KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Di tengah bentang kepulauan yang selama ini akrab dengan keterbatasan infrastruktur dan tingginya ongkos distribusi, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena ingin mengubah wajah ekonomi Nusa Tenggara Timur dari daerah penghasil bahan mentah menjadi wilayah yang mampu mengolah kekayaan alamnya sendiri. Dari desa, sekolah, hingga komunitas lokal, pemerintah mulai merancang simpul-simpul ekonomi baru berbasis hilirisasi dan produk unggulan daerah.
Arah baru pembangunan ekonomi NTT, dipaparkan Gubernur Melki bahwa tidak lagi bertumpu pada penjualan bahan mentah. Pemerintah Provinsi NTT mulai mendorong transformasi ekonomi berbasis hilirisasi sektor unggulan daerah agar komoditas lokal memiliki nilai tambah, memperkuat pendapatan masyarakat, sekaligus membuka lapangan kerja baru di wilayah kepulauan tersebut.
Komitmen itu disampaikan Melki saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Provinsi NTT Tahun 2027 di Hotel Aston Kupang, Kamis (7/5/2026). Menurut dia, pembangunan ekonomi NTT ke depan harus bergerak dari pola ekonomi ekstraktif menuju ekonomi produktif yang berbasis pengolahan, inovasi, dan penguatan pasar.
โHilirisasi menjadi kunci agar produk-produk unggulan NTT tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah, dipasarkan, dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat,โ kata Melki.
Pemerintah Provinsi NTT menempatkan transformasi ekonomi sebagai salah satu prioritas utama pembangunan 2027. Fokus diarahkan pada hilirisasi sektor pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan pariwisata yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi daerah.
Di sektor pertanian, misalnya, pemerintah ingin komoditas lokal seperti jagung, kelor, kopi, kakao, hingga sorgum tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan baku, melainkan diolah menjadi produk pangan dan industri bernilai ekonomi lebih tinggi. Langkah serupa juga didorong pada sektor peternakan dan perikanan melalui penguatan industri pengolahan hasil ternak dan hasil laut.
Menurut Gubernur Melki, transformasi ekonomi tidak dapat hanya bertumpu pada investasi besar, tetapi harus melibatkan masyarakat hingga tingkat desa. Karena itu, pemerintah mendorong penguatan UMKM, koperasi, badan usaha milik desa (BUMDes), dan pelaku ekonomi kreatif sebagai fondasi ekonomi lokal.
Untuk mempercepat agenda tersebut, Pemprov NTT mengembangkan pendekatan berbasis komunitas melalui program OVOP (One Village One Product), OCOP (One Community One Product), dan OSOP (One School One Product).
Melalui skema itu, setiap desa, komunitas, hingga sekolah didorong memiliki produk unggulan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan sesuai potensi wilayah masing-masing. Pemerintah berharap pola tersebut dapat menciptakan sentra-sentra ekonomi baru yang tumbuh dari bawah sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam pembangunan ekonomi daerah.
โDesa harus menjadi pusat produksi ekonomi baru. Sekolah juga perlu kita dorong agar melahirkan kreativitas dan produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi,โ ujar Gubernur Melki.
Pemerintah Provinsi NTT juga menyiapkan penguatan pemasaran melalui pengembangan NTT Mart di 22 kabupaten/kota serta perluasan akses pasar digital berbasis marketplace. Langkah itu dinilai penting mengingat tantangan utama produk UMKM NTT selama ini bukan hanya pada produksi, tetapi juga distribusi dan akses pasar.
Transformasi ekonomi tersebut diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi NTT yang lebih inklusif dan berkualitas. Pemerintah menargetkan sektor konstruksi, pertanian, perikanan, industri pengolahan, serta akomodasi dan makanan-minuman menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah dalam beberapa tahun ke depan.
Di tengah tantangan geografis sebagai provinsi kepulauan dan masih tingginya angka kemiskinan, Melki menilai hilirisasi menjadi peluang strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi ketimpangan antarwilayah.
โNTT memiliki sumber daya besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu diolah menjadi kekuatan ekonomi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,โ kata dia.*/ Baldus Sae/llt













Komentar