KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Di tengah semangat membangun ekonomi berbasis desa, Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah mendorong pendekatan yang tak biasa: menanam kopi Robusta bukan sekadar sebagai komoditas, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda.
Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu, menyebut gerakan penanaman kopi sebagai upaya โmencintai generasi melalui tanah dan kerja keras orang tua hari iniโ.
โMenanam kopi Robusta hari ini bukan hanya soal panen, tetapi menanam masa depan anak-anak Sumba Tengah agar cita-cita mereka tumbuh lebih gemilang,โ ujar Paulus dalam percakapan dengan SelatanIndonesia.com di Kupang, Rabu (27/5/2026).
Pernyataan itu disampaikan dalam konteks pengembangan program PK POM PLUS, yang menggerakkan sekitar 100 petani dalam satu hektare lahan embrio kopi Robusta. Model ini dirancang sebagai ruang belajar bersama, sekaligus fondasi ekonomi keluarga berbasis gotong royong.
Menurut Bupati Paulus, skema tersebut bukan hanya soal produksi, tetapi juga pembentukan nilai sosial di tingkat akar rumput. โDi situ kita membangun pondasi ekonomi keluarga sekaligus warisan nilai gotong royong dan tanggung jawab,โ katanya.
Menanam kopi, menanam generasi
Dalam desain yang lebih luas, pemerintah daerah juga menyiapkan pendekatan regenerasi petani melalui program โKopi Mudaโ. Program ini diarahkan untuk melibatkan anak-anak petani dalam proses budidaya, mulai dari pembibitan, pascapanen, hingga manajemen usaha kopi.
Pendekatan ini menjadi bagian dari visi โSejuta Harapanโ yang disebut Bupati Paulus bukan sekadar slogan, melainkan rencana aksi yang terukur di lapangan.
Target produksi dan skema teknis
Dalam pemaparannya, Paulus menjelaskan tahapan teknis pengembangan kopi Robusta yang ditargetkan mulai dari pembibitan hingga panen pertama.
Pada Mei 2026, bibit kopi berada pada fase 15โ30 sentimeter di pembibitan. Jika dirawat dengan baik melalui penyiraman teratur, naungan 50โ60 persen, serta pemupukan organik, bibit disebut dapat tumbuh hingga 80โ100 sentimeter dalam enam hingga tujuh bulan.
Memasuki Desember 2026, bibit yang berusia sekitar 7โ8 bulan dengan tinggi sekitar satu meter direncanakan sudah siap dipindahkan ke lahan tanam.
Adapun panen perdana ditargetkan terjadi pada Desember 2027. Dalam kondisi optimal, kopi Robusta memang dapat mulai berbuah pada usia 18โ24 bulan setelah tanam, meski secara umum tanaman ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai produktivitas stabil.
โYang penting adalah pemangkasan, pemupukan, dan pengelolaan air dijaga,โ ujar Paulus.
Nilai kerja dan โpakta petaniโ
Di luar aspek teknis, program ini juga dibingkai dengan lima prinsip utama PK POM PLUS yang disebut sebagai โpakta petaniโ. Prinsip itu meliputi niat tulus, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja sebagai ibadah.
Kelima prinsip tersebut, menurut Paulus, menjadi landasan etika kerja kolektif petani dalam menjalankan program.
โKesuksesan bukan hanya tentang seberapa pintar kita, tetapi seberapa tulus, keras, cerdas, tuntas, dan ikhlas kita menjalankannya,โ ujarnya.
Prinsip itu sekaligus diarahkan untuk memperkuat integritas, profesionalisme, inovasi, dan kepercayaan dalam pengelolaan sektor pertanian di daerah tersebut.
Ekonomi dan harapan jangka panjang
Melalui pengembangan satu hektare lahan embrio untuk 100 petani, pemerintah daerah berharap tercipta model ekonomi baru yang tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keberlanjutan generasi.
โIni bukan sekadar menanam kopi, tetapi menanam harapan,โ kata Bupati Paulus.
Dengan pendekatan tersebut, Sumba Tengah mencoba merajut ulang hubungan antara kerja orang tua hari ini dan masa depan anak-anak mereka, melalui akar kopi yang tumbuh perlahan di tanah kering, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.*/llt













Komentar