G-RDVF5GTVXM
GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Saat Anak Muda Menjadi Penyambung Cerita Betawi

Saat Anak Muda Menjadi Penyambung Cerita Betawi

Para siswa-siswi SMK PGRI 28 Jakarta. Foto: dok.Eca

Gelak tawa memenuhi salah satu ruang kelas SMK PGRI 28 Jakarta pada Jumat, 5 Juni 2026. Seorang siswa yang mendapat giliran berpantun tampak gugup hingga harus mengulang pantunnya sebanyak tiga kali karena lupa melanjutkan bait berikutnya. Alih-alih membuat suasana canggung, momen tersebut justru mengundang tawa teman-temannya dan para mahasiswa pendamping. Di balik candaan dan suasana santai itu, para siswa tengah mengikuti kegiatan School Mentorship dalam rangkaian program Sorak Betawi Condet.

Program yang diinisiasi mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business tersebut bertujuan mengenalkan budaya Betawi kepada generasi muda melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka. Selain mendapatkan materi mengenai budaya Betawi dan pentingnya pelestarian budaya, para siswa juga diajak memahami cara memanfaatkan media digital sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya kepada masyarakat yang lebih luas.

Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif menjawab pertanyaan, berdiskusi, dan terlibat dalam berbagai sesi interaktif. Suasana semakin hidup saat para peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk membuat konten digital bertema budaya Betawi. Bersama mahasiswa pendamping, mereka saling bertukar ide, merekam video, hingga mengedit hasil karya menggunakan aplikasi CapCut.

Proses pembuatan konten tidak hanya menjadi ajang belajar, tetapi juga menciptakan kedekatan antara mahasiswa dan siswa. Banyak kelompok memilih membuat video di luar kelas sehingga interaksi berlangsung lebih santai dan akrab. Candaan, diskusi, hingga kerja sama selama proses produksi membuat kegiatan terasa lebih seperti pengalaman bersama daripada sekadar pelatihan di dalam kelas. Menjelang akhir acara, antusiasme peserta semakin terasa saat panitia mengumumkan karya terbaik dalam kategori Best Content.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan tren digital, kegiatan ini menunjukkan bahwa budaya Betawi tetap dapat hadir di tengah kehidupan generasi muda. Melalui kreativitas dan konten yang mereka ciptakan, para siswa membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan dengan cara konvensional. Terkadang, sebuah video sederhana yang dibuat bersama teman-teman dapat menjadi langkah kecil untuk memastikan cerita Betawi terus hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.*/eca

Bank NTT Perkuat Ekosistem UMKM Sumba Timur Lewat Bantuan CSR Rp208,5 Juta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement