LEWOLEBA,SELATANINDONESIA.COM – Di tengah iklim politik yang kerap diwarnai persaingan keras dan perebutan pengaruh hingga menit-menit terakhir, Musyawarah Daerah (Musda) VI Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kabupaten Lembata justru menghadirkan pelajaran politik yang berbeda. Bukan kemenangan yang menjadi sorotan utama, melainkan ketulusan seorang kader senior untuk memberi jalan bagi regenerasi.
Tokoh itu adalah Petrus Gero
Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Lembata periode 2020–2025 tersebut sesungguhnya berada dalam posisi yang sangat kompetitif untuk kembali memimpin partai berlambang pohon beringin itu. Dukungan politik yang dikantonginya menjelang Musda menunjukkan bahwa peluang mempertahankan kursi ketua masih terbuka lebar.
Namun, pada momentum yang menentukan, Petrus memilih jalan yang tidak selalu mudah ditempuh seorang politisi. Dalam sidang Musda yang berlangsung di Ballroom Olympic Lewoleba, Jumat (12/6/2026), ia menyatakan mengundurkan diri dari pencalonan Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Lembata setelah menyampaikan laporan pertanggungjawabannya sebagai ketua demisioner.
Keputusan itu mengubah arah perjalanan Musda. Dengan mundurnya Petrus Gero, Alexander Dominggo Atawolo kemudian ditetapkan secara aklamasi sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Lembata periode 2026–2031.
Lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan, peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi musyawarah, kaderisasi, dan kepentingan organisasi ditempatkan di atas ambisi personal.
Dari Kader Akar Rumput ke Pemimpin Partai
Bagi kader Golkar Lembata, perjalanan politik Petrus Gero sesungguhnya mencerminkan wajah kaderisasi yang selama ini dibangun partai.
Karier politiknya tidak lahir dari jalan pintas. Ia meniti tangga organisasi secara berjenjang, mulai dari Sekretaris Golkar Kelurahan, Ketua Golkar Kelurahan, Sekretaris Golkar Kecamatan, Ketua Golkar Kecamatan, Wakil Ketua DPD II, Sekretaris DPD II, hingga akhirnya dipercaya memimpin Partai Golkar Kabupaten Lembata.
Pengalaman panjang itu membuat Petrus memahami satu hal penting dalam organisasi politik: pergantian generasi adalah keniscayaan.
Karena itu, ketika proses konvensi internal menghadirkan sejumlah figur muda dengan gagasan baru, ia tidak melihatnya sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari keberlanjutan partai.
Musda VI Golkar Lembata sendiri diawali dengan sebuah mekanisme yang relatif jarang dilakukan dalam suksesi kepemimpinan partai di tingkat daerah, yakni konvensi calon ketua. Empat kader tampil menawarkan gagasan dan program untuk masa depan Golkar Lembata: Fransiskus Xaverius Namang, Alexander Atawolo, Petrus Gero, dan Jimmy Sunur.
Konvensi tersebut menjadi ruang pertarungan ide, bukan sekadar adu kekuatan politik.
Menariknya, seluruh kandidat bersepakat bahwa siapapun yang nantinya terpilih wajib mengakomodasi gagasan-gagasan terbaik yang lahir dari forum tersebut sebagai program kerja bersama. Kesepakatan itu menjadi fondasi penting yang kemudian menjaga suasana kompetisi tetap sehat hingga menjelang Musda.
Ketika Soliditas Menjadi Pilihan
Memasuki tahapan pendaftaran calon ketua, kontestasi mengerucut pada dua nama: Petrus Gero dan Alexander Atawolo.
Keduanya sama-sama memiliki basis dukungan yang kuat di internal partai. Situasi ini berpotensi membawa kompetisi menuju pemungutan suara yang ketat.
Namun dalam forum Pra-Musda yang dihadiri jajaran pengurus DPD I Golkar NTT dan perwakilan DPP Partai Golkar, muncul kesadaran bersama bahwa persatuan organisasi harus menjadi prioritas utama.
Berbagai komunikasi politik dan musyawarah berlangsung intens. Di situlah kedewasaan politik diuji.
Pada akhirnya, Petrus Gero memilih mengalah demi kepentingan yang lebih besar: menjaga soliditas partai hingga ke tingkat akar rumput.
Keputusan tersebut tidak hanya menghindarkan Golkar Lembata dari potensi fragmentasi internal, tetapi juga mengirimkan pesan kuat bahwa kepemimpinan dalam partai tidak semata-mata soal menang atau kalah.
Dalam politik modern yang sering kali menempatkan jabatan sebagai tujuan akhir, langkah Petrus justru menunjukkan bahwa kekuasaan dapat dilepas dengan elegan ketika organisasi membutuhkan jalan terbaik.
Regenerasi yang Mendapat Restu
Mundurnya Petrus Gero sekaligus membuka jalan bagi lahirnya kepemimpinan generasi baru di tubuh Golkar Lembata.
Alexander Atawolo tampil sebagai representasi kader muda yang dinilai siap melanjutkan estafet kepemimpinan partai. Kehadirannya tidak berdiri dalam ruang kosong, melainkan lahir melalui proses kaderisasi yang terukur serta dinamika internal yang demokratis.
Ketua DPD I Partai Golkar Nusa Tenggara Timur, Alain Niti Susanto, memberikan apresiasi terhadap proses suksesi yang berlangsung di Lembata. Ia menilai tahapan yang dimulai dari konvensi hingga Musda merupakan contoh praktik demokrasi internal yang layak menjadi rujukan bagi daerah lain.
Pesan yang mengemuka dalam Musda tersebut sejalan dengan pandangan pengurus pusat bahwa kekuatan Golkar terletak pada sistem kaderisasi, bukan pada ketergantungan terhadap figur tertentu.
Karena itu, kemenangan Alexander bukanlah kemenangan satu orang kader atas kader lainnya. Sebaliknya, kemenangan itu merupakan hasil dari sebuah proses politik yang menempatkan regenerasi sebagai agenda utama organisasi.
Pembelajaran Politik dari Lembata
Musda VI Golkar Lembata mungkin hanya berlangsung di sebuah kabupaten kepulauan di Nusa Tenggara Timur. Namun pesan yang lahir dari forum itu memiliki makna yang lebih luas.
Di tengah kecenderungan politik yang sering mempertontonkan rivalitas berkepanjangan, Golkar Lembata memperlihatkan bahwa kompetisi dapat berakhir dengan persaudaraan. Bahwa perbedaan pilihan tidak harus berujung pada perpecahan. Dan bahwa seorang pemimpin tetap dapat dikenang bukan hanya karena kemenangan yang diraihnya, tetapi juga karena kesediaannya memberi ruang bagi generasi berikutnya.
Dalam perspektif itu, keputusan Petrus Gero untuk mundur bukanlah tanda kekalahan politik. Sebaliknya, itulah puncak dari kematangan seorang kader yang memahami bahwa organisasi harus terus bergerak melampaui kepentingan individu.
Ketika panji pataka Golkar berpindah tangan kepada Alexander Atawolo, yang sesungguhnya sedang berlangsung bukan sekadar serah terima jabatan. Yang terjadi adalah perpindahan estafet kaderisasi, dari generasi yang membangun fondasi menuju generasi yang akan melanjutkan perjuangan.
Dan dari Lewoleba, Partai Golkar Lembata mengirimkan satu pelajaran penting: politik yang beradab selalu memberi ruang bagi regenerasi, sementara ketulusan seorang pemimpin sering kali menjadi syarat utama bagi lahirnya masa depan organisasi yang lebih kuat.*/llt



Komentar