G-RDVF5GTVXM
GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Daerah Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Eco Enzyme Ubah Wajah Pertanian Biboki Anleu, Hasil Panen Petani GMIT Meningkat Signifikan

Eco Enzyme Ubah Wajah Pertanian Biboki Anleu, Hasil Panen Petani GMIT Meningkat Signifikan

Plt. Kepala Dinas Pertanian TTU, Chairel Malelak, bersama Pemerintah Kecamatan Biboki Anleu, penyuluh pertanian, serta majelis dan jemaat GMIT Biboki Anleu, Kabuaten TTU melakukan panen padi organik di kompleks GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Pniel Ponu, Selasa (26/5/2026). Foto: aps

KEFAMENANU,SELATANINDONESIA.COM โ€” Di tengah hamparan sawah tadah hujan di Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, suasana panen Selasa (26/5/2026) itu tak sekadar menjadi peristiwa agraris biasa. Di lahan percontohan yang berada di lingkungan GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) Pniel Ponu, panen padi organik berbasis Eco Enzyme berubah menjadi simbol perjumpaan antara iman, ekologi, dan ketahanan pangan lokal.

Panen simbolis tersebut dilakukan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian TTU, Chairel Malelak, bersama pemerintah kecamatan, penyuluh pertanian, serta majelis dan jemaat GMIT Biboki Anleu. Di lokasi yang sama, puluhan petani jemaat menyaksikan langsung hasil dari praktik pertanian organik yang mereka jalankan dalam satu musim tanam terakhir.

Ketua Majelis Jemaat GMIT Biboki Anleu, Pdt. Hendrina Tamelab, menyebut panen ini sebagai penegasan arah baru gereja dalam merawat bumi. Ia mengatakan, penggunaan pupuk organik berbasis Eco Enzyme telah memberi dampak nyata pada peningkatan hasil produksi. โ€œPeningkatan hasil panen bisa mencapai satu hingga dua ton,โ€ ujarnya.

Menurut data jemaat, sedikitnya 27 kepala keluarga di Biboki Anleu telah menerapkan pupuk organik tersebut di lahan persawahan mereka. Di wilayah yang didominasi sawah tadah hujan itu, pola tanam masih bergantung pada musim sehingga panen umumnya hanya dilakukan sekali dalam setahun. Namun, pendekatan organik yang diperkenalkan bersama Dinas Pertanian TTU memberi harapan baru pada produktivitas lahan yang selama ini terbatas oleh ketersediaan air.

Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Pertanian TTU, Chairel Malelak, menilai inisiatif yang lahir dari lingkungan gereja ini sebagai contoh penting bagaimana edukasi pertanian dapat berjalan efektif ketika melibatkan lembaga sosial keagamaan. Ia menyebut pendekatan berbasis komunitas seperti gereja dan sekolah menjadi kunci dalam memperluas praktik pertanian ramah lingkungan.

Bupati Ratu Wulla Kembali Terima Opini WTP, Pengelolaan APBD SBD Dinilai Transparan dan Akuntabel

โ€œIni bukan hanya soal panen, tetapi tentang perubahan cara pandang terhadap tanah dan produksi pangan,โ€ kata Chairel dalam kesempatan tersebut. Ia menambahkan bahwa penggunaan Eco Enzyme tidak hanya meningkatkan kualitas hasil panen, tetapi juga menekan biaya produksi petani.

Eco Enzyme sendiri merupakan pupuk cair hasil fermentasi limbah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sayuran. Dalam beberapa tahun terakhir, metode ini mulai diperkenalkan secara luas di TTU melalui pendampingan pemerintah daerah dan komunitas pertanian.

Gerakan ini juga tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten TTU telah meluncurkan sejumlah merek beras organik lokal berbasis Eco Enzyme, termasuk โ€œBeras Biโ€™anโ€ yang berasal dari persawahan jemaat GMIT Biboki Anleu. Produk tersebut kini mulai dipasarkan melalui jaringan ritel lokal di Kota Kefamenanu, membuka jalan baru bagi petani untuk masuk ke pasar yang lebih luas dengan kemasan berlabel dan standar yang terus diperbaik

Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo dalam peluncuran sebelumnya, menegaskan bahwa pertanian organik bukan sekadar inovasi teknis, tetapi bagian dari strategi jangka panjang menghadapi perubahan iklim dan ketahanan pangan di wilayah perbatasan. Pendekatan ini, menurut pemerintah daerah, juga menjadi upaya mengurangi ketergantungan pada input kimia pertanian yang semakin mahal.

Di tengah tantangan lahan sawah tadah hujan dan keterbatasan infrastruktur irigasi, gerakan pertanian organik berbasis komunitas gereja di Biboki Anleu memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu harus lahir dari teknologi besar. Ia bisa tumbuh dari ruang-ruang sosial yang sederhanaโ€”dari gereja, dari jemaat, dan dari sawah yang selama ini menjadi sumber hidup masyarakat TTU.

Mayana Saleky dan Nihi Rote, Mengantar Keramahtamahan Rote Nado ke Tingkat Nasional

Panen simbolis itu pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar hasil pertanian. Ia menjelma menjadi penanda bahwa perubahan di desa-desa kecil Nusa Tenggara Timur sedang bergerak, perlahan tetapi nyata, dari akar rumput.*/aps/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement