Oleh Mira Natalia Pellu
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang โ Mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta
Notifikasi menyalak sejak pagi: grup keluarga, tugas mahasiswa, promo belanja, video pendek yang โsayang kalau dilewatkanโ. Sesudah itu, layar berpindah lagi ke potongan drama China, keranjang belanja yang belum dibayar, lalu kabar terbaru yang tiba-tiba memenuhi beranda. Waktu habis dalam geseran kecil yang tampak sepele, sementara perhatian pelan-pelan berpindah ke apa pun yang muncul di layar.
Di tengah banjir informasi seperti itu, persoalan terbesar masyarakat modern mungkin bukan lagi kekurangan informasi, melainkan perebutan perhatian. Di ruang digital, perhatian telah menjadi sumber daya yang sangat berharga. Siapa yang berhasil merebut perhatian publik akan memperoleh ruang lebih besar untuk memengaruhi percakapan, membentuk opini, bahkan menentukan apa yang dianggap penting oleh masyarakat.
Dalam rutinitas sehari-hari, banyak orang tanpa sadar menjadikan beranda media sosial sebagai penunjuk utama: isu apa yang layak diperhatikan, siapa yang patut didukung atau dikritik, serta hiburan apa yang penting diikuti agar tidak tertinggal. Apa yang semula hanya โsekadar dilihatโ perlahan berubah menjadi ukuran tentang apa yang dianggap penting. Yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar arus informasi, melainkan kemampuan masyarakat menentukan sendiri apa yang layak memperoleh perhatian bersama.
Beberapa tahun lalu, masyarakat biasanya mengetahui isu penting melalui halaman depan surat kabar, siaran berita televisi, atau laporan wartawan di lapangan. Kini, banyak orang mengetahui apa yang dianggap penting justru dari beranda TikTok, Instagram, Facebook, atau X. Pergeseran ini sejalan dengan gambaran Manuel Castells (2019) tentang masyarakat jaringan, ketika arus informasi digital menjadi salah satu penentu utama cara masyarakat membaca dan merasakan realitas di sekitarnya.
Setiap hari jutaan orang Indonesia membuka media sosial sebelum memulai aktivitas. Mereka melihat video yang sedang ramai dibicarakan, potongan pidato pejabat, konflik antarfigur publik, tren hiburan, hingga berbagai peristiwa yang muncul silih berganti dalam hitungan jam. Sebagian besar informasi tersebut tidak dicari secara aktif, melainkan muncul melalui sistem rekomendasi platform. Dari ruang inilah banyak orang membentuk pemahaman tentang apa yang sedang terjadi dan apa yang dianggap penting.
Ketika media sosial menjadi salah satu rujukan utama masyarakat, pembicaraan tentang demokrasi tidak lagi bisa dilepaskan dari cara kerja platform digital. Demokrasi bertumpu pada gagasan bahwa masyarakat sendiri yang menentukan persoalan apa yang layak dibicarakan. Namun dalam ekosistem digital saat ini, proses tersebut semakin banyak dimediasi oleh algoritma. Prioritas percakapan publik tidak lagi semata ditentukan warga, media, atau lembaga publik, melainkan juga sistem yang dirancang untuk mengelola dan memaksimalkan perhatian. Dalam arti tertentu, algoritma perlahan mengambil peran sebagai โeditor baruโ ruang publik: memilih apa yang sering terlihat, apa yang pelan-pelan tenggelam, dan isu mana yang memperoleh ruang lebih besar dalam percakapan bersama. Persoalannya, ketika masyarakat terlalu pasif menerima apa yang disajikan platform, ruang publik berisiko kehilangan kemampuannya menentukan sendiri agenda yang benar-benar penting bagi kehidupan bersama.
Ruang publik kini tidak lagi semata-mata dibentuk oleh suara warga, tetapi juga oleh perebutan perhatian. Persoalan yang mendapat panggung terbesar sering kali bukan yang paling penting, melainkan yang paling efektif menarik perhatian publik. Kondisi ini dikenal sebagai demokrasi atensi, yaitu ketika perhatian berubah menjadi sumber daya politik yang bernilai tinggi. Dalam situasi seperti ini, yang menang bukan selalu gagasan terbaik atau persoalan paling mendesak, melainkan pihak yang paling berhasil menguasai perhatian publik. Akibatnya, kualitas suatu isu sering kali kalah penting dibanding kemampuannya menciptakan sensasi, emosi, atau keterlibatan di ruang digital.
Dalam banyak perdebatan publik, kecenderungan ini semakin mudah ditemukan. Tidak jarang masyarakat lebih sibuk memperdebatkan potongan video, ekspresi seorang pejabat, atau kontroversi sesaat dibanding persoalan yang memengaruhi kehidupan jutaan orang seperti pendidikan, kesehatan, stunting, ketimpangan pembangunan, atau kualitas layanan publik. Kita baru-baru ini menyaksikan bagaimana sebuah video konsumsi obat dan suplemen secara berlebihan mampu mendominasi percakapan publik. Dalam hitungan jam, potongan video tersebut memenuhi beranda, menjadi bahan diskusi, meme, hingga perdebatan lintas platform. Pada saat yang sama, berbagai persoalan kesehatan yang menyangkut jutaan warga justru tidak memperoleh ruang percakapan yang sebanding. Ruang publik akhirnya bergerak mengikuti ritme viralitas: cepat bereaksi, tetapi sering kali cepat pula melupakan.
Demokrasi sesungguhnya tidak hanya membutuhkan kebebasan berbicara, tetapi juga kemampuan memberi perhatian yang cukup lama terhadap suatu persoalan. Pendidikan, kesehatan, lingkungan, kemiskinan, dan berbagai isu strategis lainnya tidak dapat diselesaikan melalui gelombang perhatian sesaat. Persoalan-persoalan tersebut memerlukan diskusi yang berkelanjutan dan pengawasan publik yang konsisten, bahkan setelah viralitasnya mereda. Ketika perhatian publik terus berpindah dari satu kontroversi ke kontroversi berikutnya, yang hilang bukan sekadar fokus, melainkan kemampuan kolektif masyarakat untuk menyelesaikan masalah bersama.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Berbagai kajian menunjukkan bahwa platform digital semakin berperan dalam membentuk perhatian publik melalui sistem rekomendasi dan pola distribusi informasi. Josรฉ van Dijk (2020) mengingatkan bahwa pengalaman masyarakat di ruang digital semakin dipengaruhi oleh mekanisme platform yang menentukan apa yang terlihat dan apa yang tidak terlihat. Dengan kata lain, sebagian dari apa yang kita ketahui ditentukan oleh apa yang dipilihkan untuk kita lihat.
Hal ini bukan berarti algoritma harus dipandang sebagai musuh. Tanpa algoritma, jutaan informasi yang beredar setiap hari akan sulit dikelola. Persoalannya bukan pada keberadaan algoritma, melainkan ketika masyarakat tidak lagi menyadari pengaruhnya terhadap cara mereka memahami realitas.
Di sinilah literasi digital menjadi semakin penting. Kemampuan ini bukan sekadar soal menggunakan aplikasi atau membuat konten, tetapi juga kesadaran bahwa apa yang muncul di layar bukan selalu cerminan paling akurat mengenai apa yang sedang terjadi di masyarakat. Ada banyak persoalan penting yang tidak viral dan banyak suara yang tidak pernah muncul dalam rekomendasi karena kalah bersaing dengan konten yang lebih menarik secara algoritmik.
Masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk tidak hanya mengikuti apa yang sedang ramai, tetapi juga mencari informasi yang benar-benar relevan bagi kehidupan publik. Membaca lebih dari satu sumber, memeriksa konteks sebelum bereaksi, serta mengikuti perkembangan suatu isu secara berkelanjutan merupakan langkah sederhana untuk menjaga kualitas ruang publik di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat.
Tantangan terbesar era digital sesungguhnya bukan terletak pada kekurangan informasi. Kita hidup dalam zaman yang justru dipenuhi informasi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga kemampuan untuk memilih, memilah, dan memaknai informasi di tengah arus perhatian yang terus diarahkan oleh algoritma.
Masa depan ruang publik tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan kita mengambil kembali kendali atas perhatian. Sebab yang penting bagi masyarakat tidak selalu menjadi yang paling viral di beranda.(*)



Komentar