudian program tersebut dikembangkan untuk dilaksanakan di berbagai wilayah di Indonesia,” jelas Waris.
Program Bakti tidak hanya berfokus pada penyediaan air. Terdapat tiga bidang utama yang menjadi sasaran, yakni pembangunan sumur bor atau pompa hidram, pembangunan jembatan, serta pembangunan dan peningkatan fasilitas umum.
Fasilitas umum yang dimaksud antara lain rumah tidak layak huni dan rumah ibadah.
Sumba telah ditetapkan sebagai salah satu wilayah sasaran program tersebut, termasuk Kabupaten Sumba Tengah.
Dalam pelaksanaan di lapangan, tim akan melakukan pendataan dan peninjauan langsung terhadap berbagai potensi dan kebutuhan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah diminta memberikan data, informasi, dokumentasi, serta masukan yang diperlukan untuk menjadi bahan laporan kepada pimpinan.
”Kami mohon dukungan dan bantuan, termasuk dokumentasi. Kami juga meminta masukan dan data yang nantinya akan kami laporkan kepada atasan,” ujar Waris.
Dari data penelitian menjadi manfaat bagi warga
Keterlibatan dosen dan mahasiswa Universitas Jenderal Ahmad Yani Bandung dalam Program Bakti diharapkan memperkuat sisi penelitian sekaligus memastikan program yang dirancang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Waris mengatakan, kegiatan tersebut tidak diarahkan hanya untuk menghasilkan laporan akademis. Hasil pendataan diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
”Program ini berkolaborasi dengan mahasiswa dan dosen serta diharapkan membawa manfaat dan kepentingan bagi masyarakat,” katanya.
Bagi Sumba Tengah, kesempatan tersebut datang ketika daerah sedang berupaya mencari jalan keluar dari persoalan pembangunan yang saling berkaitan. Kemiskinan membatasi daya beli dan produktivitas masyarakat, sementara keterbatasan fiskal membuat pemerintah daerah tidak leluasa membiayai pembangunan infrastruktur dalam skala besar.
Di sisi lain, potensi pertanian sebenarnya terbuka lebar.
Ada lahan sawah sekitar 10.000 hektar. Potensi pencetakan sawah baru diperkirakan mencapai 15.000 hingga 20.000 hektar. Tetapi semua itu belum cukup jika air tidak tersedia.
Karena itu, bagi pemerintah Kabupaten Sumba Tengah, pembangunan infrastruktur air bukan sekadar proyek fisik. Air menjadi prasyarat untuk mengubah lahan menjadi sumber produksi, meningkatkan frekuensi tanam, membuka peluang ekonomi baru, dan pada akhirnya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi kemiskinan.
Dari daerah yang disebut masih berada dalam kondisi ”5T”, Sumba Tengah ingin bergerak menuju posisi yang berbeda: menjadi salah satu penyangga pangan Nusa Tenggara Timur.
Kunjungan Tim Peneliti Program Bakti Seskoad TNI AD menjadi salah satu momentum untuk melihat apakah potensi itu dapat diwujudkan. Sebab, bagi Sumba Tengah, persoalannya bukan lagi sekadar memiliki tanah untuk ditanami, melainkan bagaimana menghadirkan air agar tanah tersebut benar-benar menghasilkan pangan.*/prokopimSTeng/llt



Komentar