GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Bumi yang Tak Dapat Dihuni

Bumi yang Tak Dapat Dihuni

Bumi yang Tak Dapat Dihuni, Buku Karya editor Majalah New York : David Wallace-Wells

Karya editor Majalah New York : David Wallace-Wells.

Menggambarkan masa depan bumi dengan cara yang tidak biasa: jujur, keras, dan tanpa banyak kompromi. Tidak sekadar berbicara tentang perubahan iklim sebagai isu lingkungan, tetapi sebagai krisis menyeluruh yang menyentuh pangan, air, kesehatan, bahkan stabilitas sosial kita manusia dimanapun.

Tiga ratusan halaman isi buku ini, meliputi empat bab. I. Rentetan. II. Unsur-Unsur Kekacauan (panas maut, kelaparan, tenggelam, kebakaran, bencana tak lagi alami, kekurangan air, laut sekarat, udara yang tak bisa dihirup, wabah akibat pemanasan, ambruknya ekonomi, konflik akibat iklim, sistem). III. Kaleidoskop Iklim (kapitalisme krisis, gereja teknologi, politik konsumsi, Sejarah sesudah kemajuan, etika pada akhir dunia). IV Kaidah Antropik.

Menelisik isinya, mungkin tidak hanya saya, agak nervous. Tetapi tetap optimis bahwasannya kita bisa dan memang harus bisa. Tidak hanya pemerintah. Setiap dan semua orang, bertanggungjawab atas planet ini jika tidak mau sesuatu yang berbahaya itu benar terjadi.

Khusus kita NTT, dampak perubahan iklim, sudah lama dirasakan. Kita adalah daerah dengan iklim kering dengan curah hujan yang terbatas dan tidak merata. Ketergantungan pada sektor pertanian tadah hujan membuat kita sangat rentan terhadap perubahan musim. Ketika hujan terlambat atau terlalu singkat, produksi pangan langsung terdampak.

Bazar Kuliner Bakti Luhur, Dari Dapur Sederhana Lahir Semangat Wirausaha Siswa Sumba Barat Daya

Dalam perspektif yang dijelaskan Wallace-Wells, kondisi ini bukan lagi sekadar โ€œvariasi cuacaโ€, melainkan bagian dari tren besar perubahan iklim global. Ia mengatakan : data Intergovernmental Panel on Climate Change menunjukkan suhu bumi telah meningkat sekitar 1,1ยฐC dibanding era pra-industri. Dampaknya tidak merata. Wilayah tropis seperti Indonesia justru mengalami tekanan yang lebih berat karena berada pada batas toleransi suhu yang sempit. Kenaikan suhu ini dapat memperparah kekeringan, mempercepat penguapan air, dan mengurangi ketersediaan air tanah.

Air, kemudian menjadi soal yang semakin krusial, bukan hanya untuk pertanian tetapi juga untuk kebutuhan dasar kita manusia. Wallace-Wells juga menyoroti bagaimana perubahan iklim dapat memicu krisis pangan. Produksi jagung, padi ladang, dan komoditas lokal lainnya sangat bergantung pada pola hujan. Ketika musim tidak menentu, hasil panen bisa turun drastis. Dalam beberapa studi, perubahan iklim diperkirakan dapat menurunkan produktivitas pertanian hingga 10โ€“20% di wilayah rentan. Bagi daerah dengan tingkat kemiskinan yang masih relatif tinggi, penurunan ini bukan sekadar angka statistik, tetapi ancaman langsung terhadap ketahanan pangan rumah tangga.

Perubahan iklim juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Suhu yang lebih tinggi dan ketersediaan air yang terbatas meningkatkan risiko penyakit, baik yang berkaitan dengan sanitasi maupun penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk. World Health Organization memperkirakan ratusan ribu kematian tambahan per tahun secara global akibat dampak perubahan iklim. Kita harus berhati-hati dengan akses layanan kesehatan. Hal lainnya adalah ketimpangan. Krisis iklim tidak berdampak sama pada semua wilayah. Daerah dengan sumber daya terbatas cenderung lebih rentan, meskipun kontribusi mereka terhadap emisi global relatif kecil.

Kita NTT, relevan dengan peringatan buku ini. Emisi karbon dari wilayah kita memang sangat kecil dibanding darah kawasan industri, tetapi dampak perubahan iklim dirasakan secara langsung oleh kita juga. Ini menyeret persoalan keadilan.ย  Narasi Wallace-Wells, memaksa kita untuk melihat kenyataan tanpa ilusi, sekaligus mendorong untuk bertindak lebih sungguh. Tidak hanya tentang ancaman, tetapi juga pilihan. Apakah kita akan membiarkan perubahan berjalan tanpa kendali, atau menata secara serius cara hidup dan cara membangun.

Maka, kontekstual, dua point berikut. Pertama, model pembangunan yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi tetapi juga daya dukung lingkungan yang memastikan apa yang disebut keberlanjutan. Ini berarti kita perlu mengembangkan strategi adaptasi yang sesuai dengan kondisi lokal, seperti pengelolaan air yang lebih efisien, diversifikasi tanaman yang tahan kekeringan, serta pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga surya yang potensinya sangat besar di wilayah kita. Kedua, upaya mitigasi.

Bank NTT Waibakul Genjot Ekonomi Lokal Sumba Tengah Lewat Kredit Kendaraan Bermotor

Meskipun kontribusi emisi NTT kecil, transisi menuju ekonomi hijau dapat memberikan manfaat jangka panjang. Perjanjian Paris, perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan lokal secara lebih intens, konkret dan kontekstual. Penggunaan enerji terbarukan, konsumsi bijak, jalan kaki, tanam pohon, reboisasi dan lindungi hutan, kendalikan sampah plastik, sekadar contoh. Pemerintah Provinsi NTT telah memulainya.(*)ย  ย ย ย ย 

Selamat Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional

Lery Rupidara, Kebun Raja Naikoten Satu, 2 Mei 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement