WAINGAPU,SELATANINDONESIA.COM โ Malam turun perlahan di halaman Kantor Bupati Sumba Timur, Rabu (22/4/2026). Di tengah suasana hening dan doa yang dipanjatkan, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur memberikan penghormatan terakhir kepada Lukas Mbadi Kaborang, sosok yang pernah memimpin daerah itu pada periode 1994โ1999.
Upacara persamayan jenazah dipimpin langsung oleh Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali. Hadir pula Wakil Bupati Yonathan Hani, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan DPRD, jajaran perangkat daerah, tokoh masyarakat, serta keluarga almarhum.
Suasana berlangsung khidmat. Karangan bunga berjejer, sementara pelayat datang silih berganti, menyampaikan duka dan kenangan. Namun, bagi banyak warga, kepergian Lukas Mbadi Kaborang bukan sekadar kehilangan seorang mantan kepala daerah, melainkan sosok yang meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan sehari-hari mereka.
โAlmarhum adalah pemimpin yang memberi kontribusi besar bagi daerah ini. Semangat pengabdiannya menjadi teladan bagi kita semua,โ kata Bupati Umbu Lili dalam sambutannya.
Warisan yang Tumbuh dari Tanah
Di Sumba Timur, nama Lukas Mbadi Kaborang kerap diingat bukan karena proyek-proyek fisik yang menjulang, melainkan karena sesuatu yang lebih membumi: pangan.
Pada masa kepemimpinannya, sektor pertanian ditempatkan sebagai poros pembangunan. Ia mendorong penanaman tanaman pangan dan hortikultura, termasuk pisang dan jambu mente, yang kala itu belum sepenuhnya dilihat sebagai kekuatan ekonomi jangka panjang.
Puluhan tahun berselang, hasil dari kebijakan itu kini menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Pohon-pohon jambu mente yang berbuah setiap musim, rumpun pisang di pekarangan rumah, hingga ladang-ladang pangan yang menopang dapur keluarga, semuanya menjadi penanda sunyi dari kebijakan yang pernah ia tanam.
Kepala Dinas Pertanian Sumba Timur, Niko Pandarangga dalam unggahanya menulis, kebijakan Lukas Mbadi Kaborang itu bukan sekadar program pemerintah, melainkan fondasi kemandirian.
Pemimpin yang Berbicara Apa Adanya
Lukas Mbadi Kaborang dikenal sebagai pemimpin yang lugas. Ia tidak banyak berputar dalam kata-kata, tetapi langsung pada tindakan. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya keberanian untuk berkehendak dan kesiapan menghadapi tantangan.
Semangat itu dirangkum dalam semboyan yang masih diingat hingga kini: โMbeni Mbuhang, Hangga Opang.โ Sebuah ajakan untuk berani bercita-cita sekaligus bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.
Ia memandang bahwa martabat daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari kemampuan masyarakatnya berdiri di atas kaki sendiri, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Kehilangan dan Kenangan
Prosesi persamayan malam itu berjalan tertib. Para pelayat memberikan penghormatan terakhir, sebagian dalam diam, sebagian lain dengan cerita-cerita kecil tentang sosok yang mereka kenal.
Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menyampaikan terima kasih atas kehadiran berbagai pihak dalam prosesi tersebut. Namun, di luar seremoni resmi, duka itu terasa lebih personal, terutama bagi mereka yang pernah merasakan langsung dampak kebijakan almarhum.
Kepergian Lukas Mbadi Kaborang menandai berakhirnya satu bab dalam sejarah kepemimpinan di Sumba Timur. Namun, seperti tanaman yang ia dorong untuk tumbuh puluhan tahun lalu, warisannya terus hidup di ladang, di pekarangan rumah, dan dalam ingatan masyarakat.
Seorang pemimpin, pada akhirnya, tidak selalu dikenang dari apa yang tampak megah, melainkan dari apa yang tetap bertahan dan menghidupi.*/prokopimST/np/llt













Komentar