BAโA,SELATANINDONESIA.COM – Di sebuah sekolah di wilayah Rote Tengah, sejumlah siswa tampak sibuk merapikan lapangan multifungsi yang belum lama dibangun. Mereka bekerja bersama guru-guru, mengangkat material, membersihkan sudut lapangan, dan menyelesaikan bagian akhir fasilitas yang kelak menjadi ruang aktivitas bersama.
Di antara para siswa itu, hadir sosok Mayana Tysellanata Saleky. Siswi kelas XI B SMA Negeri 1 Rote Tengah tersebut belakangan dikenal luas setelah meraih gelar Remaja Putri Literasi Budaya Indonesia 2025.
Namun, bagi Mayana, pencapaian di tingkat nasional itu bukan sekadar tentang gelar dan pengakuan. Ada nilai yang menurutnya lebih penting untuk dibawa keluar dari Pulau Rote: semangat kebersamaan.
โDari Rote Tengah, kami ingin memperlihatkan bahwa hospitality itu nyata, dari kebersamaan kami tanpa jarak dengan guru, bekerja sama mengerjakan lapangan kami,โ ujarnya, Rabu (27/5/2026).
Bagi Mayana, keramahtamahan bukan hanya soal menyambut tamu. Hospitality, kata dia, adalah tentang bagaimana seseorang membuat orang lain merasa diterima dan bertumbuh bersama dalam lingkungan yang saling mendukung.
Nilai itu tumbuh dari keseharian yang ia jalani di sekolah maupun di lingkungan sosialnya. Dalam perjalanannya, Mayana mendapat dukungan dari berbagai pihak, antara lain PT Bo’a Development, Nihi Rote, Rote Hospitality Academy, serta Yayasan Kesejahteraan Rote Peduli.
Lembaga-lembaga tersebut selama ini aktif mendukung pengembangan pendidikan, karakter, dan budaya generasi muda di Rote Ndao.
Mayana mengaku, pencapaiannya tidak mungkin diraih seorang diri. Dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi fondasi penting dalam prosesnya hingga tampil di tingkat nasional.
โBisa seperti ini berkat dukungan orang tua, PT Bo’a Development, Nihi Rote, Rote Hospitality Academy, Yayasan Kesejahteraan Rote Peduli, dan sekolah,โ katanya.
Di tengah berbagai aktivitas sebagai Remaja Putri Literasi Budaya Indonesia 2025, Mayana tetap terlibat dalam kegiatan sekolah dan sosial. Ia percaya pendidikan tidak hanya berbicara tentang prestasi akademik, melainkan juga membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Karena itu, keterlibatannya dalam pengerjaan lapangan sekolah dianggap sebagai bagian dari pembelajaran nilai hidup yang selama ini ia perkenalkan di berbagai kesempatan.
Dari pulau paling selatan Indonesia itu, Mayana mencoba menunjukkan bahwa generasi muda daerah juga mampu hadir di panggung nasional tanpa meninggalkan akar budayanya sendiri. Melalui langkah-langkah sederhana, ia ingin memperkenalkan wajah lain dari Rote Ndao: tentang gotong royong, penghormatan, dan kebersamaan yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.*/max/llt













Komentar