WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Di tengah tantangan rendahnya minat baca yang masih membayangi sejumlah daerah di Indonesia, Kabupaten Sumba Barat memilih menyalakan sebuah harapan baru dari halaman kantor bupati. Di tempat itulah, Sabtu (2/5/2026), Pemerintah Kabupaten Sumba Barat mendeklarasikan Gerakan “Sumba Barat Membaca” sebagai langkah serius membangun fondasi pendidikan yang lebih kuat melalui budaya literasi.
Deklarasi yang berlangsung terbuka dan melibatkan berbagai unsur pendidikan itu dipimpin langsung oleh Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, SH. Hadir pula Wakil Bupati Thimotius T. Rangga, pimpinan organisasi perangkat daerah, Bunda Literasi, para kepala sekolah, hingga ratusan pelajar yang menjadi saksi sekaligus bagian dari komitmen besar tersebut.
Di hadapan peserta kegiatan, Bupati Yohanis Dade menegaskan bahwa masa depan daerah tidak semata ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi terutama oleh kualitas manusia yang mengisinya. Melalui program Sumba Barat Pintar, pemerintah daerah, katanya, terus menempatkan literasi, numerasi, dan pendidikan karakter sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia.
“Gerakan Sumba Barat Membaca ini adalah langkah nyata untuk menjawab tantangan rendahnya minat baca di masyarakat, khususnya di kalangan pelajar,” ujar Yohanis dalam sambutannya yang disambut antusias peserta kegiatan.
Ia tidak menutup mata bahwa persoalan literasi di Sumba Barat masih memerlukan kerja keras bersama. Rendahnya kebiasaan membaca, keterbatasan akses bacaan di sejumlah wilayah, hingga belum kuatnya budaya literasi di lingkungan keluarga dan masyarakat menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara kolektif.
Karena itu, ia menekankan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni, melainkan harus menjadi gerakan sosial yang hidup di rumah, sekolah, dan ruang-ruang publik.
“Peran keluarga sangat penting untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini. Sekolah juga harus menjadi ruang yang menyenangkan bagi anak untuk belajar dan membaca,” katanya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, berkomitmen memperkuat ekosistem literasi melalui penyediaan fasilitas perpustakaan, penguatan program literasi sekolah, serta berbagai kegiatan pendukung yang berkelanjutan.
Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan deklarasi bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Sumba Barat.
Dalam deklarasi tersebut, terdapat komitmen untuk memastikan tidak ada lagi anak usia sekolah yang tidak bisa membaca, menjadikan literasi sebagai prioritas utama pembangunan pendidikan, serta menargetkan pengentasan buta aksara secara nyata dalam waktu satu tahun.
Di tengah tepuk tangan para peserta, deklarasi itu seakan menjadi penanda bahwa gerakan literasi di Sumba Barat tidak lagi sebatas wacana. Ia diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama yang hidup di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar program, “Sumba Barat Membaca” diharapkan menjadi momentum perubahan. Dari sebuah daerah yang kaya budaya dan alam, Sumba Barat kini menegaskan ambisinya untuk juga dikenal sebagai wilayah yang melahirkan generasi pembelajar, generasi yang tidak hanya mampu membaca teks, tetapi juga membaca masa depan.*/prokopimSB/llt













Komentar