JAKARTA,SELATANINDONESIA.COM โ Transformasi besar tengah berlangsung di tubuh Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia. Melalui keputusan strategis dalam Musyawarah Nasional PORDASI XIV yang digelar pada 13โ15 November 2024 silam, organisasi induk olahraga berkuda nasional itu resmi berbenah dengan memecah struktur menjadi federasi-federasi berbasis disiplin.
Ketua Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu, Teddy Soediro, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya modernisasi tata kelola olahraga berkuda di Indonesia agar lebih adaptif terhadap tuntutan prestasi dan profesionalisme.
โTransformasi ini bukan sekadar perubahan nama atau struktur, tetapi upaya membangun sistem pembinaan yang lebih fokus, terarah, dan berkelanjutan di setiap cabang berkuda,โ ujar Teddy dalam keterangannya, Sabtu (28/3/2026).
Dalam skema baru tersebut, PORDASI kini terbagi menjadi empat federasi nasional, yakni Federasi Nasional Pordasi Pacu, Federasi Nasional Pordasi Equestrian, Federasi Nasional Pordasi Berkuda Memanah, dan Federasi Nasional Pordasi Polo. Keempat federasi tersebut memiliki ketua umum masing-masing dan sedang dilakukan konsolidasi hingga ke tingkat provinsi dan kabupaten/kota se Indonesia. Pemisahan ini dinilai krusial untuk menjawab kebutuhan spesifik masing-masing disiplin yang selama ini berada dalam satu payung besar organisasi.
Secara fungsional, model federasi ini memungkinkan setiap cabang memiliki otonomi dalam menyusun program pembinaan, kalender kompetisi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, pembinaan atlet, joki, hingga ofisial teknis seperti steward dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan berbasis standar kompetensi.
Langkah transformasi ini juga telah memperoleh legitimasi kuat dari Komite Olahraga Nasional Indonesia. Melalui Surat Keputusan Nomor 135 Tahun 2024, KONI mengukuhkan kepengurusan Federasi Nasional Pordasi Pacu masa bakti 2024โ2028. Penguatan organisasi berlanjut lewat SK Nomor 162 Tahun 2025 tentang pergantian antar waktu, serta surat pemberitahuan resmi tertanggal 20 Januari 2025 yang menegaskan bahwa PORDASI telah bertransformasi menjadi empat federasi terpisah.
Dalam surat tersebut, KONI juga mengimbau seluruh pengurus provinsi untuk segera menindaklanjuti pembentukan kepengurusan di daerah, sebagai fondasi pembinaan berjenjang dari tingkat lokal hingga nasional.
Implementasi kebijakan ini mulai terlihat di berbagai daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur. Melalui mekanisme mandat dan musyawarah provinsi, kepengurusan Federasi Nasional Pordasi Pacu tingkat provinsi telah terbentuk dan dikukuhkan. Dr. Umbu Kabunang Rudi dipercaya memimpin kepengurusan tersebut dan resmi dilantik pada 6 Februari 2026. “Dan tiga federasi lainnya yaitu Federasi Nasional Pordasi Equestrian, Federasi Nasional Pordasi Berkuda Memanah, dan Federasi Nasional Pordasi Polo akan segera dibentuk di NTT,” ujarnya.
Menurut Teddy, pembentukan struktur hingga ke daerah menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem kompetisi yang sehat dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa ke depan, federasi tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga motor penggerak pembinaan berbasis ilmu kepelatihan modern.
โKejuaraan bisa diselenggarakan oleh berbagai pihak, tetapi untuk pembinaan atlet berprestasi yang terarah dan berjenjang, harus melalui federasi. Di situlah standar, sertifikasi, dan sistem berjalan,โ ujarnya.
Dengan struktur baru ini, Pordasi Pacu menargetkan peningkatan kualitas atlet, joki, serta perangkat pertandingan melalui program pelatihan dan sertifikasi nasional. Agenda besar pun telah disiapkan, mulai dari kejuaraan tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga kejuaraan nasional sebagai bagian dari jalur prestasi.
Ia juga menegaskan agar keempat federasi itu mulai mempersiapkan atlitnya serta berbagai perangkat pertandingan untuk dilatih dan dibina demi menyambut PON XXII tahun 2028 serta kejuaraan tingkat dunia yaitu olimpiade. โKarena yang bisa mengajukan atlit ke KONI untuk mengikuti berbagai ajang petandingan daerah, nasional dan dunia adalah keempat fedrasi ini,โ tegasnya.
Puncaknya, federasi menatap partisipasi optimal pada Pekan Olahraga Nasional XXII sebagai ajang pembuktian hasil transformasi organisasi dan Sumba Barat menjadi lokasi perlombaan pacuan kuda di PON 2028.
Di tengah perubahan tersebut, satu hal yang ingin ditegaskan: olahraga pacuan kuda tetap terbuka bagi berbagai komunitas dan penyelenggara. Namun, dalam kerangka prestasi nasional, federasi menjadi pintu utama pembinaan yang terstandar dan berkelanjutan.
Transformasi ini, dengan demikian, bukan hanya soal restrukturisasi organisasi, melainkan fondasi baru bagi masa depan olahraga berkuda Indonesia.*/llt













Komentar