KUPANG,SELATANINDONESIA.COMย โ Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kupang, aroma baru mulai menguar. Bukan sekadar rutinitas pembinaan, melainkan harapan yang perlahan dipanggang bersama tepung, ragi, dan semangat untuk memulai kembali hidup dari titik yang berbeda.
Lapas Kelas IIA Kupang pada Rabu (22/4/2026) menggelar pelatihan keterampilan pembuatan roti bagi warga binaan, bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT serta LKA.RI. Program ini menjadi bagian dari langkah pembinaan berkelanjutan yang tidak hanya menekankan disiplin pemasyarakatan, tetapi juga kemandirian ekonomi menjelang masa bebas para warga binaan.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini dirancang padat: enam jam setiap hari, menggabungkan materi motivasi usaha, teori dasar pembuatan roti, hingga praktik langsung mengolah adonan menjadi produk siap jual. Di ruang pelatihan yang sederhana, tangan-tangan yang sebelumnya akrab dengan rutinitas berbeda kini belajar menguleni adonan, mengatur suhu, dan memahami bahwa setiap proses membutuhkan kesabaran.
Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik (Binadik) Lapas Kelas IIA Kupang, Dipson Sarlex Didok, yang juga menjabat Pelaksana Harian Kepala Lapas, menegaskan bahwa pembinaan tidak boleh berhenti pada formalitas. Ia menyebut keterampilan seperti ini harus menjadi jalan nyata menuju kehidupan yang lebih mandiri setelah bebas nanti.
โKami ingin program ini bukan sekadar kegiatan sesaat, tetapi benar-benar menjadi bekal hidup yang bisa digunakan ketika kembali ke masyarakat,โ ujarnya.
Dari sisi mitra kerja, Direktur LKA.RI, dr. Bernadina Novindra Surat Lewowerang, S.Ked, menyebut pelatihan ini sebagai pintu awal dari rangkaian program yang telah disepakati sejak penandatanganan kerja sama pada Februari 2026. Menurutnya, keterampilan produksi roti memiliki potensi ekonomi yang nyata karena dapat dikembangkan menjadi usaha rumahan dengan pasar yang luas.
Ia juga menambahkan bahwa program ini tidak berhenti pada keterampilan produksi semata, tetapi merambah pada pendidikan kesetaraan, pemberantasan buta huruf, hingga pengelolaan lahan pertanian yang lebih produktif.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT, Yosef Rasi, memandang kegiatan ini sebagai ruang pembelajaran yang lebih luas dari sekadar pelatihan teknis. Ia menyebut Lapas sebagai โsekolah kehidupanโ yang memberi kesempatan kedua bagi warga binaan untuk menata ulang masa depan.
โTempat ini bukan hanya ruang menjalani hukuman, tetapi juga ruang belajar untuk kembali ke masyarakat dengan bekal yang lebih baik,โ katanya.
Di antara adonan yang mengembang dan oven yang menyala, pelatihan ini menyimpan satu pesan yang pelan tapi pasti menguat: bahwa keterampilan dapat menjadi jalan pulangโbukan hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial dan ekonomi. Dari ruang sempit di dalam lapas, harapan itu pelan-pelan dibentuk, dipanggang, lalu disiapkan untuk kembali hadir di tengah masyarakat dalam bentuk yang lebih matang.*/ans/llt













Komentar