SEMARANG,SELATANINDONESIA.COM — Upaya memperkuat pembelajaran Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas para dosen. Salah satunya melalui Pelatihan Dosen Pendidikan Pancasila yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Semarang, Jawa Tengah, pada 23–27 Februari 2026 lalu.
Sekitar 200 dosen dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia mengikuti pelatihan tersebut. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama bagi para pengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila untuk memperdalam materi, metode pengajaran, sekaligus bertukar pengalaman tentang tantangan menanamkan nilai-nilai kebangsaan di tengah dinamika zaman.
Dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, dua dosen hadir sebagai peserta, yakni Agustinus Ghunu dan Dewi Citra Larasati. Keduanya lolos seleksi nasional yang dilakukan BPIP untuk mengikuti program peningkatan kompetensi dosen Pendidikan Pancasila tersebut.
Agustinus Ghunu dalam keterangan tertulisnya mengaku bersyukur akhirnya dapat mengikuti pelatihan tersebut setelah sebelumnya beberapa kali mengikuti proses seleksi namun belum berhasil.
Menurut dia, pelatihan ini memberikan banyak perspektif baru tentang bagaimana mengajarkan Pancasila secara lebih kontekstual kepada mahasiswa.
“Banyak hal berharga yang kami peroleh. Salah satunya tentang model-model pembelajaran Pancasila yang dapat diterapkan di perguruan tinggi agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dihayati dalam kehidupan sehari-hari,” kata Agustinus.
Pelatihan Dosen Pancasila Angkatan V ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya telah dilaksanakan BPIP di berbagai daerah. Program tersebut menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat internalisasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan pendidikan tinggi.
Selama lima hari kegiatan, para peserta mengikuti berbagai sesi diskusi, kuliah umum, hingga praktik metode pembelajaran. Beragam latar belakang akademik dan pengalaman para dosen peserta justru memperkaya dinamika diskusi.
Dalam kegiatan tersebut, Agustinus juga mendapat kepercayaan dari peserta lain untuk menjadi ketua kelas. Ia bahkan mewakili seluruh peserta menyampaikan pesan dan kesan pada acara penutupan pelatihan.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelatihan tersebut bukan sekadar agenda formal peningkatan kapasitas dosen, melainkan juga ruang refleksi bagi para pendidik.
“Pelatihan ini menjadi ruang perenungan dan peneguhan jati diri kami sebagai dosen—sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus penjaga nilai-nilai kebangsaan di perguruan tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pancasila tidak dapat dipandang hanya sebagai dasar negara yang bersifat normatif. Lebih dari itu, Pancasila merupakan sistem nilai yang hidup dan harus terus diaktualisasikan melalui pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Agustinus juga mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang pernah mengatakan, “Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Menurut dia, kutipan tersebut mengingatkan bahwa potensi generasi muda Indonesia sangat besar. Namun potensi tersebut perlu diarahkan melalui pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga integritas moral dan komitmen kebangsaan.
Ia menilai dosen Pendidikan Pancasila memiliki tanggung jawab penting dalam proses tersebut. Selain mengajar, dosen juga harus menjadi teladan dalam menjunjung kejujuran akademik dan keberpihakan pada nilai-nilai kebenaran.
Dalam kesempatan itu pula, Agustinus menyinggung upaya UNITRI yang sejak 2023 mengusulkan tokoh nasional Ali Sastroamidjojo sebagai calon Pahlawan Nasional. Usulan tersebut hingga kini masih dalam proses pengajuan kembali dengan harapan dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2026.
Menurut dia, upaya tersebut merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai Pancasila, terutama sila kemanusiaan dan keadilan sosial, melalui penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang berjasa dalam sejarah bangsa.
Di akhir sambutannya, Agustinus menegaskan bahwa keberagaman tetap menjadi kekuatan utama Indonesia.
“Keberagaman kita ibarat pelangi—indah karena berwarna-warni. Indonesia kuat karena kebhinekaannya,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan menjaga ideologi bangsa tidak pernah selesai.
“Tantangan boleh berubah, tetapi komitmen menjaga persatuan tidak boleh goyah. Semoga langkah kecil kita hari ini menjadi bagian dari ikhtiar besar menjaga Indonesia.*/llt













Komentar