G-RDVF5GTVXM
GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Gubernur NTT
Beranda / Gubernur NTT / Tangis Maria di Bulan Maria, Melki pun Tak Rela

Tangis Maria di Bulan Maria, Melki pun Tak Rela

Foto Ilustrasi; AHR

Oleh Agung HR – Anggota KUB St. Stefanus Fatululi

 

“Gubernur Melki tampaknya berusaha mengambil posisi sebagai penengah, tidak serta-merta menyalahkan bawahan yang menjalankan proses birokrasi, tetapi juga tidak menutup mata terhadap kesedihan Maria.”

 

Senin malam, kira-kira pukul 18.30 WITA, saya mencoba menelpon Maria Goreti Kara. Suaranya berat. Pelan. Seperti orang yang sudah menangis seharian. Ketika saya meminta untuk bertemu, ia menjawab singkat, โ€œSelepas doa rosario dulu.โ€

Selamat Jalan Umbu Djima, Melki Laka Lena Mengenang Jejak Pengabdian yang Tak Lekang Waktu

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat dalam. Di Bulan Maria yang biasanya dipenuhi doa, lilin, dan harapan, saya menangkap ada air mata yang sedang dititipkan diam-diam kepada Tuhan.

Benar saja. Bersama tiga rekannya, Yasinta Sanggu Doa, Suryani Sinlae, dan David Hadjoh, Maria baru saja diberhentikan sebagai pegawai KONI NTT.

Maria sadar, dirinya hanyalah pegawai sementara. Kontraknya diperbarui setiap tahun. Ia tidak sedang menuntut sesuatu yang muluk. Ia hanya sulit menerima kenyataan bahwa pemberhentian itu datang tanpa alasan yang jelas. Bagi pegawai biasa yang menggantungkan hidup dari gaji bulanan, kehilangan pekerjaan bukan sekadar kehilangan rutinitas, tetapi juga kehilangan pegangan hidup.

Ada cicilan. Ada dapur yang harus tetap berasap. Ada keluarga yang menunggu. Ada masa depan yang mendadak menjadi kabur. Karena itu Maria menangis.

Dan mungkin, malam itu, butir-butir rosario di tangannya menjadi tempat ia menggantungkan kecewa yang tak sanggup dijelaskan dengan kata-kata.

Pemprov NTT dan Sumba Timur Terbaik Kendalikan Inflasi, Gubernur Melki dan Bupati ULP Sabet Insentif Rp3 Miliar

Dalam tradisi iman Katolik, Bulan Maria bukan hanya bulan penghormatan kepada Bunda Maria, tetapi juga bulan permenungan tentang ketabahan hati seorang ibu yang berjalan bersama kehendak Tuhan, bahkan ketika hidup terasa tidak adil. Bunda Maria pernah berdiri di kaki salib, menyaksikan penderitaan anaknya tanpa mampu menolak kenyataan. Namun ia tetap taat, tetap percaya, tetap menyimpan semuanya dalam hati.

Barangkali itulah yang sedang dilakukan Maria Goreti Kara dan kawan-kawannya hari ini, belajar menerima kenyataan pahit sambil berharap Tuhan masih membuka jalan baru.

Di sisi lain, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lenaย  membenarkan langkah bawahannya. Ia mengaku hanya mengikuti proses yang berjalan dari bawah. Ia percaya apa yang dilakukan sudah tepat sebagai bagian dari โ€œpenyegaranโ€ organisasi.

Tentu, dalam birokrasi, pergantian pegawai adalah hal yang biasa. Organisasi memang membutuhkan evaluasi dan pembaruan. Namun dalam keputusan administratif itu, selalu ada sisi kemanusiaan yang tidak boleh hilang. Sebab di balik nama-nama yang diberhentikan itu ada manusia yang hidupnya sedang dipertaruhkan.

Filsuf Emmanuel Levinas pernah mengingatkan bahwa wajah manusia lain selalu menghadirkan tanggung jawab moral. Artinya, sebelum melihat seseorang sebagai angka administrasi, kita harus lebih dahulu melihatnya sebagai manusia.

Riuh Bupati Belu Cup 2026 dan Ambisi Besar Menjadikan Haliwen Venue PON

Gubernur Melki perlu berhati-hati ketika membenarkan pekerjaan bawahan. Apalagi beliau selama ini dikenal sebagai politisi yang lembut, santun, dan memiliki sentuhan personal yang baik terhadap masyarakat. Karakter itu justru perlu dijaga agar kepemimpinan tidak terjebak dalam jarak dingin birokrasi.

Bawahan dan para pendamping politik di sekitar kekuasaan juga perlu diingatkan. Yang menjadi gubernur adalah Melki Laka Lena. Jangan sampai ada yang terserang โ€œsindrom kekuasaan,โ€ merasa paling berhak mengatur birokrasi, menentukan siapa yang ditendang dan siapa yang dipasang, hanya karena merasa dekat dengan pusat kuasa.

Kekuasaan selalu menggoda manusia untuk lupa bahwa jabatan hanyalah titipan. Dalam peristiwa Rosario Mulia, Bunda Maria dimahkotai secara istimewa bukan karena kuasa, tetapi karena kerendahan hati dan kesetiaannya kepada kehendak Tuhan. Di situlah letak makna kekuasaan yang melayani.

Karena itu, organ-organ politik di sekitar kekuasaan perlu menahan diri agar semangat untuk membantu pemerintahan tidak berubah menjadi hasrat ingin berkuasa. Jika dibiarkan, hal seperti ini bukan saja dapat merusak reputasi Melki sebagai gubernur yang santun dan dekat dengan rakyat, tetapi juga mengaburkan cita-cita besar membangun NTT yang maju dan bermartabat.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan hanya terletak pada kuatnya sistem atau segarnya birokrasi, tetapi juga pada kemampuan menjaga harapan orang-orang kecil yang hidup di dalamnya.

Melki pun Tak Rela

Hidup, seperti doa rosario, bergerak dari peristiwa sedih menuju peristiwa mulia. Ada luka, tetapi juga ada harapan. Ada tangisan, tetapi Tuhan sering bekerja diam-diam melalui air mata.

Dalam situasi ini, Gubernur Melki tampaknya berusaha mengambil posisi sebagai penengah, tidak serta-merta menyalahkan bawahan yang menjalankan proses birokrasi, tetapi juga tidak menutup mata terhadap kesedihan Maria dan ketiga rekannya. Pernyataannya bahwa mereka masih mungkin diakomodir pada posisi lain dalam pemerintahan memberi secercah harapan di tengah rasa kehilangan yang mereka alami.

Di titik itu, publik dapat melihat sisi lain seorang Melki sebagai seorang pemimpin yang mungkin memahami bahwa keputusan administratif boleh berjalan, tetapi air mata rakyat kecil tetap tidak boleh diabaikan. Seolah ada pesan yang ingin disampaikan bahwa ia pun tidak rela melihat Maria menangis.

Namun harapan, sebagaimana doa, membutuhkan kesungguhan untuk diwujudkan, bukan sekadar diucapkan. Sebab bagi orang kecil yang kehilangan pekerjaan, kepastian jauh lebih menenangkan daripada janji. Dan dalam kepemimpinan, kepekaan terhadap nasib manusia sering kali lebih dikenang daripada sekadar keputusan administratif.

Semoga air mata Maria di Bulan Maria tidak menjadi akhir dari segalanya. Justru menjadi jalan menuju kehidupan baru yang lebih baik bagi dirinya dan ketiga rekannya. Dan semoga pula, kepedulian Gubernur Melki kepada mereka diwujudkan dengan memberi mereka ruang dan tempat yang layak untuk kembali menjalani hidup secara bermartabat.

Salam AHR

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement