WAIBAKUL,SEATANINDONESIA.COM โ Lebih dari seratus anak di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit pada Kamis (30/4/2026) setelah mengalami gejala yang diduga akibat keracunan makanan. Peristiwa ini terjadi beberapa jam setelah para siswa mengonsumsi makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Dari laporan yang dihimpun, indikasi mengarah pada dugaan keracunan makanan massal dengan korban yang tersebar di sejumlah wilayah layanan kesehatan. Anak-anak mulai mengalami keluhan sekitar pukul 15.00 WITA, atau sekitar lima jam setelah menyantap makanan yang dibagikan pada pukul 10.00 WITA.
Gejala yang muncul relatif seragam, yakni sakit perut dengan rasa melilit, mual, muntah, serta diare. Kondisi ini lazim ditemukan pada kasus keracunan makanan, terutama yang disebabkan oleh kontaminasi bakteri atau toksin tertentu.
Bupati Sumba Tengah, Paulus S.K. Limu yang dihubungi SelatanIndonesia.com menyebut telah menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah daerah untuk bergerak cepat dan berkolaborasi dalam penanganan kasus ini. Ia meminta keterlibatan lintas sektor, mulai dari tenaga medis hingga aparat desa, guna memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan secepatnya. Selain itu, mobil ambulans juga dikerahkan untuk menjemput anak-anak yang masih berada di rumah agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Wakil Bupati Sumba Tengah, Martinus Umbu Djoka yang dihubungi menyebut, ia sedang memantau langsung evakuasi dan penanaganan anak-anak keracunan di Pusekesmas Wairasa. Disebutkan, makanan yang dikonsumsi para korban terdiri atas daging ayam, tahu, dan buah pisang. Dugaan awal mengarah pada kemungkinan kontaminasi dari ayam beku atau tahu. Namun, pemerintah daerah menegaskan bahwa penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium.
Dijekaskan, tidak hanya siswa yang terdampak. Sejumlah balita dan beberapa guru yang ikut mengonsumsi makanan yang sama juga dilaporkan mengalami gejala serupa. โSeorang balita mengalami keracunan setelah mendapatkan makanan dari Posyandu, sedangkan satu balita lainnya mengalami keracunan setelah menyantap makanan yang dibawa kakaknya dari sekolah. Hal ini memperkuat dugaan bahwa sumber masalah berasal dari makanan yang didistribusikan secara kolektif,โ sebut Wabup Umbu Djoka.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Tengah, Bernard B. Gala mengatakan, jumlah korban mencapai lebih dari 100 anak. Mereka dirujuk ke berbagai fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Waibakul, sejumlah puskesmas, serta klinik setempat.
โSejak sore kami sudah memantau langsung. Anak-anak terus berdatangan dengan keluhan yang sama. Saat sekarang ini masih terus berdatangan,โ ujarnya melalui jaringan telpon.
Meski demikian, status kejadian ini masih dalam tahap dugaan. Untuk memastikan penyebabnya, sejumlah langkah tengah dilakukan, antara lain pengujian sampel makanan di laboratorium, investigasi terhadap proses distribusi dan pengolahan makanan, serta pemeriksaan kemungkinan adanya kontaminasi bakteri atau zat toksin lainnya. Hingga kini di Kabupaten Sumba Tengah baru satu dapur MBG yaitu di Tanahmodu, yang melayani sekitar 1000 anak.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat dalam pengelolaan makanan skala besar. Faktor seperti penyimpanan bahan pangan, terutama ayam beku, kebersihan dapur dan peralatan, serta kontrol suhu selama distribusi menjadi aspek krusial yang tidak boleh diabaikan.
Di tengah situasi ini, masyarakat diimbau untuk segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala serupa. Asupan cairan juga penting untuk mencegah dehidrasi, terutama pada anak-anak. Penanganan cepat dinilai dapat mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Hingga Kamis malam, proses penanganan masih berlangsung dan jumlah korban berpotensi bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan.*/llt













Komentar