KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Membangun budaya membaca tidak cukup hanya dengan menyediakan buku di sekolah atau perpustakaan. Kebiasaan membaca perlu tumbuh dari lingkungan keluarga, diperkuat melalui peran ibu, dan diperluas hingga ke desa-desa melalui taman bacaan masyarakat serta pos-pos baca.
Pesan itu disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena ketika membuka Lokakarya Optimalisasi Peran Kelompok Kerja (Pokja) Bunda Literasi Kabupaten/Kota dan Provinsi NTT untuk Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu di Hotel Sasando Kupang, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan tersebut diikuti para Bunda Literasi kabupaten/kota se-NTT, kepala dinas perpustakaan, pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM), serta sejumlah mitra penggerak literasi.
Gubernur Melki menilai, penguatan budaya literasi menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital yang mengubah cara anak-anak memperoleh informasi dan pengetahuan. Kemudahan mengakses informasi melalui perangkat digital, menurut dia, harus diimbangi dengan kemampuan membaca, memahami isi bacaan, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bijak.
Di tengah perubahan tersebut, buku cetak tetap memiliki tempat penting dalam proses pendidikan anak, terutama pada usia sekolah dasar.
Ia menyinggung pengalaman sejumlah negara Skandinavia, seperti Swedia dan Denmark, yang kembali memberikan perhatian terhadap penggunaan buku cetak dalam pendidikan anak. Hal itu, menurut Gubernur Melki, menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap buku sebagai sumber pembelajaran.
Namun, upaya membangun kebiasaan membaca tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah dan pemerintah. Keluarga justru menjadi lingkungan pertama yang menentukan tumbuhnya minat baca seorang anak.
“Budaya literasi harus dimulai dari rumah. Peran ibu sangat penting karena ibu merupakan inspirator dan penggerak budaya membaca dalam keluarga,” ujar Gubernur Melki.
Menurut dia, anak-anak akan lebih mudah mencintai buku apabila kebiasaan membaca diperkenalkan sejak dini dan didukung lingkungan keluarga. Karena itu, ketersediaan bahan bacaan di rumah serta keteladanan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi.
Pos Baca Menjangkau Kampung
Selain keluarga, Gubernur Melki menaruh perhatian pada keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan pos-pos baca sebagai sarana memperluas akses masyarakat terhadap buku bacaan bermutu.
Ia mengapresiasi para penggiat literasi dan pengelola TBM yang selama ini bekerja menghidupkan kegiatan membaca di tengah masyarakat. Menurut dia, keberadaan taman bacaan tidak boleh hanya terkonsentrasi di perkotaan, tetapi perlu diperluas hingga desa dan kampung.
Pos-pos baca di lingkungan masyarakat dapat menjadi ruang alternatif bagi anak-anak untuk memperoleh bahan bacaan, belajar, dan mengembangkan pengetahuan di luar lingkungan sekolah.
Pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota diharapkan membangun kerja sama dengan komunitas literasi, lembaga pendidikan, serta berbagai mitra untuk memperkuat gerakan tersebut.
Bagi Gubernur Melki, perluasan akses terhadap buku bacaan bermutu merupakan salah satu langkah untuk membangun generasi NTT yang memiliki kemampuan literasi, karakter, dan daya pikir kritis.
Pos Baca Menjadi Pusat Pemberdayaan
Sementara itu, Bunda Literasi NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena menegaskan bahwa pos baca seharusnya tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat membaca buku. Ruang tersebut dapat dikembangkan menjadi pusat pendidikan sosial, pemberdayaan masyarakat, sekaligus penyampaian informasi yang bermanfaat bagi anak-anak dan keluarga.
Menurut Mindriyati, kegiatan di pos baca perlu dirancang lebih variatif dan dilaksanakan secara berkala, misalnya satu atau dua kali dalam sebulan.
โKegiatan tersebut dapat mencakup pendidikan, kesenian, pelatihan keterampilan, serta berbagai bentuk edukasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat,โ katanya.
Dengan pendekatan itu, pos baca tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi berkembang menjadi ruang interaksi dan pembelajaran bersama.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada para orang tua, terutama ibu-ibu, melalui edukasi mengenai pendidikan anak usia dini dan pola pengasuhan dalam keluarga.
Mindriyati menilai, peningkatan pengetahuan orang tua merupakan bagian penting dari upaya membangun lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Sebab, pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga melalui pola asuh, interaksi, dan kebiasaan yang dibangun di rumah.
Untuk mengoptimalkan fungsi pos baca, penguatan kapasitas para kader dan pengelolanya juga diperlukan. Kolaborasi dengan masyarakat serta berbagai pihak yang memiliki keahlian, termasuk tenaga pendidikan dan kesehatan, dapat memperkaya kegiatan dan layanan yang diberikan.
Dengan dukungan tersebut, pos baca yang telah tersedia di tengah masyarakat diharapkan dapat berfungsi lebih optimal sebagai ruang belajar, pemberdayaan, dan penyebaran informasi.
Lokakarya optimalisasi Pokja Bunda Literasi ini menjadi salah satu upaya memperkuat koordinasi dan kerja bersama dalam mengembangkan budaya baca di NTT.
Tantangannya bukan hanya meningkatkan jumlah buku yang tersedia, melainkan memastikan buku-buku tersebut benar-benar dimanfaatkan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dari rumah, sekolah, taman bacaan hingga pos-pos baca di desa, gerakan literasi diharapkan tumbuh sebagai kebiasaan bersama. Sebab, generasi yang gemar membaca tidak lahir hanya dari banyaknya buku yang tersedia, tetapi juga dari lingkungan yang membiasakan anak untuk membaca, bertanya, memahami, dan berpikir kritis.
Kolaborasi Berbasis Data
Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara Pricilia Parera menjelaskan, lokakarya yang berlangsung pada 6โ7 November 2026 di Hotel Sasando, Kupang, tersebut dilatarbelakangi belum optimalnya pemanfaatan buku bacaan yang telah didistribusikan ke sekolah dan masyarakat.
Menurut Pricilia, NTT merupakan salah satu dari lima provinsi penerima bantuan buku bacaan terbesar. Ribuan buku telah disalurkan ke 1.255 sekolah dasar di 22 kabupaten/kota melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Namun, ketersediaan buku perlu diikuti pendampingan dan penguatan kolaborasi agar pemanfaatannya benar-benar berdampak terhadap peningkatan budaya baca anak.
Karena itu, lokakarya dirancang melalui diskusi, berbagi praktik baik, serta diskusi kelompok terarah berdasarkan klaster geografis untuk menghasilkan rencana aksi bersama Bunda Literasi dan Pokja Literasi provinsi maupun kabupaten/kota.
“Kami berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum pertemuan dan diskusi, tetapi benar-benar menghasilkan komitmen dan langkah nyata dalam memperkuat gerakan literasi di Nusa Tenggara Timur,” ujar Pricilia.
Melalui kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas literasi, dan mitra pembangunan, kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM), Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), serta berkontribusi menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di NTT.*/goe/llt
ย



Komentar