Gagasan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menggelar Tour de EnTeTe 2026 tak hanya membawa masyarakat melintasi jalanan Nusa Tenggara Timur. Di garis finis Pantai Lasiana, Kota Kupang, kegiatan itu menghadirkan kembali keramaian yang lama dirindukan pedagang kecil. Kelapa muda ludes, dagangan bertambah, dan harapan untuk menghidupkan kembali ekonomi kawasan wisata mulai tumbuh.
KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Tangan Ine bergerak cekatan membelah kelapa muda. Dengan sebilah pisau, perempuan muda asal Rote itu membuka bagian atas buah kelapa, lalu menyajikannya di atas meja berpenutup kuning. Sesekali ia merapikan gelas dan makanan yang tersaji untuk para tamu pagi itu.
Di hadapannya, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena duduk bersama Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo. Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT Abri Kore dan sejumlah wartawan turut berada di sekitar meja. Suasana Pantai Lasiana, Jumat pagi, 6 November 2026, terasa berbeda dari hari-hari biasanya.
Ada kelapa muda segar, buah lontar muda atau saboak, kopi hangat, serta aneka pangan lokal yang disajikan Ine. Bagi perempuan yang menggantungkan penghasilan dari usaha kecil di kawasan wisata itu, pagi tersebut bukan sekadar kesempatan melayani tamu penting. Ada sesuatu yang lebih berarti: dagangannya kembali dicari orang.
Ine tersenyum. Ia mengaku bahagia karena makanan dan minuman yang disajikannya dinikmati langsung oleh Gubernur NTT dan Wali Kota Kupang. Namun, kegembiraannya bukan semata-mata karena kehadiran dua pepimpin tersebut. Keramaian yang tercipta di Pantai Lasiana menjadi hal yang jauh lebih ia rindukan.
“Saya sangat bersyukur, luar biasa. Ini yang sudah sangat kami rindukan sejak lama. Selama ini objek wisata Pantai Lasiana sangat sepi pengunjung. Baru hari ini kami kembali merasakan ekonomi berputar. Ke depannya, semoga semakin banyak kegiatan atau event seperti ini yang dilaksanakan di Pantai Lasiana,” kata Ine.
Bagi sebagian orang, keramaian mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, bagi pedagang kecil seperti Ine, beberapa jam itu bisa menentukan pemasukan harian keluarga. Ada pembeli yang datang, transaksi berlangsung, dan barang dagangan yang selama ini sulit terjual mulai menemukan pasarnya.
Pemandangan serupa terlihat di sejumlah lapak lain di kawasan wisata tersebut.
Ketika Kelapa Muda Menjadi Sumber Harapan
Pelaksanaan Tour de EnTeTe Etape I Rute III dengan lintasan Kabupaten KupangโKota Kupang berakhir di Pantai Lasiana. Kawasan wisata unggulan Kota Kupang itu menjadi titik berkumpul peserta, pendamping, masyarakat, dan pengunjung yang menyaksikan kegiatan olahraga tersebut.
Kehadiran orang dalam jumlah lebih banyak daripada hari biasa menciptakan peluang ekonomi yang langsung dirasakan para pelaku UMKM. Pedagang makanan dan minuman memperoleh tambahan pembeli. Lapak-lapak yang biasanya lengang mendadak lebih sibuk melayani pengunjung.
Vijai, salah seorang pengusaha UMKM di Pantai Lasiana, termasuk yang merasakan perubahan itu. Ia mengaku bersyukur karena seluruh persediaan kelapa muda yang dijualnya habis terjual.
“Puji Tuhan, hari ini kami memperoleh berkat karena pelaksanaan Tour de EnTeTe dengan garis finis di Pantai Lasiana. Kelapa yang kami jual hari ini habis 100 persen. Kegiatan ini sangat berdampak positif bagi kami,” ujar Vijai.
Bagi Vijai, habisnya seluruh stok kelapa muda bukan sekadar catatan penjualan. Itu menjadi penanda bahwa kawasan Pantai Lasiana masih memiliki daya tarik ekonomi apabila didatangi banyak orang.
Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu penyelenggaraan. Pemerintah, menurut dia, dapat menjadikan Pantai Lasiana sebagai lokasi berbagai kegiatan secara rutin, baik bulanan maupun tahunan.
“Semakin banyak orang yang mengenal Pantai Lasiana sebagai salah satu objek wisata. Dampaknya bukan hanya bagi sektor UMKM, tetapi juga pariwisata,” katanya.
Harapan Vijai memperlihatkan persoalan yang selama ini dihadapi pedagang kecil di destinasi wisata. Keberadaan lapak dan produk lokal saja belum cukup untuk mendatangkan pendapatan apabila arus pengunjung tidak stabil. Pedagang membutuhkan pasar, sementara pasar terbentuk ketika orang datang, tinggal, menikmati suasana, dan membelanjakan uangnya.
Tour de EnTeTe, dalam konteks itu, menghadirkan keramaian yang sekaligus menjadi pasar sementara bagi para pelaku usaha lokal.
Dagangan Laku, Stok Harus Ditambah
Imanuel, pelaku UMKM lainnya, juga merasakan perubahan suasana Pantai Lasiana. Ia mengenang bahwa pada hari-hari biasa kawasan tersebut cenderung sepi. Kondisi itu tentu berpengaruh terhadap penjualan.
Namun, pada hari pelaksanaan Tour de EnTeTe, situasinya berubah. Pengunjung berdatangan dan dagangannya laku. Bahkan, persediaan yang disiapkan sebelumnya tidak mencukupi sehingga ia harus membeli stok tambahan.
“Kalau hari biasa, tempat ini selalu sepi. Tetapi puji Tuhan, saya sangat bahagia karena hari ini suasananya ramai dan barang dagangan kami laku terjual. Bahkan, tadi saya sempat membeli stok tambahan karena persediaan sebelumnya sudah habis,” ujar Imanuel.
Ia berharap pemerintah terus menghadirkan kegiatan yang mampu mengundang masyarakat datang ke Pantai Lasiana.
“Kalau bisa, pemerintah terus membuat kegiatan seperti ini, bahkan kalau perlu sebulan sekali,” katanya.
Permintaan Imanuel terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan persoalan yang lebih besar: keberlanjutan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup pada aktivitas pariwisata.
Bagi pedagang kecil, peningkatan kunjungan wisatawan memiliki hubungan langsung dengan pendapatan. Semakin banyak pengunjung, semakin terbuka peluang terjadinya transaksi. Sebaliknya, ketika kawasan wisata sepi, pelaku usaha harus menghadapi ketidakpastian pemasukan, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan.
Karena itu, keramaian yang tercipta melalui Tour de EnTeTe menjadi pengalaman ekonomi yang nyata bagi para pedagang. Mereka tidak hanya menyaksikan kegiatan olahraga, tetapi turut mengambil bagian dalam perputaran uang yang hadir bersama kegiatan tersebut.
Olahraga yang Membuka Pasar Pariwisata
Tour de EnTeTe 2026 yang digagas Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memperlihatkan bahwa kegiatan olahraga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen promosi pariwisata sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.
Peserta pejalan sehat membawa pergerakan manusia ke berbagai daerah yang menjadi lintasan kegiatan. Ketika mereka tiba di suatu destinasi, kebutuhan terhadap makanan, minuman, transportasi, dan berbagai layanan lokal menciptakan peluang usaha.
Pantai Lasiana menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah kegiatan olahraga dapat memberikan manfaat langsung kepada pelaku ekonomi berskala kecil.
Di tempat ini, potensi wisata tidak hanya terletak pada panorama pantai dan suasana alamnya. Ada pula masyarakat yang menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang mencari nafkah. Para pedagang kelapa muda, penjual makanan lokal, dan pengusaha kecil lainnya merupakan bagian dari ekosistem pariwisata yang sering kali luput dari perhatian.
Ketika pengunjung datang, mereka memperoleh kesempatan menjual produk. Ketika transaksi meningkat, uang berputar di tingkat masyarakat. Efek berikutnya dapat menjangkau pemasok bahan baku, petani, pedagang pasar, hingga keluarga yang bergantung pada pendapatan usaha tersebut.
Memang, satu kali penyelenggaraan belum cukup untuk memastikan peningkatan ekonomi berlangsung dalam jangka panjang. Tidak tersedia angka yang menunjukkan total omzet seluruh pedagang atau besaran kenaikan pendapatan UMKM selama kegiatan berlangsung. Namun, kesaksian Ine, Vijai, dan Imanuel memberikan gambaran konkret tentang manfaat ekonomi yang mereka rasakan pada hari itu.
Harapan mereka juga mengarah pada satu kebutuhan penting: kegiatan promosi pariwisata harus berlangsung secara berkelanjutan agar manfaatnya tidak hanya dinikmati pada saat sebuah acara diselenggarakan.
Pemerintah dapat mengembangkan kalender kegiatan wisata, menghubungkan agenda olahraga dengan produk UMKM, serta memastikan para pedagang lokal memperoleh ruang untuk terlibat. Dengan begitu, destinasi wisata tidak hanya ramai ketika ada acara besar, tetapi memiliki aktivitas ekonomi yang lebih teratur.
Dari Garis Finis Menuju Keberlanjutan Ekonomi
Jumat pagi itu, Pantai Lasiana menyuguhkan cerita yang berbeda dari sekadar catatan perjalanan para pesepeda. Di balik garis finis Tour de EnTeTe, ada pedagang yang tersenyum karena dagangannya habis, ada yang harus membeli tambahan stok, dan ada pula yang kembali merasakan suasana ramai setelah sekian lama menunggu pengunjung.
Bagi Ine, kelapa muda dan saboak yang tersaji di atas meja menjadi bagian dari kebahagiaan sederhana. Bagi Vijai, habisnya seluruh persediaan kelapa merupakan rezeki yang patut disyukuri. Sementara bagi Imanuel, kesempatan membeli stok tambahan menjadi pengalaman yang ingin kembali ia rasakan.
Ketiganya memiliki harapan yang sama: Pantai Lasiana jangan kembali sepi.
Gagasan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena melalui Tour de EnTeTe pada akhirnya membuka ruang untuk melihat pembangunan pariwisata dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya dapat dilihat dari jumlah peserta, panjang lintasan, atau kemeriahan seremoni. Ada ukuran lain yang tidak kalah penting, yakni seberapa jauh kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada masyarakat setempat untuk memperoleh manfaat ekonomi.
Sebab, pariwisata bukan hanya tentang keindahan tempat yang dikunjungi. Di dalamnya ada kehidupan orang-orang yang setiap hari menunggu pembeli, menyiapkan dagangan, dan berharap pengunjung datang.
Pagi itu, ketika para peserta Tour de EnTeTe menyelesaikan perjalanan di Pantai Lasiana, cerita lain justru baru dimulai di lapak-lapak kecil milik warga.
Di sana, garis finis bukan akhir perjalanan. Ia menjadi titik awal bagi harapan para pengusaha UMKM agar roda ekonomi Pantai Lasiana kembali berputar.*/cg/llt



Komentar