GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Gubernur NTT Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Literasi-Numerasi Siswa NTT Masih Rendah, Gubernur Minta Pembenahan Dimulai dari SD

Literasi-Numerasi Siswa NTT Masih Rendah, Gubernur Minta Pembenahan Dimulai dari SD

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wali Kota Kupang Christian Widodo saat menghadiri pentas seni siswa SDK Don Bosco 3 Kupang di Aula El Tari, Kupang, Jumat (13/3/2026). Foto: jendral purek

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ€” Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menyoroti lemahnya fondasi pendidikan dasar di Nusa Tenggara Timur. Ia menilai rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa menjadi persoalan mendasar yang harus segera dibenahi, terutama sejak jenjang sekolah dasar.

Hal itu disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri pentas seni siswa SDK Don Bosco 3 Kupang di Aula El Tari, Kupang, Jumat (13/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan hasil penilaian nasional menunjukkan kualitas pendidikan di NTT masih berada pada kategori rendah, terutama pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.

Menurut Gubernur Melki, persoalan tersebut bahkan masih ditemukan pada jenjang pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Ia mengaku pernah menemukan sekitar 30 hingga 40 persen siswa SMA yang masih mengalami kesulitan dalam kemampuan dasar tersebut.

โ€œBahkan ada laporan mahasiswa yang sudah sampai tahap skripsi, tetapi kemampuan baca tulisnya belum baik,โ€ ujarnya.

Kondisi itu, kata Gubernur Melki, menunjukkan bahwa fondasi pendidikan dasar belum berjalan optimal. Karena itu, upaya perbaikan pendidikan tidak bisa hanya difokuskan pada jenjang SMP atau SMA, melainkan harus dimulai sejak sekolah dasar.

Program MBG Diperkuat, Gubernur NTT Fokus pada Distribusi dan Pangan Lokal

Ia menjelaskan, hampir seluruh anak usia sekolah dasar di NTT masih berada dalam sistem pendidikan. Namun, angka partisipasi tersebut menurun drastis ketika memasuki jenjang berikutnya.

โ€œHampir semua anak usia SD bersekolah, lebih dari 90 persen. Tetapi ketika masuk SMP tinggal sekitar 50 persen, dan saat SMA hanya sekitar 25 persen yang melanjutkan,โ€ kata Gubernur Melki.

Selain itu, ia juga menyoroti sistem kenaikan kelas yang dinilai terlalu longgar sehingga tidak mendorong peningkatan kualitas belajar siswa. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi membuat siswa terus naik kelas meskipun belum menguasai kemampuan dasar.

โ€œKalau anak tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung tetapi tetap naik kelas, maka masalahnya akan terus terbawa sampai jenjang berikutnya. Kalau SD sudah jebol, maka SMP dan SMA pasti bermasalah,โ€ katanya.

Gubernur Melki meminta dinas pendidikan dan pemerintah daerah meninjau kembali regulasi yang ada agar setiap siswa benar-benar menguasai kemampuan dasar sebelum melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Sentralisasi Likuiditas Melalui Pengalihan Gaji ASN, Implikasi terhadap Ketahanan Bank Pembangunan Daerah dan Otonomi Fiskal Daerah (Sebuah catatan atas pergeseran gaji tenaga PPL ke bank HIMBARA)

Ia bahkan mengusulkan agar sistem pendidikan memberi ruang untuk menahan siswa di kelas tertentu jika kemampuan dasarnya belum terpenuhi, selama tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, Gubernur Melki juga menilai keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga dukungan keluarga. Ia menyoroti perubahan pola hubungan antara orang tua dan guru yang dinilai turut memengaruhi proses pendidikan.

Menurutnya, pada masa lalu orang tua memberikan kepercayaan penuh kepada guru untuk mendidik dan mendisiplinkan anak. Namun kini, dalam sejumlah kasus, guru justru sering dipersoalkan ketika menegur siswa.

Karena itu, ia mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan alumni untuk memperkuat kualitas pendidikan.

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Kupang Christian Widodo menilai kegiatan pentas seni di sekolah turut membantu pembentukan karakter siswa. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pengembangan kreativitas dan keberanian.

Wisuda di Ujung Selatan Indonesia, Bupati Henuk: 19 Anak Muda Rote Siap Terjun ke Industri Hospitality

โ€œPentas seni adalah ruang bagi anak-anak untuk berani tampil, berkreasi, dan menunjukkan bakat mereka. Dari situ karakter mereka terbentuk,โ€ kata Wali Kota Christian.

Ia menambahkan bahwa pembangunan kota tidak hanya diukur dari kemajuan fisik seperti gedung dan jalan, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia dan karakter masyarakatnya.

Ketua Panitia Pentas Seni, Efendi Inovasi, dalam laporannya menyampaikan bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kreativitas siswa. Ia menjelaskan bahwa sebagai sekolah Katolik, SDK Don Bosco 3 Kupang berkomitmen membentuk siswa yang berkarakter, cerdas, serta memiliki jiwa seni.

“Pentas seni ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengekspresikan bakat sekaligus mempererat kebersamaan tanpa memandang perbedaan. Tema hari ini menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama,” urainya.

Pentas seni oleh SDK Don Bosco 3 Kupang menampilkan berbagai pertunjukan seni dari para siswa, di antaranya tarian daerah, drama, fashion show, ansambel musik, solo piano, permainan alat musik sasando, perkusi, paduan suara, serta penampilan dance.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan lukisan hasil karya siswa SDK Don Bosco 3 Kupang kepada Gubernur NTT dan Wali Kota Kupang oleh Kepala Sekolah SDK Don Bosco 3 Kupang sebagai bentuk apresiasi atas dukungan terhadap pengembangan kreativitas siswa.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan anggota DPRD Kota Kupang, para Romo dan Suster, para guru, orang tua serta siswa.*/jendralpurek/farahterik/ltt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement