ATAMBUA,SELATANINDONESIA.COM โ Suasana khidmat menyelimuti halaman Kantor Bupati Kabupaten Belu pada Minggu (5/4/2026) sore. Di bawah langit yang mulai meredup, pemerintah daerah dan masyarakat melepas kepergian Johanes Stefanus Letto, sosok yang dikenang sebagai salah satu perintis fondasi pembangunan Belu pada masa awal penataan daerah.
Upacara pemakaman secara kedinasan itu dipimpin langsung oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay. Dalam suasana haru, ia berdiri sebagai representasi generasi penerus yang kini melanjutkan jejak kepemimpinan yang pernah dirintis almarhum lebih dari tiga dekade silam.
โKepergian beliau bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga kehilangan besar bagi daerah ini,โ ujar Willy Lay dalam pidatonya, dengan nada tertahan.
Bagi banyak warga Belu, nama Johanes Stefanus Letto mungkin tidak selalu hadir dalam sorotan publik masa kini. Namun, dalam ingatan birokrasi lama dan para tokoh masyarakat, ia adalah figur yang bekerja dalam senyap, membangun dasar-dasar tata kelola pemerintahan di masa ketika infrastruktur dan sumber daya masih sangat terbatas.
Menjabat sebagai Bupati Belu pada periode 1983โ1988, Letto memimpin di era ketika tantangan geografis dan keterisolasian wilayah masih menjadi hambatan utama pembangunan. Di masa itu, konektivitas antarwilayah belum memadai, dan pelayanan publik masih dalam tahap perintisan. Dalam keterbatasan tersebut, pendekatan kepemimpinannya dikenal sederhana namun tegas.
Bupati Willy Lay mengenang almarhum sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, tetapi kuat dalam komitmen. โBeliau bekerja dengan ketulusan, tidak mencari sorotan. Namun, hasil kerjanya menjadi dasar yang sampai hari ini masih kita rasakan,โ katanya.
Menurut Bupati Willy, nilai paling menonjol dari kepemimpinan Letto adalah integritas dan keberpihakan pada masyarakat kecil. Dalam berbagai kebijakan, almarhum disebut lebih mengutamakan kebutuhan dasar warga, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.
โBeliau mengajarkan bahwa membangun daerah bukan soal seberapa cepat terlihat hasilnya, tetapi seberapa kuat fondasi yang ditinggalkan,โ ujar Bupati Willy Lay.
Kesaksian itu diamini oleh sejumlah tokoh masyarakat yang hadir. Mereka menilai, gaya kepemimpinan Letto mencerminkan karakter pemimpin era awal pembangunan daerah yang bersahaja, dekat dengan masyarakat, dan berorientasi pada kerja nyata, bukan pencitraan.
Momentum duka ini bertepatan dengan perayaan Paskah, yang bagi umat Kristiani dimaknai sebagai simbol kemenangan kehidupan atas kematian. Dalam refleksinya, Bupati Willy Lay mengaitkan nilai tersebut dengan perjalanan hidup almarhum.
โDalam iman kita, kematian bukan akhir. Apa yang ditaburkan selama hidup akan berbuah dalam kebaikan yang dikenang,โ tuturnya.
Ia juga mengajak seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat untuk tidak sekadar mengenang, tetapi melanjutkan nilai-nilai yang telah diwariskan. Di tengah dinamika pembangunan yang semakin kompleks, semangat pengabdian tanpa pamrih dinilai menjadi hal yang semakin langka, namun justru semakin penting.
Upacara tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, pimpinan dan anggota DPRD, jajaran organisasi perangkat daerah, tokoh adat, tokoh agama, serta keluarga besar almarhum. Di akhir prosesi, doa dipanjatkan, mengiringi kepergian seorang pemimpin yang mungkin tidak banyak tercatat dalam narasi besar, tetapi jejaknya tetap hidup dalam denyut pembangunan daerah.
Dari Atambua, Belu kembali belajar bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang paling dikenal, melainkan oleh mereka yang bekerja dengan kesetiaan, seperti Johanes Stefanus Letto.*/prokopimBelu/llt













Komentar