GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Advertisement
Berita Hari Ini NTT Daerah Golkar Gubernur NTT Infrastruktur Kesehatan Olahraga Pemerintah Propinsi NTT Politik
Beranda / Politik / Dari Lintasan Tour de EnTeTe ke Rumah Warga Kurang Mampu, Gubernur Melki Membawa Harapan tentang Hunian Layak

Dari Lintasan Tour de EnTeTe ke Rumah Warga Kurang Mampu, Gubernur Melki Membawa Harapan tentang Hunian Layak

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Bupati TTU Falen Kebo dan rombongan mengunjungi rumah warga dengan kondisi memprihatinkan di dalam agenda Tour de EnTeTe di Desa Oeperigi, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (5/11/2026).. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadirkan program bedah rumah bagi masyarakat kurang mampu. foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

Di balik perjalanan Tour de EnTeTe 2026 Etape Timor, terselip kisah tentang rumah-rumah yang rapuh dan keluarga yang bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mendatangi langsung warga penerima bantuan bedah rumah. Bagi mereka, kunjungan itu menghadirkan harapan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak.

KEFAMENANU,SELATANINDONESIA.COM โ€“ Ada air mata yang jatuh ketika Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena berdiri di depan rumah sederhana berdinding pelepa gewang (bebak) milik Kanisius Nitjano (42), di Desa Oeperigi, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (5/11/2026).

Bukan karena sebuah peristiwa duka. Air mata itu justru mengalir di tengah harapan baru yang mulai tumbuh setelah bertahun-tahun Kanisius dan keluarganya bertahan hidup di rumah dengan kondisi memprihatinkan.

Selama tujuh tahun, rumah tersebut menjadi tempat Kanisius menjalani kehidupan bersama keluarganya. Sehari-hari, ia bekerja sebagai petani dengan mengandalkan lahan miliknya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kehidupan yang dijalaninya tidak selalu mudah. Keterbatasan ekonomi membuat keinginan untuk memperbaiki rumah belum juga terwujud. Namun, pada Kamis itu, harapan yang selama ini terasa jauh mulai mendekat ketika Gubernur Melki datang melihat langsung kondisi tempat tinggalnya.

Hadiah ke Roma dan Mekah Warnai Tour de EnTeTe, Gagasan Bupati TTU Dieksekusi Gubernur Melki

Didampingi Bupati TTU Falen Kebo dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi NTT Benyamin Nahak, Gubernur Melki tidak sekadar melewati kawasan permukiman warga sebagai bagian dari perjalanan Tour de EnTeTe 2026. Ia menyempatkan diri berhenti, masuk ke lingkungan tempat tinggal masyarakat, dan melihat dari dekat kondisi rumah yang membutuhkan perhatian pemerintah.

Bagi Kanisius, kedatangan orang nomor satu di NTT itu menjadi pengalaman yang membekas. Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah desa serta pemerintah daerah yang telah memberikan perhatian terhadap kondisi keluarganya.

Kisah Kanisius bukan Satu-satunya

Di Desa Oeperigi, Kecamatan Noemuti, ada pula Adrianus Pulo yang selama hampir enam tahun harus tinggal menumpang. Ia mengaku belum pernah menerima bantuan bedah rumah sebelumnya.

Ketika mengetahui namanya masuk dalam daftar penerima bantuan, perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu.

Wabup TTU Kamilus Elu Bidik Kerja Sama dengan PPKD Jakarta Timur, Siapkan Anak Muda Tembus Pasar Kerja Global

Bagi Adrianus, bantuan itu bukan sekadar urusan membangun dinding, memasang atap, atau memperbaiki lantai rumah. Lebih dari itu, ada harapan agar keluarganya kelak mempunyai tempat tinggal sendiri yang lebih layak dan aman.

Cerita serupa datang dari Antonia Sone (40), warga Desa Oeperigi. Ibu dua anak itu selama ini harus berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi dan kondisi tempat tinggal yang belum memadai.

Kehadiran Gubernur Melki di tengah keluarganya menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Perhatian pemerintah menghadirkan harapan baru bagi Antonia untuk dapat membesarkan kedua anaknya di rumah yang lebih layak.

Di balik tiga kisah tersebut, masih ada keluarga lain yang menghadapi persoalan serupa. Mereka adalah Lemaskus Nuban dan Fredik Nubatonis. Kelimanya masuk dalam daftar penerima program bantuan rumah layak huni di Kabupaten TTU.

Dari Perjalanan Tour de EnTeTe Menuju Rumah Warga

Tour de EnTeTe Tak Sekadar Melintasi Daerah, Gubernur Melki Bawa Solusi Atasi Nestapa Mama Theresia: Rumah Layak Huni Dibangun

Tour de EnTeTe 2026 bukan semata-mata perjalanan olahraga, rekreasi, atau kegiatan yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Dalam agenda Etape Timor, perjalanan tersebut juga dimanfaatkan Pemerintah Provinsi NTT untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat, termasuk keluarga yang membutuhkan perhatian dalam pemenuhan kebutuhan dasar.

Salah satu kebutuhan dasar itu adalah rumah layak huni. Gubernur Melki mengatakan, program bedah rumah merupakan bagian dari upaya pemerintah membantu masyarakat yang masih tinggal di rumah tidak layak huni. Pelaksanaannya menggunakan pola gotong royong dengan melibatkan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, hingga pemerintah desa dan kelurahan.

“Ini pola gotong royong kami dengan pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah desa/kelurahan. Kebetulan ada momentum ulang tahun Provinsi NTT ke-68, sehingga kami juga punya program untuk membantu masyarakat melalui bedah rumah,” kata Gubernur Melki.

Menurut Gubernur Melki, terdapat lima rumah di Desa Oeperigi yang masuk dalam program bantuan tersebut. Rumah yang dibangun direncanakan menggunakan tipe 36, dengan besaran bantuan berkisar Rp30 juta hingga Rp60 juta untuk setiap rumah.

Besaran bantuan disesuaikan dengan hasil perhitungan kebutuhan pembangunan masing-masing rumah.

“Kalau rumah seperti ini, bantuannya sekitar Rp30 juta sampai Rp60 juta. Nanti kita lihat perhitungannya,” jelasnya.

Ia menegaskan, penerima bantuan harus memenuhi kriteria yang telah ditetapkan pemerintah. Kondisi rumah menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan kelayakan penerima manfaat.

Karena itu, penilaian dilakukan oleh Dinas PUPR bersama pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi agar bantuan benar-benar diberikan kepada keluarga yang membutuhkan.

Sumber dukungan pembangunan rumah juga tidak hanya berasal dari pemerintah provinsi. Pemerintah kabupaten, pemerintah desa, serta program pemerintah pusat turut menjadi bagian dari skema dukungan perumahan bagi masyarakat.

Gubernur Melki berharap seluruh persyaratan administrasi dapat segera dilengkapi sehingga proses pembangunan rumah bisa diproses dalam waktu satu hingga dua minggu.

Satu Kabupaten Lima Keluarga, Satu Harapan

Perhatian terhadap rumah tidak layak huni tidak berhenti di Kabupaten TTU. Dalam rangkaian Tour de EnTeTe Etape Timor, program serupa juga menyasar lima keluarga di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Bahkan seluruh Kabupaten dan Kota se NTT masimng-masing dijatahi lima keluarga kuranng mampu yang mendapat program bedah rumah dalam agenda Tour de EnTeTe.

Di Kecamatan Polen, Kabupaten TTS, terdapat lima warga yang masuk dalam daftar penerima bantuan rumah layak huni. Mereka adalah Arto Kamlasi, Yabar Manu, Semli Tunliu, Foktoria Koah, dan Jonathan Sonbae.

Mereka berasal dari Desa Puna, dengan alamat yang tersebar di wilayah Oenoah dan Puna.

Sementara di Kabupaten TTU, lima penerima bantuan berasal dari Desa Oeperigi, Kecamatan Noemuti, yakni Kanisius Babi Nitjano, Adrianus Pulo, Antonia Sone, Lemaskus Nuban, dan Fredik Nubatonis.

Dengan demikian, terdapat sepuluh keluarga di Kabupaten TTU dan TTS yang masuk dalam daftar penerima manfaat program rumah layak huni dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Bagi pemerintah, angka lima setiap kabupaten dan kota mungkin merupakan bagian dari target program yang harus dilaksanakan. Namun, bagi keluarga penerima manfaat, angka itu berarti kesempatan untuk mengubah kehidupan sehari-hari.

Rumah yang selama ini hanya bisa diperbaiki sedikit demi sedikit karena keterbatasan penghasilan, kini memiliki peluang untuk dibangun menjadi tempat tinggal yang lebih layak.

Rumah Bukan Sekadar Bangunan

Di NTT, persoalan rumah tidak layak huni masih menjadi tantangan yang berkaitan erat dengan kemiskinan, keterbatasan penghasilan, dan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.

Bagi keluarga petani seperti Kanisius, memperbaiki rumah sering kali harus menunggu setelah kebutuhan pangan, pendidikan anak, dan kebutuhan keluarga lainnya terpenuhi.

Akibatnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi keluarga justru harus ditempati bertahun-tahun dalam kondisi yang belum memadai.

Kisah Kanisius, Adrianus, dan Antonia memperlihatkan bahwa persoalan perumahan bukan semata-mata tentang konstruksi bangunan. Ada martabat keluarga, rasa aman anak-anak, dan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di dalamnya.

Melalui program bedah rumah yang melibatkan pemerintah provinsi, kabupaten, dan desa, Melki berharap semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaat pembangunan secara langsung.

Perjalanan Tour de EnTeTe pun menemukan makna lain ketika rombongan tidak hanya melewati jalan-jalan penghubung antardaerah, tetapi juga berhenti di depan rumah warga yang membutuhkan perhatian.

Di sana, tidak ada garis finis seperti dalam sebuah perlombaan. Yang ada adalah keluarga-keluarga yang menanti rumah lebih layak, anak-anak yang membutuhkan tempat tumbuh yang aman, serta orang tua yang ingin menjalani hari tua tanpa terus-menerus dihantui kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan.

Bagi Kanisius, Adrianus, Antonia, dan tujuh keluarga lainnya di TTU dan TTS, harapan itu kini mulai terbuka.

Sebab, rumah bukan hanya tempat seseorang berteduh dari hujan dan panas. Rumah adalah tempat sebuah keluarga membangun kehidupan, merawat kasih sayang, dan mempertahankan martabat.

Dan bagi mereka yang selama bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, kesempatan untuk memiliki rumah yang layak mungkin menjadi salah satu hadiah paling berarti dari sebuah perjalanan bernama Tour de EnTeTe.*/laurens leba tukan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement