JAKARTA,SEATANINDONESIA.COMย โ Di tengah berbagai persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028 di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, satu pesan penting mengemuka dari pertemuan antara Ketua Umum KONI Pusat, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, dan Ketua Pengprov Federasi Nasional (FN) Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, di Jakarta, Senin (8/6/2026). PON tidak semata-mata menjadi panggung perebutan medali, tetapi juga momentum untuk mengangkat martabat kuda lokal Indonesia, khususnya kuda-kuda asal NTT dan Pulau Sumba.
Gagasan itu mengemuka ketika Umbu Rudi Kabunang melaporkan berbagai agenda pembinaan dan kompetisi pacuan kuda yang tengah disiapkan FN Pordasi Pacu NTT menuju PON 2028. Dalam pertemuan tersebut, Umbu Rudi didampingi Direktur Pacu Tradisional PP FN Pordasi Pacu, Aguspen Adnan, sementara Marciano Norman hadir bersama istrinya, Triwati Marciano, yang juga aktif dalam organisasi olahraga berkuda nasional. Marciano Norman sebagai Ketua Umum KONI Pusat terus mendorong penguatan pembinaan olahraga prestasi di daerah.
Bagi Marciano, PON di NTT dan NTB memiliki arti strategis yang melampaui prestasi olahraga semata. Daerah yang selama ini dikenal sebagai habitat kuda Sandelwood itu dinilai memiliki potensi besar untuk melahirkan kuda-kuda pacu berkualitas sekaligus memperkuat identitas olahraga berkuda Indonesia.
“Program nasional ke depan adalah bagaimana kuda-kuda lokal tidak hanya menjadi bagian dari tradisi dan hiburan masyarakat, tetapi juga berkembang menjadi sumber prestasi olahraga nasional,” kata Umbu Rudi menirukan pesan yang disampaikan Ketua Umum KONI Pusat.
Selaku Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu NTTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum KONI Pusat Bapak Marciano Norman. โTerima kasih atas masukan, saran dan pendapat dari Bapak Ketua Umum KONI Pusat, terhadap perkembangan olaharga berkuda di NTT yang terkenal dengan Kuda Sandelwod.
Ditegaskan Umbu Rdui Kabunang, rupanya ketua Umum KONI Pusat Pak Marciano Norman adalah mantan joki di saman masih muda. โJuga isteri dari Pak Ketua Umum KONI Pusat juga joki pacuan kuda. Jadi keduanya ini bukan sekadar hoby berkuda tetapi juga pelaku olahraga berkuda, ini sestau yang luar biasa,โ sebut Umbu Rudi.
Semangat tersebut mendapat respons positif dari pengurus pacuan kuda di daerah. Dalam kesempatan yang sama, Marciano bahkan berbicara langsung melalui sambungan telepon dengan Ketua Pengkab FN Pordasi Pacu Sumba Barat, Frengky Tarawatu Susanto. Dari percakapan itu, tersampaikan kabar yang disambut antusias komunitas pacuan kuda Sumba: Marciano Norman berencana hadir langsung pada pembukaan Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup di Gelora Pada Eweta, 6 Juli 2026.
Kehadiran orang nomor satu di KONI Pusat itu dinilai menjadi sinyal kuat bahwa olahraga pacuan kuda mulai mendapatkan perhatian lebih besar dalam peta pembinaan olahraga nasional. Tidak hanya hadir, Marciano juga berencana menyerahkan Piala Ketua Umum KONI Pusat pada salah satu kelas perlombaan.
Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda bukan sekadar olahraga. Ia telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sosial dan budaya yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, perhatian yang diberikan KONI Pusat dipandang sebagai suntikan optimisme bagi pengembangan olahraga berkuda di daerah.
“Kami bangga karena Ketua Umum KONI Pusat bersedia hadir langsung di Sumba Barat. Ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus mengembangkan pacuan kuda dan menyiapkan atlet-atlet terbaik menuju PON 2028,” ujar Frengky.
Pengurus Provinsi Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT terus mematangkan agenda pembinaan melalui sejumlah kejuaraan daerah maupun nasional. Setelah pelaksanaan berbagai event di Sumba Timur dan Sumba Barat pada Juni dan Juli mendatang, perhatian akan tertuju pada Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda yang direncanakan berlangsung di Gelora Pada Eweta, Sumba Barat, pada Agustus 2026.
Direktur Pacu Tradisional PP FN Pordasi Pacu, Aguspen Adnan, mengatakan Kejurnas tersebut merupakan salah satu amanat penting hasil Rapat Kerja Nasional FN Pordasi Pacu pada Februari lalu. Seluruh perangkat organisasi kini bergerak menyiapkan penyelenggaraan yang diharapkan menjadi titik awal pembinaan menuju PON 2028.
Di balik berbagai agenda itu, tersimpan optimisme bahwa kuda-kuda lokal NTT akan memperoleh panggung yang lebih luas. Jika selama ini Kuda Sandelwood dikenal sebagai bagian dari tradisi masyarakat Sumba, maka dalam beberapa tahun ke depan hewan tersebut diharapkan mampu tampil sebagai simbol prestasi olahraga nasional.
PON XXII 2028 pun bukan hanya tentang siapa yang tercepat mencapai garis finis. Lebih dari itu, ajang olahraga terbesar nasional tersebut berpotensi menjadi tonggak kebangkitan kuda lokal Indonesia dari arena-arena pacuan di Sumba menuju panggung olahraga nasional.*/llt



Komentar