BORONG,SELATANINDONESIA.COM โ Di tengah tenda-tenda darurat yang menjadi tempat berteduh warga, kekhawatiran tentang kebutuhan sehari-hari masih terasa. Namun, di tempat yang sama, harapan untuk bangkit perlahan tumbuh. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur berupaya memastikan warga terdampak gempa bumi Flores tidak menghadapi masa sulit itu sendirian.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menemui warga yang mengungsi di Waelengga, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Sabtu (22/8/2026). Pertemuan itu menjadi kesempatan bagi gubernur untuk mendengar langsung kebutuhan warga sekaligus memastikan penanganan darurat berjalan hingga ke tingkat pengungsian.
Sejak Kamis (20/8/2026), Gubernur Melki berkantor sementara di Flores. Langkah itu dilakukan untuk mempercepat koordinasi penanganan dan pemulihan pascagempa 15 Agustus 2026 sekaligus memastikan bantuan bagi masyarakat terdampak tersalurkan secara cepat dan terpadu.
Di Waelengga, Gubernur Melki berdialog dengan warga, termasuk para lanjut usia. Dari percakapan tersebut, kebutuhan paling mendesak yang disampaikan warga adalah air dan bahan makanan. Untuk sementara, sebagian kebutuhan tersebut masih dipenuhi secara swadaya.
Pemerintah kemudian menyerahkan bantuan berupa sembako, terpal, air minum, dan tandon air untuk membantu warga bertahan selama berada di pengungsian.
Bagi warga yang masih dihantui kekhawatiran terhadap rumah yang ditinggalkan, Gubernur Melki mengingatkan agar tidak terburu-buru kembali sebelum kondisi dinyatakan aman. Rumah yang rusak juga tidak boleh langsung diperbaiki tanpa memastikan bangunan tersebut tidak lagi membahayakan penghuninya.
โKeselamatan masyarakat adalah yang utama. Jika masih berisiko, jangan memaksakan diri kembali ke rumah. Tunggu sampai situasi dinyatakan aman,โ demikian pesan Gubernur Melki kepada warga.
Pesan pemerintah juga menyentuh persoalan lain yang tak kalah berat: kehidupan ekonomi setelah bencana. Banyak keluarga terdampak tidak hanya kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan rumah, tetapi juga harus memikirkan keberlangsungan usaha dan kewajiban pembayaran pinjaman.
Kepada warga, Gubernur Melki menyampaikan pesan Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Keuangan bahwa masyarakat terdampak bencana yang memiliki pinjaman akan memperoleh toleransi dalam pelunasan sesuai kebijakan pemerintah.
Pesan tersebut diharapkan memberi ruang bagi keluarga terdampak untuk lebih dahulu memulihkan kehidupan mereka tanpa dibayangi tekanan ekonomi yang datang bersamaan dengan bencana.
โBapak, mama, tetap semangat. Kita hadapi bencana ini bersama-sama. Pemerintah akan terus hadir dan membantu selama masa tanggap darurat hingga proses pemulihan,โ kata Gubernur Melki.
Belajar di Tengah Tenda
Dari Waelengga, Gubernur Melki melanjutkan kunjungan ke Seminari Pius XII Kisol, Kabupaten Manggarai Timur. Bangunan lembaga pendidikan tersebut turut terdampak gempa. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan, meskipun struktur utamanya masih dalam kondisi baik.
Sebanyak 31 siswa kelas XII untuk sementara menempati tenda darurat. Di tempat yang jauh dari kondisi belajar ideal itu, mereka tetap berusaha menjalankan aktivitas pendidikan.
Bagi Gubernur Melki, keadaan darurat tidak boleh membuat masa depan anak-anak ikut terhenti.
Ia mengapresiasi para pengelola dan siswa yang tetap menjaga semangat belajar di tengah keterbatasan.
โAnak-anak harus tetap kuat. Kondisi boleh sulit dan tempat belajar boleh sementara, tetapi cita-cita dan masa depan tidak boleh berhenti,โ ujarnya.
Pemandangan para siswa yang tetap belajar di tengah situasi pascabencana menjadi gambaran lain dari proses pemulihan Flores. Pemulihan tidak semata-mata berarti membangun kembali rumah dan infrastruktur, tetapi juga menjaga agar kehidupan sosial, pendidikan, dan harapan masyarakat tetap berjalan.
Gotong Royong Menjadi Kekuatan
Kunjungan Gubernur Melki kemudian berlanjut ke Posko Mandiri Paroki St. Yosef Kisol. Posko tersebut menjadi salah satu titik pelayanan dan distribusi kebutuhan pokok bagi masyarakat terdampak gempa.
Di sana, Gubernur Melki menyerahkan bantuan sembako sekaligus mengapresiasi keterlibatan Paroki St. Yosef Kisol dan Orang Muda Katolik (OMK) yang bergerak cepat mendirikan posko serta membantu menyalurkan bantuan kepada masyarakat.
Gerakan warga, gereja, orang muda, dan lembaga pendidikan itu menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya bertumpu pada pemerintah.
Dalam situasi darurat, solidaritas menjadi bagian penting dari kekuatan masyarakat untuk bertahan. Pemerintah menyediakan dukungan dan koordinasi, sementara masyarakat bergerak dari lingkungan terdekat untuk memastikan kebutuhan sesama terpenuhi.
โPemerintah tidak bisa bekerja sendiri,โ kata Gubernur Melki.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan OMK Kisol, menurut dia, perlu terus dipelihara selama masa tanggap darurat hingga pemulihan.
Pemerintah Provinsi NTT juga memastikan lembaga pendidikan dan komunitas keagamaan yang terdampak akan tetap mendapat perhatian dalam penanganan bencana.
Bagi warga Flores yang masih tinggal di tenda-tenda darurat, pemulihan mungkin belum terlihat sebagai sesuatu yang dekat. Air bersih, makanan, tempat tinggal yang aman, dan kepastian masa depan masih menjadi kebutuhan sehari-hari.
Namun, kehadiran pemerintah di tengah warga, anak-anak yang tetap belajar di tenda, serta orang-orang muda yang memilih turun membantu sesama menunjukkan satu hal: kehidupan belum berhenti.
Dari tenda pengungsian hingga ruang-ruang kelas sementara, Flores sedang memulai kembali langkahnya. Pemerintah berupaya memastikan langkah itu tidak dilakukan sendirian oleh para korban, tetapi bersama seluruh kekuatan masyarakat hingga masa tanggap darurat berakhir dan pemulihan benar-benar berjalan.*/llt



Komentar