ATAMBUA,SELATANINDONESIA.COM โ Sepuluh tahun lalu, tidak banyak orang membayangkan sebuah bukit gersang yang menghadap laut di kawasan Teluk Gurita, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, akan berubah menjadi salah satu ruang ziarah rohani yang mempersatukan umat lintas wilayah, bahkan lintas negara.
Di tempat yang dahulu hanya hamparan tanah berbatu dan semak belukar itu, kini berdiri megah Patung Bunda Maria Segala Bangsa. Patung yang menjulang di bibir teluk tersebut menjadi saksi perjalanan sebuah gagasan sederhana yang lahir dari iman, harapan, dan ketekunan.
Malam penutupan Bulan Maria, Sabtu (30/5/2026), menjadi momentum istimewa bagi ribuan umat Katolik yang memadati kawasan Teluk Gurita dalam perhelatan Ave Maria Night. Mereka datang dari berbagai paroki di Kabupaten Belu, wilayah tetangga, hingga dari Timor-Leste untuk berdoa bersama bagi perdamaian dunia.
Di hadapan lautan umat yang memenuhi kawasan patung, Bupati Belu Willybrodus Lay tampak larut dalam kenangan. Suaranya sesekali bergetar ketika mengisahkan kembali awal mula gagasan yang pernah tumbuh di tempat itu satu dekade silam.
Saat itu, kata Willy Lay, Teluk Gurita belum seperti sekarang. Tidak ada bangunan, tidak ada pusat keramaian umat, bahkan belum ada tanda-tanda bahwa kawasan tersebut akan menjadi destinasi rohani.
โKetika kami berdiri di sini sepuluh tahun lalu, yang ada hanyalah bukit yang gersang. Kami memandang tempat ini dan membayangkan suatu hari nanti Bunda Maria akan berdiri di sini,โ tuturnya.
Gagasan itu pada mulanya hanya percakapan sederhana bersama sahabat-sahabatnya. Namun di tengah keterbatasan dan keraguan, mimpi tersebut terus dipelihara. Sedikit demi sedikit, harapan itu bertumbuh menjadi sebuah gerakan bersama.
Kini, di tempat yang sama, ribuan lilin menyala dalam doa malam. Cahaya-cahaya kecil itu membentuk pemandangan yang mengharukan, seakan menegaskan bahwa iman mampu mengubah ruang yang tandus menjadi tempat perjumpaan dan pengharapan.
Bagi Willy Lay, berdirinya Patung Bunda Maria Segala Bangsa bukan sekadar keberhasilan pembangunan sebuah monumen religius. Lebih dari itu, patung tersebut menjadi simbol persatuan masyarakat Belu yang dibangun di atas semangat gotong royong dan keyakinan yang sama.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan bahwa embrio kecil yang lahir sepuluh tahun lalu akan berkembang menjadi ruang bersama yang mempertemukan ribuan orang dalam suasana doa dan persaudaraan.
โYang dulu hanya sebuah gagasan, malam ini menjadi kenyataan yang dapat disaksikan bersama. Ini bukan karya satu orang. Ini adalah buah dari kebersamaan, doa, dan ketulusan banyak orang,โ ujarnya.
Pada malam yang sama, umat juga diajak bersatu dalam doa untuk perdamaian dunia sebagai tanggapan atas seruan Paus Leo XIV kepada Gereja universal. Dalam suasana hening yang diselingi lantunan doa dan nyanyian Maria, Teluk Gurita berubah menjadi altar terbuka yang mempersatukan berbagai kalangan dalam intensi yang sama: memohon damai bagi dunia.
Willy Lay berharap Ave Maria Night tidak berhenti sebagai perayaan sesaat, melainkan menjadi tradisi tahunan yang terus dirawat. Menurut dia, fondasi kebersamaan telah diletakkan dan kini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya.
Dari sebuah bukit yang dahulu gersang dan nyaris terlupakan, Teluk Gurita kini menjelma menjadi ruang rohani yang hidup. Di sana, sebuah mimpi yang pernah dianggap sederhana telah menemukan bentuknya, berdiri kokoh dalam sosok Bunda Maria yang memandang laut, seakan merangkul setiap orang yang datang membawa doa, harapan, dan kerinduan akan damai.*/prokopimbelu/llt



Komentar