G-RDVF5GTVXM

Tag: BPIP

  • Umbu Rudi Kabunang Gandeng BPIP Perkuat Relawan Pancasila: Cek Kesehatan Gratis, Aspirasi Listrik Desa dan Infrastruktur Mengemuka

    Umbu Rudi Kabunang Gandeng BPIP Perkuat Relawan Pancasila: Cek Kesehatan Gratis, Aspirasi Listrik Desa dan Infrastruktur Mengemuka

    TABUNDUNG,SELATANINDONESIA.COM — Sebanyak 300 warga Desa Praing Kareha, Kecamatan Tabundung, Kabupaten Sumba Timur, mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar bersamaan dengan kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Tahun 2026, Senin (27/7/2026). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang, dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

    Sejak pagi, masyarakat memadati Gereja Kristen Sumba (GKS) Praing Kareha untuk menjalani pemeriksaan kesehatan yang dilakukan tim tenaga kesehatan dari Puskesmas Malahar. Sebanyak 12 tenaga kesehatan diterjunkan untuk melayani warga yang hadir.

    Kepala Puskesmas Malahar, Erlita Hunggu Hawu, mengatakan, kegiatan itu membantu pihaknya menjangkau lebih banyak masyarakat dalam program cek kesehatan gratis (CKG). Menurut dia, selama ini partisipasi warga untuk memanfaatkan layanan kesehatan preventif masih menjadi tantangan.

    “Dengan kegiatan yang menghimpun sekitar 300 warga dalam satu kesempatan, kami lebih mudah memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis kepada masyarakat,” ujarnya.

    Selain layanan kesehatan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang dialog antara masyarakat dan wakil rakyat. Berbagai persoalan kebutuhan dasar, terutama akses listrik, air bersih, dan infrastruktur jalan, menjadi aspirasi yang disampaikan warga.

    Anggota Komisi XIII DPR RI Dr. Umbu Rudi Kabunang saat itu memberikan apresiasi kepada Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali yang telah berkolaborasi dan bersinergi dengan DPR RI terkait berbagai program di Kabupaten Sumba Timur untuk diselaraskan dengan sejumlah Kementrian dan Lembaga di tingkat pusat. “Saya apresiasi Pak Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali yang selalu berkolaborasi dan bersinergi terkait program Kabupaten dan kerja kami di DPR RI yang melakukan reses di dapil,” sebut Umbu Rudi Kabunang.

    Umbu Rudi Kabunang mengatakan, masih terdapat sejumlah desa di Kecamatan Tabundung maupun wilayah lain di Sumba yang belum menikmati akses listrik secara memadai. Ia meminta pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa melakukan pendataan rumah tangga yang belum memiliki sambungan listrik maupun meteran.

    Data tersebut, menurut dia, akan menjadi dasar pengajuan bantuan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), termasuk program penyediaan listrik tenaga surya dan meteran listrik bagi masyarakat yang belum terlayani.

    “Pendataan perlu dilakukan agar usulan yang diajukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Harapannya, semakin banyak desa yang dapat menikmati akses listrik dalam beberapa tahun ke depan,” kata Umbu Rudi.

    Para tenaga kesehatan dari Puskesmas Malahar, Kecamatan Tabundung melakukan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi masyarakat peserta kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Tahun 2026, Senin (27/7/2026) di GKS Praing Kareha, Desa Praing Kareha, Kecamatan Tabundung, Kabupaten Sumba TImur. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang, dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). foto; amir

    Ia juga menyebut, beberapa waktu lalu sudah diajukan untuk wilayah lain di Sumba Timur dan kini sudah terealisasi. ”Semoga pengajukan berikutnya nanti dapat terealisasi, sesuai program pemerintah tahun 2029 yaitu listrik di seluruh desa diwujudkan,” katanya.

    Camat Tabundung Rudolf Umbu Resi Loly mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut dia, kehadiran anggota DPR RI di tengah masyarakat membuka ruang bagi penyampaian berbagai kebutuhan yang selama ini menjadi perhatian pemerintah daerah.

    Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan DPR RI dapat mempercepat penyelesaian persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat, terutama pembangunan jalan, penyediaan air bersih, dan pemerataan akses listrik.

    Tokoh muda Sumba Timur, Herman Hilungara yang menjadi penggerak utama dalam kegiatan tersebut mengatakan, kehadiran Umbu Rudi Kabunang hari ini di tengah masyarakat Tabundung merupakan komitmen beliau untuk terus bersama -sama masyarakat dalam memperjuangkan berbagai aspirasi masyarakat. ”Saat ini satu-satunya wakil kita orang Sumba di Senayan adalah Bapak Umbu Rudi Kabunang, maka mari kita sama-sama bersinergi dan terus mendukung satu sama lain agar aspirasi tentang kebutuhan dasar kita bisa terpenuhi melalui perjuangan Pak Umbu Rudi Kabunang,” kata Herman.

    Dalam kesempatan yang sama, Analis Kebijakan Umum BPIP, Galu Ibrahim, menekankan bahwa tantangan kebangsaan saat ini tidak lagi hanya berupa ancaman fisik, tetapi juga berkembang melalui penyebaran hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, radikalisme, polarisasi sosial, hingga melemahnya budaya gotong royong.

    Karena itu, menurut dia, penguatan ideologi Pancasila memerlukan keterlibatan aktif masyarakat. Salah satunya melalui Gerakan Relawan Kebajikan Pancasila yang diharapkan mampu menjadi penggerak persatuan, memperkuat budaya gotong royong, menyebarkan narasi positif, serta menangkal berbagai paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

    Ia menegaskan bahwa Pancasila tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, menjaga persaudaraan, dan menyelesaikan persoalan secara musyawarah.

    Menurut Galu, nilai-nilai tersebut sejalan dengan budaya masyarakat Sumba Timur yang dikenal memiliki semangat kekeluargaan, adat istiadat, dan gotong royong yang kuat. Oleh sebab itu, penguatan ideologi Pancasila dipandang sebagai upaya memperkuat nilai-nilai lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat.*/llt

  • Merah Putih Berkibar di Langit Ende, Rahim Pancasila; Gus Ipul dan Paskibraka NTT Menghidupkan Semangat Kebangsaan

    Merah Putih Berkibar di Langit Ende, Rahim Pancasila; Gus Ipul dan Paskibraka NTT Menghidupkan Semangat Kebangsaan

    ENDE,SELATANINDONESIA.COM – Langit pagi di Kota Ende, Senin (1/6/2026), tampak cerah ketika ribuan warga mulai memadati Lapangan Perse yang berada tepat di jantung kota. Di hadapan Taman Renungan Bung Karno, tempat lahirnya gagasan-gagasan besar tentang Indonesia, suasana khidmat menyelimuti peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”

    Dari berbagai penjuru Kabupaten Ende, masyarakat datang mengenakan pakaian adat khas Ende dan beragam daerah di Nusantara. Aparatur sipil negara, personel TNI dan Polri, pelajar, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, hingga para pemimpin daerah duduk berdampingan dalam satu semangat yang sama: merayakan nilai-nilai Pancasila yang lahir dari rahim sejarah Ende.

    Ketika jarum jam menunjukkan dimulainya upacara, perhatian seluruh peserta tertuju ke sisi lapangan. Dengan langkah tegap, mantap, dan serentak, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Nusa Tenggara Timur memasuki arena upacara. Derap kaki para siswa-siswi terbaik pilihan dari SMA dan SMK se-NTT menggema di Lapangan Perse, memecah keheningan pagi dengan irama disiplin dan semangat kebangsaan yang kuat.

    Setiap ayunan tangan dan hentakan langkah mereka tampil tanpa cela. Dalam balutan seragam kebanggaan, para anggota Paskibraka yang dipimpin Umbu Tunggu Djama dari SMA Negeri 1 Waingapu Sumba Tmur memperlihatkan kesigapan dan ketegasan yang memukau ribuan pasang mata yang menyaksikan dari sekeliling lapangan.

    Puncak kekhidmatan terasa ketika Sang Merah Putih perlahan dinaikkan. Bendera kebangsaan itu berkibar gagah di langit Ende, kota yang menjadi saksi perenungan panjang Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam merumuskan dasar-dasar kebangsaan Indonesia. Di bawah kibaran Merah Putih, seluruh peserta upacara berdiri tegak mengikuti lagu Indonesia Raya yang menggema penuh haru.

    Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang bertindak sebagai inspektur upacara membacakan amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi. Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa Pancasila merupakan bintang penuntun bangsa yang telah terbukti mampu menjaga Indonesia tetap kokoh di tengah berbagai tantangan global dan ancaman perpecahan.

    “Pancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan,” ujar Gus Ipul saat membacakan amanat tersebut.

    Upacara yang berlangsung penuh penghormatan terhadap sejarah itu turut dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda, Wakil Bupati Ende Dominikus Minggu Mere, Bupati Kabupaten Nagekeo Simplisius Donatus, Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, Wakil Bupati Malak Hendri Melki Simu, Wakil Bupati Sumba Tengah Martinus Umbu Djoka, Anggota DPR RI Dipo Nusantara Pua Upa, serta jajaran Forkopimda Provinsi NTT dan Kabupaten Ende.

    Usai upacara, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Taman Renungan Bung Karno. Di bawah rindangnya Pohon Sukun yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa, Gus Ipul bersama para pemimpin daerah melakukan penghormatan simbolik terhadap tempat yang diyakini menjadi lokasi Bung Karno merenungkan nilai-nilai dasar yang kemudian dirumuskan menjadi Pancasila.

    Kunjungan dilanjutkan ke Rumah Pengasingan Bung Karno, tempat sang Proklamator menghabiskan sebagian masa pembuangannya antara tahun 1934 hingga 1938. Dari rumah sederhana itulah lahir berbagai gagasan yang kelak menjadi fondasi Indonesia modern.

    Nuansa kebangsaan semakin terasa ketika Gus Ipul mengajak seluruh peserta menyanyikan lagu Pancasila Rumah Kita karya almarhum Franky Sahilatua. Ribuan suara menyatu dalam satu irama, menghadirkan suasana hangat yang memperlihatkan kedekatan masyarakat Ende dengan nilai-nilai Pancasila yang tumbuh dari sejarah kota mereka sendiri.

    Perjalanan peringatan Hari Lahir Pancasila di Kota Ende dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perhatian besar negara terhadap kota yang dikenal sebagai Rahim Pancasila itu. Berbagai tokoh nasional dan daerah silih berganti memimpin upacara setiap 1 Juni, menegaskan arti penting Ende dalam sejarah lahirnya ideologi bangsa.

    Pada tahun 2020, peringatan Hari Lahir Pancasila di Ende tidak diselenggarakan akibat pandemi Covid-19 yang saat itu melanda seluruh dunia. Pemerintah Kabupaten Ende memfokuskan perhatian pada penanganan kesehatan masyarakat serta dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan pandemi.

    Setahun kemudian, pada 2021, upacara dipimpin oleh Bupati Ende saat itu, Djafar Ahmad. Momentum tersebut menjadi simbol kebangkitan semangat kebangsaan di tengah masa pemulihan pandemi.

    Pada 2022, perhatian nasional tertuju ke Ende ketika Presiden Republik Indonesia Joko Widodo hadir secara langsung dan memimpin upacara Hari Lahir Pancasila. Kehadiran kepala negara di Kota Ende menjadi penegasan bahwa kota kecil di Pulau Flores itu memiliki posisi istimewa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

    Tahun berikutnya, 2023, giliran Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan saat itu Mahfud MD yang bertindak sebagai inspektur upacara. Peringatan saat itu menegaskan pentingnya Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah berbagai dinamika politik nasional.

    Pada 2024, upacara dipimpin oleh Penjabat Gubernur Nusa Tenggara Timur kala itu Ayodhia G. L. Kalake. Sementara pada 2025, tongkat estafet kepemimpinan upacara berada di tangan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.

    Tahun 2026 kembali mencatat sejarah baru ketika Menteri Sosial Republik Indonesia Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memimpin upacara Hari Lahir Pancasila di Lapangan Perse Ende. Kehadirannya melengkapi deretan pejabat tinggi negara yang pernah berdiri sebagai inspektur upacara di tanah tempat Bung Karno merumuskan gagasan-gagasan yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia.

    Pergantian tokoh yang memimpin upacara dari tahun ke tahun menunjukkan satu pesan yang sama: siapa pun pejabat yang hadir, Ende tetap menjadi titik penting dalam ingatan kolektif bangsa. Dari kota inilah lahir pemikiran besar tentang persatuan Indonesia yang hingga kini terus menjadi penuntun perjalanan bangsa di tengah berbagai tantangan zaman

    Menjelang penutupan, Lapangan Perse kembali bergemuruh. Sekitar 3.000 pelajar bersama masyarakat membentuk lingkaran besar untuk menarikan Tari Gawi secara massal. Tangan saling bertaut, langkah bergerak serempak mengikuti irama musik tradisional, melambangkan persatuan, gotong royong, dan kebersamaan yang menjadi ruh kehidupan masyarakat Flores.

    Dari Kota Ende, yang terus memperkuat identitasnya sebagai Kota Rahim Pancasila, peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa nilai-nilai yang lahir dari perenungan Bung Karno di tanah Ende harus terus hidup dalam tindakan nyata, menjaga persatuan bangsa, dan menjadi penuntun Indonesia menghadapi tantangan zaman.*/llt

  • Dosen UNITRI Ikuti Pelatihan Nasional BPIP, Perkuat Pembelajaran Pancasila di Perguruan Tinggi

    Dosen UNITRI Ikuti Pelatihan Nasional BPIP, Perkuat Pembelajaran Pancasila di Perguruan Tinggi

    SEMARANG,SELATANINDONESIA.COM — Upaya memperkuat pembelajaran Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas para dosen. Salah satunya melalui Pelatihan Dosen Pendidikan Pancasila yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Semarang, Jawa Tengah, pada 23–27 Februari 2026 lalu.

    Sekitar 200 dosen dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia mengikuti pelatihan tersebut. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama bagi para pengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila untuk memperdalam materi, metode pengajaran, sekaligus bertukar pengalaman tentang tantangan menanamkan nilai-nilai kebangsaan di tengah dinamika zaman.

    Dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang, dua dosen hadir sebagai peserta, yakni Agustinus Ghunu dan Dewi Citra Larasati. Keduanya lolos seleksi nasional yang dilakukan BPIP untuk mengikuti program peningkatan kompetensi dosen Pendidikan Pancasila tersebut.

    Agustinus Ghunu dalam keterangan tertulisnya mengaku bersyukur akhirnya dapat mengikuti pelatihan tersebut setelah sebelumnya beberapa kali mengikuti proses seleksi namun belum berhasil.

    Menurut dia, pelatihan ini memberikan banyak perspektif baru tentang bagaimana mengajarkan Pancasila secara lebih kontekstual kepada mahasiswa.

    “Banyak hal berharga yang kami peroleh. Salah satunya tentang model-model pembelajaran Pancasila yang dapat diterapkan di perguruan tinggi agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dihayati dalam kehidupan sehari-hari,” kata Agustinus.

    Pelatihan Dosen Pancasila Angkatan V ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya telah dilaksanakan BPIP di berbagai daerah. Program tersebut menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat internalisasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan pendidikan tinggi.

    Selama lima hari kegiatan, para peserta mengikuti berbagai sesi diskusi, kuliah umum, hingga praktik metode pembelajaran. Beragam latar belakang akademik dan pengalaman para dosen peserta justru memperkaya dinamika diskusi.

    Dalam kegiatan tersebut, Agustinus juga mendapat kepercayaan dari peserta lain untuk menjadi ketua kelas. Ia bahkan mewakili seluruh peserta menyampaikan pesan dan kesan pada acara penutupan pelatihan.

    Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pelatihan tersebut bukan sekadar agenda formal peningkatan kapasitas dosen, melainkan juga ruang refleksi bagi para pendidik.

    “Pelatihan ini menjadi ruang perenungan dan peneguhan jati diri kami sebagai dosen—sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus penjaga nilai-nilai kebangsaan di perguruan tinggi,” ujarnya.

    Ia menambahkan, Pancasila tidak dapat dipandang hanya sebagai dasar negara yang bersifat normatif. Lebih dari itu, Pancasila merupakan sistem nilai yang hidup dan harus terus diaktualisasikan melalui pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

    Dalam sambutannya, Agustinus juga mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang pernah mengatakan, “Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

    Menurut dia, kutipan tersebut mengingatkan bahwa potensi generasi muda Indonesia sangat besar. Namun potensi tersebut perlu diarahkan melalui pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga integritas moral dan komitmen kebangsaan.

    Ia menilai dosen Pendidikan Pancasila memiliki tanggung jawab penting dalam proses tersebut. Selain mengajar, dosen juga harus menjadi teladan dalam menjunjung kejujuran akademik dan keberpihakan pada nilai-nilai kebenaran.

    Dalam kesempatan itu pula, Agustinus menyinggung upaya UNITRI yang sejak 2023 mengusulkan tokoh nasional Ali Sastroamidjojo sebagai calon Pahlawan Nasional. Usulan tersebut hingga kini masih dalam proses pengajuan kembali dengan harapan dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2026.

    Menurut dia, upaya tersebut merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai Pancasila, terutama sila kemanusiaan dan keadilan sosial, melalui penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang berjasa dalam sejarah bangsa.

    Di akhir sambutannya, Agustinus menegaskan bahwa keberagaman tetap menjadi kekuatan utama Indonesia.

    “Keberagaman kita ibarat pelangi—indah karena berwarna-warni. Indonesia kuat karena kebhinekaannya,” katanya.

    Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan menjaga ideologi bangsa tidak pernah selesai.

    “Tantangan boleh berubah, tetapi komitmen menjaga persatuan tidak boleh goyah. Semoga langkah kecil kita hari ini menjadi bagian dari ikhtiar besar menjaga Indonesia.*/llt

  • BPIP dan Umbu Rudi Kabunang Bangkitkan Spirit Pancasila di Waingapu

    BPIP dan Umbu Rudi Kabunang Bangkitkan Spirit Pancasila di Waingapu

    BPIP dan Anggota DPR RI Umbu Rudi Kabunang  berkomitmen, Sumba Timur dan NTT harus jadi barisan depan penjaga ideologi bangsa.

    WAINGAPU,SELATANINDONESIA.COM  – Terik matahari siang itu, Rabu (6/8/2025) tak membuat enam gadis Sumba Timur kehilangan irama. Di pelataran Kantor DPD II Partai Golkar Sumba Timur, mereka menari gemulai dalam lenggak-lenggok tarian Paaka, sebuah tarian sakral penyambut pahlawan perang, yang kini dipersembahkan bagi tamu negara: Anggota Komisi XIII DPR RI Dr. Umbu Rudi Kabunang dan Kepala Biro Pengawasan Internal Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Purno Utomo.

    Diiringi suara gong dan kenangan budaya, para gadis dari Sanggar Ori Angu Lambanapu itu mempersembahkan juga tarian kolosal yang merangkum mozaik tari tradisional Sumba Timur. “Tarian ini adalah bentuk hormat kami kepada para tamu yang datang membawa nilai,” ujar Stevani, pemimpin sanggar, sambil tersenyum.

    Nilai yang dimaksud adalah Pancasila.

    Kehadiran Umbu Rudi dan Purno Utomo siang itu bukan sekadar safari kelembagaan. Mereka datang membawa misi ideologis: menanam kembali akar-akar Pancasila dalam kehidupan masyarakat, melalui program Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila. Hampir 400 warga dari berbagai profesi dan usia memenuhi halaman kantor partai berlambang pohon beringin itu. Banyak yang mengaku kecewa karena tak diundang.

    “Saya mohon maaf kepada para keluarga saya di Waingapu dan Sumba TImur yang belum diundang hadir. Ini karena keterbatasan kuota dari BPIP,” kata Umbu Rudi dari atas mimbar. “Tapi saya minta ke depan, peserta ditambah jadi 1.000 hingga 2.000 orang. Sumba Timur harus menjadi laboratorium kebangsaan.”

    Umbu Rudi menyoroti fenomena globalisasi dan arus informasi yang tak lagi mengenal batas. Perang di Timur Tengah, konflik ekonomi-politik di Eropa, ujar Umbu Rudi, bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia. “Kita harus jaga rumah kita: Indonesia, NTT, Sumba Timur, RT kita, bahkan keluarga kita. Supaya tidak terpapar ideologi lain yang merusak akar kebangsaan kita.”

    Ia menyebut BPIP sebagai “garda ideologis Republik” dan mengaku tengah memperjuangkan penguatan kewenangan lembaga itu di parlemen. “Kami sedang mengawal RUU BPIP agar lembaga ini punya taring dan daya jangkau sampai ke daerah.”

    Pernyataan itu diaminkan oleh Purno Utomo. Dalam nada tenang, birokrat senior BPIP itu menyampaikan rasa takjubnya atas kehidupan toleransi dan praktik kebajikan Pancasila di Waingapu. “Saya melihat sendiri bagaimana orang muda, orang tua, semua hidup dalam nilai-nilai itu. Ini yang membuat kami yakin: kerja pembinaan ideologi harus sampai ke desa,” katanya.

    Ia menyampaikan sejarah panjang lahirnya Pancasila—dari pidato 1 Juni Bung Karno, hingga deretan lambang dan makna lima sila yang kini mulai dilupakan generasi muda. “Kita dulu punya P4, BP7, Pendidikan Moral Pancasila. Tapi sejak 1998 semua itu hilang. Sekarang banyak anak muda bahkan lupa mengucapkan Pancasila.”

    Menurut Purno, kebangkitan kembali nilai-nilai dasar negara adalah keniscayaan. “Jangan sampai kita hanya jadi penonton ideologi lain yang masuk dan memecah kita. Karena yang bisa menyatukan kita bukan uang, bukan kekuasaan, tapi ideologi: Pancasila.”

    Ia juga melempar kuis ringan kepada peserta. “Masih ingat lambang sila pertama?” tanyanya. Seorang siswa menjawab, “Bintang!” Disambut tepuk tangan.

    Selain Umbu Rudi dan Purno, tampil pula Pdt. Abraham Litinau—tokoh agama dan budaya Sumba, serta dua tokoh muda: Herman Hilungara dan Umbu Aryad. Pdt. Abraham menekankan pentingnya membumikan Pancasila dalam dialog antariman dan budaya lokal. Sementara Herman mengingatkan generasi muda agar tidak larut dalam gaya hidup “semau gue” yang tercerabut dari akar kebangsaan.

    “Anak muda sekarang lebih kenal selebgram daripada pahlawan nasional,” ujar Herman. “Maka perlu ada gerakan kebajikan yang membumikan kembali Pancasila dalam bahasa anak muda.”

    Umbu Aryad menambahkan pentingnya regulasi lokal yang tidak bertentangan dengan semangat Pancasila. Ia mendorong DPRD dan pemerintah daerah menyusun peraturan yang menjunjung keadilan sosial, kesetaraan gender, dan keberagaman.

    Sore itu, matahari belum juga tenggelam saat para peserta mulai bubar. Namun semangat di dada mereka seperti baru menyala. Bukan karena tarian, bukan karena kuis, tetapi karena satu kesadaran lama yang dibangunkan kembali: Pancasila bukan sekadar teks, tapi cara hidup bersama.

    “Sumba Timur harus jadi barisan depan penjaga ideologi bangsa,” ujar Umbu Rudi. Di sisi lain panggung, Purno Utomo mengangguk pelan. Ia tahu, perjuangan ini masih panjang. Tapi dari Waingapu, semuanya bisa dimulai kembali.*/Laurens

     

  • Mimbar Pancasila di Tanarara: Umbu Rudi Kabunang dan BPIP Cetak Relawan Kebajikan dari Sumba Timur

    Mimbar Pancasila di Tanarara: Umbu Rudi Kabunang dan BPIP Cetak Relawan Kebajikan dari Sumba Timur

    WAINGAPU,SELATANINDONESIA.COM – Tanpa sorotan kamera televisi nasional dan jauh dari gemerlap ruang hotel berbintang, mimbar kecil itu berdiri di Gedung Gereja Kristen Sumba (GKS) Tanarara, Kecamatan Matawai La Pawu, Sumba Timur. Di sanalah, pada Selasa (5/8/2025), semangat Pancasila kembali dibangkitkan dari akar rumput oleh Anggota Komisi XIII DPR RI, Dr. Umbu Rudi Kabunang, yang menggandeng Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk meluncurkan Gerakan Penguatan Relawan Kebajikan Pancasila.

    “Pancasila bukan sekadar slogan. Ia harus dihidupi dalam keseharian,” ujar Umbu Rudi membuka forum. Bukan sekadar retorika. Ia memilih Tanarara, perkampungan indah dengan jalur jalan berkelok membelah bebukitan di jantung Sumba Timur sebagai lokasi perdana pelaksanaan program legislatornya bersama BPIP.

    Dari panggung sederhana itu, Umbu Rudi memulai narasi kebangsaan dari tempat yang sering luput dari agenda negara: desa. “NTT ini Nusa Terindah Toleransinya,” tegasnya. Bagi dia, tugas seorang wakil rakyat tidak berhenti pada lantang melawan intoleransi di parlemen atau media, tapi juga pada menanamkan nilai-nilai Pancasila secara konkret di masyarakat paling pinggiran.

    Menjawab Krisis Nilai

    Tak kurang dari Purno Utomo, Kepala Biro Pengawasan Internal BPIP, Pdt. Abraham Nitinau, tokoh masyarakat Tanarara, hingga Hermanus Hilungara, pemuda lokal yang aktif dalam gerakan sosial, turut menjadi pengisi forum. Mereka berbicara dengan satu irama, pentingnya Pancasila kembali menjadi nafas hidup masyarakat Indonesia, khususnya di tengah derasnya arus globalisasi dan krisis identitas generasi muda.

    “Di tempat lain, acara semacam ini digelar di hotel. Tapi Bapak Dr. Umbu Rudi memilih datang ke desa. Ini sejalan dengan visi BPIP,” kata Purno Utomo. Menurutnya, akar-akar kearifan lokal di Sumba Timur sejatinya telah lama memeluk nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, musyawarah, dan keadilan sosial. “Kita hanya perlu menyulut kembali apinya,” katanya.

    Dari Legislasi ke Lapangan

    Gerakan ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia punya dasar hukum yang kuat: mulai dari UU No. 59 Tahun 2024 tentang RPJPN, hingga Inpres No. 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.

    BPIP menjabarkan sejarah panjang lembaganya, mulai dari BP-7 era Orde Baru, UKP-PIP di masa Presiden Jokowi, hingga kini menjadi BPIP dengan mandat yang lebih sistematis, melakukan sinkronisasi, evaluasi, hingga memberi masukan terhadap regulasi yang bertentangan dengan nilai Pancasila.

    Namun, menurut Hermanus Hilungara, semua itu tidak akan berarti jika tidak menyentuh generasi muda. “Pancasila jangan hanya diajarkan. Ia harus dikisahkan dan diteladankan,” ujarnya.

    Tanarara: Ladang Subur Ideologi

    Mengapa Tanarara? Wilayah ini bukan sekadar titik di peta. Juga bukan sekadar spot wisata yang viral di media soosial dengan lekak-lukuk jalan di bebukitan.  Ia adalah simbol dari Indonesia yang masih memegang erat warisan leluhur. Di tengah lanskap sabana kering, hidup masyarakat dengan solidaritas sosial tinggi. “Tempat ini bukan hanya layak, tapi penting,” ujar Purno Utomo.

    Dalam pandangan BPIP, ada tiga syarat agar Pancasila menjadi ideologi yang hidup: harus diyakini kebenarannya, dipelajari dan dimengerti, serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan Sumba Timur, dalam banyak hal, telah memiliki semua itu secara alami.

    Menuju Gerakan Nasional

    Program ini merupakan bagian dari agenda nasional besar yang digagas bersama Komisi XIII DPR RI dan BPIP. Targetnya jelas: ratusan simpul relawan Pancasila akan dilahirkan dari desa-desa di seluruh Indonesia, dimulai dari tempat seperti Tanarara.

    Dengan pelatihan partisipatif, fasilitasi lokal, dan pendampingan berkelanjutan, para relawan akan menjadi motor penggerak nilai-nilai kebangsaan di komunitasnya masing-masing. Tidak lagi bergantung pada negara pusat, tetapi berakar dari rakyat sendiri.

    Di ujung acara, Umbu Rudi kembali menegaskan komitmennya. “Pancasila bukan milik pemerintah. Ia milik rakyat. Dan rakyatlah yang paling berhak menjaganya,” tutupnya.

    Acara tersebut dihadiri sekitar 300-an orang dari berbagai kalangan usai dan profesi serta diwarnai dengan pemberian hadiah setelah menjawab berbagai pertanyaan bertema Pancasila. Juga diselingi dengan tarian khas Sumba yang bernuansa Pancasila.*/Laurenz

  • Gubernur Melki di Panggung Nusantara: Pancasila, Geopolitik, dan Mimpi Indonesia Raya dari Timur

    Gubernur Melki di Panggung Nusantara: Pancasila, Geopolitik, dan Mimpi Indonesia Raya dari Timur

    Dalam pusaran ketidakpastian global, Gubernur NTT Melki Laka Lena tampil di Senayan membangun jembatan geopolitik dari Timur, membumikan Pancasila sebagai arah strategis menuju Indonesia Raya.

    JAKARTA,SELATANINDONESIA.COM – Gedung Nusantara IV semarak sejak pagi, Selasa (20/5/2025). Karpet merah terbentang, deretan kursi penuh oleh elite nasional dan tokoh daerah. Di tengah sorotan lampu dan kamera, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melki Laka Lena melangkah pasti.

    Ini bukan sekadar kehadiran formal dalam Sarasehan Kebangsaan bertema “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menghadapi Tantangan Geopolitik Global Menuju Indonesia Raya”. Ini adalah panggung strategis, tempat sang Gubernur muda dari Timur menyampaikan kegelisahan sekaligus visinya tentang Indonesia di tengah dunia yang sedang berubah cepat.

    “Geopolitik bukan isu orang pusat saja,” ujar Gubernur Melki kepada SelatanIndonesia.com usai sarasehan yang dibuka langsung oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani. “Kita di Timur juga merasakan dampaknya, dari krisis energi sampai ketimpangan pembangunan. Tapi dari sini juga, solusi bisa lahir.”

    Melki tak sedang berbasa-basi. Dalam beberapa bulan terakhir, ia menggagas platform dialog antara provinsi kepulauan seperti NTT dengan kementerian strategis terkait ketahanan pangan, energi, dan mitigasi perubahan iklim. Di forum ini, ia kembali menegaskan bahwa Pancasila harus menjadi fondasi utama dalam merumuskan kebijakan responsif terhadap perubahan geopolitik global.

    Ketegangan ekonomi dunia, pemanasan global, konflik energi, hingga transformasi digital telah menciptakan efek domino yang sampai ke desa-desa kecil di Pulau Flores dan Sumba. “Jangan sampai narasi geopolitik hanya hidup di ruang akademik atau debat elite. Ia harus membumi di kebijakan, termasuk menyentuh nelayan, petani, dan warga yang menyalakan lampu dari panel surya di pelosok,” kata Gubernur Melki.

    Sarasehan yang digelar oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini menjadi ajang strategis lintas sektor dan lintas daerah. Gubernur Melki menekankan perlunya sinergi nyata antara pusat dan daerah, serta penegasan kembali bahwa Pancasila bukan hanya warisan, melainkan alat baca dan arah navigasi bangsa menghadapi perubahan global.

    Di antara para pembicara, sosok Gubernur Melki mencuri perhatian. Tak hanya karena kapasitasnya sebagai kepala daerah, tetapi karena keberaniannya membawa isu geopolitik ke ruang-ruang konkret diantaranya pangan, air, energi, dan solidaritas kebangsaan. “Kita harus berani memikirkan Indonesia dari Timur. Dari sini, Indonesia bisa belajar banyak hal mulai daya tahan, solidaritas lokal, dan inovasi dalam keterbatasan,” katanya.

    Saat acara usai, para peserta berkerumun, berdiskusi hangat. Tapi Gubernur Melki sudah lebih dulu pamit. Agenda di Jakarta padat, tapi pikirannya tetap ke NTT ke petani jagung di Timor, anak-anak sekolah di Adonara, dan nelayan yang bertahan di Laut Sawu. Di balik panggung Senayan, Gubernur Melki sedang menata geopolitik dari pinggiran demi Indonesia yang lebih adil dan berdaulat.*/laurens leba tukan