GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Daerah Ekonomi Golkar Gubernur NTT Infrastruktur Kesehatan Nusantara Politik
Beranda / Politik / Korban Meninggal Akibat Gempa Flores Capai 83 Orang, Wapres Gibran Siapkan Kelonggaran Kredit, Gubernur Melki Perkuat Pemulihan

Korban Meninggal Akibat Gempa Flores Capai 83 Orang, Wapres Gibran Siapkan Kelonggaran Kredit, Gubernur Melki Perkuat Pemulihan

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena ketika menemui para penyintas bencana alam gempa bumi di Posko Golo Cenggo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Jumat (21/8/2026). foto:prokopimmanggarai

Wapres Gibran dan Gubernur Melki Pastikan Negara Hadir di Tengah Duka Gempa Flores

RUTENG,SELATANINDONESIA.COM โ€” Duka akibat gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 terus bertambah. Hingga Jumat (21/8/2026) pukul 16.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 83 orang meninggal dunia dan 986 orang mengalami luka-luka.

Di tengah situasi itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena turun langsung menemui warga terdampak. Kunjungan tersebut bukan sekadar melihat kondisi pengungsian, tetapi juga memastikan persoalan yang dihadapi warga, mulai dari kesehatan hingga tekanan ekonomi akkhirnya mendapat jalan keluar.

Di Posko Golo Cenggo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, warga menyampaikan salah satu kekhawatiran yang muncul setelah bencana: bagaimana membayar cicilan ketika aktivitas ekonomi mereka belum kembali normal.

Wapres Gibran mengatakan pemerintah tengah mengupayakan masa tenggang pembayaran kredit atau grace period bagi masyarakat terdampak. Kebijakan itu diharapkan memberi ruang bagi warga untuk memulihkan kehidupan terlebih dahulu tanpa dibebani kewajiban pembayaran kredit selama masa tanggap darurat.

Kebijakan Gubernur NTT โ€œAmbil Dulu, Bayar Kemudianโ€ Mulai Bermanfaat untuk Korban Gempa Flores

โ€œNanti akan diberikan sedikit keleluasaan biar tidak terbebani selama masa bencana. Tadi pagi sudah saya koordinasikan,โ€ kata Wapres Gibran.

Bagi warga yang kehilangan rumah, pekerjaan, sumber pendapatan, atau sementara harus tinggal di pengungsian, persoalan kredit bukan sekadar urusan perbankan. Cicilan menjadi bagian dari tekanan ekonomi yang muncul bersamaan dengan kebutuhan untuk memenuhi pangan, kesehatan, pendidikan anak, dan kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, rencana pemberian masa tenggang tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap dampak bencana yang tidak selalu terlihat secara fisik.

Negara Hadir di Tengah Pengungsian

Gubernur Melki yang mendampingi Wapres Gibran menegaskan, Pemerintah Provinsi NTT terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi.

Gubernur Melki Datang ke Poka Bawa Bantuan dan Harapan: Flores Tak Sendiri Menghadapi Gempa

Menurut Gubernur Melki, kehadiran Wakil Presiden di Flores menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat tidak dibiarkan menjadi beban daerah semata.

Kunjungan langsung ke lokasi pengungsian juga menjadi kesempatan untuk melihat kondisi masyarakat secara lebih utuh, termasuk kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, dukungan psikososial, hingga persoalan ekonomi yang mulai dirasakan warga.

โ€œPemerintah harus hadir memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Kita terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar dukungan yang dibutuhkan masyarakat di lapangan bisa segera ditindaklanjuti,โ€ ujar Gubernur Melki.

Bagi Pemerintah Provinsi NTT, penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi bantuan. Masa tanggap darurat harus menjadi jembatan menuju pemulihan kehidupan warga.

Kesehatan dan Anak-anak Menjadi Perhatian

Pra-Launching Kantor Imigrasi Sumba, Sinergi Umbu Rudi Kabunang dan Bupati Umbu Lili Perkuat Pencegahan TPPO serta Dorong Investasi dan Pariwisata

Selain persoalan ekonomi, warga juga menyampaikan kekhawatiran mengenai anggota keluarga yang masih membutuhkan perawatan kesehatan di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian.

Wapres Gibran meminta pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai.

Perhatian juga diberikan kepada kondisi psikologis anak-anak. Di sejumlah lokasi pengungsian, mahasiswa ikut mengambil bagian dalam membantu pemulihan psikososial warga.

Sebanyak enam mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia memberikan pendampingan psikologis awal bagi anak-anak terdampak gempa. Mereka dijadwalkan berada di lokasi selama sekitar satu pekan.

โ€œTeman-teman mahasiswa ini akan tinggal di sini selama satu minggu dan akan membantu memberikan bantuan psikologis awal bagi saudara-saudara kita, khususnya anak-anak,โ€ kata Wapres Gibran.

Pendampingan dilakukan dengan menciptakan ruang aman bagi anak-anak untuk bermain dan mengekspresikan perasaan. Mereka tidak dipaksa untuk kembali menceritakan pengalaman traumatis yang dialami ketika gempa terjadi.

Wapres Gibran mengapresiasi keterlibatan para mahasiswa tersebut. Menurut dia, pemulihan korban bencana membutuhkan kerja bersama, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga masyarakat.

Dari Tanggap Darurat Menuju Pemulihan

Kunjungan Wapres Gibran ke Flores telah berlangsung sejak Kamis (20/8), ketika ia meninjau sejumlah lokasi pengungsian dan rumah sakit di Kabupaten Sikka. Sehari kemudian, Wapres melanjutkan kunjungan ke Manggarai dan Manggarai Timur.

Rangkaian kunjungan itu berlangsung ketika jumlah korban meninggal terus meningkat. Data BNPB per Jumat sore mencatat 83 orang meninggal dan 986 orang terluka.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya pekerjaan yang harus dilakukan pemerintah setelah gempa. Tantangannya bukan hanya menyelamatkan warga pada fase darurat, tetapi juga memastikan mereka dapat kembali membangun kehidupan.

Dalam konteks itu, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting. Pemerintah Provinsi NTT bersama pemerintah kabupaten terus memetakan kebutuhan warga agar bantuan dan kebijakan tidak berhenti pada respons jangka pendek.

Gubernur Melki menegaskan pemerintah daerah akan terus berada di tengah masyarakat selama masa tanggap darurat.

โ€œKoordinasi dengan pemerintah pusat akan terus kita perkuat. Kita ingin memastikan seluruh kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani bersama secara cepat dan tepat,โ€ tegasnya.

Bagi masyarakat Flores, kehadiran pemimpin di tengah pengungsian memiliki arti lebih dari sekadar kunjungan. Di tengah kehilangan dan ketidakpastian, kehadiran negara menjadi pesan bahwa mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian.

Pemulihan memang tidak akan berlangsung dalam semalam. Namun, ketika pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, mahasiswa, relawan, dan masyarakat bergerak bersama, harapan untuk bangkit dari reruntuhan itu tetap terjaga.*/oan/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement