GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Advertisement
Berita Hari Ini NTT Daerah Golkar Gubernur NTT Infrastruktur Kesehatan Pemerintah Propinsi NTT Pendidikan Politik
Beranda / Politik / Irene, Gubuk Tua, dan Komitmen Rumah Layak Huni Gubernur Melki Saat Tour de EnTeTe

Irene, Gubuk Tua, dan Komitmen Rumah Layak Huni Gubernur Melki Saat Tour de EnTeTe

Rumah milik Irene Da Costa, warga Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang yang akan dibangun oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dalam rangkaiian acara Tour de EnTeTe etape Timor, Jumat (6/11/2026). Foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

Di balik kemeriahan Tour de EnTeTe 2026, ada kisah tentang sebuah gubuk tua, sebelas anggota keluarga yang bertahan dalam keterbatasan, dan harapan sederhana untuk memiliki rumah yang lebih manusiawi. Bagi Irene Da Costa, kunjungan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menjadi awal dari mimpi yang selama ini dinantikan.

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ€“ Tidak ada yang istimewa dari sebuah gubuk tua berdinding pelepah gewang (bebak) dengan atap seng bekas yang lapuk di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, NTT. Dindingnya mulai usang, ruang tinggalnya sempit, dan penghuninya harus berbagi tempat di tengah keterbatasan. Namun, bagi Irene Da Costa, tempat sederhana itulah yang selama bertahun-tahun menjadi rumah, tempat membesarkan anak-anak, sekaligus ruang untuk menggantungkan harapan.

Di rumah itu, Irene tinggal bersama sebelas anggota keluarga dan seorang saudaranya. Kehidupan mereka jauh dari gambaran rumah yang layak. Tetapi kemiskinan tidak pernah benar-benar mematikan harapan. Setiap hari, perempuan 65 tahun yang bekerja sebagai petani itu tetap berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.

Sejak Februari 2006, gubuk tersebut menjadi saksi perjalanan hidup Irene. Ada hari-hari yang berat, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, dan ada masa depan anak-anak yang terus diperjuangkan.

Pada Jumat (6/11/2026), suasana di sekitar rumah Irene berbeda dari biasanya.

Gubernur NTT Tekankan Peran Ibu dan Keluarga dalam Membangun Literasi Anak di Tengah Tantangan Era Digital

Rombongan besar pemerintah datang menyambangi kediamannya. Bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan membawa kabar yang telah lama dinantikannya. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur akan membantu membangun rumah yang lebih layak bagi keluarganya.

Kunjungan itu berlangsung di sela-sela pelaksanaan Tour de EnTeTe 2026 rute ketiga, etape Pulau Timor, dari Oebelo menuju Pantai Lasiana.

Di antara deretan pejabat yang hadir, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena datang bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma, Pangdam XXVII Sobe Sonbay, Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, Sekretaris Daerah NTT Fransiskus Sales Sodo, Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki, serta sejumlah pimpinan lembaga vertikal dan organisasi perangkat daerah.

Di hadapan mereka, Irene tidak banyak meminta. Ia hanya menceritakan kehidupannya, bagaimana keluarga bertahan, dan bagaimana anak-anaknya terus berusaha mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

“Saya sudah tinggal di sini sejak Februari 2006. Kami ada 11 orang keluarga ditambah saudara saya,” tuturnya.

Wabup Boli Uran Beri Dukungan, Kapolda NTT Jadwalkan Kunjungan untuk Pembangunan Batalyon Brimob di Adonara

Bagi Irene, bantuan rumah bukan sekadar mendapatkan bangunan baru. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi kesempatan untuk menjalani kehidupan keluarga dengan lebih aman, nyaman, dan bermartabat.

Rumah sebagai Awal Kehidupan yang Lebih Baik

Gubernur Melki Laka Lena mendengarkan cerita Irene. Ia kemudian menyampaikan bahwa pemerintah provinsi akan membantu memperbaiki kondisi rumah tersebut melalui program bantuan rumah layak huni.

Pembangunan rumah akan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT dan dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Kita akan bantu, biar benahi mama punya rumah jadi lebih baik lagi. Nanti Dinas PUPR yang kerja. Ini dalam rangka hari ulang tahun ke-68 NTT,” kata Gubernur Melki.

Pangdam Sobe Sonbay Kibarkan Semangat Tour de EnTeTe, Gubernur Melki Bedah Rumah Warga Kurang Mampu

Ia bahkan langsung meminta Kepala Dinas PUPR NTT, Benny Nahak mempercepat proses administrasi agar pembangunan rumah tidak berlarut-larut.

“Pak Kadis, urus agar administrasinya dipercepat,” ujarnya.

Pesan singkat itu menjadi bagian penting dari kunjungan tersebut. Sebab, bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, bantuan pemerintah tidak cukup berhenti pada janji. Harapan baru akan benar-benar berarti ketika diwujudkan menjadi bangunan yang dapat mereka tempati.

Program rumah layak huni tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi NTT meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menerjemahkan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai peningkatan kualitas hidup rakyat.

Namun, di tengah agenda pembangunan dan berbagai program pemerintah, cerita Irene memperlihatkan bahwa kesejahteraan sering kali bermula dari sesuatu yang sangat mendasar: rumah yang aman untuk ditinggali.

Pendidikan Anak-anak, Harapan yang Tidak Pernah Padam

Ada satu hal yang menarik dari cerita Irene. Meski hidup dalam kondisi rumah yang jauh dari layak, ia tidak membiarkan keterbatasan ekonomi menghalangi pendidikan anak-anaknya.

Irene mengaku telah menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Anak-anaknya juga memperoleh dukungan pendidikan melalui program beasiswa, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas.

Bantuan-bantuan tersebut menjadi penopang penting bagi keluarganya.

Di tengah kesibukan bekerja sebagai petani, Irene terus berusaha memastikan anak-anaknya memiliki kesempatan untuk belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.

Kini, bantuan rumah layak huni menjadi tambahan harapan bagi keluarga itu. Jika sebelumnya perjuangan mereka lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anak, ke depan mereka juga dapat menatap kehidupan di tempat tinggal yang lebih manusiawi.

Di hadapan Gubernur Melki dan rombongan, Irene menyampaikan rasa terima kasih dengan kalimat sederhana, tetapi sarat makna.

“Terima kasih banyak. Hanya Tuhan yang membalas kebaikan Bapak dan Ibu semua,” katanya.

Ia tidak lupa menyampaikan harapan agar bantuan serupa juga dapat dirasakan keluarga lain yang menghadapi kondisi kehidupan tidak jauh berbeda.

“Saya berharap selain saya, orang lain juga bisa mendapatkan bantuan yang sama,” ujarnya.

Kalimat itu memperlihatkan bahwa kebahagiaan Irene tidak berhenti pada dirinya sendiri. Di tengah perjuangannya memenuhi kebutuhan keluarga, ia masih memikirkan orang lain yang membutuhkan perhatian pemerintah.

Bukan Sekadar Perayaan, Tour de EnTeTe Menyentuh Kehidupan Rakyat

Irene bukan satu-satunya warga yang mendapatkan perhatian Pemerintah Provinsi NTT melalui program tersebut.

Selain dirinya, Faustino D. A. Santos, warga Desa Oebelo, juga terpilih sebagai penerima bantuan rumah layak huni. Faustino menyampaikan rasa syukur atas perhatian pemerintah yang diberikan kepada keluarganya.

“Terima kasih sudah memberikan bantuan untuk kami. Kami doakan agar Bapak Ibu sehat selalu,” ujar Faustino.

Di Kabupaten Kupang, penerima manfaat lainnya adalah Yoson Titus Lae, Natalino Dias Marques, dan Filipe Ximenes.

Sementara di Kota Kupang, bantuan rumah layak huni diberikan kepada Margaretha Kay Illu, Martina Weni, Marselinus Asa, Yakob Laba, dan Alexander Eli Da Silva.

Dengan demikian, terdapat sepuluh warga Kabupaten Kupang dan Kota Kupang yang masuk dalam daftar penerima manfaat program rumah layak huni tersebut.

Kehadiran Gubernur Melki bersama jajaran pemerintah, unsur TNI, DPRD, dan pemerintah kabupaten di rumah Irene juga menghadirkan pesan lain dari penyelenggaraan Tour de EnTeTe 2026.

Kegiatan jalan sehat dan lomba lari lintas Kabupaten dan Kota se NTT itu tidak semata-mata menjadi ajang olahraga, promosi pariwisata, atau perayaan keindahan alam NTT. Di tengah perjalanan, pemerintah berusaha menghadirkan ruang untuk melihat lebih dekat kehidupan masyarakat.

Ada wajah-wajah yang selama ini mungkin luput dari perhatian. Ada keluarga yang membutuhkan rumah lebih layak. Ada anak-anak yang membutuhkan kesempatan pendidikan. Dan ada masyarakat kecil yang menaruh harapan kepada kehadiran negara.

Tour de EnTeTe menjadi lebih bermakna ketika perjalanan para peserta tidak hanya berhenti pada garis finis di Pantai Lasiana, tetapi juga menyentuh kehidupan warga di sepanjang rute.

Bagi pemerintah, mungkin kunjungan ke rumah Irene hanya satu agenda di antara rangkaian kegiatan hari itu. Namun, bagi Irene dan keluarganya, kunjungan tersebut bisa menjadi titik awal perubahan besar dalam kehidupan mereka.

Sebuah rumah yang lebih layak bukan hanya tentang dinding yang kokoh, atap yang tidak bocor, atau ruang tidur yang lebih nyaman. Rumah adalah tempat keluarga berlindung, anak-anak tumbuh, dan harapan masa depan dirawat.

Di gubuk tua Oebelo itu, Irene telah bertahan selama hampir dua dekade. Kini, menjelang peringatan HUT ke-68 Provinsi NTT, sebuah harapan baru datang mengetuk pintu rumahnya.

Ia mungkin memang ikut berjalan sehat ataupun lomba lari dalam ajang Tour de EnTeTe. Namun, perjalanan itu telah singgah dalam kehidupannya.

Dan ketika rombongan pemerintah meninggalkan halaman rumahnya, Irene membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kenangan kunjungan: harapan bahwa suatu hari nanti keluarganya akan tinggal di rumah yang lebih layak.

“Hanya Tuhan yang membalas kebaikan Bapak dan Ibu semua.”

Kalimat itu menjadi penutup sederhana dari seorang perempuan petani di Oebelo. Sebuah ungkapan syukur yang mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya pada megahnya seremoni atau panjangnya perjalanan, melainkan pada sejauh mana perubahan benar-benar dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.*/laurens leba tukan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement