WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM โ Gelora Pada Eweta Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, hari ini Senin (24/8/2026) memasuki babak penting menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028. Sebanyak 362 ekor kuda pacu ambil bagian dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pacuan Kuda 2026 yang menjadi bagian dari persiapan menuju pesta olahraga nasional yang akan digelar di NTT dan Nusa Tenggara Barat.
Kejurnas bertajuk Road to PON XXII NTB-NTT 2028 itu tidak sekadar menjadi ajang adu kecepatan di lintasan. Gelaran di Waikabubak juga menjadi momentum untuk menguji kesiapan venue, mematangkan perangkat pertandingan, sekaligus menjaring calon atlet joki yang diproyeksikan memperkuat dua provinsi tuan rumah pada PON 2028.
Direktur Pacu Tradisional Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu, Ir. Aguspen Adnan, mengatakan Kejurnas di Sumba Barat merupakan bagian penting dari rangkaian persiapan menuju PON XXII NTB-NTT 2028.
Menurut Aguspen, pelaksanaan Kejurnas tidak hanya berorientasi pada pertandingan, tetapi juga diarahkan untuk membangun ekosistem olahraga pacuan kuda yang lebih profesional, mulai dari kualitas kuda, joki, pelatih, steward hingga perangkat pendukung pertandingan.
Gelora Pada Eweta Waikabubak dipilih sebagai calon venue resmi cabang olahraga berkuda pacu PON XXII. Gelanggang tersebut memiliki lintasan ring oval sepanjang sekitar 1.200 meter dan dinilai memenuhi standar untuk menggelar pertandingan pacuan kuda tingkat nasional.
Penetapan itu mendapat perhatian langsung Ketua Umum KONI Pusat Bapak Letjen TNI (Purn) Marciano Norman dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu NTT Dr. Umbu Rudi Kabunang. Ketiganya meninjau Gelora Padaeweta pada Juli 2026 ketika berlangsung Pacuan Kuda HUT Ke-81 RI Bupati Cup Sumba Barat.
Dalam peninjauan tersebut, Gelora Padaeweta dinilai layak menjadi salah satu venue cabang olahraga berkuda pacu untuk PON XXII NTB-NTT 2028.
Bagi Sumba Barat, keputusan tersebut bukan sekadar penempatan sebuah cabang olahraga. Bupati Sumba Barat Yohanis Dade menyambut penetapan itu sebagai peluang bagi daerahnya untuk menjadi bagian dari panggung olahraga nasional.
Bukan Sekadar Adu Cepat
Menurut Aguspen, Kejurnas kali ini dirancang lebih dari sekadar perlombaan di lintasan. Federasi Nasional Pordasi Pacu sejak awal menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pembangunan ekosistem olahraga berkuda pacu menuju PON 2028.
Salah satu agenda utamanya adalah sertifikasi bagi calon steward, pelatih dan atlet joki kuda pacu untuk wilayah NTT dan NTB.
Pelatihan yang berlangsung dalam tiga tahap pada 15-23 Agustus 2026 itu diikuti sekitar 70 peserta dari kedua provinsi. Mereka dipersiapkan bukan hanya untuk kebutuhan Kejurnas, tetapi juga sebagai sumber daya manusia yang diharapkan mengisi kebutuhan pertandingan pada PON mendatang.
Para steward lokal diproyeksikan dapat menjadi perangkat pertandingan ketika PON XXII berlangsung di tanah mereka sendiri. Sementara sertifikasi pelatih diharapkan memperkuat pembinaan atlet joki yang akan menjadi tumpuan NTT dan NTB dalam perebutan medali.
Menurut Aguspen, persiapan menuju PON 2028 harus dimulai sejak sekarang. Kelas-kelas pertandingan, kualitas perangkat pertandingan dan kesiapan atlet perlu diuji melalui kompetisi nasional agar tuan rumah tidak hanya siap sebagai penyelenggara, tetapi juga mampu bersaing di lintasan.
362 Kuda, 12 Kelas
Pada Minggu, 23 Agustus 2026, proses barrier drawing atau pengundian posisi start untuk babak penyisihan telah dilakukan di Sekretariat Pengkab FN Pordasi Pacu Waikabubak, Sumba Barat.
Sebanyak 362 ekor kuda akan berkompetisi dalam 12 kelas final yang sekaligus diproyeksikan menjadi kelas-kelas pacuan pada PON XXII 2028.
Babak penyisihan berlangsung pada 24-26 Agustus 2026. Rangkaian pertandingan kemudian dilanjutkan dengan tahapan berikutnya sebelum mencapai puncak pada Senin, 31 Agustus 2026, saat final Kejurnas Pacuan Kuda Road to PON 2028 digelar.
Jumlah peserta tersebut menunjukkan besarnya gairah olahraga pacuan kuda di kawasan Nusa Tenggara. Di wilayah yang memiliki tradisi panjang berkuda, pacuan bukan hanya olahraga, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Karena itu, lintasan Gelora Padaeweta pada akhir Agustus ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan olahraga prestasi.
Menyiapkan Emas dari Tanah Nusa Tenggara
Untuk memastikan kualitas pembinaan, PP FN Pordasi Pacu menghadirkan sejumlah pemateri nasional dalam rangkaian sertifikasi.
Di antaranya Dr. drh. Yuriadi MP dari Universitas Gadjah Mada yang memberikan materi terkait kesehatan dan manajemen penanganan kuda. Ada pula Ir. MT. Prasetyo Poenhandjiono, MSCE, akademisi sekaligus presenter pacuan kuda dan anggota Dewan Steward Berkuda Pacu Indonesia.
Materi juga diberikan Ir. Hari Wibowo, Ketua Umum PP FN Pordasi Pacu Jawa Timur sekaligus anggota steward PON XXI Aceh-Sumatera Utara, serta Sumitro, purnawirawan alumni Pasukan Berkuda Parompong Jawa Barat yang lama berkecimpung dalam dunia steward pacuan kuda Indonesia.
Kehadiran para pemateri tersebut menunjukkan bahwa persiapan menuju PON 2028 tidak berhenti pada kemampuan kuda dan joki melaju cepat. Aspek kesehatan hewan, keselamatan, kepelatihan, kepemimpinan perlombaan dan profesionalisme perangkat pertandingan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Kejurnas 2026 sekaligus menjadi salah satu panggung untuk menemukan joki-joki terbaik yang berpeluang menjadi andalan NTT dan NTB pada PON 2028.
Bagi tuan rumah, targetnya tentu lebih tinggi: bukan sekadar tampil, tetapi merebut medali di hadapan publik sendiri.
Rp700 Juta untuk Pembinaan
Keseriusan penyelenggaraan juga terlihat dari nilai hadiah pembinaan yang disiapkan. Total dukungan hadiah mencapai sekitar Rp700 juta, berupa uang pembinaan dan medali bagi pemilik kuda, kuda pacu, pelatih, atlet joki dan perawat kuda.
Tiga kuda terbaik juga akan memperoleh trofi.
Aguspen menilai dukungan tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan pembinaan pacuan kuda di Indonesia. Sebab, olahraga ini tidak hanya bertumpu pada atlet manusia, tetapi juga membutuhkan proses panjang dalam pemeliharaan, pelatihan dan peningkatan kualitas kuda pacu.
Di balik seorang joki yang melaju di lintasan, ada pemilik kuda, pelatih, perawat dan tim yang mempersiapkan kuda sejak jauh sebelum perlombaan dimulai.
Karena itu, kemenangan di lintasan tidak hanya menjadi milik joki. Ia merupakan hasil kerja bersama antara manusia dan kuda.
Di tengah persiapan menuju PON XXII, Waikabubak kini mendapatkan kesempatan menunjukkan bahwa Nusa Tenggara bukan sekadar wilayah dengan tradisi berkuda, tetapi juga memiliki potensi untuk melahirkan atlet dan ekosistem olahraga berkuda pacu berstandar nasional.
Dari Gelora Pada Eweta, perjalanan menuju PON 2028 dimulai.
Dua tahun sebelum pesta olahraga nasional itu berlangsung, 362 kuda akan berlari, para joki akan mempertaruhkan kemampuan, dan para pelatih menguji hasil pembinaan mereka.
Lebih dari sekadar siapa yang tiba paling cepat di garis finis, Kejurnas ini menjadi ujian awal bagi NTT dan NTB untuk menyiapkan olahraga berkuda pacu yang mampu tampil sebagai tuan rumah sekaligus penantang dalam perebutan medali PON XXII.
Di atas lintasan oval Gelora Padaeweta, target besar itu mulai dikejar.*/llt



Komentar