GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Daerah Ekonomi Golkar Gubernur NTT Infrastruktur Kesehatan Nusantara Politik
Beranda / Politik / 87 Orang Meninggal, 150.676 Mengungsi akibat Gempa Flores, Gubernur NTT Ajak Semua Elemen Satukan Langkah untuk Pulih

87 Orang Meninggal, 150.676 Mengungsi akibat Gempa Flores, Gubernur NTT Ajak Semua Elemen Satukan Langkah untuk Pulih

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Bupati Ngada Raymundus Bena di Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Kabupaten Ngada, Sabtu (22/8/2026). foto:oan

BAJAWA,SELATANINDONESIA.COM – Gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali membawa kabar duka. Hingga Sabtu (22/8/2026), jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 87 orang, sementara ribuan warga lainnya mengalami luka-luka dan 150.676 orang mengungsi.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, terdapat penambahan 12 korban meninggal dalam sehari. Dengan demikian, jumlah korban meninggal secara kumulatif mencapai 87 orang.

โ€œPada hari ini, secara kumulatif, jumlah yang meninggal ada 87 jiwa,โ€ kata Berton dalam penyampaian perkembangan penanganan gempa bumi NTT, Sabtu (22/8/2026).

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 31 orang. Berikutnya Manggarai Timur 30 orang, Nagekeo 13 orang, Sikka sembilan orang, Ngada empat orang, Ende dua orang, dan Manggarai Barat satu orang.

Duka akibat gempa juga dirasakan oleh 1.298 warga yang mengalami luka-luka. Sebanyak 336 orang di antaranya mengalami luka berat. Manggarai Timur mencatat jumlah korban luka terbanyak dengan 643 orang, disusul Manggarai sebanyak 285 orang.

Di Tengah Hujatan, Gubernur Melki Ajak Semua Elemen Gotong Royong Pulihkan Flores

Pada saat yang sama, jumlah warga yang mengungsi telah mencapai 150.676 orang. Manggarai menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni 41.427 orang, disusul Nagekeo 34.256 orang dan Manggarai Timur 31.372 orang.

Situasi belum sepenuhnya tenang. BNPB mencatat telah terjadi 5.012 kali gempa susulan. Gempa susulan terbesar berkekuatan magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1. Sebanyak 124 gempa susulan dilaporkan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menyatukan Langkah dari Flores

Di tengah situasi tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena memilih terus bekerja dari Flores. Sabtu (22/8/2026), ia menggelar rapat koordinasi bersama Bupati Ngada Raymundus Bena, BPBD, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, dan jajaran Pemerintah Kabupaten Ngada di Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Kabupaten Ngada.

Rapat itu bukan sekadar membahas angka kerusakan dan kebutuhan bantuan. Pertemuan tersebut diarahkan untuk menyatukan langkah pemerintah dalam menghadapi fase darurat sekaligus mempersiapkan pemulihan Flores.

Di Tengah Tenda Pengungsian: Gubernur NTT Pastikan Warga Tak Berjuang Sendiri, Pemulihan Flores Terus Bergerak

Menurut Gubernur Melki, laporan dan data dari daerah memang penting. Namun, data tersebut harus dipertemukan dengan kenyataan di lapangan.

โ€œLebih pas kalau saya ketemu langsung, meskipun saya sudah lihat data. Data sudah lengkap, tetapi perlu disinkronisasi dan dianalisis bersama,โ€ ujarnya.

Ia meminta pemerintah memastikan tidak ada warga terdampak yang terlewat dari jangkauan bantuan. Akses menuju wilayah-wilayah terisolasi harus terus dibuka dan distribusi kebutuhan dasar dilakukan secara rutin.

โ€œHarapan kita setiap tempat bisa diakses secara rutin. Tidak boleh ada yang tidak bisa makan,โ€ kata Gubernur Melki.

Ketersediaan pangan menjadi salah satu prioritas. Dukungan beras dari Bulog akan dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama kelompok masyarakat paling rentan, hingga beberapa bulan ke depan.

Kebijakan Gubernur NTT โ€œAmbil Dulu, Bayar Kemudianโ€ Mulai Bermanfaat untuk Korban Gempa Flores

Pemerintah juga didorong memanfaatkan kekuatan masyarakat dan kearifan lokal. Di sejumlah wilayah, termasuk Nagekeo, kebutuhan pokok dapat diperoleh masyarakat terlebih dahulu dari toko atau kios setempat, kemudian pembayarannya dilakukan melalui mekanisme yang disiapkan pemerintah.

Jangan Sampai Luka Terabaikan

Gubernur Melki juga meminta perhatian khusus diberikan kepada korban yang terluka akibat tertimpa bangunan. Ia menemukan masih ada warga yang belum mendapatkan pemeriksaan medis karena menganggap luka dapat sembuh sendiri atau memilih pengobatan tradisional.

โ€œBagi yang tertimpa bangunan, kesehatan harus diutamakan. Mereka harus diperiksa,โ€ ujarnya.

Persoalan kesehatan, menurut Gubernur Melki, tidak berhenti pada korban luka. Kondisi pengungsian yang dihuni banyak orang dalam waktu lama juga berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Ketersediaan air bersih, sanitasi, kebersihan, makanan, dan pelayanan kesehatan harus dijaga. Pemerintah perlu mencegah munculnya penyakit di tengah warga yang kehilangan tempat tinggal.

Karena itu, kebutuhan makan, minum, dan kesehatan harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum pemerintah bergerak lebih jauh pada penanganan kerusakan rumah.

Dari Tenda Menuju Hunian Sementara

Tahap berikutnya adalah memastikan warga yang kehilangan rumah tidak terlalu lama tinggal di tenda pengungsian.

Pemerintah menyiapkan skema hunian sementara sambil menunggu pembangunan hunian tetap. Langkah itu dinilai penting karena kehidupan yang terlalu lama berlangsung di tenda dapat berdampak terhadap kesehatan maupun kehidupan sosial masyarakat.

โ€œSambil menunggu hunian tetap, kita buat hunian sementara. Terlalu lama di tenda pengungsian juga tidak baik,โ€ kata Gubernur Melki.

Kementerian Pekerjaan Umum disebut siap menindaklanjuti pembangunan hunian sementara tersebut. Sementara itu, bangunan publik yang terdampak akan diperiksa tingkat kelayakannya oleh tim asesor.

Pemeriksaan mencakup gedung pemerintahan, sekolah, rumah ibadah, hingga fasilitas pelayanan publik lainnya. Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat tidak kembali menempati bangunan yang belum dipastikan aman.

Pembangunan kembali rumah dan fasilitas publik juga harus memperhitungkan kondisi kegempaan. Pemerintah menunggu situasi dinyatakan aman sebelum pembangunan permanen dilakukan.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Bupati Ngada Raymundus Bena di Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Kabupaten Ngada, Sabtu (22/8/2026). foto:oan

Data Menjadi Fondasi Pemulihan

Di tengah besarnya skala bencana, Gubernur Melki mengingatkan pentingnya satu hal yang sering kali menentukan ketepatan kebijakan: data.

Data mengenai korban, kerusakan rumah, fasilitas publik, kebutuhan pengungsi, serta wilayah yang belum terjangkau harus akurat dan terus diperbarui.

โ€œData yang riil dan baik, tepat, itu satu kunci utama pemulihan Flores,โ€ tegasnya.

Karena itu, ia meminta seluruh unsur pemerintahan dan Forkopimda bersama-sama memverifikasi serta menyinkronkan data. Usulan kepada pemerintah pusat harus benar-benar menggambarkan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Dengan data yang kuat, bantuan dapat diarahkan kepada mereka yang paling membutuhkan dan program pemulihan dapat disusun berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar perkiraan.

Pemulihan Tidak Bisa Dikerjakan Sendiri

Gubernur Melki mengingatkan bahwa fase tanggap darurat hanyalah bagian awal dari perjalanan panjang pemulihan Flores.

โ€œIni bisa panjang, enam bulan sampai satu tahun. Karena itu, siapkan stamina dan semangat,โ€ katanya.

Pesan itu ditujukan bukan hanya kepada aparatur pemerintah, tetapi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana.

Pemulihan, menurut dia, membutuhkan kerja bersama. Pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, TNI, Polri, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, tokoh masyarakat, relawan, hingga masyarakat sendiri harus bergerak dalam satu arah.

Bagi Gubernur Melki, berkantor dari Flores bukan sekadar simbol kehadiran pemerintah. Kehadiran itu dimaksudkan untuk memastikan keputusan yang dibuat pemerintah benar-benar berangkat dari kebutuhan warga yang sedang menghadapi masa sulit.

Di tengah 87 nyawa yang telah menjadi korban dan lebih dari 150.000 warga yang harus meninggalkan rumah, Flores menghadapi pekerjaan besar untuk bangkit.

Karena itu, dari Ngada, Gubernur Melki mengajak seluruh masyarakat menyatukan langkah untuk pemulihan. Bencana, menurut semangat yang terus ia sampaikan, tidak boleh membuat masyarakat berjalan sendiri-sendiri.

Flores membutuhkan gotong royong, ketekunan, dan kesabaran untuk kembali berdiri dari memastikan tidak ada warga yang kelaparan, merawat mereka yang terluka, menyediakan tempat tinggal sementara, hingga membangun kembali rumah dan fasilitas publik yang lebih aman.

Pemulihan itu mungkin panjang. Namun, bagi pemerintah dan masyarakat Flores, pekerjaan tersebut harus dimulai dari satu langkah yang sama: bergerak bersama dan memastikan tidak seorang pun tertinggal.*/oan/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement