WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COMย โ Ketua Umum KONI Provinsi Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa Sumba Barat tidak hanya sedang membentuk kepengurusan olahraga baru, tetapi juga menyiapkan fondasi sejarah baru olahraga nasional. Potensi besar pacuan kuda yang tumbuh dari tradisi masyarakat Sumba dinilai menjadi kekuatan utama untuk membawa Nusa Tenggara Timur tampil lebih kompetitif menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.
Pesan itu disampaikan Melki Laka Lena saat melantik Pengurus KONI Kabupaten Sumba Barat Masa Bakti 2026โ2030 di Aula Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat, Rabu (1/7/2026). Wakil Bupati Sumba Barat, Thimotius Tede Ragga, resmi dipercaya memimpin KONI Kabupaten Sumba Barat untuk empat tahun ke depan.
“Bagi kita di Sumba, pacuan kuda bukan sekadar olahraga, tetapi identitas budaya yang sudah hidup turun-temurun. Karena itu, kita telah mendorong agar pacuan kuda tradisional tanpa pelana sudah masuk menjadi cabang olahraga resmi pada PON XXII Tahun 2028. Dan ini sejarah baru dalam olahraga Indonesia,” kata Melki Laka Lena.
Menurut Melki, momentum kian nyata karena dalam waktu dekat Sumba Barat akan menjadi pusat perhatian olahraga nasional melalui penyelenggaraan Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup serta Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda. โSaya dengar dalam bulan ini Pak Umbu Rudi Kabunang bersama Pemda Sumba Barat menggelar Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup dan Kejurnas Pacuan Kuda pada Agustus dan akan dihadiri Ketua Umum KONI Pusat Bapak Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman.ย Menurut saya, ini adalah momentum terbaik untuk kita tunjukan bahwa bagaimana kita di Sumba ini bisa menyelenggarakan ivent nasional dengan hasil yang bagus,โ jelas Melki Laka Lena.
“Kalau penyelenggaraannya sukses, Sumba akan membuktikan bahwa daerah ini bukan hanya melahirkan atlet-atlet hebat, tetapi juga mampu menjadi tuan rumah event nasional yang berkualitas,” ujarnya.
Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, menyebut agenda pacuan kuda tahun ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem olahraga berkuda di Pulau Sumba. Kehadiran Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman pada ajang Bupati Sumba Barat Cup diharapkan semakin memperkuat dukungan terhadap pengembangan pacuan kuda sebagai cabang olahraga unggulan daerah sekaligus membuka ruang agar nomor tradisional khas Sumba mendapat perhatian pada level nasional.
Umbu Rudi menjelaskan, sebelum sampai ivent Bupati Sumba Barat Cup dan Kejurnas, berbagai kejuaraan pacuan kuda di tingkat kecamatan di pulau Sumba rutin digelar. Kuda-kuda yang berprestasi di tingkat kecamatan diseleksi lagi dan direkomendasikan oleh Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Kabupaten untuk ikut dalam ajang Bupati Sumba Barat Cup dan selanjutnya ke Kejurnas dan Pra PON serta akhirnya ke PON. โJadi pembinaan atlet/joki dan kuda itu benera-benar slektif dari tingkat bawah,โ sebut Umbu Rudi Kabunang.
Bagi NTT, kata Melki, PON 2028 tidak semata-mata berbicara tentang perolehan medali. Pemerintah Provinsi bersama KONI NTT menetapkan lima indikator keberhasilan yang harus dicapai, yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses administrasi, sukses ekonomi, dan sukses pariwisata.
“Olahraga harus menjadi penggerak pembangunan. PON harus memberikan manfaat bagi masyarakat, menghidupkan ekonomi lokal, memperkuat sektor pariwisata, sekaligus melahirkan atlet-atlet berprestasi,” ujarnya.
Ketua KONI Kabupaten Sumba Barat Thimotius Tede Ragga mengatakan kepengurusan yang baru akan memprioritaskan pembinaan atlet usia dini, peningkatan kapasitas pelatih dan wasit, serta penguatan organisasi cabang olahraga sebagai fondasi menghadapi Pra-PON dan PON 2028.
“Kami ingin membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan. Prestasi tidak lahir secara instan. Karena itu, pembinaan atlet sejak usia dini menjadi prioritas utama kami,” kata Thimotius.
Ia juga memastikan KONI Sumba Barat akan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia pendidikan, TNI-Polri, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan agar pembinaan olahraga tidak berjalan sendiri-sendiri.
Pelantikan kepengurusan baru ini sekaligus menjadi titik awal konsolidasi olahraga prestasi di Sumba Barat. Di tengah besarnya potensi olahraga berkuda, atletik, tinju, dan sejumlah cabang lainnya, Sumba Barat kini memikul harapan menjadi salah satu lumbung atlet NTT sekaligus etalase sport tourism berbasis budaya.
Kini, pacuan kuda tradisional tanpa pelana telah resmi sebagai cabang olahraga PON, dan sejarah itu lahir dari Pulau Sumba, daerah yang sejak lama menjadikan kuda bukan hanya alat transportasi dan simbol budaya, tetapi juga bagian dari identitas olahraga masyarakatnya.*/llt




Komentar