G-RDVF5GTVXM

Tag: Golkar NTT

  • Golkar Bukan Penyalur KUR, Bank NTT Tegaskan Sosialisasi Hanya untuk Perkuat Literasi Keuangan UMKM

    Golkar Bukan Penyalur KUR, Bank NTT Tegaskan Sosialisasi Hanya untuk Perkuat Literasi Keuangan UMKM

    KUPANG, SELATANINDONESIA.COM — Partai Golkar Nusa Tenggara Timur menegaskan bahwa partai tersebut bukan penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan tidak memiliki kewenangan dalam menentukan penerima pembiayaan. Dalam kegiatan sosialisasi KUR bersama Bank NTT, Golkar hanya berperan memfasilitasi pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar memperoleh informasi langsung mengenai skema pembiayaan tersebut.

    Penegasan itu disampaikan di tengah agenda sosialisasi KUR yang digelar pada Kamis (13/8/2026 di sejumlah kabupaten dan kota di NTT dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

    Ketua Panitia HUT ke-81 RI Partai Golkar NTT, Ferdinandus Naga, mengatakan, keterlibatan Golkar dalam kegiatan tersebut sebatas menyediakan ruang dan mempertemukan pengusaha UMKM dengan pihak Bank NTT sebagai lembaga yang memiliki kewenangan menjelaskan sekaligus memproses pengajuan KUR.

    “Partai Golkar hanya memfasilitasi semua pengusaha UMKM di setiap kabupaten dan kota untuk ikut mendengarkan sosialisasi KUR yang ada di Bank NTT,” ujar Ferdinandus.

    Menurut dia, masyarakat perlu memahami batas kewenangan tersebut agar kegiatan sosialisasi tidak dipersepsikan sebagai bentuk keterlibatan partai dalam proses penyaluran kredit.

    Seluruh tahapan pengajuan KUR, kata Ferdinandus, tetap menjadi kewenangan Bank NTT. Mulai dari penerimaan permohonan, pemeriksaan persyaratan, penilaian kelayakan calon debitur hingga keputusan pencairan dilakukan berdasarkan mekanisme dan ketentuan perbankan.

    “Perlu kita tekankan bahwa Partai Golkar hanya memfasilitasi UMKM yang ada di NTT untuk mengikuti sosialisasi KUR tersebut. Terkait proses dan pencairan semuanya tetap mengikuti ketentuan yang ada di Bank NTT,” katanya.

    Bank NTT: Bentuk Sinergi Tingkatkan Literasi Keuangan

    Direktur Kredit Bank NTT Aloysius Geong membenarkan bahwa kehadiran Bank NTT dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai akses pembiayaan.

    Menurut Aloysius, kegiatan yang difasilitasi Partai Golkar itu tidak ditempatkan sebagai mekanisme khusus untuk menyalurkan KUR kepada peserta. Kegiatan tersebut lebih diarahkan untuk membangun pemahaman masyarakat mengenai produk dan ketentuan pembiayaan yang tersedia.

    “Sebenarnya ini bentuk sinergi dan kolaborasi dalam rangka membangun spirit meningkatkan literasi keuangan di masyarakat,” kata Aloysius kepada wartawan, Rabu (12/8/2026).

    Penjelasan tersebut sekaligus mempertegas bahwa keikutsertaan pengusaha UMKM dalam sosialisasi tidak serta-merta berarti mereka akan memperoleh KUR. Setiap calon penerima tetap harus memenuhi persyaratan dan melewati proses penilaian yang ditetapkan bank.

    Dengan posisi tersebut, Golkar berfungsi sebagai fasilitator informasi, sedangkan Bank NTT tetap menjalankan fungsi perbankan sesuai kewenangan dan prosedur yang berlaku.

    Membuka Akses Informasi bagi UMKM

    Ferdinandus mengatakan, sosialisasi diperlukan karena masih terdapat pengusaha UMKM yang belum memahami secara utuh mekanisme pembiayaan KUR, termasuk persyaratan yang harus dipenuhi sebelum mengajukan kredit.

    Karena itu, menurut dia, semakin luas informasi yang diterima masyarakat, semakin besar pula peluang pelaku UMKM yang memenuhi persyaratan untuk mengakses pembiayaan secara benar.

    Golkar juga mendorong berbagai elemen masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam penyebarluasan informasi mengenai KUR. Partai politik, organisasi Cipayung, lembaga keagamaan, perguruan tinggi, sekolah, dan lembaga kemasyarakatan lainnya dinilai dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat.

    “Bank NTT adalah bank daerah NTT yang sudah sepatutnya masyarakat NTT menikmati program pemerintah yang disalurkan melalui KUR pada bank daerah tersebut,” ujar Ferdinandus.

    Namun, ia kembali menekankan bahwa akses terhadap pembiayaan tersebut tetap ditentukan oleh mekanisme Bank NTT. Golkar tidak berada dalam posisi untuk memberikan persetujuan, menentukan penerima, ataupun menjanjikan pencairan KUR kepada pengusaha UMKM.

    Dengan demikian, kegiatan sosialisasi yang digelar bersama Bank NTT diarahkan untuk menjembatani kebutuhan informasi pengusaha UMKM dengan lembaga perbankan. Golkar memfasilitasi pertemuan, sementara Bank NTT memberikan penjelasan mengenai program dan menjalankan seluruh proses pembiayaan sesuai ketentuan.

    Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperluas pengetahuan pengusaha UMKM mengenai KUR, tetapi juga mendorong masyarakat mengakses pembiayaan melalui prosedur perbankan yang resmi dan transparan.*/ab/llt

  • AMPI FUN RUN NIGHT 2026: Seribu Langkah Menyalakan Malam, 40 UMKM Ikut Bertumbuh

    AMPI FUN RUN NIGHT 2026: Seribu Langkah Menyalakan Malam, 40 UMKM Ikut Bertumbuh

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Kupang kembali bersiap menghadirkan warna baru dalam dunia olahraga dan hiburan masyarakat. Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat di kalangan anak muda, DPD AMPI Nusa Tenggara Timur menghadirkan sebuah konsep kegiatan yang berbeda melalui AMPI FUN RUN NIGHT 2026, sebuah ajang lari malam yang diklaim sebagai yang pertama dan terbesar di NTT.

    Kegiatan yang akan berlangsung pada Sabtu (30/5/2026) di Gedung Golkar Provinsi NTT itu diperkirakan melibatkan sekitar 1.000 peserta. Mereka akan menempuh jarak sejauh lima kilometer dengan rute di sekitar Jalan Frans Seda, Kota Kupang.

    Berbeda dari kegiatan lari pada umumnya, AMPI FUN RUN NIGHT mengusung konsep glow in the dark, memadukan olahraga malam dengan nuansa hiburan yang atraktif. Peserta nantinya akan mengenakan atribut bernuansa cahaya sehingga menciptakan atmosfer meriah di sepanjang rute.

    Tak hanya menjadi ajang olahraga, kegiatan ini juga dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi generasi muda, komunitas olahraga, dan pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Sedikitnya 40 UMKM akan dilibatkan untuk menghadirkan aneka produk kuliner dan usaha kreatif khas NTT.

    Ketua DPD AMPI NTT, Antonius Mahemba, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang positif bagi anak muda sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

    Menurut Antonius yang juga anggota Fraksi Golkar DPRD NTT itu, olahraga dapat menjadi medium membangun solidaritas sosial sekaligus menanamkan nilai persatuan, nasionalisme, dan semangat Pancasila melalui aktivitas yang kreatif dan inklusif.

    “AMPI FUN RUN NIGHT 2026 bukan sekadar kegiatan olahraga, tetapi momentum mempererat kebersamaan generasi muda serta mendukung pertumbuhan UMKM lokal di NTT. Kami ingin menghadirkan kegiatan yang sehat, kreatif, dan mampu menjadi ruang hiburan positif bagi masyarakat,” ujarnya.

    Di sisi lain, keterlibatan puluhan UMKM dinilai menjadi peluang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat lokal. Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung diperkirakan akan memberi dampak langsung bagi pelaku usaha kecil yang selama ini terus berupaya memperluas pasar.

    Melalui kegiatan ini, DPD AMPI NTT berharap dapat membangun energi positif di kalangan generasi muda sekaligus memperkuat budaya gotong royong masyarakat menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026.

    Bagi Kota Kupang, kegiatan tersebut juga menjadi penanda tumbuhnya tren sport tourism dan ruang kreatif anak muda yang semakin berkembang di Nusa Tenggara Timur.*/llt

  • Langkah Kecil dari Bajawa: Ketulusan Shinta Maku Djawa untuk Generasi Muda

    Langkah Kecil dari Bajawa: Ketulusan Shinta Maku Djawa untuk Generasi Muda

    BAJAWA,SELATANINDONESIA.COM— Di tengah kesibukan aktivitas politiknya, kepedulian terhadap pendidikan anak-anak tetap menjadi perhatian utama bagi Shinta Maku Djawa. Politisi perempuan dari Partai Golkar Nusa Tenggara Timur itu memilih datang langsung ke sejumlah sekolah di Kota Bajawa, Kabupaten Ngada, untuk menyerahkan bantuan kepada para siswa. pada Kamis (12/3/2026)

    Bantuan tersebut bukan berasal dari program lembaga atau organisasi tertentu. Shinta menegaskan, bantuan itu merupakan inisiatif pribadi yang lahir dari kepedulian keluarganya terhadap kondisi pendidikan anak-anak di daerah.

    Ia mengaku, bantuan yang diberikan mungkin tidak besar. Namun, bagi Shinta, kepedulian kecil yang dilakukan bersama-sama tetap memiliki arti bagi anak-anak yang membutuhkan.

    “Bantuan ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi yang kita rasakan bersama saat ini. Saya hanya bisa membantu sedikit dan itulah yang saya antarkan hari ini. Walaupun belum bisa menjangkau banyak anak, tetapi saya berharap ini bisa memberi manfaat,” ujar Shinta.

    Bagi Shinta, pendidikan merupakan fondasi penting bagi masa depan daerah. Karena itu, perhatian terhadap anak-anak terutama mereka yang sedang menempuh pendidikan perlu terus diperkuat oleh semua pihak.

    Shinta Maku Djawa (baju hitam) bersama tim ketika membagikan bingkina alat tulis sekolah untuk anak-anak di sejumlah sekolah di Bajawa, Kabupaten Ngada, Kamis (12/3/2026). Foto: songkares

    Dalam kegiatan tersebut, Shinta didampingi Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Ngada, Atanasius H. Watungadha, serta pemerhati sosial Telin Woli. Kehadiran mereka menegaskan bahwa kepedulian terhadap pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

    Atanasius H. Watungadha mengapresiasi langkah Shinta dan keluarganya yang dinilai memberi contoh nyata tentang pentingnya perhatian terhadap generasi muda.

    “Kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Ibu Shinta dan keluarga atas kepedulian luar biasa bagi anak-anak Ngada. Ini adalah contoh nyata bahwa perhatian terhadap generasi muda harus menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

    Ia juga mengajak masyarakat untuk terus membangun kolaborasi dalam mendukung pendidikan anak-anak di Ngada agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita.

    Bagi Shinta, langkah kecil seperti ini adalah bagian dari upaya menumbuhkan harapan. Ia percaya bahwa masa depan daerah sangat ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya dipersiapkan sejak sekarang.

    Kepedulian yang ditunjukkan Shinta Maku Djawa diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terlibat dalam mendukung dunia pendidikan, sekaligus memperkuat perhatian terhadap masa depan anak-anak di Kabupaten Ngada.*/llt/songkares

  • Politik Muda di Bumi Flobamora: Teguh Takalapeta dan Golkar NTT yang Bertransformasi

    Politik Muda di Bumi Flobamora: Teguh Takalapeta dan Golkar NTT yang Bertransformasi

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Di ruang rapat DPD I Golkar NTT, suasana rapat perdana terasa berbeda. Bukan hanya karena kursi-kursi dipenuhi wajah baru, tetapi karena hadirnya generasi milenial yang membawa semangat segar ke tubuh partai yang selama ini dikenal mapan. Di sinilah, Teguh Lamentur Takalapeta, M.Fil., menapaki jalannya.

    Putra mantan Bupati Alor, Ansgerius Takalapeta, ini dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Pemenangan Pemilu untuk wilayah Flores Timur, Lembata, dan Alor. Teguh bukan sekadar “anak politik”. Latar belakangnya di organisasi mahasiswa, GMKI dan GAMKI, hingga pendirian Kenari.id, platform sosial-politik untuk kemandirian energi dan ekonomi berkeadilan menjadi bukti bahwa ia membangun langkahnya sendiri.

    “Bagi saya, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Politik adalah benteng melawan apatisme, memastikan kebijakan ekonomi dan pendidikan berpihak pada generasi penerus,” kata Teguh, matanya menyiratkan tekad yang jarang terlihat di ruang politik tradisional.

    Teguh menambahkan, Golkar membuka diri bagi anak muda yang ingin belajar dan berjuang. “Kalau kita tidak mulai bergerak dari sekarang, generasi kita akan mewarisi apatisme. Politik harus dipahami sebagai alat perubahan, bukan sekadar mesin suara,” ujarnya.

    Dari Kanan: Teguh Takalapeta, Sekretaris DPD I Golkar NTT Libby Sinlaeloe, Ketua DPD I Golkar NTT Alain Niti Susanto, Waketum DPP Golkar yang juga Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Ketua Depidar SOKSI NTT yang juga Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dr. Umbu Rudi Kabunang saat Musda XI Golkar NTT, 7 Desember 2025. Foto: SelatanIndonesia.com/laurens Leba Tukan

    Dukungan tokoh senior partai juga nyata. Wakil Ketua Umum DPP Golkar Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Indonesia Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, hadir memberikan arahan dalam rapat. Menurut Melki, Golkar NTT harus hadir di kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan hanya saat pemilu.

    “Kader-kader Golkar harus menjadi penggerak ekonomi rakyat. UMKM, ekonomi digital, dan usaha komunitas harus hidup. Partai politik yang hanya hadir saat pemilu itu sudah ketinggalan zaman,” tegas Melki.

    Di tengah wajah-wajah baru dan strategi pemenangan pemilu, Teguh dan beberapa aktivis milenial lain seperti membakar kembali roh partai di bumi Flobamora. Mereka hadir sebagai penghubung antara pengalaman senior dan idealisme muda, antara tradisi politik dan inovasi sosial-ekonomi.

    Kupang, dengan pesisirnya yang panjang dan pulau-pulau yang tersebar, menjadi saksi lahirnya Golkar versi baru: partai yang tidak hanya mengejar kursi, tetapi juga berani menempatkan anak muda sebagai aktor utama perubahan. Di tangan Teguh, politik bukan lagi arena eksklusif bagi orang tua atau elit lama, tetapi ruang untuk generasi baru menyalurkan energi, gagasan, dan idealisme demi NTT yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

    “Ini bukan perjalanan pribadi saya. Ini perjalanan anak muda NTT yang ingin hadir, belajar, dan berkontribusi nyata. Politik bukan musuh, tetapi teman yang harus kita ajak bekerja sama untuk masa depan,” ujar Teguh yang juga pengurus Depidar SOKSI NTT menutup percakapan, senyum penuh keyakinan di wajahnya.

    Dengan komposisi pengurus baru yang memadukan pengalaman dan inovasi, Golkar NTT menatap 2025–2030 dengan optimisme: politik bukan sekadar kemenangan suara, tetapi juga kemenangan bagi masyarakat.*/alorvibes/llt

  • Pintu Pendaftaran Calon Ketua Terbuka, Golkar NTT Menyongsong Kader Penentu Arah

    Pintu Pendaftaran Calon Ketua Terbuka, Golkar NTT Menyongsong Kader Penentu Arah

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Tahapan suksesi kepemimpinan di tubuh Partai Golkar Nusa Tenggara Timur memasuki fase penting. Steering Committee (SC) Musyawarah Daerah (Musda) XI Golkar NTT resmi membuka pendaftaran bakal calon Ketua DPD I untuk periode mendatang. Pendaftaran berlangsung singkat, hanya dua hari, sejak 5 Desember pukul 10.00 WITA hingga ditutup Sabtu (6/12/2025) malam pukul 22.00 WITA.

    Di Sekretariat Panitia Musda, yang berlokasi di Kantor DPD Golkar NTT, aktivitas tampak meningkat sejak pagi. Beberapa kader mendatangi kantor untuk mengambil formulir pendaftaran, sementara panitia menyiapkan verifikasi berlapis bagi setiap calon.

    Ketua SC Musda XI, Ans Takalapeta, menyatakan bahwa pendaftaran ini merupakan bagian dari tahapan resmi menjelang Musda 2025, yang akan menentukan arah kepemimpinan dan konsolidasi partai di provinsi tersebut.

    “Kami mengimbau seluruh kader yang memenuhi syarat untuk memanfaatkan kesempatan pendaftaran ini. Proses penjaringan dilakukan secara terbuka dan sesuai mekanisme organisasi,” ujar Takalapeta.

    Menurut dia, panitia menetapkan sejumlah persyaratan bagi kandidat ketua. Selain harus menjadi anggota aktif minimal lima tahun dan memiliki pendidikan S1, calon diwajibkan memiliki rekam jejak prestasi, dedikasi, loyalitas, disiplin, dan tidak tercela. Mereka juga wajib lulus pendidikan kader Golkar, memiliki pengalaman kepengurusan minimal satu periode, serta memperoleh dukungan sedikitnya 30 persen dari pemegang suara.

    Calon yang belum memenuhi syarat tertentu masih dapat mendaftar, namun harus mendapatkan persetujuan Ketua Umum DPP Partai Golkar.

    Usai penutupan pendaftaran, SC akan melakukan verifikasi administrasi dan verifikasi faktual untuk memastikan kelayakan setiap calon. Hasil verifikasi tersebut akan menjadi dasar penetapan daftar calon yang berhak maju pada Musda XI.

    Takalapeta berharap seluruh proses berjalan tertib dan memperoleh dukungan penuh dari kader Golkar di seluruh NTT. “Kami berterima kasih atas partisipasi aktif kader. Semoga Musda ini menjadi momentum memperkuat konsolidasi organisasi hingga tingkat akar rumput,” ujarnya.*/ab/llt

  • Pak Harto di Hati Golkar NTT: Doa Syukur, Teladan, dan Jejak yang Tak Lekang

    Pak Harto di Hati Golkar NTT: Doa Syukur, Teladan, dan Jejak yang Tak Lekang

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Langit di atas Teluk Kupang tampak berwarna jingga keemasan, seolah ikut menyapa semangat syukur yang tengah bersemi di Aula DPD I Partai Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (12/11/2025). Dari luar, gedung berwarna kuning itu tampak biasa. Namun malam itu, suasana di dalamnya berbeda.

    Tak ada hiruk-pikuk politik, tak ada seruan kampanye atau rapat partai yang panas. Di ruang utama yang dihiasi foto Presiden ke-2 Republik Indonesia, H. M. Soeharto, Ketua Umum DPP Golkar Bahlil Lahadahlia, Sekjen M. Sarmuji, Bendum Sari Julianti, Ketua DPD I Golkar NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Sekretaris Libby Sinlaeloe, dan Bendahara Alain Nitti Susanto, para sesepuh, kader dan simpatisan Golkar menundukkan kepala. Lagu syukur mengalun dengan penuh semangat, mengiringi doa lintas agama untuk mengenang sang tokoh yang kini resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah.

    Deretan kader Golkar yang kkini berkarya di legislatif, eksekutif dan fungsional memandang hikmad potret Soeharto. Di atas meja kecil bertaplak kuning, terletak seikat bunga kenanga tanda penghormatan  kepada Bapak Pembangunan. Sejumlah tokoh agama hadir memimpin doa bersama.

    “Di sini, kita tidak hanya berdoa untuk almarhum Presiden Soeharto,” ujar Pdt.Yusuf Nakmofa  rohaniwan dari Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), saat membuka doa bersama. “Kita juga merenungkan bagaimana nilai-nilai kerja keras, keteguhan, dan ketulusan seorang pemimpin bisa menjadi cermin bagi kita semua, khususnya bagi generasi politik masa kini.”

    Doa Lintas Iman

    Doa bersama malam itu menjadi momen langka, mempertemukan tokoh lintas iman dalam satu panggung politik yang biasanya penuh dengan retorika. Dari sisi kiri aula, H. Syafrudin S. Dapubeang, S.Pd.,M.Pd dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT melangkah pelan ke podium, membuka surah Al-Fatihah dengan suara lembut.

    “Setiap pemimpin adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Tetapi tugas umat adalah mendoakan, bukan menghapus sejarahnya,” katanya usai berdoa. “Pak Harto telah mengukir sesuatu yang besar. Kita melihat hasilnya sampai sekarang, bahkan di tanah paling timur ini.”

    Beberapa kursi di deretan depan diisi oleh kader senior Partai Golkar yang sudah beruban. Ada Dr. Acri Deodatus, Ans Takalapeta, Frans Sarong dan sejumlah lainnya Mereka menatap potret Soeharto dengan mata berkaca-kaca. Di antara mereka, Romo Yalo, imam dari Keuskupan Agung Kupang, melanjutkan doa dengan nada lembut.

    “Dalam iman Katolik, kita mengenang bukan hanya jasad, tapi juga karya. Pak Harto mengajarkan makna kesetiaan dalam pelayanan. Ia membangun negeri dengan kerja yang tenang, nyaris tanpa gembar-gembor. Seperti doa dalam diam, ia bekerja untuk orang banyak,” ujarnya.

    Romo Yalo menatap ke arah para kader muda yang duduk di barisan tengah. “Kalian ini generasi penerus bangsa. Belajarlah dari beliau. Jangan banyak bicara, tapi banyak berbuat. Bekerjalah dalam diam, seperti Pak Harto membangun dari desa-desa.”

    Refleksi Melki Laka Lena

    Di hadapan ratusan kader dan simpatisan, Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar sekaligus Ketua DPD I Golkar NTT, dan juga Gubernur NTT berdiri dengan tenang. Ia tampak mengenakan kemeja putih lengan panjang, tanpa podium tinggi atau panggung besar.

    “Pada masa Pak Harto, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia hanya sekitar Rp100 triliun,” ujar Melki membuka refleksinya. “Tapi dari angka kecil itu, beliau mampu membangun negeri ini luar biasa. Sekarang APBN kita mencapai Rp3.000 triliun, tapi kadang hasilnya tidak sebanding dengan kerja dan semangat masa itu.”

    Kata-katanya disambut tepuk tangan pelan. Melki lalu menunduk sejenak, sebelum melanjutkan dengan nada reflektif.

    “Setiap tokoh besar selalu memiliki sisi terang dan gelap. Tapi sejarah tidak bisa dihapus hanya karena kekeliruan di ujung jalan. Kita perlu melihat dengan jernih: di masa Pak Harto, Indonesia tumbuh, dan NTT ikut bergerak maju.”

    Jejak di Tanah Flobamora

    Jejak pembangunan era Soeharto memang mudah ditemukan di Nusa Tenggara Timur. Di Kupang, Bendungan Tilong berdiri kokoh sejak diresmikan pada 1988. Dari bendungan seluas 70 hektar itu, ribuan hektar lahan pertanian di Kabupaten Kupang hingga sebagian wilayah Kota Kupang memperoleh air.

    “Kalau tidak ada Bendungan Tilong, masyarakat di Kabuoaten Kupaang dan sebagian Kota Kupang masih mengandalkan air hujan,” kata Daniel Taimenas, Ketua DPD II Golkar Kabupaten Kupang yang malam itu ikut hadir di halaman acara. Ia masih ingat masa kecilnya ketika Presiden Soeharto datang ke Kupang untuk meninjau proyek bendungan. “Saat itu anak-anak sekolah berbaris di pinggir jalan, melambai ke arah mobil beliau. Itu hari yang tidak saya lupa.”

    Tak jauh dari situ, berdiri GOR Oepoi, salah satu gedung olahraga kebanggaan warga Kupang yang juga dibangun di masa Soeharto. Di situlah berbagai turnamen, pameran, dan kegiatan sosial diadakan tempat anak muda Kupang belajar tentang sportivitas dan kerja keras.

    “GOR Oepoi itu simbol masa depan waktu itu,” kenang Restu Dupe, Ketua PD AMPG NTT. “Anak muda NTT punya tempat untuk bermimpi. Semua itu karena perhatian pemerintah pusat yang nyata lewat GOR Oepoi.”

    Peninggalan lain yang paling melekat di hati masyarakat adalah Sekolah Dasar Inpres. Di seluruh NTT, dari Pulau Flores hingga Alor, Sumba hingga pelosok Timor, bangunan sekolah berdinding papan dengan papan nama “SD Inpres” menjadi saksi nyata program pendidikan massal di era Soeharto.

    “Bapak saya dulu guru SD Inpres di Sikka,” tutur Wemis, salah satu karyawan DPD Golkar NTT. “Sekolah itu membuka kesempatan bagi banyak anak kampung seperti saya untuk bisa belajar. Tanpa SD Inpres, mungkin saya tidak bisa berdiri di sini hari ini.”

    Tak hanya infrastruktur fisik, Soeharto juga meninggalkan warisan sosial yang besar: Beasiswa Supersemar. Ribuan anak muda NTT pada dekade 1980–1990-an merasakan langsung manfaatnya.

    “Saya salah satu penerima Beasiswa Supersemar tahun 1992,” kata Gabriel Suku Kota, politisi Demokrat asal Lembata. “Waktu itu Rp25.000 per bulan. Nilainya kecil, tapi maknanya besar. Kami bisa terus kuliah. Itu perhatian yang tulus dari negara.”

    Di Tangan Pak Harto, NTT Maju

    Dalam pidatonya, Melki Laka Lena menegaskan kembali bahwa banyak kemajuan di NTT bermula dari sentuhan kebijakan Soeharto.

    “Gedung Golkar, Bendungan Tilong, Stadion Oepoi, hingga jaringan sekolah dan puskesmas — semua itu lahir di masa beliau. Beliau tidak banyak bicara, tapi bekerja nyata. Bagi kami kader Golkar, itu warisan semangat yang harus dijaga,” ujarnya.

    Melki juga menyinggung aspek politik dan moral yang bisa dipetik dari kepemimpinan Soeharto. “Pak Harto mengajarkan bahwa kekuasaan bukan untuk diri sendiri. Ketika saatnya tiba, beliau rela melepaskan jabatan tanpa pertumpahan darah. Itu teladan besar dalam sejarah bangsa ini,” katanya.

    Ia lalu mengajak seluruh kader untuk meneladani gaya kepemimpinan Soeharto: sederhana, tegas, dan berorientasi pada hasil.

    “Kalau kita ingin NTT maju seperti dulu, kita harus kerja seperti beliau — membangun dari bawah, dari desa, dengan disiplin dan keikhlasan,” tambahnya.

    Suara dari Generasi Muda

    Di tengah para kader senior, beberapa anak muda tampak larut dalam suasana doa. Salah satunya, Fenty Nope aktifis perempuan yang mengaku baru mengenal Soeharto lewat cerita orang tua.

    “Waktu saya lahir, Pak Harto sudah tidak menjabat lagi. Tapi dari cerita orang tua, saya tahu beliau orang yang membangun banyak hal. Doa syukur ini membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang sejarah,” katanya.

    Bagi Fenty dan generasinya, mengenal Soeharto bukan soal romantisme masa lalu, melainkan memahami akar pembangunan Indonesia. “Kita tidak bisa menilai masa lalu dengan ukuran masa kini saja. Tapi penting juga melihat apa yang bisa kita pelajari untuk masa depan,” ujarnya.

    Buku Jejak di Tanah Flobamora

    Di akhir acara, Melki Laka Lena mengumumkan rencana penyusunan sebuah buku berjudul “Jejak Karya Presiden Soeharto di NTT”. Buku itu akan menelusuri proyek-proyek pembangunan yang dimulai di era Soeharto, lengkap dengan cerita rakyat dan dokumentasi lapangan.

    “Kita ingin generasi muda tahu bahwa di tanah ini banyak hal besar yang dilakukan beliau,” kata Melki. “Dari bendungan hingga sekolah, semuanya punya cerita. Itu warisan kerja nyata yang harus diabadikan.”

    Rencana itu disambut hangat para peserta. Beberapa kader senior bahkan menawarkan diri untuk menjadi narasumber, membawa foto-foto lama, dan menulis pengalaman pribadi mereka semasa program Inpres dijalankan.

    Jejak yang Tak Lekang

    Malam semakin larut, potret Pak Harto masih terpampang di depan podium. Di luar aula, suara ombak dari Teluk Kupang terdengar lembut. Para kader perlahan meninggalkan ruangan dengan wajah tenang.

    Sebelum menutup pintu, Geradus Herin seorang anak muda sal Solor, mendekati potret Soeharto dan menatap lama. “Saya dulu sekoalah di sekolah Inpres di kampung. Teman-teman sayang banyak yang sudah sukses jadi perawat, bidan, tentara, bahkan ada senior kami yang jadi pejabat. Kalau tidak ada program itu, mungkin hidup kami tetap di hutan,” katanya pelan.

    Gerardus menunduk, membuat tanda salib, lalu berjalan keluar aula dengan langkah pelan.

    Di dinding aula tertulis kalimat besar: “Karya Abadi untuk Negeri.” Kalimat itu terasa hidup malam itu bukan sekadar slogan partai, tetapi doa panjang yang terus bergema di hati mereka yang masih percaya pada makna kerja, ketulusan, dan pengabdian.

    Soeharto memang telah tiada, tetapi jejaknya tetap terpatri di hati kader Golkar NTT sebagai teladan, doa, dan jejak yang tak lekang.*/Laurens Leba Tukan