WAINGAPU,SELATANINDONESIA.COM – Di sela kunjungan kerja di Kabupaten Sumba Timur, Selasa (16/6/2026), Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mendapati sebuah kenyataan yang sulit diabaikan. Di Kelurahan Wangga, sebuah rumah sederhana milik Om Zet berdiri dalam kondisi memprihatinkan: atap bocor, dinding rapuh, dan ruang hidup yang jauh dari standar hunian yang layak.
Kunjungan yang semula merupakan bagian dari agenda peninjauan lapangan berubah menjadi keputusan cepat. Di hadapan Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, dan Wakil Ketua DPRD Sumba Timur, Alie Oemar Fadaq, Gubernur Melki langsung menghubungi Kepala Dinas PUPR NTT, Benny Nahak.
โTidak boleh ditunda. Rumah ini harus segera ditangani,โ ujar Gubernur Melki melalui sambungan telepon kepada Kadis PUPR NTT.
Bagi Gubernur Melki, kondisi rumah Om Zet bukan sekadar persoalan bangunan yang lapuk dimakan usia. Rumah itu menjadi potret masih adanya warga yang hidup dalam keterbatasan akses terhadap hunian yang aman dan layak. Karena itu, intervensi pemerintah tidak boleh menunggu terlalu lama.
Komitmen tersebut sejalan dengan salah satu agenda prioritas Pemerintah Provinsi NTT pada tahun 2026, yakni percepatan penanganan rumah tidak layak huni. Pemerintah pusat telah menyiapkan kuota program bedah rumah untuk NTT sebanyak 18.000 hingga 22.000 unit. Di saat yang sama, Pemerintah Provinsi NTT menargetkan pembangunan lebih dari 31.000 rumah layak huni melalui skema gotong royong yang melibatkan pemerintah kabupaten dan kota di seluruh wilayah NTT.
Target tersebut lahir dari kesadaran bahwa persoalan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga kualitas tempat tinggal. Rumah yang layak dipandang sebagai fondasi dasar bagi kesehatan, pendidikan, dan masa depan keluarga.
โKami ingin memastikan tidak ada warga yang tertinggal hanya karena tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Sebab membangun rumah bukan sekadar membangun dinding dan atap, tetapi juga menjaga martabat dan masa depan keluarga NTT,โ kata Gubernur Melki.
Di Kelurahan Wangga, pesan itu menemukan wujud yang paling konkret. Sebuah rumah yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari lanskap kemiskinan kini mendapat perhatian langsung dari pemerintah. Bagi Om Zet dan keluarganya, kunjungan tersebut bukan lagi sekadar seremoni pejabat di lapangan, melainkan awal dari harapan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih manusiawi.*/llt



Komentar