G-RDVF5GTVXM

Blog

  • Jelang Pilkada Flotim, Ketua Agupena: “Bukan Soal Siapa, Tapi Apa dan Bagaimana”

    Jelang Pilkada Flotim, Ketua Agupena: “Bukan Soal Siapa, Tapi Apa dan Bagaimana”

    LARANTUKA,SELATANINDONESIA.COM – Maraknya informasi yang beredar di media sosial, seputar siapa Bupati Flores Timur dalam Pilkada  mendatang, Ketua Agupena Flores Timur angkat bicara. Maksimus Masan Kian, kepada selatanindonesia.com di Larantuka, Senin (17/2/2020) mengatakan, saat ini tidak strategis bicara soal siapa yang akan memimpin Flores Timur dalam Pilkada mendatang, namun yang terpenting adalah, apa dan bagaimana Flores Timur kedepan.

    “Pilkada kita akan terjadi pada tahun 2024, saat ini tahun 2020 dimana kepemimpinan Anton Hadjon dan Agus Boli jalan tiga tahun dan tersisa dua tahun karya pengabdian di Flores Timur. Akan lebih strategis kita bicara soal persentase keberhasilan dalam merealisasikan program dan kendala pencapaian program untuk  kepemimpinan hingga saat ini,” ujar aktifis literasi ini.

    Menurut Maksimus, jikalau ada survei, bisa dilakukan survei program-program mana yang telah direalisir dan program mana yang belum, termasuk dengan catatan kendala yang dialami.

    Sekretaris PGRI Kabupaten Flores Timur ini mengatakan, Flores Timur kelebihan orang pintar, hanya belum terampil dalam memetahkan masalah juga potensi yang bisa dikembangkan dalam meningkatkan kemajuan dan perubahan Flores Timur. “Mestinya anak yang lahir dari rahim Flores Timur dengan segala potensi, pengetahuan, keterampilan dan kepintarannya, memberikan sumbangan pemikiran yang konstruktif dan mampu melahirkan karya nyata untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kritik-kritik kritis sudah saatnya diwujudnayatakan sebagai  persembahan terindah untuk membangun Flotim,” ujarnya.

    Bagi Maksimus, saat ini yang harus lebih banyak tersaji adalah masalah yang dialami di Flores Timur, potensi yang dimiliki, hingga seperti apa figur yang bisa membawa perubahan, dan bagaimana cara ia melakukannya. “Kita batasi diskusi soal siapa. Dominasi diskusi kita adalah tenang apa dan bagaimana yang harus dilakukan untuk perubahan Flores Timur. Jika diskusi dimulai dari siapa, masing-masing akan memasang taring kepentingan, membangun kubu dan yang muncul adalah, diskusi tanpa ujung dan pangkal. Lihat dan belajarlah pada daerah lain, yang dalam keterbatasan bergerak maju. Sudah saatnya kita saling mendukung, bersatu dan fokus bekerja untuk kemajuan dan kemandirian masyarakat Flotim,” ujar Maksimus.

    Terpisah, pegiat senin nasional asal Flotim, Silvester Petara Hurit, mengatakan, Bupati dan Wakil Bupati yang sedang berjalan fokus bekerja. 2 tahun adalah waktu yang berharga untuk benahi dan buat banyak hal bagi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah.

    Sedang partai politik mesti proaktif melakukan pendidikan politik kewargaan, intelektual dan lembaga pendidikan mengiatkan  pencerdasan publik dan masyarakat dituntut lebih kritis, objektif dalam mempersiapkan dan memilih pemimpin di periode berikut, siapapun itu yang penting yang terbaik.

    Terkait wacana seputar nama nama calon Bupati, bagi Silvester tidak masalah. “Untuk saya tidak masalah. Yang penting kita semua fokus bekerja, proses mengancang-ancang siapa calon bupati dan wakil bupati ke depan adalah dinamika yang wajar di tengah media informasi yang kian terbuka ini,” kata Sil.**Iks

    Editor: Laurens Leba Tukan

  • “Guti Nale” Isyarat Kemakmuran di Kampung Mingar

    “Guti Nale” Isyarat Kemakmuran di Kampung Mingar

    LEMBATA,SELATANINDONESIA.COM – Ritual “Guti Nale” di Desa Pasir Putih, Kampung Mingar Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata diyakini sebagai tenda kemakmuran, pembawa rejeki, keselamatan dan kesuburan alam serta hasil panen yang melipah.

    Prosesi adat “Guti Nale” adalah aktifitas masyarakat adat di Mingar ketika mengambil nale (sejenis cacing laut berwarna hijau dan coklat yang sangat halus) untuk dibawah ke darat untuk dimakan, dan jika berkelebihan akan dijual.

    Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menggelar Festival Guti Nale yang dilaksanakan di desa Pasir Putih, Kampung Mingar Kecamatan Nagawutung pada 15-16 Februari 2020. Festival ini telah ditetapkan menjadi agenda rutin Pemda Lembata sehingga dilakukan setiap tahun pada bulan Februari.

    Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur dalam pembukaan seremonial Festival Guti Nale, Sabtu (15/2/2020) mengatakan, festival itu digelar sebagai salah satu strategi pemerintah dalam mengeksploitasi budaya secara ekonomi tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur. “Ini pengembangan atraksi budaya yang dinamakan Festival Guti Nale, untuk menjaga tradisi atau budaya, agar tetap berjalan dan secara turun temurun tetap dijaga kelestariannya,” ujar Bupati Sunur.

    Bupati Sunur menambahkan, kegiatan Festival Guti Nale juga digelar untuk mengeksploitasi hal-hal menarik yang ada di desa, sejalan dengan kebijakan dalam rantai ekonomi #Lembata2.0 khususnya travel village.

    “Dalam travel village adanya kegiatan pengembangan struktur budaya dan pengembangan atraksi dalam rangka tetap menjaga tradisi budaya sehingga tetap terpelihara dan beregenerasi,” ujarnya.

    Ketua DPD II Golkar Kabupaten Lembata ini mengatakan, tradisi ini bukan hanya untuk orang tua saja, tetapi anak-anak muda yang menjadi pilihan orang tua bisa menggantikan posisinya kedepan.

    Kesempatan yang sama, Wakil Bupati Lembata DR. Thomas Ola Langodai memberikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Kecamatan Nagawutung kerena dengan caranya masing-masing mendukung dan turut mensukseskan Festival Nale tahun 2020.

    “Kepada seluruh masyarakat Kecamatan Nagawutung, kami sangat berterima kasih karena sudah sangat membantu pemerintah dalam event ini. Ini kali kedua semenjak tahun 2019 kita lakukan. Kegiatan ini penuh dengan catatan sejarah dan nilai-nilai historisnya. Kita sama-sama perlu merawat sehingga senantiasa tetap eksis”.

    Thomas Ola menambahkan, Festival Guti Nale adalah momentum penting dalam menelusuri keajaiban kukum alam melalui prosesi adat, memastikan kehebatan warisan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal untuk dilestarikan oleh generasi muda.

    Andreas Puri Papang, salah satu tokoh masyarakat Kampung Mingar menaruh bangga kepada Pemkab Lembata karena dengan festival ini, mampu meperkenalkan kepada banyak orang bahwa ada sebuah atraksi budaya yang unik di daerahnya yang senantiasa hidup dan mengakar sampai sekarang. “Pemda Lembata, Bupati dan Wakil Bupati, juga Ketua DPRD Lembata sudah membantu kami melalui Festival Guti Nale ini. Ini tahun ke dua dari kegiatan yang sama di tahun lalu. Kami berharap kedepannya lebih tetap lebih baik lagi,” ujarnya berharap.

    Andreas Puri Papang adalah salah satu tokoh adat yang melakukan ritual adat atau seremonial adat di Koker Bale (tempat sakral berritual) sebelum melakukan serangkaian ritual adat lainnya di Pesisir Pantai Pasir Putih Mingar. Turut hadi dalam acara itu Ketua DPRD Lembata, Piter Gero, Anggota DPRD Piter Bala Wukak, Kadis Pariwisata Apol Mayan, Rombongan Forkopimda, Camat Nagawutung Kalusaba Musatdir SH dan masyarakat Desa Pasir Putih dan warga desa sekitar.** Tedy Laga Making

  • Laka Lena Pimpin Komisi IX Jemput WNI Wuhan di Halim

    Laka Lena Pimpin Komisi IX Jemput WNI Wuhan di Halim

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena memimpin para anggota Komisi IX menjemput langsung para Warga Negara Indonesia (WNI) yang dipulangkan dari Wuhan, China lantaran virus corona yang melanda negeri itu. Para WNI yang disambut langsung di tangga pesawat di bandara Halim Perdana Kusuma itu adalah mereka yang selsai menjalankan masa observasi di Natuna, Provinsi Kepulauan Riau selama 14 hari setelah dijemput dari Wuhan.

    “Kemarin saya bersama teman-teman anggota Komisi IX juga perwakilan Pemda asal dan keluarga dari masing masing WNI eks Wuhan termasuk Gubernur Kalimantan Timur Pak Isran Noor dan pejabat TNI Polri, kami jemput merea di tangga pesawat,” ujar Melky Laka Lena yang dihubungi dari Kupang, Minggu (16/2/2020).

    Ketua Golkar NTT ini menggambarkan, suasana riang gembira serta dengan wajah berserih, para WNI eks Wuhan tidak sabar lagi untuk bertemu keluarganya. “Kami jabatan tangan dan pelukan dengan mereka dengan suka cita,” ujar Melky.

    Dijelaskannya, Menteri Kesehatan dan perwakilan WHO memimpin langsung rombongan pertama untuk menjemput para WNI eks Wuhan di Natuna dengan menggunakan pesawat Boeing milik TNI Angkatan Udara.

    Kementerian Kesehatan melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Achmad Yurianto, mengatakan observasi WNI dari Wuhan yang di Natuna, berakhir pada tanggal 15 Februari 2020 pukul 12.00 setelah itu akan dibawa ke Jakarta.

    ”Rencananya pada jam 7 pagi dari Jakarta menuju Natuna akan berangkat 3 pesawat TNI AU, terdiri dari 2 boeing 737 dan 1 Hercules. Ini adalah sejumlah pesawat yang sama pada waktu menjemput mereka dari Batam ke Natuna,” kata Achmad di Natuna, Kamis (13/2/2020) seperti dikutip rri.co.id

    Warga yang diobservasi sebagian besar adalah mahasiswa dari 30 provinsi (Perempuan 158 orang, Laki-laki 80 orang) dengan usia termuda 5 tahun dan usia tertua 64 tahun, beserta tim KBRI 5 orang, Tim penjemput 24 orang, dan crew Batik Air 18 orang.

    ”Data yang kami miliki saudara-saudara kita yang sebagian besar mahasiswa itu berasal dari 30 provinsi sebarannya paling banyak adalah Jawa Timur 68 orang, Lampung 1 orang, Jakarta 12 orang, Aceh 13 orang, Papua 8 orang, Papua Barat 6 orang, dan seterusnya,” ucap dr. Yuri.

    Pemerintah juga akan menyerahkan kru PT Lion yang menjemput WNI ke Wuhan dan menjalani masa observasi selama 14 hari. ”Ini yang akan dilakukan dalam mengakhiri masa observasi. Selanjutnya hanggar yang digunakan sebagai tempat observasi akan dilakukan desinfeksi,” ujar Yuri.***laurens leba tukan

  • Misionaris Polandia Stanislaw Ograbek, Pelopor Infrastruktur Manggarai Tutup Usia

    Misionaris Polandia Stanislaw Ograbek, Pelopor Infrastruktur Manggarai Tutup Usia

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Dia dikenal warga Manggarai Raya sebagai pastor yang mempelopori pembangunan infrastrutktur khususnya jalan dan jembatan di pelosok Manggarai. Salah satu karya nyata Pastor asal Polnadia ini adalah membuka jalur jalan Pela-Dintor yang saat ini menjadi jalan negara menuju tempat wisata Wae Rebo. Juga jalur jalan ke Satarmese dibuka, termasuk di dalamnya pemahatan tebing.

    Kabar meningalnya P. Stanislaw Ograbek, SVD mengagetkan warga Manggarai di manapun berada. Paul Ragat, salah satu yang mengenal baik Pater Stanislaw kepada selatanindonesia.com Minggu, (16/2/2020) menyebutkan, beberapa bulan lalu, Pater Stanislaw datang kunjung ke Manggarai khususnya di Paroki Todo, tempat dulu Pater Stanislaw berkarya dan membuka isolasi jalan. “Rupanya kedatangan beliau itu merupakan kunjungan terakhir, selamat jalan Pater, bahagia bersama para Kudus di Surga,” begitu ucap Paul Ragat.

    Dikatakan Paul,  P. Stanislaw Ograbek, SVD, meninggal pada hari Sabtu, 15 Februari 2020 Pukul 23.59 WIB. Setelah dari Ruteng, P. Stanislaw pindah ke SVD Provinsi Jawa dan ditugaskan di Palangka Raya. “Di sana beliau mendirikan rumah sakit besar untuk Keuskupan Palangka Raya, dan sekitar bulan November 2019, beliau pindah ke rumah jompo SVD di Batu, Malang, dan menjalankan masa senjanya hingga Tuhan memanggilnya pulang.

    Dikutip dari BeritaSatu.com, P. Stanislaw Ograbek muda tidak pernah berpikir tentang Indonesia pada 1960an, meski dia sadar pilihannya masuk ordo Serikat Sabda Allah (SVD) akan menghantarnya ke ujung dunia sekalipun. Tetapi pada 1965, seorang utusan dari negeri di timur itu menentukan panggilannya sebagai pastor muda di gereja yang sedang berkembang.

    “Seorang utusan dari Gereja Indonesia yang tidak kami kenal tiba-tiba datang ke Polandia untuk meminta bantuan tenaga pendidik di daerah pedalaman di Flores dan Kalimantan,” ujar Ograbek dalam acara peluncuran buku “Bertualang di Ladang Tuhan, 50 Tahun di Pulau Flores dan Kalimantan” di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, beberapa tahun silam.

    Menjawab panggilan itu, Ograbek bersama 19 rekannya akhirnya dikirim ke Indonesia sebagai misionaris. “Sebenarnya ada 21 orang, tapi karena yang seorang tadi masih harus menyelesaikan kuliahnya di universitas. Karena ada peraturan seorang misionaris yang berusia dibawah 26 tahun tidak diperbolehkan menjadi misionaris,” kenang dia.

    Awalnya, lanjut Ograbek, dirinya mengalami sedikit kesulitan untuk mendekati orang-orang Flores dan Kalimantan. Orang-orang Dayak misalnya, adalah orang yang pendiam tapi mereka sangat bersungguh-sunguh dan patuh pada adat kebudayaan. Sedangkan orang-orang Flores adalah orang yang sangat bersemangat, tidak mudah mengeluh, dan sedikit temperamen.

    “Awalnya sulit, karena saya tidak tahu sifat inti mereka. Bahkan saat saya mengucapkan salam, mereka hanya diam dan tidak menjawab, sampai saya berpikir apakah mereka marah pada saya. Tapi lama kelamaan karena sudah tahu jadi semuanya tidak sulit lagi, bagi mereka tidak ada kewajian untuk basa-basi,” tutur dia.

    Dalam kesempatan wawancara dengan wartawan, Ograbek pun mengungkapkan kesannya yang mendalam akan perbedaan-perbedaan yang ada di Flores dan Kalimantan. Menurut dia yang paling berkesan saat berada di Flores dan Kalimantan adalah bagaimana cara yang tepat untuk mendekati orang-orang di dua daerah tersebut yang jelas memiliki perbedaan perilaku.

    “Kesan saya, untuk menghadapi dua kebudayaan ini, kami harus saling menghargai, menghormati, dan tidak berusaha mati-matian untuk menjadikan mereka sebagai pengganti saya melainkan agar mereka tetap mempertahankan identitas mereka,” jelasnya.

    Tetapi berkarya selama 50 tahun di dua pulau dengan beragama suku serta budaya berbeda, tentu buka upaya mudah. Kesulitan terbesar yang dialami Ograbek dan teman-temannya adalah bahasa.

    “Karena kami terdiri dari banyak orang maka kami pun belajar bahasa Indonesia bersama-sama. Kami juga mengikuti kebiasaan orang-orang di Flores dan Kalimantan agar bisa diterima dengan baik oleh warga di sana,” tuturnya.

    Buku berjudul “Bertualang di Ladang Tuhan, 50 Tahun di Pulau Flores dan Kalimantan” itu merupakan buku kedua, hasil terjemahan dari buku pertamanya yang berbahasa Polandia. Karena ada dorongan dari masyarakat di Flores dan Kalimantan serta dari kedutaan besar Polandia yang tertarik dengan isi buku ini maka akhirnya buku terjemahan dalam bahasa Indonesia pun diterbitkan.

    Menurut Ograbek, dirinya membuat buku ini berdasarkan catatan-catatan kecil yang dibuat dan dikumpulkan selama berada di Flores dan Kalimantan. Dia awalnya menulis dalam bahasa Polandia. Namun, karena banyak yang ingin tahu apa yang ditulisnya dalam bahasa Polandia akhirnya mereka mendesak kedutaan besar Polandia agar menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia.

    “Sebenarnya saya takut jika orang lain yang menerjemahkan buku ini karena saya takut hasil terjemahannya tidak sesuai dengan apa yang saya ungkapkan dalam bahasa Polandia. Akhirnya saya sendiri yang menerjemahkan buku ini dengan biaya yang ditanggung oleh kedutaan besar Polandia,” ujarnya.

    Pater Ograbek adalah salah satu misionaris Polandia yang dikirim ke Indonesia pada tahun 1965 dan sejak itu mendedikasikan seluruh hidupnya selama hampir 50 tahun,tidak hanya untuk misi keagamaan, tapi juga untuk pembangunan masyarakat di segala bidang di tempatnya mengabdi.

    Dia telah mengabdi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) sekitar 30 tahun dan di Kalimantan Tengah sekitar 20 tahun. Beliau pun dianugerahi tanda penghargaan Cincin Emas oleh Gubernur NTT saat itu Hendrikus Fernandez atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam pembangunan infrastruktur di provinsi NTT.

    Buku ini menceritakan perjalanan misi Pater Ograbek selama hampir 50 tahun yang sarat dengan ragam nilai dan hikmah. Terdiri dari 40 bab pendek, tiap bab-nya bercerita penggalan pengalaman Pater Ograbek sejak pendaftaran misionaris di Polandia hingga berbagai pengalaman misinya di Flores dan Kalimantan.**laurens leba tukan

  • Selestinus Desak Bareskrim POLRI Ambil Alih Kasus Ansel Wora

    Selestinus Desak Bareskrim POLRI Ambil Alih Kasus Ansel Wora

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Bareskrim Mabes Polri diminta untuk mengambilalih penanganan kasus kematian tidak wajar beberapa warga NTT yang selama ini terkatung-katung penanganannya baik di Polda NTT maupun beberapa Polres di wilayah hukum Polda NTT. Pasalnya, aparat Kepolisian Polda NTT dan di sejumlah Poleres di NTT tidak serius menangani kasus kematian tidak wajar yang diduga sebagai akibat pembunuhan dan penganiayaan.

    Koordinator Tim Penegak Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus mengatakan itu ketika menghubungi selatanindonesia.com dari Jakarta, Minggu (16/2/2020). Disebutkan Petrus, salah satu kasus kematian tidak wajar yang mengehbohkan publik adalah meninggalnya Ansel Wora, ASN pada Dinas Perhubungan Kabupaten Ende yang ditemukan meninggal tidak wajar pada 28 Oktober 2019 di Pulau Ende.

    Selain itu, sejumlah kasus kematian tidak wajar di wilayah hukum Polda NTT seperti alm. Nimrod Tamane, ditemukan mati tidak wajar tanggal 28 Oktober 2018,  alm. Markus Nula, ditemukan mati tidak wajar 11 Desember 2019, di Aesesa, Nagekeo, alm. Herkulanus Uskono dan Michael Alhans, di Kabupaten TTU, namun tidak ditangani secara serius oleh Polda NTT.

    “Masyarakat terutama keluarga korban tentu kecewa dengan kondisi ini, padahal ketika Polda NTT pada 4 April 2017 dinaikan statusnya dari type B menjadi type A, dimana Kapolda NTT harus dipimpin oleh seeorang Irjen Polisi atau bintang dua, maka kenaikan type A ini sangat menggembirakan publik NTT karena kenaikan type A diharapkan membawa perubahan dalam kualitas pelayanan masyarakat sebagai wujud dari program Kapolri menjadikan Polisi Indonesia menjadi Polisi Promoter,” sebutnya.

    Advokad Peradi ini mengatakan, meskipun kenaikan ke type A disertai dengan naiknya pangkat pimpinan Polda, fasilitas bertambah, gaji dan tunjangan ikut dinaikan dengan segala kemudahan akses dalam bertugas serta anggaran ditingkatkan, namun tidak berdampak banyak pada aspek peningkatan mutu pelayanan keadilan bagi warga NTT. “Etos kerja yang diperlihatkan tidak linear dengan kenaikan type A dan fasilitas yang serba memadai yang dinikmati Polda NTT,” sebut Petrus.

    Dia menambahkan, berbagai permasalahan hukum dan kamtibmas yang terjadi di tengah masyarakat kebanyakan tidak tertangani dengan baik. “Ada kesan Polisi kerja asal-asalan. Inilah yang membuat masyarakat kecewa berat terhadap Polisi bahkan untuk penanganan kematian tidak wajar alm. Anselmus Wora dll. di NTT saat ini GARDA NTT di Jakarta minta agar Bareskrim Mabes POLRI segera mengambialih penanganannya dan Kapoldanya dicopot,” ujar Petrus.

    Wakil Direktur Kriminal Khusus Polda NTT, AKBP. Anton CH. Nugroho seperti dilansir kumparan.com ketika beraudiens dengan para pendemo dari Forum Peduli Hukum (FPH) yang menggelar aksi di Polda NTT, Jumat pekan lalu mengatakan, hingga saat ini Polda NTT telah memeriksa 30 saksi. Bahkan, untuk mengetahui hasil autopsy Anton berjanji pada Senin tanggal 10/2/2020, Polda NTT mendatangkan tim dokter dari Pusdokes Bali.

    “Kami tengah berupaya semaksimal mungkin mengungkap kasus ini. Kami sudah datangkan Timlabfor Bali hingga proses autopsi. Soal penyebab kematian, akan diumumkan Senin nanti oleh dokter dari Pusdokes,” ujarnya.

    Dari hasil visum luar, kata dia, ditemukan luka sedalam 4 cm dibagian tengkorak kepala. Meski demikian, belum dipastikan jika luka itu disebabkan oleh benturan benda keras. “Untuk memastikan itu nanti tim dokter Pusdokes yang menjelaskan. Tidak benar penyidik Polda NTT hendak sembunyikan aktor pembunuhan. Kami profesional,” tandasnya.***laurens leba tukan

     

  • Rayakan Hari Kasih Sayang, OSIS SMAN 1 Lewolema Gelar Literasi Kepemimpinan

    Rayakan Hari Kasih Sayang, OSIS SMAN 1 Lewolema Gelar Literasi Kepemimpinan

    LARANTUKA,SELATANINDONESIA.COM – Kreasi unik dilakukan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Negeri 1 Lewolema pada Hari Valetine, Jumat (14/2/2020). Ketika kebanyakan kaum milenial merayakan hari kasih sayang dengan kegiatan pesta dan hura-hura, para pelajar di Lewolema, Kabupaten Flores Timur mengkreasikan kegiatan dengan workshop dasar literasi dan kepemimpinan. Dua kegiatan ini oleh OSIS SMAN 1 Lewolema dipandang strategis dalam menghidupkan wadah resmi di sekolah sebagai ruang belajar menata masa depan.

    Theresia Hewen, Ketua OSIS SMAN 1 Lewolema, berprinsip bahwa, momentum Valentine tidak harus diisi dengan hiburan semata seperti pada umumnya, melainkan dijadikan sebagai kesempatan untuk belajar meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan juga pengalaman.

    “Valentine, Hari Kasih Sayang, oleh generasi muda dipahami sebatas pada gelaran acara hiburan semata. Bagi kami OSIS SMAN 1 Lewolema, dan ini sudah menjadi prinsip bahwa, setiap momentum mesti diisi dengan hal yang bersifat edukasi. Butuh ruang dan waktu yang diefektifkan sebagai ruang belajar mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman,” katanya.

    Dikatakan Theresia, pada momentum Valentine ia dan seluruh siswa menggelar dua kegiatan. Pertama literasi, tentang bagaimana para pelajar menyentuh rasa sebagai inspirasi menulis dan kepemimpinan bagaimana kami melatih kepercayaan diri, dan bertanggungjawab kepada sekolah maupun masyarakat melalui wadah OSIS.

    Sedikitnya 20 Pengurus dan 40 anggota terlibat dalam kegiatan workshop dasar Literasi dan Kepemimpinan di Aula Kantor Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur. Masing-masing peserta hadir membawa alat tulis, buku dan bahan bacaan yang selama ini lewat program literasi sekolah 15 menit membaca, digunakan sebagai sumber dan referensi dalam membaca di sekolah.

    Kepala SMAN 1 Lewolema Yohanes Riberu, dalam sambutan pembukaan mengatakan, salah satu isu strategis bangsa saat ini adalah literasi. Dimana, literasi sudah menjadi gerakan nasional sebagai jembatan pembentukan karakter anak bangsa. Literasi sudah menjadi kebutuhan vital segenap insan pendidikan.

    Disebutkan, melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015, telah diluncurkan regulasi yang mengatur tentang Penumbuhan Budi Pekerti dengan program kongkritnya yaitu pembiasaan siswa membaca buku non mata pelajaran 15 menit sebelum masuk kelas. “Literasi sudah menjadi gerakan nasional sebagai jembatan pembentukan karakter anak bangsa. Literasi sudah menjadi kebutuhan vital satuan segenap insan pendidikan. Dengan demikian, segenap warga sekolah mesti memandang serius dan penting penanaman nilai -nilai literasi di kalangan anak,”kata Yohanes

    Bekas Kepala SMAN 1 Titehena ini menambahkan, selain pentingnya literasi, saat ini bangsa mengalami krisis kepemimpinan. Jika ini dibiarkan, suatu saat nanti kita akan kesulitan mendapatkan pemimpin yang berkualitas dan berbobot. “Seorang pemimpin tidak dilahirkan dan langsung jadi. Pemimpin butuh tangga-tangga latihan. Dan wadah OSIS adalah ruang yang tepat untuk belajar. Kita saat ini sedang krisis kepemimpinan, butuh keseriusan dalam persiapan generasi muda menjadi pemimpin,”ungkap Yohan.

    Maksimus Masan Kian, Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Flores Timur yang tampil sebagai narasumber di acara itu mengatakan,  literasi dan kepemimpinan adalah paket terbaik yang bisa diajarkan kepada siswa dalam menata masa depan.

    “Literasi dan kepemimpinan, ini paket terbaik dalam membentuk karakter dan menanta masa depan generasi muda. Literasi kita dilatih bagaimana berbahasa dengan baik. Kita mendapat ruang dan kesempatan menjadi pembaca yang cerdas dan tekun hingga menjadi penulis yang terampil,” sebutnya.

    Menurut Maksimus, seorang literat, dalm berkomunikasi selalu tertata dengan baik. “Pembicaraannya sistematis dan terstuktur juga berisi, sebab seorang yang literat sudah tentu memiliki banyak referensi. Dan ini, menjadi modal terbaik bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak terlepas dari kemampuan public speaking. Dan salah satu faktor mendukung public speaking seseorang adalah literasi yang baik.  Kualitas pembicaraan seorang pemimpin, gagasan atau ide akan lahir hingga inovasi tercipta jika seorang pemimpin banyak membaca juga menulis. Literasi dan kepemimpinan paket yang luar biasa membentuk pribadi generasi muda,”kata Maksi.

    Para peserta nampak antusias baik pada praktek menulis sederhana, juga mengikuti praktek kepemimpinan seputar manajemen organisasi, membangun kerja sama dan kreasi program kerja,  bagaimana strategi berbicara di depan umum, teknik berdebat, berdiskusi, pidato dan lain-lain.

    Pada puncak kegiatan dirumuskan beberapa program tindak lanjut yang akan dilaksanakan untuk terus mengasah kemampuan dasar yang sudah diterima hari itu.**Iksam.