GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Golkar Gubernur NTT
Beranda / Gubernur NTT / Solusi Fleksibel untuk 9.000 PPPK di NTT: Hasil Lobi Gubernur Melki dengan Pemerintah Pusat

Solusi Fleksibel untuk 9.000 PPPK di NTT: Hasil Lobi Gubernur Melki dengan Pemerintah Pusat

Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah, Kemendagri A. Fatoni bersama tim dari Kementerian Keuangan, dan KemenPAN-RB usai pertemuan dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena danpimpinan OPD di Kupang, Selasa (31/3/2026). Foto: jendarlpurek

NTT Hadapi Tekanan Fiskal Tinggi, Pemerintah Pusat Pastikan Dukungan untuk PPPK dan Infrastruktur

KUPANG,SELATANINDONESIA.COMโ€“ Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah berada di bawah tekanan fiskal yang tinggi akibat belanja pegawai yang melebihi batas maksimal yang ditetapkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022. Rasio belanja pegawai Pemprov NTT saat ini tercatat 51,15 persen, setelah penyesuaian berada di kisaran 40,29 persen, jauh di atas ambang batas 30 persen APBD.

Meski demikian, pemerintah pusat menegaskan kondisi ini bukan darurat fiskal. Tekanan tersebut justru menjadi tantangan serius yang membutuhkan koordinasi lintas kementerian untuk memastikan keberlanjutan pelayanan publik dan pembangunan di provinsi berbasis kepulauan ini.

Hal itu tercermin dalam rapat koordinasi yang digelar di Kupang, Selasa (31/3/2026), yang dihadiri langsung tim dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, dan KemenPAN-RB. Tim ini dipimpin Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah, A. Fatoni, dan bertemu Gubernur Melki Laka Lena beserta jajaran OPD.

โ€œNTT tidak darurat. Buktinya hari ini masih bisa mengangkat pegawai. Ini penting disampaikan ke publik bahwa ada solusi,โ€ ujar Fatoni. Ia menegaskan, pemerintah pusat menyiapkan berbagai instrumen, mulai dari relaksasi regulasi, pergeseran anggaran cepat, hingga efisiensi belanja daerah, untuk menanggulangi tekanan fiskal.

Dugaan Manipulasi Hasil RAT Koperasi Swasti Sari, Anggota Laporkan Pengurus ke Polresta Kupang

Lobi Gubernur Melki untuk Solusi Fleksibel

Gubernur Melki menegaskan, situasi fiskal NTT merupakan dilema antara memenuhi kebutuhan belanja pegawai dan tetap membiayai pembangunan infrastruktur yang mendesak. Ia menekankan, kondisi wilayah yang berbukit dan kepulauan membuat tekanan infrastruktur lebih berat dibandingkan daerah lain, misalnya Jawa Barat, yang memiliki kemampuan fiskal lebih tinggi.

Dalam forum tersebut, Gubernur Melki berhasil melobi pemerintah pusat agar memberikan fleksibilitas melalui:

1. Pergeseran anggaran tanpa harus menunggu perubahan APBD atau persetujuan DPRD.

2. Relaksasi batas belanja pegawai 30 persen dengan koordinasi lintas kementerian.

Satyaraga Asuransi Jasindo di Kupang, Dorong Pembentukan Karakter Generasi Muda Lewat Kompetisi Basket 3×3

3. Peninjauan skema peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui intensifikasi pajak, ekstensifikasi sumber baru, digitalisasi, dan inovasi.

โ€œDaripada merumahkan pegawai, lebih baik didorong dengan skema nasional agar mereka bisa beralih ke sektor usaha secara sadar dan terlatih,โ€ ujar Gubernur Melki, mengusulkan ASN tidak hanya menjadi pelayan publik, tetapi juga penggerak ekonomi lokal.

Fokus pada PPPK dan Pelayanan Publik

Gubernur Melki memastikan komitmen pemerintah provinsi tetap kuat untuk mengangkat lebih dari 1.500 PPPK baru. Ia menekankan pelayanan dasar, termasuk kesehatan, dan pendidikan tidak boleh terganggu meski tekanan belanja pegawai tinggi.

โ€œKami sudah dua kali mencari dokter spesialis kandungan, tetapi tidak ada yang mau karena insentif tidak kompetitif. Ini bukan soal administrasi, tapi soal nyawa rakyat,โ€ tegas Gubernur Melki.

Umbu Lili Pekuwali Menyalakan Harapan dari Waingapu: Pendidikan Diteguhkan sebagai Jalan Memanusiakan Manusia

Sementara itu, Fatoni menegaskan, kepala daerah memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan cepat dalam kondisi mendesak. โ€œSering kali masalah bukan karena tidak ada uang, tapi karena takut mengambil keputusan. Padahal kewenangan itu dijamin undang-undang,โ€ ujarnya.

Strategi Jangka Panjang

Selain efisiensi belanja dan pergeseran anggaran, pemerintah pusat melihat peningkatan PAD sebagai kunci menurunkan rasio belanja pegawai. Salah satu potensi terbesar berasal dari pajak kendaraan bermotor, yang kontribusinya bisa mencapai 60 persen PAD, namun realisasinya di NTT masih rendah.

Rapat koordinasi ini menandai langkah awal pencarian solusi konkret bagi persoalan belanja pegawai di NTT, sekaligus memastikan nasib ribuan PPPK tidak diputuskan secara sepihak tanpa skema yang jelas dan berkelanjutan. Fokus utama tetap pada pengangkatan PPPK, pelayanan publik, dan pembangunan infrastruktur tanpa merugikan masyarakat.*/jendralpurek/llt

Komentar

  1. Emilia Jemi berkata:

    Trima kasi banyak Bapak Guberrnur, yang telah berusaha mencari solusi dalam menghadapi efisiensi anggaran yg berlaku mulai tahun 2027. Harapan saya, semoga di tahun 2027 itu nanti, SK kami pppk di bagian pendidikan angkatan 2022, tetap diperpanjang. Sekali lagi, trima kasi banyak Bapak Gubernur

  2. Emilia Jemin berkata:

    Trima kasi banyak Bapak Guberrnur, yang telah berusaha mencari solusi dalam menghadapi efisiensi anggaran yg berlaku mulai tahun 2027. Harapan saya, semoga di tahun 2027 itu nanti, SK kami pppk di bagian pendidikan angkatan 2022, tetap diperpanjang. Sekali lagi, trima kasi banyak Bapak Gubernur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement