KEFAMENANU,SELATANINDONESIA.COM โ Ribuan warga memadati Desa Oeparigi, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, Rabu (5/11/2026) pagi. Mereka tidak hanya mengikuti jalan sehat dalam rangka Tour de EnTeTe 2026, tetapi juga mendapat kejutan berupa kesempatan melakukan perjalanan rohani ke Roma dan Tanah Suci Mekah.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengumumkan, lima peserta terbaik pada ajang Tour de EnTeTe akan dipilih untuk memperoleh pembiayaan perjalanan rohani. Peserta beragama Kristen akan mendapat kesempatan berkunjung ke Roma, sedangkan peserta beragama Islam akan diberangkatkan ke Tanah Suci Mekah.
Pengumuman tersebut disampaikan Gubernur Melki saat melepas peserta etape Timor hari kedua yang mengambil titik start di Desa Oeparigi. Lokasi ini berada di kawasan perbatasan Kabupaten TTU dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Diperkirakan lebih dari 1.600 orang mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran peserta dari berbagai kalangan memperlihatkan antusiasme masyarakat terhadap kegiatan yang menggabungkan olahraga, rekreasi, dan semangat kebersamaan itu.
Gubernur Melki mengatakan, pemberian hadiah perjalanan rohani tersebut berawal dari gagasan Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo. Usulan itu dinilainya sebagai terobosan untuk membuat Tour de EnTeTe lebih menarik sekaligus memberikan pengalaman bermakna bagi masyarakat.
“Saya mendapat gagasan cemerlang dari Pak Bupati TTU, Pak Falen Kebo, bahwa Tour de EnTeTe tahun ini kita buat lebih menarik lagi dengan memberikan hadiah berupa perjalanan rohani ke Tanah Suci. Ini ide bagus dan saya harus eksekusi,” kata Gubernur Melki yang disambut sorak gembira peserta.
Program tersebut memberikan dimensi baru bagi Tour de EnTeTe. Kegiatan yang semula menjadi ruang untuk mengampanyekan pola hidup sehat dan memperkenalkan potensi daerah kini juga membawa pesan penghargaan terhadap keberagaman serta kehidupan spiritual masyarakat.
Gubernur Melki saat itu didampingi Kepala Dinas PUPR Benny Nahak, Kepala Biro Adminstrasi Pimpinan Setda NTT Abri Koreh dan sejumlah pimpinan OPD tingkat provinsi NTT. Hadir pula forkopimda kabupaten TTU serta guru-guru dan siswa siswi SMA/SMK di Kabupaten TTU dan TTS.
Perbatasan Bukan Garis Pemisah
Bupati TTU Falen Kebo mengatakan, pemilihan wilayah perbatasan TTU dan TTS sebagai titik pelepasan memiliki makna penting. Perbatasan tidak seharusnya hanya dipahami sebagai garis administratif yang memisahkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Sebaliknya, kawasan perbatasan harus menjadi ruang perjumpaan, persaudaraan, dan kolaborasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Bupati Falen, Tour de EnTeTe merupakan inisiatif positif karena tidak hanya menghadirkan kegiatan olahraga dan rekreasi, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persatuan, mempererat hubungan sosial, serta menumbuhkan kebanggaan sebagai bagian dari masyarakat NTT.
“Ada satu hal yang menurut saya sangat penting dan memiliki makna khusus dari pelaksanaan kegiatan hari ini, yaitu jalan sehat ini mengambil titik pelepasan pada wilayah batas antarkabupaten. Wilayah perbatasan tidak boleh dipandang hanya sebagai garis pemisah administratif, tetapi harus kita maknai sebagai ruang perjumpaan, ruang persaudaraan, dan ruang kolaborasi,” ujar Bupati Falen.
Ia mengingatkan agar Tour de EnTeTe tidak sekadar menjadi perjalanan yang melintasi sejumlah wilayah tanpa meninggalkan manfaat bagi masyarakat setempat.
Karena itu, Bupati Falen mengajak pemerintah dan pihak swasta memberikan perhatian lebih kepada masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur perjalanan. Setiap etape, menurut dia, harus menjadi kesempatan untuk melihat langsung kehidupan masyarakat, mendengar aspirasi, mengenali potensi daerah, dan memahami persoalan pembangunan.
Masyarakat yang berada di sepanjang lintasan perjalanan tersebut harus memperoleh perhatian, kesempatan, serta pelayanan pembangunan yang setara.
Menghubungkan Potensi Antardaerah
Bupati Falen juga menilai, perjalanan Tour de EnTeTe yang menjangkau berbagai kabupaten dan kota, termasuk wilayah kepulauan, membawa pesan bahwa pembangunan NTT harus menjangkau seluruh pelosok tanpa terkecuali.
NTT memiliki kekayaan alam, budaya, tradisi, dan potensi ekonomi yang beragam. Setiap kabupaten dan kota mempunyai keunikan serta keunggulan yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal daerahnya sendiri, tetapi juga semakin memahami kekayaan dan potensi daerah lain. Dengan demikian, tumbuh semangat saling menghargai, mendukung, dan membangun kerja sama antardaerah.
“Tour de EnTeTe bukan sekadar perjalanan dari satu titik ke titik lainnya. Lebih dari itu, ini merupakan perjalanan yang menyatukan semangat, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap Nusa Tenggara Timur,” kata Bupati Falen.
Dalam momentum peringatan HUT ke-68 Provinsi NTT, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menyatukan langkah, tekad, dan hati untuk mewujudkan NTT yang lebih sehat, maju, sejahtera, dan kuat dalam persatuan.
Dari wilayah perbatasan TTU dan TTS, Bupati Falen berharap muncul pesan kuat bahwa pembangunan NTT harus dimulai dari seluruh pelosok, dari setiap desa, komunitas, hingga setiap warga.
Tour de EnTeTe pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial dan olahraga massal. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus menjadi gerakan bersama untuk mempererat persaudaraan, memperkenalkan potensi daerah, serta memastikan masyarakat di sepanjang perjalanan turut merasakan manfaat pembangunan.*/llt



Komentar