SURABAYA,SELATANINDONESIA.COM โ Bagi Soleman Tarandima, keberhasilan tidak berhenti pada pencapaian di dunia usaha. Tokoh muda pebisnis asal Sumba ini menunjukkan bahwa semangat membangun masa depan perlu berjalan beriringan dengan kemauan untuk terus belajar. Gelar Magister Manajemen yang diraihnya menjadi penanda perjalanan akademik sekaligus cerminan nilai pendidikan yang terus dijaga dalam keluarganya.
Soleman mengikuti Wisuda ke-64 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Dalam momentum tersebut, ia resmi menyelesaikan pendidikan magister di bidang manajemen, sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa proses belajar tidak harus berhenti ketika seseorang telah memasuki dunia usaha dan kehidupan profesional.
Bagi seorang pebisnis, pendidikan tinggi bukan semata-mata jalan untuk memperoleh gelar akademik. Pengetahuan, kemampuan membaca perubahan, serta kecakapan mengambil keputusan menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan usaha yang terus berkembang.
Perjalanan Soleman menjadi menarik karena keberhasilannya tidak hanya berkaitan dengan pencapaian pribadi. Di tengah kesibukan dan tanggung jawabnya, ia tetap melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister. Pilihan itu memberikan pesan bahwa pengalaman dalam dunia usaha dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kapasitas intelektual.
Pendidikan sebagai investasi lintas generasi
Nilai pendidikan dalam keluarga Soleman juga terlihat dari perjalanan akademik putra-putrinya. Berdasarkan informasi yang disampaikan keluarga, anak-anaknya telah menyelesaikan pendidikan Strata Dua (S2). Salah seorang di antaranya bahkan telah menempuh pendidikan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn).
Pencapaian tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga. Keberhasilan orang tua menempuh pendidikan tinggi berjalan beriringan dengan dorongan kepada anak-anak untuk terus mengembangkan diri sesuai bidang yang mereka pilih.
Dalam konteks ini, pendidikan tidak sekadar dipahami sebagai capaian individual. Pendidikan juga merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya dapat dirasakan oleh keluarga dan masyarakat.
Ketika orang tua terus belajar dan anak-anak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, terbentuklah tradisi intelektual yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Keteladanan semacam itu menjadi penting, terutama bagi generasi muda yang tengah merintis karier dan membangun usaha.
Bagi masyarakat Sumba, kisah tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya ditentukan oleh keberanian memasuki dunia bisnis, tetapi juga oleh kesediaan memperluas pengetahuan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menyatukan pengalaman usaha dan pendidikan
Sebagai pebisnis asal Sumba, pencapaian akademik Soleman menghadirkan perspektif mengenai pentingnya pembelajaran berkelanjutan dalam dunia profesional. Dinamika usaha menuntut pelakunya untuk mampu beradaptasi, memahami perubahan, serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.
Pendidikan manajemen dapat menjadi salah satu bekal untuk memperkuat kemampuan tersebut. Meski demikian, gelar akademik bukanlah jaminan keberhasilan usaha. Pengetahuan perlu dipadukan dengan pengalaman, kedisiplinan, integritas, dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat.
Karena itu, capaian Soleman dapat dibaca sebagai bagian dari upaya pengembangan diri yang terus berlangsung. Pengalaman di dunia usaha dan pendidikan formal merupakan dua ruang pembelajaran yang dapat saling melengkapi.
Bagi generasi muda di daerah, pesan ini relevan. Merintis usaha dan mengejar pendidikan tinggi bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama, selama didukung komitmen, pengelolaan waktu, dan kemauan untuk terus berkembang.
Wisuda sebagai penanda perjalanan baru
Wisuda ke-64 STIESIA Surabaya yang berlangsung pada 17 Oktober 2026 melibatkan lulusan dari beragam jenjang pendidikan, mulai dari Ahli Madya (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), Doktor (S3), hingga Pendidikan Profesi Akuntan.
Dalam momentum tersebut, Soleman mengabadikan pencapaiannya bersama Ketua STIESIA Surabaya, Prof. Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak., CA. Momen itu menjadi bagian dari perjalanan akademik yang telah dilaluinya hingga meraih gelar magister.
Namun, wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Gelar yang diperoleh justru membuka ruang untuk menerapkan pengetahuan, memperluas wawasan, dan menghadapi tantangan baru dengan perspektif yang lebih matang.
Bagi Soleman, pencapaian ini memiliki dua makna. Pertama, keberhasilan pribadi dalam menyelesaikan pendidikan magister. Kedua, penegasan bahwa semangat pendidikan tetap memiliki tempat penting di tengah perjalanan membangun usaha dan keluarga.
Pada akhirnya, warisan pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk fasilitas atau nasihat. Warisan itu juga tumbuh melalui contoh nyata: orang tua yang bersedia terus belajar, anak-anak yang didorong meraih pendidikan terbaik, dan keluarga yang menempatkan pengetahuan sebagai bekal menghadapi masa depan.
Dari ruang wisuda di Surabaya, kisah Soleman Tarandima membawa pesan yang melampaui seremoni akademik. Bahwa keberhasilan bukan hanya tentang sejauh mana seseorang melangkah, melainkan juga tentang nilai apa yang ditinggalkan dan bagaimana nilai itu diteruskan kepada generasi berikutnya.
Gelar dapat menjadi kebanggaan pribadi, tetapi keteladanan dalam menghargai pendidikan merupakan warisan yang nilainya dapat bertahan jauh lebih lama.*/SR/llt



Komentar